
Mobil mewah milik Reyhan berhenti di depan restoran yang terlihat tidak memiliki pengunjung. Kyra tampak bertanya-tanya, mungkinkah Reyhan mengajaknya ke restoran yang tidak laku?
Ke mana semua orang? Kenapa restoran ini sangat sepi? Batin Kyra.
"Sayang, ayo turun!" ucap Reyhan yang sudah berdiri membukakan pintu mobil untuk Kyra, menyadarkan Kyra yang masih terdiam menatap ke arah restoran.
Kyra turun dari mobil, menyambut tangan Reyhan yang terulur padanya. Saat pintu terbuka, Kyra melangkah keluar dengan melingkarkan tangannya di lengan Reyhan. Matanya cukup takjub dengan dekorasi elegan yang ada di dalam sana. Langkah mereka terhenti, seorang pelayan memberikan buket bunga yang begitu besar pada Reyhan. Lalu, setelah itu diberikan pada Kyra.
“Untukmu, Sayang.” Dengan sangat lembut, serta senyum menawan diwajahnya Reyhan menatap Kyra.
Kyra menerima buket bunga itu dengan wajah yang tak bisa diartikan. Kyra dibuat bingung dengan semua yang diberikan Reyhan malam ini, selain restoran yang sepi dan buket bunga. Kini sebuah ruangan tertutup memiliki dekorasi penuh bunga dan balon berbentuk hati.
“Apa-apaan ini?” ucap Kyra tak percaya.
“Kenapa? Kamu tidak menyukainya, Sayang?” tanya Reyhan.
“Tidak, bukan begitu. A-aku … aku bahkan tidak bisa berkata-kata. Berapa banyak uang yang kamu keluarkan untuk ini semua?”
Reyhan tersenyum mendengar pertanyaan Kyra. “Tidak banyak dan tidak perlu kamu pikirkan, Sayang. Semua ini aku lakukan untuk membuatmu bahagia. Ini kencan pertama kita, kita harus membuat momen yang nantinya sulit untuk dilupakan,” jawab Reyhan.
Reyhan menarik kursi untuk Kyra duduk. Pria itu lagi-lagi memberikan kejutan pada Kyra dengan memberikan sebuah kotak perhiasan. Awalnya Kyra menolak, lalu Reyhan menekankan bahwa dalam hubungan mereka, apa pun yang Reyhan berikan, tidak boleh ditolak.
Reyhan membuka kotak perhiasan itu, mengeluarkan sebuah kalung yang terlihat begitu cantik dan tentunya mewah. Kyra hanya diam saat Reyhan mulai melingkarkan kalung itu di lehernya.
Tubuh Kyra menegang, matanya terbelalak saat satu kecupan Kyra rasakan di lehernya setelah Reyhan memasangkan kalung untuknya.
__ADS_1
"Cantik sekali," puji Reyhan yang sudah kembali duduk di kursinya.
“Om— Eh, Rey, Kamu tidak perlu melakukan semua ini,” ujar Kyra gugup yang hampir saja salah menyebutkan panggilan.
Reyhan tersenyum saat namanya disebutkan.
Jemarinya menyentuh tangan Kyra dan mengusapnya perlahan. “Akan kulakukan apa pun itu untukmu, Kyra ku.”
“Jangan gombal. Aku tidak suka kata-kata yang terlalu manis dan memberi janji seperti itu," ucap Kyra menarik tangannya.
“Kenapa? Aku suka melakukannya, tetapi untuk janji selalu kutepati, Sayang.”
“Sudahlah! Aku lapar, sampai kapan kita akan saling memandang tanpa memakan sesuatu? Bukankah ini sudah waktunya untuk makan malam?” ketus Kyra kembali berusaha menjaga hatinya agar tidak luluh pada pesona Reyhan.
Reyhan tersenyum kecil lalu menjentikkan jarinya untuk memanggil pelayan restoran. Satu per satu hidangan datang, sesuai dengan urutan makan yang benar.
Hidangan penutup telah selesai dilahap. Kyra dengan anggun mengelap bibirnya dengan kain putih yang disediakan di sana. Reyhan memainkan tangan Kyra seakan dunia dalam dekapannya.
“Apa sudah selesai? Kita bisa pulang jika sudah," tanya Kyra memastikan.
“Tentu saja tidak, Sayang.”
Reyhan mengulurkan tangan dan mengajak Kyra untuk beranjak dari sana.
“Mau ke mana?” Kyra kebingungan saat Reyhan membawanya ke luar dari restoran dan kembali menyusuri jalanan di kota dengan mobil.
__ADS_1
Keduanya terdiam di mobil, tak ada suara kecuali music jazz yang terdengar merdu dari audio box. Tatapn mata Kyra mengedar ke luar jendela, sudah lama rasanya dia tak merasa seperti ini. Sejak Reyhan menjemputnya, jantung Kyra terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Kenapa diam, Sayang? Kamu tidak suka dengan kencan pertama kita?” Suara Reyhan berhasil membuat Kyra menatapnya bingung.
“Suka, hanya saja, apa ini tidak berlebihan?” tanyanya.
“Berlebihan? Apa kamu merasa aneh? Atau … ada yang kamu tidak suka dengan kencan malam ini? Katakan padaku jika ada yang tidak kamu sukai,” ucap Reyhan.
“Hm, entahlah. Aku hanya merasa senang, tetapi juga bingung. Mungkin saja karena ini pertama kalinya untukku.”
“Begitu rupanya. Kita hampir sampai, aku sengaja mengajakmu kemari untuk menikmati pemandangan malam hari.”
Mobil yang dikendarai Reyhan memasuki gedung yang menjulang tinggi, melaju dengan melewati jalanan menanjak yang mengantarkan mereka hampir ke lantai teratas. Akhirnya mobil berhenti dan Reyhan mengajak Kyra masuk ke lift.
“Ini di mana?” Kyra merasa aneh dengan tempat yang terlihat mencurigakan itu.
“Tenang saja, kamu pasti suka, Sayang.”
Pintu lift terbuka, Kyra dibuat terbelalak melihat pemandangan di depannya. Sebuah karpet merah terbentang sebagai alasnya berjalan. Ada banyak bunga-bunga menghiasi area itu hingga mereka sampai di ujung tempat itu.
Itu adalah rooftop yang didekorasi sedemikian rupa, terdapat dua kursi santai yang bisa mereka gunakan untuk melihat ke langit penuh bintang. Tidak hanya itu, dari ketinggan gedung saat ini, mereka bisa menikmati pemandangan kota yang begitu indah dengan lampu kelap-kelip.
“Bagaimana?”
Kyra terpaku dengan pemandangan di depannya. Lalu pandangan matanya jatuh pada sebuah meja kecil yang menyediakan minuman untuk mereka.
__ADS_1
“Ini indah sekali,” ucapnya tersenyum.