
Bukan hanya itu saja, sebelum mereka melakukan program hamil. Naya dan Putri sudah berencana akan jalan-jalan ke New York secara bersama setelah mereka lulus kuliah nanti. Setelah kemarin Putri dan Gerald juga sempat menunda rencana ke New York karena beberapa masalah yang menimpa keluarga mereka.
Siang harinya, Naya dan Putri sedang dalam perjalanan karena sudah berjanji akan makan siang di restoran. Gerald dan George yang mendengar akan hal itu bergegas menyusul karena ingin makan siang bersama dengan istri mereka.
"Aku bilang juga apa, istri aku itu memang yang terbaik. Kamu pasti bisa melewati sidang dengan lancar tanpa halangan apapun," ucap Gerald.
"Istri aku lah yang terbaik, dia juga bisa melewatinya dengan lancar," ucap George pula.
"Tidak bisa, tetap saja istriku yang lebih hebat," ucap Gerald yang tak bisa terima.
"Istriku!" Ucap George.
"Sudah aku bilang, istriku!" Ucap Gerald lagi.
Awalnya Naya dan Putri hanya tersenyum saja dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan suami mereka yang seperti anak kecil, akan tetapi semakin lama malah membuat Naya dan Putri itu merasa kesal sendiri.
"Stop! Kalian apa-apaan sih kok malah jadi ribut. Yang benar itu aku dan Putri sama-sama hebat, seperti itu saja harus diperdebatkan," ucap Naya.
"Iya nih, kalian sebagai suami kita ya pastinya mendukung istri masing-masing lah. Tapi kita berdua sama-sama hebat. Meskipun tadi awalnya kita berdua merasakan begitu gugup yang luar biasa, tetapi sekarang ini kita sudah lega. Dan saat ini kita lapar karena telah melewati ketegangan yang baru saja terjadi, bukan mau mendengar kalian berdua ribut. Merusak suasana saja deh," ucap Putri.
Secara bersamaan Gerald dan George menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal diiringi cengir kuda yang terlihat dari sudut bibir keduanya.
"He … he … he … maaf sayang. Ya aku kan nggak terima George mengatakan istrinya lebih hebat dari istri aku," ucap Gerard.
"Aku juga nggak terima lah kamu mengatakan istrimu lebih hebat dari istriku," hardik George.
"Sudah, sudah, kenapa malah mulai lagi sih. Lebih baik sekarang kita pesan makanan karena aku dan Putri sudah sangat lapar," ucap Naya.
"Iya, kalau kalian berdua masih mau ribut, mau berantem, kalian keluar saja gih sama," usir Putri.
__ADS_1
"Nah aku setuju," sahut Naya.
"Jangan gitu dong sayang. Ya sudah kita pesan makanan sekarang," ucap Gerald, lalu segera saja mereka memesan makanan.
Meskipun Gerald dan George selalu saja berdebat di saat bertemu seperti Tom And Jerry, akan tetapi di antara mereka berdua sebenarnya sudah sangat akrab. Bahkan Gerald yang sama sekali tidak memiliki teman dekat kecuali Boy asistennya, kini telah merasa mempunyai sahabat. Begitu juga sebaliknya yang dirasakan oleh George.
Naya dan Putri juga merasa senang karena selain mereka berdua yang bersahabat, suami mereka juga telah menjalin persahabatan hingga mereka berempat pun sudah layaknya seperti adik kakak yang ke mana-mana selalu bersama dan saling terbuka.
"Oh ya, jadi bagaimana rencana liburan kita ke New York, apa kita akan pergi setelah ini?" Tanya George.
"Ya nggak bisa gitu lah Sayang, kan kita sudah sepakat akan pergi ke New York bersama-sama di saat aku dan Naya sudah lulus kuliah. Sudah nggak lama lagi kok waktunya, jadi sabar dulu ya," ucap Putri.
"Tahu nih George, nggak sabar sekali ya Anda," sindir Gerald.
