Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Merasa Khawatir


__ADS_3

Naya duduk termenung di depan mansion. Dia mengkhawatirkan Jeremy—suaminya. Meskipun pria itu sering kali menyakiti batin dan fisiknya.


"Naya, sebaiknya kamu masuk aja! Mungkin Tuan akan di rawat di rumah sakit." Sanum duduk disamping Naya.


Naya menggeleng. "Aku akan menunggu sebentar lagi."


"Apa gak ada nomor yang bisa dihubungi untuk menanyakan kondisinya?" tanya Naya.


Sanum menggeleng. "Maaf, aku tidak tau, Nay. Aku baru bekerja di sini." Sanum menunduk.


"Mungkin pekerja lama di sini punya kontak yang bisa dihubungkan dengan Tuan," tambah Sanum.


Naya tersenyum, namun dalam sekejap berubah sendu.


"Ada apa?" tanya Sanum lembut.


"Aku takut Jeremy memarahiku lagi."


"Kenapa dia marah padamu? Justru dia harus senang di khawatirkan oleh mu." Sanum bersandar, punggungnya terasa pegal.


Naya berpaling ke Sanum. Wanita itu terlihat anggun walau hanya mengenakan kaos pendek dan celana panjang berbahan levis.


Aura Sanum tampak seperti putri konglomerat. Tidak cocok menjadi pelayan, harusnya dia disandingkan dengan pria kaya raya. Begitulah yang ada dalam pikiran Naya.


"Nay! Naya! Kamu melamun?" Sanum menggoyang bahu Naya.


"Eh. Nggak, kok," jawab Naya cepat.


"San, boleh aku nanya?" Naya mengepalkan tangan.


"Boleh." Sanum tersenyum manis.


Naya mengurungkan niatnya, namun Sanum sedikit memaksa agar Naya mengatakannya saja.


"Em ... keluarga kamu di mana? Maaf kalau aku lancang." Perasaan Naya menjadi tidak enak.


"Keluarga aku gak ada. Aku cuma sendiri," jawab Sanum sedih.


"Oh. Begitu, ya." Naya mengangguk.


Naya mengusap lengannya karena angin berhembus semakin kencang. Dia melirik Sanum juga kedinginan, bahkan wanita itu terserang flu begitu cepat.


"Sanum, kamu masuk aja! Aku gak apa-apa di sini sendiri." Naya merasa kasihan melihat Sanum. Wajahnya pucat dan hidungnya memerah.


"Aku temenin aja, Nay." Sanum melipat tangan di depan dada.


Tidak lama mobil hitam memasuki pekarangan. Naya dan Sanum langsung berdiri. Mobil berhenti tepat disamping mereka.


Jantung Naya berdegup kencang, saat pintu terbuka. Dua pria bertubuh kekar keluar dari dalam mobil. Naya meremas sisi baju ketika melihat Jeremy menatapnya dari dalam.


"Ngapain disini?'' tanya Jeremy.


Naya menunduk. " Aku mengkhawatirkan Om. Jadi aku nungguin Om di sini."


"Kamu juga ngapain?'' tatapan Jeremy beralih ke Sanum.


" Aku menemani Naya," jawab Sanum pelan.


Jeremy menelisiknya wajah Sanum. Alis nya terangkat sebelah. Dia melihat ada yang tidak beres dari wanita blasteran itu.


"Masuk ke kamar kalian!"

__ADS_1


Sanum masuk lebih dulu setelah pamit. Sedangkan Naya masih berdiri di hadapan Jeremy. Mata Naya terus tertuju pada perban yang menutupi telapak tangan Jeremy.


"Tunggu apa lagi?!'' bentak Jeremy mengejutkan Naya. Dia masuk duluan menabrak bahu Naya.


Naya memegang pundaknya yang nyeri bagai di hantam benda keras. Dia menoleh menatap punggung Jeremy.


"Dasar manusia tidak berhati!" kritik Naya di belakang Jeremy.


Dari jauh Naya memperhatikan gerak-gerik Jeremy. Pria itu sedang berbicara serius dengan anak buahnya. Naya mencoba menajamkan pendengarannya, namun nihil hanya terdengar samar-samar.


"Sebaiknya kamu masuk ke kamar." Haris berbisik.


Naya menoleh karena suara asing mengejutkannya.


"Naya!"


"Masuk ke kamar mu!" Jeremy menatap dengan ekspresi marah ke Naya.


"Sudah aku katakan," timpal Haris berbisik.


Naya berjalan cepat menuju kamarnya.


Didalam kamar, Naya duduk di sofa. Dia yakin anak buah Jeremy menyebut nama orang tua angkatnya. Ada apa dengan orang tua angkatnya? Apa Jeremy melakukan sesuatu kepada mereka? Naya terus memikirkan itu.


