
Sepanjang perjalanan pulang, Gerald tampak resah memikirkan sang istri. Ia benar-benar takut jika Naya menjadi salah paham dan pastinya akan benar-benar ingin berpisah dengannya, mengingat bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli berapa banyak kendaraan di jalanan, berapa banyak rintangannya, tetap saja ia tempuh dengan cepat hingga akhirnya ia tiba di rumah dengan selamat.
Baru saja Gerald melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, ia sudah disambut oleh Dania yang telah menunggunya dengan tatapan murka.
"Mama dimana Naya Ma?" Tanya Gerald.
"Kamu bertanya dengan Mama? Seharusnya Mama yang bertanya dengan kamu Gerald!" Bentak Dania.
Gerald terkejut mendengar bentakan dan juga sikap ibunya itu, ia tidak mengerti kenapa ibunya kelihatan marah sekali padanya.
"Ada apa ini Ma? Kenapa Mama malah membentak aku? Aku ini benar-benar lagi panik mencari Naya Ma," ucap Gerald.
"Kenapa kamu harus panik mencari keberadaan Naya? Memang ada apa?" Tanya Dania.
Gerald pun tertunduk mengingat saat tadi Naya datang ke kantornya, tetapi ia tidak bertemu dengannya.
"Kamu baca ini," kata Dania memberikan secarik kertas yang ia temukan di kamar Naya.
__ADS_1
"Apa ini Ma?" Tanya Gerald kebingungan.
Dania tidak menjawabnya, ia semakin menyodorkan kertas tersebut hingga Gerald pun menerimanya. Gerald mulai membaca coretan tinta yang ada di atas kertas putih tersebut.
Dear Gerald, Mama dan Papa.
Gerald, Mama, Papa, maafkan Naya ya harus pergi membawa Kania. Karena hanya Kania lah harta satu-satunya yang paling berharga dalam hidup Kania saat ini. Naya minta maaf terpaksa harus pergi, aku menyerah dan aku benar-benar sudah tidak kuat lagi menghadapi kelakuan Gerald. Selama ini aku sudah banyak bersabar untuk menghadapi sikapnya, tetapi sepertinya Gerald sama sekali tak pernah menghargai Naya sebagai istrinya dan apa Mama dan Papa tahu apa penyebabnya aku memilih untuk pergi saat ini? Kalian berdua bisa langsung tanyakan kepada Gerald, apa yang terjadi siang tadi di saat aku pergi mengantarkan makanan untuknya? Tidak akan ada istri yang bisa bersabar melihat suaminya terus-terusan berbuat tidak senonoh dengan wanita lain di depan mata kepalanya sendiri. Dan ini bukan pertama kalinya Naya melihat hal itu langsung Ma, Pa, yang pertama dulu sewaktu Mama berada di luar Negeri. Naya masih bisa memakluminya karena bagi aku itu masih awal pernikahan, Gerald hanya belum bisa saja menerima aku. Tetapi semakin aku mencoba bersabar, semakin lama bukan kebahagiaan yang aku dapatkan tetapi hanya siksaan batin. Bahkan di saat aku sudah beranggapan bahwa Gerald sudah mencintaiku, hal ini pun terulang kembali.
Gerald, bukankah selama ini kamu tidak percaya kalau kania ini adalah anak kandung kamu dan kamu juga pernah meminta untuk melakukan tes DNA kan? Aku sengaja melakukan tes DNA-nya langsung sejak pertama kali kelahiran Naya tanpa sepengetahuan kalian bertiga. Hasil tes DNA itu aku simpan di dalam lemari bawah pakaianmu, kau bisa melihatnya Gerald, aku harap setelah kau mengetahuinya kau tidak akan pernah lagi meragukan bahwa kania adalah anakmu. Tapi sayangnya walaupun kamu sudah tahu dan tidak meragukannya lagi, Aku dan kania sudah pergi. Tolong jangan mencariku lagi, aku pasti akan mengirimkan surat perceraian kita nanti ke rumah.
