
"Mama, Mama ada apa ke sini?" Tanya David yang tidak sadar jika sang istri sejak tadi sudah berada di belakangnya dan mendengar semua percakapannya itu dengan Boy.
"Jawab pertanyaan Mama Pa, Gerald kenapa? Ada apa dengan Gerald? Benar kan sudah terjadi sesuatu dengan Gerald?" Beberapa pertanyaan dilontarkan dari mulut Dania.
David menghembuskan nafas pelan lalu mendekati sang istri dan memegang pundaknya.
"Sayang, Gerald diculik. Sekarang Boy dan anak buah Papa sedang mencari keberadaannya. Diduga penculikan ini sudah direncanakan, sudah diatur sedemikian rupa bahkan satpam di kantor yang berjaga malam juga dipukul hingga pingsan," kata David yang membuat Dania begitu syok mendengarnya.
"Apa?" Tiba-tiba Dania merasa dadanya sekat hingga ia pun pingsan.
"Mama, Mama bangun!" Teriak David sembari mengguncang tubuh sang istri yang kini berada di pangkuannya.
David begitu panik melihatnya, apa yang di takutkannya akhirnya terjadi. Untuk itulah ia merahasiakan pada sang istri di saat Boy tadi mengabarkan tentang Gerald, karena ia tahu akibatnya akan sangat fatal.
"Bagaimana ini? Keadaan di luar masih hujan lebat, tapi Dania tidak mungkin aku biarkan berada di villa dalam kondisi seperti ini," gumam David.
Naya yang mendengar teriakan ayah mertuanya itu, kebetulan saat ini anaknya sedang tidur, sehingga ia pun segera saja berlari menghampiri mereka karena takut terjadi sesuatu. Benar saja saat ia keluar melihat ibu mertuanya sedang tidak sadarkan diri.
"Papa, Mama kenapa Pa?" Tanya Naya yang juga terlihat panik.
"Mama kamu pingsan Naya, bagaimana ini? Apa yang harus Papa lakukan? Papa tidak bisa membawa Mama ke rumah sakit dengan cuaca seperti ini, tetapi Papa juga tidak mungkin diam saja melihat keadaan Mama seperti ini," ucap David.
"Iya Pa Naya tahu, lagipula sangat berbahaya kalau Papa memaksakan diri keluar sekarang ini. Lebih baik kita coba lakukan seperti yang biasa saja ya Pa, ayo Pa kita bawa Mama ke kamar," kata Naya.
__ADS_1
"Iya Nay," jawab David diiringi anggukan kepalanya. Lalu ia pun menggendong sang istri dan pembawanya masuk ke dalam kamar.
Seperti yang biasa Naya lakukan ketika ibu mertuanya itu pingsan, ia mencoba memberikan minyak angin kepada Dania sembari menggosok pelan dada dan punggungnya. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian, Dania pun perlahan membuka matanya itu yang membuat Naya dan David merasa lega.
"Gerald, Gerald, kamu dimana?" Ucapan yang pertama keluar dari mulut Dania ketika ia sadar sembari menangis.
"Ma, are you oke?" Tanya Naya. Tidak ada jawaban dari mulut Dania, hanya terlihat tatapan sendu yang menatapnya.
"Sayang, syukurlah kamu sudah bangun, Mama sudah membuat Papa khawatir," ucap David.
"Pa, cari Gerald Pa. Mama tidak tenang. Bagaimana kalau Gerald diapa-apakan oleh penculik itu?" Kata Dania.
Sontak saja Naya yang terkejut mendengar akan hal itu, ia begitu syok dan membelalakkan matanya. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaannya saat ini, sudah pasti ia sangat takut.
Dania sendiri merasa terkejut karena tidak sengaja mengucapkan hal itu di depan Naya. Seharusnya ia bisa menjaga rahasia itu, tetapi bagaimana lagi, ia juga begitu sangat khawatir terhadap anaknya.
"Naya, kamu yang tenang dulu ya, biar Papa ceritakan," kata David.
