
"Kyra."
Panggilan itu membuat Kyra yang sejak tadi melihat kepergian Dinda dan Arfana tersentak. Dia menoleh, dan baru sadar jika masih ada Maria dan suaminya di ruangan ini. Melihat wanita itu mendekat padanya dan tersenyum manis, entah kenapa membuat Kyra tampak gugup.
"Aku memaksa mereka untuk menebus kesalahannya. Maaf jika itu masih kurang memuaskan untukmu," ungkap Maria, memulai pembicaraan.
"Tidak apa. Harusnya tidak perlu merepotkan diri," jawab Kyra yang masih mempertahankan wajahnya yang datar tanpa ekspresi.
Maria yang melihat itu tersenyum, meraih tangan Kyra untuk digenggam dan mengusapnya lembut. "Aku mengenal Reyhan sangat lama, dan hafal bagaimana dengan sikapnya. Dia benar-benar mencintaimu, Kyra. Tatapan matanya begitu teduh saat melihatmu. Bahkan dia selalu tersenyum saat bersamamu. Dia benar-benar telah jatuh dalam pesonamu," ungkap Maria dengan begitu lembut berusaha kembali menenangkan Kyra, mendekatkan diri lagi pada Kyra seperti awal mereka bertemu tempo hari.
"Bagaimana jika itu hanya tipuan, Kak?" tanya Kyra tiba-tiba.
"Tidak, aku yakin dia sangat serius. Aku pernah melihat tatapan itu di masa lalu," tutur Maria meyakinkan. "Kamu adalah satu-satunya wanita yang sekarang menjadi pusat untuknya. Percayalah, Kyra, dia benar-benar tidak main-main padamu. Aku sangat berharap jika kamu bisa memaafkannya dan memberinya kesempatan." Semua yang Maria katakan terdengar begitu tulus, satu hal yang pasti, di dalam hatinya, Kyra merasa semakin kagum akan sosok Maria dan cara berteman mereka.
Tatapan Kyra tampak rumit, ada perasaan aneh saat dia melihat bagaimana mata Maria sendu saat membicarakan tentang sosok Reyhan.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan hal ini, Kak Maria?" tanya Kyra dengan suaranya yang kini tercekat.
"Aku hanya tidak ingin kamu menyesal, seperti apa yang telah kulakukan dulu. Hidupku dulu sangat terpuruk, sebelum aku bertemu dengan Faizan yang akhirnya bisa membuat kebahagiaanku kembali," jelas Maria, melirik pada sang suami dan tersenyum. "Gunakanlah kesempatan itu, Kyra. Sebelum semuanya hilang."
Kyra terdiam, tak bisa berkata apa-apa setelahnya. Wanita itu tampak menatap kosong ke arah depan, sambil memikirkan segalanya tentang Reyhan.
"Urusanku telah selesai, kalau begitu aku akan kembali," pamit Maria kemudian. "Semua keputusan ada di tanganmu, Kyra. Aku berharap kamu memilih sesuatu yang tepat untuk dirimu sendiri."
Bahkan saat Maria dan Faizan pergi dari sana, Kyra sama sekali tak mengalihkan pandang. Dia tetap acuh dengan diam seperti patung yang hanya diberinya nyawa untuk bernapas.
Melihat hal itu, tentu saja kedua sahabat Kyra langsung khawatir. Mereka mendekati Kyra, dan langsung menyergap Kyra dalam pelukan.
"Kamu bimbang?" tanya Silva menatap Kyra lekat.
__ADS_1
Embusan napas panjang keluar dari bibir Kyra. Dia mengangkat kedua bahunya acuh saat menjawab, "Entahlah."
"Benar yang dikatakan Kak Maria tadi, Kyra. Tak ada salahnya memberinya kesempatan. Toh kabar yang beredar selama ini tentang om Reyhan hanyalah tipu daya! Dia mencintaimu, dan aku yakin sebaliknya jika kamu pun merasakan perasaan yang sama," sahut Andini menimpali.
"Sepertinya kalian bersengkongkol ya dengan teman-temannya Om Reyhan?" pekik Kyra terkekeh geli melihat ekspresi wajah kedua sahabatnya itu.
Spontan, suasana yang mengharu biru itu langsung pecah akibat candaan Kyra. Andini dan Silva merasa kesal karena mereka sudah sangat serius tadi. Melihat Kyra masih terus tertawa, membuat keduanya akhirnya nekat untuk menerjang Kyra dalam gelitikan yang tak ada hentinya.
Sedangkan di tempat lain, Sean tampak gelisah. Lelaki itu sesekali melihat ke arah sekitar, untuk mencari sosok yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Dia sama sekali tak menikmati suara musik yang saat ini tengah dinyanyikan oleh band lokal untuk menemani acara malam mereka di tepi pantai itu.