Andai saja Naya bisa menjenguk orang tua angkatnya. Tetapi, Jeremy melarang dia berhubungan lagi dengan orang yang telah menjualnya.


Krek!


Naya reflek berdiri ketika Jeremy masuk kamar nya. Selama ini Jeremy tidak pernah masuk kamar ini kecuali untuk menyakiti Naya. Apa dia mau berlaku kasar lagi?


Jeremy melihat ke arah Naya. "Sedang apa? Kenapa belum tidur?"


"Anu ... aku belum ngantuk jadi belum bisa tidur." Naya mengusap pangkal hidungnya.


"Hah?"


Jeremy melepas kemeja memperlihatkan jelas otot-otot perutnya. Dia berjalan mendekati Naya dengan senyum jahat.


"Om mau ngapain?'' Naya menutup mata dengan tangan.


Jeremy menarik tangan Naya hingga menabrak tubuhnya. Dia membelai rambut panjang Naya.


Naya mendorong tubuh Jeremy tetapi, tidak berhasil. Sikap Jeremy membuat bulu-bulu halus Naya merinding, karena pria itu mendekapnya.


" Apa Om mabuk?" tanya Naya.


"Tolong bersihkan tubuhku!" pinta Jeremy, melepaskan tubuh Naya.


Naya syok. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Jeremy meminta Naya untuk membersihkan tubuhnya, apa itu berarti dia akan ...


"Naya! Cepat!" lamunan Naya buyar oleh bentakan Jeremy.


Dengan berat hati dan karena Jeremy suaminya, Naya terpaksa melakukan perintah.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Naya datar.


Jeremy melengos. "Siapkan air hangat dalam bath-up!"


"Tapi ini sudah larut malam, Om."


Naya bergegas menuju kamar mandi untuk mengisi bath-up.

__ADS_1


"Lalu apa lagi?"


"Ck. Bantu aku membuka ini." Jeremy melirik celana panjangnya.


"Tapi ..."


"Kamu bisa lihat tangan aku lagi sakit, kan? Siapa lagi yang harus aku mintain tolong." Jeremy berbicara dengan sinis.


"Iya, Om." Wajah Naya memelas.


Naya berhasil melepaskan celana Jeremy menyisakan hot pants berwarna abu-abu. Dia mengalihkan pandangan ketika melihat sesuatu yang tidak seharusnya.


"Masuk ketika panggil." Jeremy masuk kamar mandi tanpa menutup pintu.


Naya mengangguk. Setelah Jeremy hilang dari hadapannya dia langsung mengusap wajah. Tidak tahu kenapa wajahnya memanas. Padahal suhu di kamar minus dua puluh satu derajat.


Selagi menunggu Jeremy memanggil, Naya membereskan pakaian yang berserakan. Dia juga menyiapkan pakaian baru untuk Jeremy. Ini pertama kalinya setelah dua minggu menikah Naya melakukan sedikit tugas seorang istri.


"Naya!"


"Iya." Naya buru-buru mendatangi Jeremy.


Naya menahan nafas saat melihat Jeremy berendam dengan rambut basah.


"Tolong gosokkan punggung aku." Jeremy memberikan shower puff dan shower gel.


Perlahan Naya menggosok punggung Jeremy yang putih bersih tanpa noda. Bahkan kulit Naya kalah sehat dari kulit Jeremy. Ada sedikit rasa malu dan tidak percaya diri saat melihat Jeremy.


"Gosok yang benar!"


"Iya, Om."


Jeremy berbalik menunjukkan raut wajah kesal.


"Mau saya kasih contoh dipunggung kamu?"


Naya menggeleng cepat.


"Maaf, Om. Akan Naya lakukan lebih baik."


Jeremy berdecak.


"Jangan memanggil saya 'Om' lagi. Umur kita hanya terpaut sepuluh tahun." Kali pertamanya Jeremy berbicara santai tanpa nada tinggi.


"Naya harus memanggil apa?" tanya Naya takut.


"Sayang." Jeremy menoleh ke Naya.


Perut Naya terasa mual ketika Jeremy mengatakannya. Dia segera membekap mulutnya.


"Kenapa?" tanya Jeremy menaikkan sebelah alisnya.


"Perut Naya gak enak, Om." Bulir-bulir keringat muncul di dahi Naya.


"Cepat istirahat!" Mengambil shower puff dari tangan Naya.


"Gak apa-apa, Om, Naya bisa tahan sampai Om selesai mandinya."


"Gak perlu! Keluar sana!"


"Gak pa—"

__ADS_1


"Mau saya mandiin sekalian?!" ancam Jeremy.


__ADS_2