
"Nay, apa kau tidak jadi ikut?" Tanya Gerald saat ia melihat Naya masih saja bersantai rebahan di tempat tidurnya, sedangkan ia sudah rapi terlebih dahulu.
"Tentu saja jadi, bukankah kau bilang acaranya itu jam 08.00 malam? Ini masih jam 06.30 Gerald," jawab Naya.
"Ya kau benar, tapi setidaknya kau harus bersiap-siap sekarang. Lokasinya jauh dari sini, aku tidak mau kita terlambat sampai di sana. Ini adalah acara penting klienku Naya," kata Gerald.
"Oke, sebenarnya aku juga mau bersiap-siap dari tadi, tapi aku tidak mau kalau pakaianku nanti akan kau komen salah lagi sehingga aku harus mengganti pakaian, akan membuang-buang waktu saja. Jadi lebih baik aku menunggumu untuk menanyakan langsung aku harus memakai baju apa malam ini," kata Naya.
"Terserah kau saja, yang penting tertutup dan sopan. Jangan memakai baju tembus pandang apalagi kekurangan bahan," jawab Gerald.
"Ck, kau ini. Apa kau pikir aku punya baju tembus pandang seperti yang kau katakan itu." Naya berdecak seraya tersenyum sinis.
"Ya sudah kalau begitu, cepat bersiap-siap. Aku akan menunggumu di bawah," hardik Gerald.
"Tunggu! Aku mau kau yang memilihkan gaun untukku," pinta Naya.
Gerald mengernyitkan dahinya merasa heran, tak biasanya Naya meminta hal itu. Akan tetapi lagi-lagi Gerald beranggapan jika ini adalah keinginan ibu hamil, maka Gerald pun menurutinya.
"Ada dimana gaun-gaunmu itu?" Tanya Gerald.
"Di situ." Naya menunjuk.
Gerad segera saja membuka lemari yang berisi pakaian Naya dan mulai mencarikan gaun mana yang cocok untuk istrinya, lalu ia mengambil sebuah gaun berwarna hitam senada dengan setelan jas yang dipakainya.
"Pakai ini! Setengah jam lagi kau harus sudah turun." Gerald menyerahkan gaun tersebut kepada Naya, lalu keluar dari kamar.
"Hm … boleh juga seleranya," gumam Naya tersenyum.
***
__ADS_1
Naya menuruni tangga dengan langkah hati-hati, ia menggunakan gaun panjang pilihan Gerald yang begitu terlihat sangat anggun. Sehingga tiga pasang mata pun menatap kagum ke arahnya, siapa lagi kalau bukan Gerald, Dania dan David. Mereka sangat kagum melihat kecantikan Naya, meskipun saat ini ia sedang hamil sama sekali tak mengurangi kecantikannya itu.
Dania dan David saling pandang dan tersenyum melihat Gerald yang saat itu sedang menatap Naya tanpa berkedip, terlihat jelas jika ia sangat terpesona kepada istrinya.
"Sampai tidak bisa berkedip melihatnya," sindir David.
"Iya karena terlalu terpesona melihat kecantikan Naya," sambung Dania.
Gerald yang menyadari jika ia sedang disindir pun segera mengalihkan pandangannya serta menjadi salah tingkah.
"Apaan sih Pa, Ma, siapa juga yang tidak berkedip karena terpesona, biasa saja kok," ucap Gerald yang merasa malu karena digoda oleh kedua orang tuanya.
Sedangkan Naya hanya tersenyum saja melangkahkan kaki mendekati mereka.
"Naya, meskipun kamu sedang hamil tetapi kamu tetap terlihat cantik. Sama sekali tidak mengurangi aura kecantikan kamu Sayang," puji Dania.
"Terimakasih Ma pujiannya," ucap Naya tersenyum malu.
"Iya Gerald, jangan kebut-kebutan juga bawa mobilnya. Istri kamu itu sedang hamil, bahaya kebut-kebutan di jalan," pesan David pula.
"Iya Ma, Pa, tenang saja ya. Aku dan Naya tidak akan pulang larut malam dan aku pasti bawa mobilnya pelan seperti kura-kura," ucap Gerald sehingga membuat Dania dan David tersenyum.