George memutar bola mata malas, enggan meladeni suami Naya itu.
Setelah makanan yang di pesan telah tersaji di atas meja, kini mereka pun langsung saja menikmatinya. Selesai makan siang bersama George dan Gerald kembali ke perusahaan, sedangkan Putri dan Naya segera saja pulang ke rumah masing-masing.
Karena sepakat akan pergi ke New York bersama setelah lulus kuliah nanti, kini mereka berencana untuk liburan ke Jogja terlebih dulu. Kebetulan di saat ini David juga sedang ada urusan di luar negeri, sehingga Naya dan Gerald pun tidak perlu khawatir untuk pergi liburan bersama sahabatnya.
Libur akhir pekan pun telah tiba, kini Naya, Gerald, Kania, Putri dan George sedang dalam perjalanan menuju ke Jogja dengan menggunakan 1 mobil yang sama sesuai kesepakatan mereka.
Hingga beberapa jam dalam perjalanan, kini mereka telah tiba di Jogja tepatnya di depan rumah Gerald semasa kecil.
"Welcome to Jogja!" Teriak Naya sembari meregangkan kedua tangannya, sementara Kania sedang berada di dalam gendongan Gerald. Sedangkan sepanjang perjalanan pergi tadi, George lah yang menyetir mobil.
"Sayang, sepertinya kamu senang banget ya berada di sini," ucap Gerald.
"Iya dong, karena aku merasa kalau di Jogja itu lebih nyaman daripada berada di Jakarta," ucap Naya.
__ADS_1
"Iya dong, ini kan tempat kelahiran aku dan Kak Gerald, iya nggak Kak," ucap Putri.
"Iya dong, maka dari itu lebih baik kita liburan di sini dan untuk kalian berdua menginap di sini saja sekalian nggak masalah kan," ucap Gerald.
"Ya nggak masalah lah Ger. Lagipula kita berempat juga pasangan suami istri, jadi nggak akan di grebek warga juga kan," ucap George.
"Tapi, bukan itu maksud aku George," ucap Gerald.
"Oh pasti soal penginapan ya, kita berdua juga nggak ada niat untuk mencari penginapan kok. Dari pada harus mencari penginapan, ada yang gratis kenapa harus di tolak," ucap George.
"Kamu ini ya maunya yang gratisan aja," ucap Putri.
"Kan memang benar Sayang, lagipula kita itu harus mengumpulkan dana untuk pergi ke New York," ucap Goerge.
"Ya ampun jadi ternyata Tuan George ini sudah bangkrut ya sampai harus mengumpulkan dana hanya untuk pergi ke New York. Seharusnya jujur saja kalau memang tidak ada dananya. Nanti biar aku saja yang beli tiket, tapi tiket Putri saja ya," ledek Gerald.
Mendadak George menjadi kesal, niatnya hanya bercanda tetapi malah diejek habis-habisan oleh sahabatnya itu. Ya begitulah yang terjadi saat ini, selalu saja ada pertengkaran kecil yang terkadang menjadi lelucon diantara Gerald dan George. Naya dan Putri pun semakin terbiasa mendengar pertikaian di antara suami mereka itu.
"Ayo kita masuk aja deh, pusing kalau mendengarkan para suami ini bertengkar yang nggak jelas," ajak Naya sembari mengambil sang anak dari gendongan ayahnya.
"Ya udah yuk, aku juga sudah sangat lelah. Lebih baik kita masuk dan beristirahat kan," ucap Putri.
Lalu kedua wanita itu pun melangkahkan kaki meninggalkan Gerald dan George yang masih tampak berdebat itu.
"Sayang, tunggu aku dong," ucap Gerald.
"Sayang, jangan tinggalkan aku," ucap George.
Lalu para suami berlari menghampiri istrinya. Dan kini mereka berempat pun jalan berdampingan masuk ke dalam rumah peninggalan kakek dan nenek Gerald.
__ADS_1
...Bersambung …...