Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Jauhi Pria Itu


__ADS_3

Naya melangkahkan kakinya dengan menampilkan senyum sumringah di wajahnya, perasaannya begitu sangat bahagia karena ia yang biasanya menghabiskan waktu di rumah dengan sangat membosankan dan harus menghadapi sikap arogan dari sang suami, kini akhirnya ia bisa menikmati hidup bebas di luar seperti burung yang baru saja bebas dari sangkarnya.


Akan tetapi, saat Naya baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dan hendak menuju ke kamar, Gerald menghampirinya dengan tatapan tajam tetapi sama sekali tak membuat Naya bergidik. Ia sudah terbiasa menghadapi tatapan seperti itu maupun sikap arogan dari Gerald.


"Kau mau apa lagi?" Tanya Naya. Sebelum Gerald berbicara, ia memilih untuk terlebih dahulu angkat bicara.


"Apa seperti itu caramu berbicara kepada suamimu, sedangkan dengan pria lain kau terlihat begitu sangat akrab," kata Gerald kesal.


Naya mengerutkan keningnya, "Pria lain? Apa maksudmu dengan pria lain? Aku sama sekali tidak mengerti," ucapnya.


"Kau memang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti Naya?" Hardik Gerald.


"Aku benar-benar tidak mengerti Gerald, lebih baik sekarang kau jelaskan saja apa maksud dari ucapanmu itu," kata Naya.


"Kau pikir aku tidak tahu dengan siapa kau menghabiskan waktu hari ini dan dengan siapa juga kau pulang barusan," kata Gerald.


"Jadi gara-gara itu? Dia itu temanku. Terus apa kau ada masalah? Apa pun yang aku lakukan sama sekali bukan urusanmu," kata Naya.


"Tentu saja bermasalah, kau sudah berani keluar bahkan dekat dengan pria lain terang-terangan," kata Gerald.


"Jadi menurutmu perlakuanku itu salah? Lalu bagaimana dengan apa yang kau lakukan Gerald?" Tanya Naya.


"Jauhi pria itu, aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain. Kau itu istriku, bagaimana jika ada yang melihatnya? Meskipun aku tidak mencintaimu dan kau juga tidak mencintaiku, tetapi kau tidak usah memamerkan kemesraanmu dengan pria lain di depan umum seperti itu," ujar Gerald.

__ADS_1


"Terus apa yang kau lakukan di belakangku? Kau juga terlihat mesra dengan wanita itu, bahkan Kalian berdua sudah melakukan hal yang sangat menjijikkan. Apa kau pikir itu pantas? Itu sama sekali tidak pantas. Sedangkan aku dengan pria itu hanya berteman, dia adalah teman lamaku di kampus," terang Naya.


"Oh ya soal kampus, sejak kapan kau berkuliah? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?" Tanya Gerald.


"Untuk apa aku bercerita padamu? Memangnya itu penting? Bukankah kau sama sekali tidak ingin tahu masalahku," kata Naya.


"Kau ini, sudah aku katakan padamu kalau aku ini suamimu. Jadi kau harus menceritakan soal apapun kepadaku. Dan ingat, jauhi pria itu atau aku akan membunuhnya!" Ancam Gerald.


"Cukup! Hanya itu saja yang selalu kau ucapkan. Kau hanya bisa mengancam, semua yang aku lakukan salah di matamu. Tapi kenapa kau tidak pernah mengkoreksi dirimu sendiri? Apakah perlakuanmu itu benar atau tidak. Aku tidak akan pernah mendengarkan apapun perkataanmu kalau kau sendiri tidak pernah mendengarkan apa kataku. Kita urus saja masalah hidup kita masing-masing, camkan itu!" ancam Naya dengan sangat emosi, lalu ia pun pergi meninggalkan Gerald begitu saja.


"Tunggu Naya, berani sekali kau membantahku seperti itu. Ucapanku tidak main-main Naya. Seandainya kau masih tetap berhubungan dengan pria itu, kau tidak mau menjauhinya, kau lihat saja apa yang akan lakukan kepadanya," kata Gerald sembari mengepal erat kedua tangannya karena menahan emosi yang saat ini sedang meledak-ledak.


