
"Ada perlu apa kamu datang ke rumahku?" tanya Inggrid dengan sinis pada Laras yang dengan santai membalas tersenyum.
"Aku ingin bertemu, putriku." Laras menjawab dengan sangat tenang.
"Putrimu atau mantan suamimu?" Inggrid bertanya dengan nada yang benar-benar terdengar kesal menatap Laras.
Dari atas sana, Kyra yang baru saja diberitahu oleh pelayan tentang kedatangan Laras, bergegas turun dan menghampiri Maminya.
"Mami!" panggil Kyra dengan sengaja berteriak untuk mengalihkan fokus semua orang padanya, terlebih saat Kyra berpikir Inggird dan Sandra berusaha menindas maminya.
Laras yang mendengar itu tersenyum menatap Kyra, Laras melangkah menghampiri Kyra bersamaan dengan Kyra yang juga berlari menghampirinya. "Kenapa tidak mengabari Mami? Kamu membuat Mami cemas," ucap Laras membuat Kyra merasa senang mendengarnya.
"Maaf, Mi. Aku lupa," ucap Kyra melonggarkan pelukannya.
"Baiklah, tidak masalah. Yang penting kamu baik-baik saja," jawab Laras mengecup sayang dahi Kyra.
"Aku di sini karena Papi kurang sehat. Papi di atas sendirian. Mami mau menemui papi?" tanya Kyra.
Laras yang mendengar itu menoleh pada Inggrid. Sekali pun hubungannya dan Dirga sudah baik-baik saja, tetapi tetap saja Laras sadar akan posisinya. "Apa aku boleh menemui suamimu?" tanya Laras meminta izin pada Inggrid yang berbangga hati mendengarnya.
"Pergilah. Jangan terlalu lama, sadari posisimu!" ucap Inggrid dengan ketus menjawab.
__ADS_1
Kyra yang mendengar itu bergegas membawa maminya untuk naik ke atas dan menjenguk Dirga. Berbeda dengan Sandra yang menatap bingung pada Mamanya.
"Ma, apa yang Mama lakukan?" tanya Sandra kesal.
"Mama punya rencana, diamlah." Inggrid menutu mulut putrinya.
Beberapa saat kemudian.
Mendengar suara mobil di luar, Sandra dan Inggrid yang sedang diam di ambang pintu kamar Dirga—menguping pembicaraan Laras dan Kyra yang sedang menjenguk Dirga—segera turun ke bawah karena penasaran dengan suara klakson mobil itu. Ditambah, rupanya Laras hendak keluar dari dalam kamar suaminya, membuat Inggrid buru-buru mengajak Sandra turun ke bawah sebelum ketahuan.
Ah, kedua perempuan ini memang selalu penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka seolah tak punya kegiatan positif yang bermakna. Kerjaannya hanya iri, kepo, dan ingin semuanya menjadi milik mereka.
"Ma! Dia Reyhan?" tanya Sandra heboh.
"Dia kenapa bisa ke sini?" balas Inggrid tak kalah heboh. "Ayo, kita ke sana!" ajaknya kemudian segera berjalan bersama Sandra melewati pintu samping supaya tidak berpapasan dengan Laras yang sudah kembali duduk di ruang tamu. Dia tengah berbincang dengan seseorang dalam panggilan telepon.
"Selamat siang," sapa Rayhan ketika mendengar ada suara high heels mendekat ke arahnya, dan dia lihat ada dua orang perempuan tersenyum ramah. Ramah sekali. Tampak seperti protagonis yang baik dan lembut.
"Siang. Reyhan Kalingga, betul?" tanya Inggrid, terlihat sangat anggun dan ramah. Tidak seperti biasanya. Sandra tersenyum manis di belakang mamanya. Keduanya benar-benar piawai dalam berakting.
"Saya, Inggrid, istri dari Dirga Dwayne." Tanpa diminta Inggrid langsung menjulurkan tangannya, yang diterima oleh Reyhan sembari tersenyum.
__ADS_1
"Ini putri saya, Sandra," lanjutnya mengenalkan sang putri, berharap Reyhan tertarik dan menjadikannya sebagai istri. Akan banyak keuntungan jika Sandra dan Reyhan menikah, selain karena ketenaran, kekayaan pun akan semakin bertambah. Meski sebetulnya Sandra sudah punya teman dekat laki-laki.
Reyhan tersenyum, menerima uluran tangan Sandra. Kedua perempuan itu merasa kejang-kejang di dalam hati karena bisa bersalaman serta mendapat senyuman manis dari pria tampan rupawan ini. Rasanya mereka berada di situasi yang tak ingin diusaikan saking bahagianya.
"Pasti ingin bertemu dengan suami saya?" tanya Inggrid, siapa lagi yang akan ditemui pria ini jika bukan Dirga, itulah yang dipikirkan Inggrid. Tak mungkin Reyhan datang tiba-tiba untuk menemui dirinya atau Sandra, karena mereka baru saling mengenal beberapa detik lalu.
"Saya ingin bertemu Kyra," balas Rayhan yang berhasil membuat senyuman di kedua bibir perempuan itu sirna. Diterpa kekesalan karena lagi-lagi Kyra dan Kyra. Kenapa harus Kyra?
"Kyra ada di dalam?" tanya Reyhan lagi. "Saya ingin menjemputnya karena ada urusan yang sangat mendesak dengannya."
Kedua perempuan itu diam, malas untuk menjawab.
"Ekhem," Reyhan berdehem membuat Inggrid dan Sandra tersadar dari lamunannya, mereka kembali memasang wajah pura-pura ramah.
"Ada urusan apa? Pekerjaan?" tanyanya kepo. Berharap jika Rayhan memang menjalin kerjasama bisnis dengan Kyra, bukan kerjasama dalam perihal hati.
Tunggu, tapi mana mungkin seorang Kyra yang masih remaja tujuh belas tahun memiliki urusan bisnis dengan pria tiga puluh tiga tahun. Kedua perempuan itu kini bingung dan semakin penasaran.
"Saya ...." Reyhan mengambangkan kalimatnya. Cukup bingung. Apa sebaiknya jujur? Atau berbohong? Karena sebetulnya dia ke sini hanya untuk menemui Kyra saja, mengajaknya jalan. Berdua.
Sial, apa yang harus aku katakan?
__ADS_1