Salam,
Gerald segera saja berlari ke kamarnya untuk mencari hasil tes DNA yang dimaksud oleh Naya, tentunya Dania juga mengikuti Gerald karena dia juga penasaran dengan hasilnya. Setelah menemukannya, Gerald tampak ragu untuk membukanya. Tetapi ia teringat bukankah di dalam surat tadi Naya begitu yakin dengan apa yang dia katakan selama ini? Akhirnya Gerald pun membuka hasil tes DNA itu yang menyatakan bahwa Gerald adalah ayah biologis dari ananda Kania, yang itu artinya Kania memang anak kandungnya.
Gerald tak sanggup lagi untuk menahan air matanya yang kini jatuh bercucuran, tubuhnya seketika lemah, ia pun duduk bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya meratapi kebodohan yang ia lakukan selama ini. Ia juga memukul tangannya yang ia genggam ke lantai berkali-kali dengan sangat keras sehingga tangannya berdarah.
Meskipun Dania saat ini sangat marah terhadap Gerald, tetapi bagaimanapun juga pria itu adalah anaknya, ia merasa begitu kasihan melihat nasib anaknya saat ini.
__ADS_1
"Gerald sudahlah Nak, kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini. Semuanya sudah terjadi," ucap Dania mencoba menenangkan anaknya sembari mencegah perbuatan yang menyakiti diri sendiri.
"Aku ini bodoh Ma, aku sudah menyia-nyiakan Naya selama ini, aku sudah meragukan istri dan juga anak aku Ma. Ternyata apa yang Naya ucapkan selama ini benar, tapi aku sudah berbuat jahat terhadapnya. Naya memang pantas pergi meninggalkanku, tapi aku tidak rela kehilangan Naya dan Kania Ma. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar sangat bodoh, aku bodoh!" Gerald berteriak diiringi tangisannya sembari memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.
Dania pun tak kuasa menahan tangis, ia menarik tubuh kekar sang anak ke dalam pelukannya.
"Sabar Nak, sekarang ini lebih baik kita cari ya keberadaan Naya dan Kania. Mudah-mudahan kita bisa menemukannya," ucap Dania.
"Iya Ma," jawab Gerald seraya melerai pelukan mereka.
Gerald dan Dania langsung saja pergi untuk mencari keberadaan Naya di sepanjang perjalanan, berharap Naya belum pergi jauh membawa anaknya. Sambil mencari di jalanan, Dania pun mencoba menghubungi beberapa kerabat yang sekiranya Naya kenal. Sedangkan Gerald sendiri bingung harus menghubungi siapa, karena ketidak peduliannya terhadap Naya selama ini, ia sampai tidak tahu siapa teman dekat Naya. Gerald hanya tahu Naya pernah dekat dengan Denis yang dianggap sebagai selingkuhannya itu, tetapi ternyata dugaan selama ini salah, hingga pada akhirnya Naya meninggalkannya.
"Naya, kamu dimana Sayang? Please jangan seperti ini," batin Gerald yang begitu panik sembari mencoba terus menghubungi Naya. Tetapi nomor ponsel istrinya itu sama sekali tidak bisa di hubungi sejak tadi.
***
"Sementara itu, saat ini Naya yang menggendong Kania baru saja masuk. ke dalam bus. Naya berniat akan pergi meninggalkan kota yang banyak mengajarinya arti hidup, kota yang meninggalkan kenangan buruk dan juga kenangan indah yang pernah ia lalui. Naya bahagia karena pernah mempunyai keluarga lengkap bersama ayah dan ibunya, ia juga bahagia pernah kenal dengan Dania dan David yang begitu menyayanginya, begitu juga dengan Gerald. Meskipun Naya tidak pernah merasakan cinta yang tulus dari Gerald, tetapi ia bahagia karena pernah mencintai pria tersebut dan saat ini ia pun pergi membawa buah cintanya bersama Gerald, meskipun Gerald tak mengakuinya dari awal kehamilannya.
__ADS_1
Kania tampak terdiam, bayi berusia 1 minggu itu seolah mengerti dengan keadaan ibunya saat ini, bahkan ia terkadang tersenyum seolah menguatkan sang ibu dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja Ma.
...Bersambung... ...