Sedangkan Naya memutar bola matanya malas, ia sangat enggan melayani suami arogannya itu. Naya yang begitu sangat lelah pun memilih masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya.


"Duh … Gerald, Gerald, seharusnya kau tidak perlu memarahi Naya seperti tadi hanya gara-gara Naya dekat dengan seorang pria. Kau sendiri mempunyai kekasih, benar kata Naya. Bahkan Kau sangat intim dengan kekasihmu itu, tapi kenapa kau harus marah melihat Naya bersama pria lain? Apakah kau benar-benar cemburu? Tidak, itu tidak mungkin. Mana mungkin aku cemburu," ucap Gerald yang bermonolog dengan hatinya.


***


Keesokan harinya, Naya sedang asyik menyirami tanaman di depan rumah. Kebetulan hari ini hari libur sehingga Naya dan Gerald sama-sama tidak melakukan aktivitas mereka di luar dan hanya berdiam diri di rumah.


Gerald saat itu baru saja bangun, perutnya terasa lapar karena memang sejak tadi malam ia tidak sempat makan. Ia yang selalu enggan menyentuh makanan yang di masak oleh Naya, tiba-tiba kepikiran ingin merasakan nasi goreng buatan istrinya itu. Gerald pun segera saja beranjak dari tempat tidurnya dan mencari dimana keberadaan Naya. Awalnya ia hendak pergi menuju ke kamar Naya, akan tetapi tiba-tiba langkahnya itu terhenti.


"Tidak mungkin jam segini Naya masih berada di dalam kamarnya, dia itu sangat rajin sekali bangun pagi-pagi. Oh iya, taman. Pasti Naya sedang menyirami bunga Mama di taman depan rumah," gumam Gerald lalu melangkahkan kakinya untuk mencari Naya di taman bunga.

__ADS_1


Benar saja, saat itu Gerald melihat istrinya yang terlihat cantik dengan rambut yang dikuncir satu sedang menyirami tanaman bunga. Gerald sempat merasa kagum melihat Naya, akan tetapi ia segera saja menepis rasa kagumnya itu.


"Naya … !" Panggil Gerald.


Akan tetapi Naya sama sekali tidak menyahutnya, entah karena dia tidak mendengar panggilan Gerald itu dikarenakan suara air atau juga karena memang ia pura-pura tidak mendengarnya. Gerald yang kesal itu segera saja menghampiri Naya.


"Naya!" Panggil Gerald dengan suara keras sembari memukul pundak Naya, sehingga Naya terkejut dan reflek mengarahkan selang air ke wajah Gerald.


"Hentikan Naya! Apa yang kau lakukan?" Gerald berteriak dan tampak murka.


Naya yang terkejut melihat Gerald ada di depannya itu, segera saja mematikan selang air.


"Maaf Gerald, aku tidak sengaja. Lagipula kau tiba-tiba ada di sini, mengagetkanku saja," kata Naya.


"Aku sudah dari tadi memanggilmu, apa kau budek jadi sama sekali tidak mendengarnya," kata Gerald.


"Ya aku memang tidak mendengarnya, tapi bukan karena aku budek, aku sedang sibuk," kata Naya.


"Terserah kau saja, tetapi kau sudah membuatku basah kuyup seperti ini. Jadi aku harus membalasnya," kata Gerald.


"Maksudmu?" Tanya Naya saat melihat Gerald menghidupkan air selang itu kembali.


Gerald langsung saja menyirami Naya bak tanaman bunga, Naya yang tidak terima berusaha merebut selang dari tangan Gerald. Kini keduanya saling berebut selang hingga air selang tersebut menembak entah kemana-mana dan membasahi keduanya seperti sedang mandi hujan berdua. Terlihat sangat romantis, mereka berdua yang biasanya saling menampakkan wajah masam, saat ini tertawa bersama dengan ulah mereka yang seperti anak kecil dan merasa sangat bahagia.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2