
"Akh … sialan! Berani sekali wanita itu berkhianat di belakangku. Bella, aku benar-benar tidak menyangka kau akan melakukan hal seperti itu di belakangku," gerutu Gerald sembari mengajak-ngacak isi di dalam kamarnya.
Naya yang saat itu hendak menuju ke kamarnya dan melewati kamar Gerald, merasa terkejut saat mendengar ada sebuah barang pecah dari kamar Gerald.
Tok … tok … tok …
Naya pun mengetuk pintu kamar Gerald, akan tetapi tidak ada tanda-tanda Gerald akan membukakan pintu untuknya. Bukan bermaksud ikut campur, tetapi sebagai seorang istri tentunya Naya ingin mengetahui keadaan suaminya di dalam saat ini, ia sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada Gerald. Meskipun Gerald sangat melarangnya untuk masuk sembarangan ke dalam kamarnya tanpa izin, tetapi kali ini Naya seakan tak peduli akan hal itu, ia tetap saja nekat membuka pintu kamar Gerald yang ternyata tidak dikunci.
"Astaga Gerald, apa yang kau lakukan? Kenapa kamarmu berantakan seperti ini?" Tanya Naya sembari mendekati Gerald.
"Keluar! cepat keluar kau dari kamarku sekarang!" usir Gerald dengan suara lantang dan tatapan tajam layaknya binatang buas yang sedang kelaparan. Bahkan kali ini lebih seram dari yang biasa Naya lihat.
"Tidak, aku tidak akan keluar. Aku akan tetap ada di sini," bantah Naya.
"Kau sama sekali tidak berhak tahu tentang urusanku, sebaiknya kau keluar sebelum aku menyakitimu," ancam Gerald.
"Aku tidak peduli. Aku tidak akan pergi dari sini. Aku ini istrimu yang akan selalu menemanimu, jika kau ada masalah, kau boleh menceritakannya padaku, aku akan mendengarkannya dan membantumu semampuku Gerald," kata Naya mencoba menenangkan suaminya itu.
Akan tetapi bukannya terlihat tenang, Gerald menjadi semakin murka dan mendekati Naya. Ia mencengkram erat dagu Naya seraya mendorong tubuh mungil itu hingga terbentur dinding.
"Akh," Naya merintih saat kepalanya itu terasa sakit hati karena benturan tersebut.
__ADS_1
"Katakan, apa yang bisa kau lakukan? Kau sama sekali tidak mengerti tentang hidupku!" Bentak Gerald.
Bukannya takut, tetapi Naya malah semakin menantang Gerald dengan melototinya.
"Kau dengar ya Gerald, aku tidak pernah peduli dan takut dengan ancamanmu itu. Aku lebih takut jika terjadi sesuatu padamu, jadi kalau sekarang kau ingin membunuhku kau bunuh saja agar hatimu lebih puas. Aku sama sekali tidak takut jika itu akan membuat kau tenang dan tidak uring-uringan seperti ini. Aku rela Gerald," kata Naya yang entah mengapa membuat hati Gerald sedikit tersentuh.
Lalu Gerald pun melepas cengkramannya itu dengan sangat kasar sehingga Naya kembali kesakitan, air matanya menetes tetapi sama sekali tak membuat Gerald bergeming. Naya mencoba menahan rasa sakit di dagunya yang sama sekali tak sebanding dengan sakit hatinya saat ini. Padahal Gerald sudah sempat bersikap manis kepadanya, akan tetapi entah apa yang membuat suaminya itu kini berubah lagi menjadi sangat arogan dan menyakitinya. Padahal sebagai istri, Naya hanya ingin menemani sang suami di saat ia sedang mempunyai masalah seperti ini, meskipun Naya tidak tahu apa itu penyebabnya.
"Sekarang kau keluar sebelum kesabaranku ini habis," kata Gerald.
"Tidak Gerald, aku tidak mau keluar Gerald," Naya masih saja enggan meskipun sudah mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya.