"Di mana dia? Bukankah seharusnya dia sudah sampai sejak tadi? Kenapa belum muncul juga? Dia berkata akan membawa balas bantuan malam ini," gumamnya bertanya-tanya dengan cemas.
Niko yang melihat temannya itu mendesah. "Tenanglah, Sean. Mungkin saja mereka masih ada di jalan," sahutnya sambil mencomot kentang goreng di hadapannya.
"Tidak, seharusnya mereka sampai sejak tadi karena pesawat mereka telah mendarat. Aku malah takut jika mereka kesasar. Aku sudah menelponnya, tapi mereka sama sekali tak menjawab." Naura, kekasih Sean itu menyahut. Sikapnya benar-benar sama dengan Sean yang tampak gelisah sejak tadi.
Niko hanya bisa berdecak karenanya. "Di mana Reyhan? Kenapa dia tidak datang juga?" tanyanya kemudian.
"Bukan hanya dia, Sean. Kita pun ikut frustasi karena masalahnya!" canda Niko terkekeh, yang disambut tawa oleh semua orang.
Saat itulah, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu muncul juga. Maria hadir, bersama Faizan yang baru saja masuk dari pintu masuk restoran.
"Maria!" Naura yang melihat pertama kali, segera berteriak memanggil dan berdiri untuk menyambut.
Istri Sean itu, langsung memeluk Maria begitu mereka telah berdekatan. "Oh, Maria, apa kamu baik-baik saja? Dari mana saja kamu? Kami semua khawatir karena kamu tidak bisa dihubungi."
Maria yang mendengar itu terkekeh. "Maafkan aku teleponku berada dalam mode senyap sehingga tak mendengar jika ada telepon." Dia memutuskan untuk duduk di sebelah Naura, dan langsung berkata, "Maaf karena lama, aku baru saja menyelesaikan masalah bersama Kyra tadi."
"Oh, kamu sudah menemuinya? Lalu bagaimana dengan bala bantuan yang kamu katakan kemarin?" tanya Sean memekik.
__ADS_1
"Sudah beres, aku membawa Dinda dan Arfana untuk menemui Kyra. Aku mengancam mereka dan memaksa mereka untuk menjelaskan segalanya pada Kyra," jelas Maria.
"Lalu bagaimana tanggapan Kyra?" tanya Naura ikut menyela.
Maria menggeleng dengan embusan napas panjang. "Dia terlihat diam, dan belum ingin menjawab. Tapi aku yakin, jika dia sudah bisa menerima Reyhan kembali. Aku melihat Kyra sangat mencintai Reyhan juga, jadi aku bertaruh jika dia pasti akan memberikan Reyhan kesempatan."
Sean, Niko, dan yang lainnya tampak bernapas lega mendengar hal tersebut. Dia tak menyangka, jika Maria dan Faizan benar-benar bisa diandalkan.
"Akhirnya, satu masalah terpecahkan," gumam Niko tampak senang.
"Ya, setidaknya ini sudah cukup menenangkan karena kesalahpahaman yang terjadi sudah teratasi dengan baik," sahut Sean. "Terima kasih, Maria."
"Jangan berkata seperti itu. Kita semua teman, dan sudah sewajibnya kita saling bantu jika ada yang mempunyai masalah!" sahut Maria tersenyum, sambil meraih tangan sang suami untuk digenggam.
"Bukankah kita harus mengabarkan hal ini pada Reyhan?" usul Naura bertanya.
"Tidak, biarkan dia tahu sendiri. Biarkan ini menjadi kejutan untuk hubungan mereka," tutur Sean tersenyum.
"Baiklah, aku merasa tenang sekarang," desah Naura.
"Eitss, bagaimana bisa tenang. Bukankah masih ada satu masalah lagi yang belum terselesaikan?" tanya Niko memekik.
"Apa?" tanya Faizan menyahut.
"Restu dari orang tua Kyra. Reyhan masih mempunyai satu masalah dengan hal itu," kata Niko menjawab.
"Kalau itu, biarkan menjadi urusannya. Bukankah seharusnya dia memang berjuang?" Maria terkekeh, menatap teman-temannya dengan sebelah alis terangkat. "Kita sudah banyak membantunya dengan masalah Kyra. Jadi mari kita lihat, apa yang akan dilakukan Reyhan untuk mendapat restu."
"Jahat sekali Anda?" sindir Naura yang malah tertawa kencang. "Tapi baiklah, aku setuju."
__ADS_1
Sean, Niko dan Faizan hanya menggelengkan kepala melihat para wanitanya tengah tertawa dan berencana jahil untuk hubungan Reyhan dan juga Kyra.