"Kenapa dengan Gerald Pa? Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Naya meminta penjelasan kepada ayah mertuanya itu.
"Jadi seperti ini Naya … ."
Secara perlahan, David menjelaskan apa saja yang sudah ia ketahui tentang kondisi Gerald dari Boy. Tubuh Naya terasa lemah seketika dan nyaris saja tumbang, untungnya dia bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia pun tidak terjatuh. Naya menangis tersedu-sedu, perasaannya benar-benar sangat kacau.
__ADS_1
"Aku tidak bisa diam aja Pa, Ma, sekarang juga aku akan pergi mencari Gerald," ucap Naya.
"Naya kamu mau kemana? Sudah ya kamu coba tenang dan bersabar. Percuma kalau kamu pergi sekarang, malah akan membahayakan diri kamu sendiri. Kamu tidak lihat cuaca di luar sana bagaimana? Kamu tidak kasihan dengan Kania nantinya kalau terjadi sesuatu dengan kamu di jalan. Saat ini saja Kania sudah bisa merasakan sesuatu yang terjadi kepada ayahnya. Lebih baik kamu diam saja di rumah, doakan Gerald tidak kenapa-napa, Gerald baik-baik saja ya," ucap David.
"Tapi Naya tidak tenang sebelum ada kabar dari Gerald," kata Naya
"Naya, Saat ini Boy dan beberapa anak buah Papa sedang mencari keberadaan Gerald. Kamu tenang saja ya, mudah-mudahan mereka bisa cepat menemukannya. Mereka sudah menemukan petunjuk tentang Gerald, karena tadi dia sempat menghubungi Boy, tapi saat ini nomor handphonenya sudah tidak aktif," kata David.
"Apa yang Papa katakan benar Sayang, lebih baik sekarang kamu ke kamar, kamu temani saja Kania lagi. Kasihan Kania, ini lagi hujan lebat, Kania juga tidak bisa tidur nyenyak kan saat ini. Kalau kamu pergi bagaimana, kania akan semakin tidak tenang Sayang," kata Dania yang ikut mencoba memberi pengertian kepada sang menantu.
Padahal Dania sendiri juga merasa sangat khawatir dan ingin turun tangan langsung mencari anaknya. Tetapi jika ia berpikir lebih jernih lagi, apa iya ia bisa mencari Gerald, sedangkan anak buah suaminya dan juga Boy saja belum bisa menemuinya
***
Setelah meminta tolong kepada IT untuk melacak nomor ponsel Gerald, akhirnya Boy pun mengetahui dimana lokasi Gerald saat ini. Ia segera saja menghubungi salah satu anak buah David dan saat ini mereka langsung menuju ke lokasi tersebut.
Lokasinya juga cukup jauh berada di tengah-tengah hutan. Untungnya saat ini hujan sudah mulai terlihat reda, hanya tinggal rintik-rintik saja yang menemani pencarian mereka. Hingga tidak berapa lama kemudian mereka pun telah tiba di lokasi tersebut dan akan mengendap-endap masuk ke bangunan tua yang masih terlihat kokoh.
***
"Bangun lo!" Gerald terbangun saat mendengar teriakan dan juga guyuran air yang menyiram wajahnya.
Gerald teringat saat tadi malam ia sedang mencoba mencongkel jendela dengan alat seadanya, tiba-tiba ada tiga preman yang masuk ke dalam gudang dan menangkap basah aksinya. Awalnya Gerald melawan hingga perkelahian sengit pun tak terelakkan antara tiga lawan satu. Karena kondisi Gerald saat itu sudah lemah sehingga ia sama sekali tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan, ditambah lagi ia melawan tiga orang sekaligus yang tanpa henti menghajarnya hingga membuatnya pun pingsan kembali. Dan kini Gerald menyadari jika ia sudah terikat kembali di kursi, bahkan kali ini mulutnya juga ditutup oleh lakban. Ponsel yang ada di saku celananya juga sudah tidak ada, sudah pasti para preman itu yang mengambilnya.
__ADS_1
...Bersambung... ...