
Buk!
Buk!
”Buka pintunya!!”
”Keluarkan Naya dari sini!!”
”Naya gak mau menikah sama Om!!”
”Naya mau pulang!!”
Teriakan Naya terdengar hingga ke lantai satu, namun tidak ada satupun yang berani menolong gadis malang itu. Naya mengenakan gaun pengantin lengkap dengan riasan sedang duduk meringkuk di balik pintu yang terkunci. Dua jam yang lalu ketika ijab qobul berlangsung, dua orang bertubuh kekar mengurungnya di kamar.
Klik!
Suara kunci yang diputar membangunkan Naya dari posisi duduk. Dia sangat menanti kedatangan seseorang di depan pintu. Dengan cepat pintu sudah setengah terbuka. Seorang pria yang memasuki kamar membuat Naya reflek mundur.
”Naya mau pulang, Om,” ucap Naya dengan takut-takut.
Pria itu menutup kembali pintu lalu menguncinya. Dia menekan saklar untuk menerangi kamar yang gelap gulita. Terlihat Jeremy yang tampak gagah dengan setelan jas hitam.
”Ini rumahmu sekarang. Kau akan tinggal di sini selamanya.” Jeremy berjalan melewati Naya menuju kamar mandi.
Naya jatuh terduduk tepat di atas kasur akibat kakinya yang lemas. Dia melihat sekeliling dan baru menyadari jika sejak tadi dia sudah berada di dalam kamar Jeremy yang bernuansa maskulin.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Yang berarti Jeremy sedang membersihkan tubuh. Seketika bayangan buruk berputar di kepala Naya. Tanpa pikir panjang Naya langsung berlari menuju pintu dan memutar kunci.
Dengan gerakan cepat, Naya sudah berada di lantai bawah. Suasana terlihat sepi, aman untuk dia melarikan diri tanpa ada yang tau. Dia sedikit bingung menentukan ke arah mana ia melangkah, karena rumah itu sangat besar dan luas.
”Ayo Nay, berpikir …” gumam Naya pada diri sendiri.
”Non,” panggil seseorang dengan pelan, cukup mengejutkan Naya.
”Sebaiknya Non jangan mencoba pergi. Karena itu hanya akan menjadi sia-sia. Dan Tuan pasti akan menghukum, Non,” ujar wanita berpakaian pelayan yang ditaksir berusia empat puluh tahun ke atas.
”Maaf. Tapi Naya mau pulang … Naya gak mau tinggal di sini …” lirih Naya pada Euis, terpasang name tag pada seragam pelayan itu.
”Tapi … Non, Non sudah menjadi istri Tuan. Sudah seharusnya Non berada disini.”
”Lebih baik, Non kembali ke kamar,” lanjut Euis menasehati Naya.
”Naya nggak mau!” tegas Naya.
Euis menjadi bingung menghadapi Naya. Jika gadis itu sampai beneran kabur, Tuan mereka pasti akan marah besar. Walaupun dia yakin Naya tidak akan berhasil keluar dari sini karena penjagaan yang ketat. Dia hanya khawatir Naya akan dihukum.
__ADS_1
”Tolong kasih tau Naya dimana pintu keluarnya?” pinta Naya dengan memohon.
”Maaf, Non … bibi ….”
”Euis! Apa yang kamu lakukan?! Cepat kembali bekerja atau akan saya potong gaji kamu!” potong Jeremy sambil menuruni anak tangga.
”Maaf … maafkan saya Tuan,” sela Euis dengan cepat. Kemudian dia berlalu meninggalkan tempat dimana Naya berdiri.
Tiba-tiba tangan kecil Naya mencekal lengan Euis. Euis yang terkejut spontan menengok ke belakang mendapati Naya, meneteskan air mata. Ada sedikit rasa nyeri di hati Euis ketika melihat gadis itu harus menerima cobaan yang berat.
”Kanaya Zeroun! Cepat kembali ke kamarmu!” bentak Jeremy dari tengah tangga.
”Aku Naya Natasha! Bukan Kanaya Zeroun!” balas Naya dengan berani. Dia tidak suka dengan Jeremy yang dengan mudah mengganti namanya.
Euis mengelus lengan Naya. Rupanya keributan itu membawa pekerja lain menyaksikan perseteruan yang sedang terjadi.
”Mulai sekarang, kau Kanaya Zeroun!” tekan Jeremy.
”Tinggalkan Naya sendiri!” Jeremy menatap tajam ke arah Euis.
”Dan jangan ada yang berbicara padanya tanpa izin saya! Jika saya mendapati kalian berbicara pada Naya, saya akan menghukum bahkan mengeluarkan kalian dari sini!!” tegas Jeremy dengan aura mencekam dan disaksikan langsung oleh pekerja lain.
Berat hati Euis meninggalkan Naya.
