
Akan tetapi, saat itu tiba-tiba saja Naya menginjak salah satu lantai yang licin sehingga ia hampir saja terjatuh. Untungnya Gerald dengan cepat menyambut tubuh Naya sehingga ia terjatuh di dalam pelukannya. Mata keduanya saling bertatapan dan merasakan debaran jantung yang sangat cepat dari biasanya.
"Ada apa ini? Kenapa lagi-lagi perasaanku begitu tak karuan saat menatap mata Naya? Apa jangan-jangan aku memang sudah mulai mencintainya?" Gumam Gerald dalam hati.
"Ya ampun Gerald, padahal selama ini aku sudah berusaha menjadi istrimu yang baik. Aku juga yakin kalau aku sudah mulai menyukaimu, tetapi kenapa kau sama sekali tidak pernah mencintaiku. Kau malah terang-terangan menjalin hubungan dengan wanita lain bahkan melakukan hal yang tidak sewajarnya di kamarmu sendiri Gerald, di rumah yang jelas-jelas ada aku yang tinggal di sana," batin Naya.
"Lepaskan!" kata Naya saat ia tersadar.
Gerald langsung saja melepaskan tubuh Naya dari pelukannya itu. Kini Gerald dan Naya menjadi salah tingkah sendiri setelah melewati apa yang baru saja mereka lakukan.
"Sudahlah, aku mau mandi. Perutku lapar, kau siapkan saja sarapan nasi goreng seperti yang biasa kau buat. Jangan lupa kau juga ganti baju, nanti kau bisa masuk angin," kata Gerald yang tidak menyadari jika ucapannya itu menunjukkan perhatiannya kepada Naya.
Lalu Gerald pun segera saja pergi meninggalkan istrinya, sedangkan Naya masih terdiam mematung.
"Apa aku tidak salah dengar? Pria arogan itu memintaku untuk menyiapkan nasi goreng. Padahal selama ini dia sama sekali tidak mau menyentuh makanan yang aku buat, terakhir kali dia menyentuh makanan yang aku buat itu di saat orang tuanya masih ada. Itu juga hanya karena terpaksa. Dan satu lagi, Gerald memintaku untuk segera mengganti baju karena takut aku akan masuk angin. Apa itu artinya Gerald perhatian terhadapku? Tidak, itu sangat tidak mungkin. Pasti hanya perasaanku saja," gumam Naya dalam hati sembari menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikirannya itu.
Naya pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Setelah itu, ia pun kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang telah diminta oleh suaminya tadi. Dengan sangat senang dan semangat, Naya pun segera membuat nasi goreng itu, perutnya sendiri juga terasa lapar karena sehabis menyirami taman bunga milik sang mertua yang ukurannya cukup besar.
***
"Hari ini kau tidak ada kegiatan apa-apa?" Tanya Naya di sela-sela sarapan mereka.
"Tidak," jawab Gerald singkat.
"Oh ya sudah, kalau gitu aku yang mau pergi ke rumah Ibu tiriku," ucap Naya.
__ADS_1
Gerald yang sedang sarapan itu pun menghentikan aktivitasnya lalu beralih menatap Naya.
"Ke rumah Ibu tiri? Tapi untuk apa? Bukankah kau bilang dia itu Ibu yang sangat kejam. Bahkan dia sudah menjualmu kepadaku," kata Gerald.
"Ya bisa dikatakan seperti itu, tapi bagaimanapun juga Ibu Rosa adalah Ibu yang telah merawatku dari kecil sewaktu Ibuku dulu sudah meninggal. Jadi menurutku tidak ada salahnya jika aku sesekali berkunjung melihatnya ke rumah," kata Naya.
"Aku ikut," ucap Gerald sehingga membuat Naya terkejut.
"Apa kau yakin mau ikut?" Tanya Naya untuk memastikannya lagi.
"Iya aku mau ikut, aku juga bosan di rumah, lagipula aku tidak mau jika Ibu tirimu itu berbuat kasar kepadamu," kata Gerald beralasan.
"Memangnya kenapa? Kau sendiri selalu berbuat kasar kepadaku," hardik Naya.
"Sudahlah, habiskan saja sarapan ini dulu. Kalau kau memang mau ikut, ya sudah kau ikut saja. Lagipula kau juga suamiku, pasti ibu akan menanyakanmu," kata Naya.
Lalu Gerald dan Naya pun kembali menyantap sarapan mereka hingga habis. Setelah itu barulah mereka berkunjung ke rumah orang tua Naya. Tidak lupa Gerald dan Naya mampir membeli buah tangan terlebih dahulu untuk Rosa dan suaminya.
***
Naya dan gerald tiba di halaman kediaman Rosa, saat itu mereka melihat ada sebuah mobil lain di depan rumah tersebut. Naya merasa heran, karena sebelumnya ia sama sekali tidak pernah melihat mobil itu.
"Siapa ya? Apa mungkin ada teman yang Ibu yang datang," gumam Naya.
Begitu juga dengan Gerald ya ikut merasakan bingung karena melihat Naya yang kelihatan sangat bingung itu. Gerald dan Nayapun melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama lalu mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok … tok … tok … saat suara pintu terdengar, Rosa pun bergegas membukakan pintu tersebut dan sangat terkejut melihat pasangan suami istri itu ada didepan pintu.
"Kalian mengunjungi Ibu? Ayo, ayo, masuk," ucap Rosa yang begitu manis.
Naya memutar bola matanya malas, ia tahu jika ibu tirinya ini pasti sedang bersandiwara di depan Gerald. Naya dan Gerald pun segera saja masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang depan. Akan tetapi, Naya bisa melihat dari wajah Ibu tirinya itu jika ia sedang merasa takut atau khawatir karena sedang menyembunyikan sesuatu.
"Bu itu mobil siapa?" Tanya Naya.
"Mobil? Oh… Itu mobil suami Ibu," jawab Rosa.
"Oh … jadi suami Ibu beli mobil baru. Sudah punya kerjaan tetap sekarang?" sindir Naya.
"Naya, mentang-mentang kau lagi di depan Tuan Gerald, berani-beraninya kau berbicara seperti itu," umpat Rosa dalam hati.
Jika tidak ada Gerald, sudah pasti Rosa akan memarahi Naya habis-habisan. Akan tetapi saat ini ia hanya bisa berusaha untuk sabar.
"iya Naya, suami Ibu baru saja membeli mobil itu. Kebetulan dia sudah mempunyai pekerjaan tetap dan mendapatkan bonus sehingga suami Ibu bisa membeli mobil itu," kata Rosa terlihat sangat gugup.
Naya dapat melihat dari sorotan mata ibu tirinya tersebut bahwa ia sedang berbohong. Tetapi Naya juga tidak mau memperpanjang masalah itu, toh menurutnya itu sangat tidak penting.
Akan tetapi, saat itu tiba-tiba saja keluar seorang pria muda dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya sedang mencari keberadaan Rosa. Sontak Naya sangat terkejut karena ia mengenali pria muda yang saat ini ada di depan matanya.
"Akh … ! Teriak Naya karena ia merasa malu melihat pria itu bertelanjang dada.
...Bersambung......
__ADS_1