"Keluar!" Teriak Gerald dengan sangat kuat hingga suara itu memenuhi seisi ruangan kamar yang cukup besar dan terdengar sangat berisik di telinga.
Naya meninggalkan kamar Gerald menuju ke dapur. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 malam, sebentar lagi adalah waktunya makan malam sehingga Naya pun akan memasak makan malam untuk mereka. Ya meskipun Gerald masih bersikap arogan kepadanya, tetapi akhir-akhir ini Gerald lebih sering makan di rumah dan sudah terang-terangan mau memakan masakan istrinya itu. Karena menurut Gerald dia hanya menganggap Naya sebagai pembantu yang memang sudah tugasnya menyiapkan segala sesuatunya untuk Gerald yang cukup umum.
***
Tidak berapa lama kemudian, Naya pun telah siap bergelut di dapur dengan akhir hidangan lezat yang tersaji di atas meja. Memang Naya sudah sangat handal memasak, karena ia ingat saat dulu ibunya lah yang mengajarinya memasak. Akan tetapi saat itu Naya masih kecil, sayangnya ketika ia sudah dewasa dan sudah berhasil memasak makanan lezat, ibunya sudah tiada dan tidak dapat mencicipi masakan yang ia buat. Jika mengingat itu semuanya membuat Naya begitu sangat sedih dan tanpa sadar meneteskan air matanya. Seandainya ibunya masih hidup, sudah pasti hidup Naya tidak akan menderita seperti ini, ia tidak mungkin dinikahi oleh pria arogan yang sama sekali tidak pernah menghargainya sebagai seorang istri. Ia hanya bersikap manis dengan bersandiwara dan sangat menyakiti hatinya itu.
Naya menyiapkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya dan tak lupa pula minuman serta obat untuk dibawanya ke kamar Gerald.
__ADS_1
Tok … tok … tok …
Naya berulang kali mengetuk pintu kamar Gerald tetapi dia sama sekali tidak membukanya, bahkan saat ini pintunya sudah dikunci. Meskipun Naya sama sekali tidak mendengar suara keributan lagi di dalam kamar itu, tetap saja Naya saat ini merasa khawatir jika terjadi sesuatu dengan Gerald.
"Dimana dia? Apa jangan-jangan dia bunuh diri? Gawat kalau sampai dia bunuh diri," terlintas pikiran yang tidak-tidak dari dalam otak Naya.
Tok … tok … tok…
"Gerald apa kau ada di dalam? Gerald … ," Naya mengulangi ketukan pintunya itu sembari memanggil suaminya.
Karena tidak membuahkan hasil sama sekali, akhirnya ia pun berinisiatif untuk memanggil satpam agar membantunya untuk mendobrak pintu kamar Gerald. Satpam yang juga sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Tuannya itu, segera saja menuruti apa yang menjadi keinginan Nona Tuan rumahnya itu.
Beberapa kali Satpam mencoba mendobrak pintu yang sangat kokoh hingga ia kewalahan, akan tetapi berkat kegigihannya, lama-kelamaan membuahkan hasil. Pintu itu pun terbuka, keadaannya masih sama kamar Gerald begitu berantakan seperti kapal pecah. Akan tetapi tidak ada hal yang serius dengan Gerald melainkan Naya melihat Gerald yang saat itu sedang bergumul di balik selimutnya seperti orang yang sedang kedinginan. Satpam segera keluar, sedangkan Naya menghampiri suaminya itu.
"Gerald, kau kenapa?" Tanya Naya.
Gerald yang saat ini sedang meringkuk menampakkan wajahnya agar dapat dilihat oleh Naya.
"Gerald, apa yang terjadi denganmu," Naya sangat terkejut melihat wajah Gerald yang begitu sangat pucat.
Naya memberanikan diri untuk meletakkan punggung telapak tangannya itu ke kening sang suami.
__ADS_1
"Badanmu panas sekali, kau sakit? Tunggu ya aku akan segera kembali membawakanmu obat," kata Naya lalu bergegas mencari sesuatu untuk menurunkan demam panas pada suaminya itu.
...Bersambung......