
Dokter mengizinkan keluarga maupun teman terdekat untuk masuk ke dalam ruang ICU menjenguk Dania, dengan syarat secara bergantian dan menggunakan APD lengkap. Akan tetapi Vera memilih untuk tidak melihatnya ke dalam dengan alasan tidak sanggup melihat orang yang sedang kritis. Ia pun memilih untuk melihat Dania hanya dari kaca yang terhubung di ruangan tersebut. Sedangkan Putri memutuskan untuk melihatnya dan saat ini sedang berada di dalam ruangan tersebut.
"Hai Tante, aku Putri. Tante aku adalah teman kecil Kak Eral dulu semasa kecil. Kita pernah bertemu saat aku masih kecil, wajar aja kalau Tante memang sudah tidak mengingat aku lagi. Tapi bagaimanapun juga aku senang karena bisa bertemu lagi dengan Tante. Cepat sembuh ya Tante, Tante harus sembuh. Jangan biarkan Kak Eral dan Om David sedih karena melihat keadaan Tante. Begitu juga dengan Naya, Naya menantu Tante itu sangat menyayangi Tante dan yang aku lihat dia terlihat begitu Terpukul dengan keadaan Tante. Apa Tante tahu kalau Naya itu selalu bercerita tentang Tante, kalau Tante adalah ibu mertua yang sangat baik. Naya sangat senang karena ia bisa mendapatkan seorang ibu mertua seperti ibu kandung. Jujur itu semua buat aku iri Tante, tapi mau bagaimana lagi aku dan Kak Eral tidak berjodoh. Saat ini aku sedang berjuang untuk melupakan cinta aku terhadap anak Tante. Cepat sembuh ya Tante, aku yakin Tante pasti kuat, Tante harus berjuang demi keluarga Tante, demi orang-orang yang mencintai Tante," Gumam Putri dengan linangan air matanya yang mengalir deras bak air sungai sembari menggenggam erat tangan Dania. Setelah itu, ia pun segera saja keluar dari ruangan tersebut dengan matanya yang sembab karena sehabis menangis
"Terimakasih ya Put karena kamu sudah datang ke sini untuk melihat Mama dan ikut sedih dengan kondisi Mama," ucap Naya.
"Sama-sama Nay, aku sedih dan prihatin melihat kondisi Tante Dania. Saat ini aku hanya bisa bantu berdoa semoga ada keajaiban yang akan menyembuhkan Tante Dania hingga bisa kembali berkumpul bersama kalian, keluarganya," ucap Putri yang terlihat begitu tulus.
"Aamiin. Terimakasih ya Put atas doa dan ucapannya," ucap Naya lalu mereka berdua pun berpelukan seperti Teletubbies.
***
2 hari pun telah berlalu, kondisi Dania masih tetap sama, masih belum ada tanda-tanda bahwa ia akan sadar, apalagi untuk sembuh. Sehingga Gerald dan Naya pun memutuskan untuk membatalkan liburan mereka ke New York. Bagaimana bisa mereka akan bersenang-senang, sedangkan ibunya saat ini dalam kondisi kritis.
"Sayang, kamu benar-benar nggak apa-apa kan karena kita harus batal pergi ke New York. Kamu nggak marah kan sama aku?" Tanya Gerald.
Saat ini mereka berdua sedang berada di rumah sakit untuk menemani dan menjaga Dania.
"Gerald, kamu kenapa berbicara seperti itu sih? Apa menurut kamu dengan keadaan Mama seperti ini aku akan lebih mementingkan jalan-jalan ke New York, aku akan lebih mementingkan kesenangan aku dibandingkan kesehatan Mama? Kamu pikir aku ini menantu seperti apa yang tega bersenang-senang di atas penyakit Mama. Aku sangat menyayangi Mama, jadi nggak mungkin kalau aku lebih memilih pergi jalan-jalan sama kamu dibandingkan ada di sini menjaga Mama. Aku juga tidak akan merasa tenang, lebih baik aku di sini untuk menjaga Mama, untuk memastikan kondisi Mama bagaimana selanjutnya," ucap Naya dengan matanya yang berkaca-kaca.
Gerald menjadi merasa bersalah dengan ucapannya tadi, lalu ia pun meraih tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan aku ya Sayang, aku nggak bermaksud menuduh kamu seperti itu. Aku hanya minta maaf karena aku nggak bisa menepati janji aku untuk mengajak kamu jalan-jalan," ucap Gerald.
"Bukannya kamu yang tidak bisa menepati janji itu, tapi memang kita berdua yang sepakat untuk membatalkannya kan? Untuk saat ini kita fokus aja dulu dengan kesehatan Mama, Sayang. Kalau untuk jalan-jalan, aku yakin kok masih ada waktu suatu saat nanti. Yang terpenting sekarang kesembuhan Mama," ucap Naya.
