
Emosi Gerald semakin memuncak, ia merasa cemburu melihat Naya yang saat itu juga jalan berdampingan bersama dengan teman prianya itu.
"Siapa pria itu? Kenapa dia begitu sangat akrab dengan Naya. Dan ini di kampus? Jadi Naya kuliah di sini? Kenapa selama ini aku tidak tahu jika Naya kuliah? Lalu kenapa selama menikah denganku Naya tidak pernah pergi ke kampus, kenapa setelah Mama pergi ke luar Negeri?" umpat Gerald penuh dengan pertanyaan.
"Akh … ya sudahlah. Sebaiknya nanti aku tanyakan saja langsung pada Naya. Sekarang aku langsung ke kantor saja," ucap Gerald, lalu ia pun segera saja melajukan mobilnya meninggalkan kampus dan menuju ke perusahaan.
***
Setibanya di perusahaan, Gerald memberhentikan mobilnya itu di depan perusahaan, lalu ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam perusahaan dengan diikuti oleh sang asisten yang sedari tadi sudah menunggunya.
"Pagi Tuan Gerald," sapa resepsionis lalu menundukkan kepalanya. Akan tetapi, Gerald sama sekali tidak meladeninya.
Memang selain terkenal sangat arogan, ia memang tidak mau akrab dengan para karyawannya itu. Karena ia harus tetap menunjukkan kewibawaannya sebagai atasan di perusahaan tersebut. Sikapnya itu sangat berbeda jauh dengan sang ayah yang sangat ramah dengan karyawannya, ramah bukan berarti tak terlihat wibawa di depan karyawan. sudah jelas itu hanyalah alibi yang salah dari Gerald.
Gerald memang terlihat begitu dingin dan sikapnya yang arogan sehingga semua karyawannya itu sangat takut dan tunduk saat bertemu dengannya. Boy saja sebagai asisten Gerald yang sudah sangat mengenalnya pun masih terlihat takut jika Tuannya sedang murka.
Gerald masuk ke dalam ruangannya, ia duduk di kursi kebesaran sambil memijat-mijat batang hidungnya pertanda ia sedang bingung. Pikirannya menjadi tak karuan, ia kepikiran saat Naya memergokinya sedang bermadu kasih dengan Bella dan juga tentang Naya yan ia lihat tadi begitu sangat akrab dengan pria lain.
"Apa jangan-jangan pria itu kekasihnya? Tapi apa mungkin? Bukankah Paman dan Bibi bilang bahwa selama ini Naya tidak pernah mempunyai kekasih? Ah Entahlah. Untuk apa juga aku memikirkan tentang wanita itu. Pekerjaanku saja sangat banyak, apalagi di saat Papa pergi ke luar Negeri dan menyerahkan semua pekerjaannya kepadaku," ucap Gerald.
"Boy, ke ruanganku sekarang!" Perintah Gerald lewat telepon kantor lalu menutupnya kembali.
***
Naya baru saja selesai dengan semua mata kuliahnya hari ini. Setelah lama tidak mengikuti pelajaran yang ada di kampus, otak Naya rasanya begitu sangat buntu. Memang akhir-akhir ini ia jarang sekali membuka buku karena sibuk mengurus Ibu mertuanya yang sedang sakit.
"Hah akhirnya pulang juga, capek banget rasanya," gumam Naya sembari meregangkan kedua tangannya.
Saat ia akan keluar dari kelas, Denis yang saat itu sudah menunggunya pun langsung saja mendekati Naya.
"Hai Nay" sapa Denis.
"Hai Denis, kamu ngapain di sini?" Tanya Naya.
__ADS_1
"Aku sengaja menuggu kamu. Kamu mau tidak pulang sama aku?" Tanya Denis.
"Pulang sama kamu?" Tanya Naya mengulangi ucapan Denis itu.
"Iya Nay, mau tidak?" Tanya Denis lagi.
Naya tampak berpikir, saat ini Denis memang tidak tahu jika ia sudah menikah. Seandainya tahu apa mungkin Denis mau mengantarnya pulang? Tapi jika ia menyetujuinya, bagaimana dengan Gerald?
"Bukankah Gerald sama sekali tidak mau tahu tentangku, sudah pasti dia juga tidak akan peduli jika pulang bersama Denis. Aku dan Denis juga tidak mempunyai hubungan apapun, Gerald saja terang-terangan mempunyai kekasih di depan mataku," gumam Naya dalam hati.
"Nay!" Panggil Denis yang membuyarkan lamunan Naya.