”Jalan sendiri atau saya seret?!” ketus Jeremy.
”Naya mau pulang!! Naya gak mau jadi istri Om. Apa tidak ada wanita lain selain gadis belum cukup umur untuk Om nikahin.”
”Usiamu sudah sah untuk menikah secara agama dan negara.”
”Tapi Naya baru dua puluh tahun!!” sentak Naya.
”Saya tidak peduli! Karena saya sudah membayar mahal tubuhmu secara cash!!” ketus Jeremy dengan ekspresi datar.
Hiks … hiks … pertahanan Naya runtuh. Mengingat kembali bagaimana orangtuanya melelang dirinya kepada pria-pria berduit yang rata-rata para pria hidung belang.
Sebelum Naya jatuh di tangan Jeremy, dia telah di DP oleh pria tua bangka yang haus akan nafsu. Sehari setelah itu Jeremy datang dengan tawaran harga dua kali lipat dari pembeli pertama. Tentu saja orang tua Naya menerima dengan sangat senang.
Naya berlari menjauh dari tempat dia berdiri. Dia harus mencoba kabur selagi ada kesempatan. Tidak peduli kemana dia melangkah asalkan bisa menjauh dari Jeremy.
”Stop! Biarkan saja dia lari!” Jeremy menghentikan para penjaganya yang bersiap mengejar Naya.
Jeremy tersenyum kecut. Dia berjalan dengan angkuh ke mana Naya berlari. Tidak sedikitpun sikap ramah dia perlihatkan pada pelayan-pelayan yang tunduk padanya.
Dari ambang pintu Jeremy memperhatikan Naya yang duduk termenung di pinggir kolam renang. Sekilas dia tertawa, karena gadis itu telah mengambil jalan yang salah. Pintu itu memang tertuju ke luar tapi, ke kolam renang yang dikelilingi tembok besar dan kokoh. Tidak ada jalan keluar di sana apalagi untuk bisa memanjat. Mustahil.
__ADS_1
Tiga jam berlalu, Naya baru beranjak dari duduk. Dia terlihat lelah dan lesu karena baju pengantin yang gerah dan cukup berat. Ditambah, tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sejak tadi pagi. Karena gadis itu hanya menangis dan memberontak.
Byur!
Jeremy menghentikan aktivitasnya pada laptop ketika melihat Naya masuk ke dalam kolam. Dari tempat dia duduk, dia memperhatikan gadis itu dengan alis terangkat.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik.
Sampai hitungan ke tujuh Jeremy berlari ke arah kolam dan terjun bebas. Dengan cepat dia berenang ke arah Naya, menyelam dan menarik tubuh mungil itu ke permukaan air. Dalam gendongan dia membawa tubuh Naya ke pinggir kolam dan memastikan kondisi Naya yang masih sadarkan diri.
Seorang pelayan berjalan cepat ke arah mereka lalu menyampirkan handuk ke tubuh Naya. Tidak lupa wanita itu juga memberikan handuk pada Jeremy yang sudah keluar dari kolam.
”Bikin susah aja!” Jeremy menatap Naya yang masih terduduk.
”Gak sekalian lompat dari rooftop kebawah!” cerca Jeremy.
Naya hanya diam tertunduk lesu dengan jantung yang berdegup kencang. Kejadian barusan hampir membuat dia kehilangan nyawa.
”Ikut saya!”
Jeremy menarik tangan Naya, memaksa gadis itu untuk berdiri. Dengan kasar ia menarik Naya masuk ke dalam rumah. Gaun yang panjang dan basah membuat Naya jatuh berkali-kali, namun tidak ada sedikitpun belas kasihan dari Jeremy.
”Om … pelan-pelan,” sela Naya.
”Naya takut jatuh.”
”Om!” Semakin memprotes semakin kencang cengkraman Jeremy pada tangan Naya.
Jeremy tidak peduli dengan segala protes Naya, bahkan ketika gadis itu jatuh dan terseret karenanya. Dia terus menarik paksa tangan gadis itu dengan kasar sampai ke lantai dua.
”Apa kau bilang tadi, kau takut jatuh?!” geram Jeremy.
”Seperti ini.” Jeremy mendorong Naya hingga tersungkur. Lalu dia menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan Naya.
”Cukup bersikap baik. Maka hidupmu akan aman,” bisik Jeremy, menusuk.
”Jangan banyak tingkah!” Kali ini tangan Jeremy mencengkram kuat pipi Naya sampai gadis itu meringis.
”Cepat bersihkan tubuh kotor mu. Saya jijik melihat mu seperti ini!” Tatapan Jeremy nyalang menyiratkan kemarahan.
__ADS_1
Dalam cengkraman Jeremy, Naya hanya bisa menangis tanpa berkata-kata. Meresapi rasa nyeri di wajahnya.