"Iya Sayang, maafkan aku ya. Terimakasih karena kamu begitu menyayangi dan peduli dengan Mama. Aku sayang sama kamu Naya," ucap Gerald sembari mengecup lembut kening sang istri lalu kembali memeluk erat tubuhnya itu.
Di saat itu, ternyata Putri baru saja tiba di rumah sakit dan melihat mereka berdua. Ada rasa haru yang terbesit di hati Putri melihat kondisi Gerald dan Naya saat ini yang merasakan begitu sedih karena ibunya yang sedang kritis, ada rasa bahagia melihat keromantisan mereka yang saling menguatkan, tetapi ada juga rasa cemburu dan iri seakan tidak rela melihat pria yang dicintainya berpelukan dengan wanita lain, meskipun wanita itu adalah istrinya sendiri bahkan sahabat Putri. Tanpa sadar tiba-tiba saja Putri pun meneteskan air matanya, merasakan kesedihan yang begitu mendalam.
"Tuhan, tolong kuatkan aku untuk melihat kebahagiaan Gerald dan sahabatku. Kak Eral memang pria yang aku cintai selama ini, tetapi Naya juga sahabat yang sangat aku sayangi. Lagipula aku sama sekali nggak ada hak untuk merebut kebahagiaan mereka. Tolong kuatkan hati aku," batin Putri.
Lalu ia pun mencoba untuk menetralisir perasaannya itu lalu menghapus air matanya. Setelah itu, ia pun melangkahkan kakinya perlahan untuk mendekati Naya dan Gerald.
"Maaf aku mengganggu," ucap Putri sehingga Gerald dan Naya pun melerai pelukan mereka.
"Nggak kok Nay, aku baru aja sampai. Maaf ya aku mengganggu kalian. Aku datang ke sini hanya mau menjenguk Tante Dania dan ini aku bawa sarapan untuk kalian yang aku masak sendiri, pasti kalian berdua belum sarapan kan," kata Putri sembari menyerahkan makanan yang yang berada di dalam tote bag kepada Naya.
Putri sengaja menyiapkan sarapan yang ia buat sendiri untuk di bawa ke rumah sakit. Ia tahu jika saat ini sahabatnya itu sedang tidak berselera untuk makan, sehingga ia pun datang dengan membawa makanan.
"Makasih banyak ya Putri, karena kamu begitu peduli dengan aku sampai kamu pagi-pagi sudah datang ke sini dan repot-repot membawakan kita sarapan, kamu buat sendiri lagi. Tapi maaf ya Put bukan aku tidak menghargai kamu yang sudah bersusah payah masak, tapi aku sama sekali tidak berselera untuk makan," ucap Naya.
"Putri, terimakasih banyak ya," ucap Gerald pula.
__ADS_1
"Iya Kak sama-sama. Tapi bagaimanapun juga kalian berdua itu harus makan. Nanti kalau kalian berdua sakit, siapa yang mau jaga Tante Dania? Seharusnya kalian berdua itu harus menjaga kondisi juga, kalian harus tetap sehat. Apalagi kamu Nay, kamu itu punya Kania, Kania sangat membutuhkan kamu. Kania masih membutuhkan ASI kamu kan? Kalau kamu sakit, kamu lemah, aku yakin Kania juga akan merasakan hal yang sama. Memangnya kamu tidak kasihan sama anak kamu?" Ucap Putri yang terlihat begitu dewasa. Meskipun ia belum menikah, tetapi ia dapat menasehati sahabatnya itu untuk hal kebaikan.
Gerald sendiri merasa sangat senang karena Naya mempunyai sahabat yang baik seperti Putri.
"Sayang apa yang dikatakan sahabat kamu itu benar. Bagaimana pun juga kamu butuh makan, kamu makan ya Sayang biar aku yang suapin kamu," ucap Gerald.
"Iya Sayang, tapi kamu juga ya. Apalagi kamu itu kan harus melindungi aku dan Kania, aku juga nggak mau kalau kamu sampai sakit," ucap Naya.
"Ya sudah kita makan sama-sama ya," ucap Gerald.
"Iya Sayang," jawab Naya.
"Putri kamu sudah makan?" Tanya Gerald.
"Iya Put, atau kamu mau makan sama-sama kita?" Tanya Naya pula.
"Oh nggak usah Nay, Kak, aku sudah sarapan kok tadi di rumah sebelum ke sini. Kalian aja yang makan," jawab Putri.
Gerald hanya membuka satu kotak makanan saja untuk mereka makan berdua dengan saling bergantian menyuapi. Lagi-lagi Putri merasakan perasaannya sakit melihat kemesraan Gerald dan Naya yang ada di depan matanya itu.
...Bersambung …...
__ADS_1