"Iya Den, aku mau," jawab Naya menyetujuinya.
Denis sangat senang mendengarnya, ia pun langsung saja mengajak Naya untuk berjalan beriringan menuju ke parkiran mobil, setelah itu Denis pun langsung saja melajukan mobilnya itu.
"Nay, kalau kita makan dulu mau tidak?" Tanya Denis saat di dalam perjalanan.
***
Kini Naya dan Denis sedang berada di sebuah restauran untuk menikmati makan siang bersama. Dalam waktu yang bersamaan, saat itu Gerald baru saja selesai meeting dengan kliennya di restauran tersebut. Saat ia hendak keluar dari restauran, tidak sengaja pandangan matanya tertuju kepada sosok wanita yang dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Naya dan teman prianya itu.
"Naya," gumam Denis seraya menajamkan matanya untuk memastikan jika wanita yang dilihatnya adalah Naya istrinya.
Seketika Gerald menghentikan langkahnya sehingga membuat Boy keheranan.
"Tuan, ada apa?" Tanya Boy.
"Lebih baik kau duluan saja, aku masih ada urusan," ucap Gerald.
"Tapi Tuan, jam 02.00 siang kita ada meeting di perusahaan," kata Boy.
"Kau atau aku bosnya di sini? Kenapa kau yang mengaturku!" Bentak Gerald.
__ADS_1
"Iya Tuan aku minta maaf, aku tahu kalau Anda adalah Bos dan aku sebagai asisten sudah seharusnya mengingatkan Tuan," kata Boy.
"Aku tahu Boy dan aku tidak akan terlambat sampai ke kantor. Sekarang ini baru jam 01.00 siang," kata Gerald.
"Ya sudah Tuan. Saya kembali dulu ke kantor untuk menyiapkan materi meeting nanti," ucap Boy lalu meninggalkan Tuannya itu.
Boy merasa sedikit heran dengan sikap Tuannya yang akhir-akhir ini sering uring-uringan tanpa jelas apa itu masalahnya. Tapi Boy lebih baik memilih diam daripada harus dimarahi oleh Tuan arogannya itu. Apalagi kalau sampai dia dipecat, bisa-bisa Boy tidak bisa menghidupi ibunya yang seorang janda itu.
Gerald mengepal erat kedua tangannya, lagi-lagi ia merasakan emosi saat melihat Naya bersama Denis sedang makan bersama dan mengobrol. Mereka berdua tampak begitu akrab dan sangat bahagia. Gerald sendiri memang tidak pernah melihat Naya yang begitu sangat bahagia saat berbicara di depan matanya. Naya selalu saja marah dan uring-uringan saat berbicara dengannya. Ya jelas saja seperti itu, karena di saat Naya terkadang mencoba bersikap manis tetapi Gerald tidak pernah menggubrisnya. Ingin rasanya saat ini Gerald menghampiri Naya, tetapi ia mengurungkan niatnya itu.
"Ah sudahlah, aku juga masih ada meeting di kantor, lebih baik sekarang aku ke kantor saja. Tapi kau lihat saja Naya, kau akan menerima hukumannya dariku nanti," gumam Gerald lalu pergi meninggalkan restauran.
***
Setelah makan siang bersama, Denis mengajak Naya untuk jalan-jalan sebentar ke taman. Tanpa disadari ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 sore, Denis pun segera saja mengantar Naya untuk pulang ke rumahnya.
"Nay, kamu tinggal di sini?" Tanya Denis saat tiba di kediaman Gerald. Ia merasa sedikit kaget karena mengetahui ternyata Naya dari keluarga yang berada.
"Iya benar, tapi maaf ya aku tidak bisa mengajakmu mampir sekarang, mungkin next time," ucap Naya.
"Iya Nay tidak apa-apa, lagipula ini juga sudah mau malam. Aku pulang dulu ya Nay," ucap Denis.
"Iya Denis hati-hati ya. Terimakasih sudah mengajakku jalan-jalan hari ini," ucap Naya.
"Iya Nay sama-sama. Terimakasih juga ya sudah menerima ajakanku hari ini," ucap Denis pula.
"Iya Den sama-sama. Da … ," ucap Naya.
"Da juga Nay," balas Denis dan segera berlalu dari pandangan mata Naya.
Tanpa Naya sadari, dari balkon lantai atas telah berdiri seorang pria yang menatap mereka berdua dengan sangat tajam seperti harimau lapar yang ingin menerkam mangsanya.
...Bersambung......
__ADS_1