Gerald dan Naya pun berpamitan kepada kedua orang tuanya lalu segera pergi menuju ke lokasi pesta.
***
Pesta berjalan dengan begitu meriahnya, tampak para pengusaha telah hadir bersama pasangannya masing-masing. Para pria terlihat tampan menggunakan setelan jas, sedangkan para wanita terlihat sangat cantik menggunakan gaun.
Tiba-tiba Gerald dipanggil oleh salah satu kliennya di saat mereka berdua sedang mengambil minuman.
__ADS_1
"Nay, aku mau ke sana dulu ya. Kau mau ikut atau di sini saja?" Tanya Gerald.
"Ya silahkan! Aku tunggu di sini saja. Sebaiknya kau saja yang menemui klien itu," jawab Naya.
Lalu Gerald pun meninggalkan Naya sendiri dan menghampiri kliennya.
Di saat hendak mengambil sepotong kue, tiba-tiba saja Naya merasakan gaunnya itu seperti sedang diinjak oleh seseorang. Semakin ia mencoba untuk menariknya malah semakin kuat pula gaunnya itu tertarik, sehingga membuat Naya pun menolehnya. Dilihatnya ada seorang wanita yang tak asing baginya saat itu sedang menatapnya dengan tersenyum sinis dan menginjak gaunnya tersebut.
"Lepaskan! Kenapa kau menginjak gaunku?" Kata Naya menatap wanita tersebut dengan kesal.
"Ups, sorry aku tidak sengaja," ucap wanita itu sembari melepaskannya dan senyum sinis yang tak terlepas dari bibirnya.
"Kamu apa-apaan sih Bella. Aku tidak pernah mencari masalah denganmu tapi kau selalu saja mencari gara-gara denganku," hardik Naya.
Ya wanita tersebut adalah Bella, Naya juga tidak menyangka kenapa Bella bisa berada di sini. Bukankah ini adalah acara untuk para pengusaha, lalu Bella datang ke sini dengan siapa? Sedangkan dia sendiri bukanlah pengusaha atau pasangan pengusaha.
"Hai Naya, istri Gerald di atas kertas," sapa Bella.
"Memang kenapa kalau aku istri di atas kertas? Yang penting aku istri sah di mata negara dan juga agama. Dan apa kau tidak bisa melihat kalau sekarang ini aku sedang hamil anak Gerald. Sedangkan kau apa? Kau itu hanya bekas yang dengan mudah memberikan tubuhmu itu kepada laki-laki, lalu tidak tahu diri masih saja berusaha mengejar mantan yang sudah beristri, padahal mantanmu sama sekali sudah tidak menginginkanmu lagi. Apa kau itu tidak laku dan tidak tahu malu mengejar suami orang?" Sindir Naya, ia sudah tidak sabar lagi untuk selalu mengalah menghadapi Bella. Bahkan Naya tak peduli melihat Bella yang saat ini begitu murka mendengarnya.
"Kurang ajar, berani sekali kau mengatakan hal itu padaku!" Bentak Bella yang tak terima mendapat sindiran padas dari lawan bicaranya. Lalu ia pun mengangkat tangan kanannya hendak menampar Naya, akan tetapi tiba-tiba saja ada yang menahan tangannya itu.
Naya terkejut melihat seorang pria yang ada di belakang Bella serta menahan tangan wanita itu, dia adalah Gerald suaminya sendiri. Saat tadi sedang berbicara dengan klien, tidak sengaja Gerald menatap ke arah Naya dan melihat istrinya itu sedang cekcok dengan mantan kekasihnya. Karena penasaran, akhirnya Gerald pun mendekati mereka berdua. Untung saja Gerald tidak terlambat, jika terlambat sedikit saja maka pipi mulus Naya sudah pasti akan terkena cap 5 jari dari Bella.
"Gerald lepaskan!" Bella sangat syok mendapati Gerald mencengkram erat tangannya.
"Tidak! Kau hampir saja mencelakai Naya," bentak Gerald pula.
Sehingga kini mereka pun menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di sekitar mereka berdua.
__ADS_1
...Bersambung......