
Putri masih tampak diam mematung melihat kedua orang tua Gerald yang saat ini ada di depan matanya sedang asyik bermain dengan cucu mereka. Hal itu membuat Naya dan Gerald pun menatapnya kebingungan.
"Putri, kamu sudah datang. Kenapa kamu bengong di situ? Sini Put," kata Naya yang membuat David dan Dania pun beralih menatap juga ke arahnya.
"Maaf semuanya, aku jadi nggak enak mengganggu," ucap Putri.
"Tidak, kamu sama sekali tidak mengganggu. Kamu Putri temannya Naya kan? Naya sudah cerita kalau ada temannya yang mau datang ke rumah," ucap Dania.
"Bukan hanya Kak Eral, ternyata kedua orang tuanya Kak Eral juga nggak mengenal aku. Ya memang dulu aku masih sangat kecil, jadi wajar aja mereka tidak ingat siapa aku," batin Putri.
"Putri sini dulu dong, kenalan dulu sama ibu dan ayah mertua aku," kata Naya.
Sedangkan Gerald saat itu sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu mendekati keluarganya. Kini Putri pun mendekat dan berkenalan dengan David dan juga Dania.
"Ma, Pa, Sayang, aku temani Putri dulu ya, ada yang mau kita bahas," ucap Naya.
"Oh iya, nggak apa-apa Sayang, kamu temani saja Putri dulu. Biar Kania di sini sama Mama dan Papa," ucap Dania.
"Iya Ma, tapi nanti kalau Mama sudah mau istirahat, Kania-nya kasih ke Gerald aja ya," ucap Naya.
"Iya kamu tenang saja," ucap Dania.
"Ya sudah Sayang, sana gih temani Putri. Nanti biar Bibi antar minuman untuk kalian," kata Gerald.
"Iya Sayang, makasih ya," ucap Naya tersenyum.
"Sama-sama Sayang," jawab Gerald yang juga tersenyum kepada Naya.
Putri merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya, ia merasa cemburu melihat Gerald dan Naya yang tampak menunjukkan kebahagiaan di depan matanya.
__ADS_1
"Put, ayo," ajak Naya.
"Iya Put. Permisi ya Om, Tante, Kak," ucap Putri dan ditanggapi anggukan kepala oleh mereka bertiga.
Lalu Putri dan Naya pun segera beranjak dari ruang keluarga dan kini beralih duduk di ruang tamu.
"Putri, memang ada apa? Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan denganku," tanya Naya.
"Iya Nay, memang ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu, lebih tepatnya aku mau curhat sih. Aku benar-benar lagi pengen cerita sama kamu dan aku nggak bisa ceritain itu lewat handphone. Nggak masalah kan kalau aku cerita sama kamu di sini, aku nggak mengganggu kamu kan?" Tanya Putri.
"Ya tentu aja nggaklah, memang kamu mau cerita soal apa? Cerita aja Put, keluarkan semuanya supaya hati kamu lebih tenang," kata Naya.
"Nay, aku sudah bertemu dengan teman masa kecil aku itu dan dia adalah Gerald, suami kamu. Naya, aku ingin bersama dengannya, jadi aku minta kamu merelakan Gerald buat aku ya," ucap Putri.
"Apa? Bisa ya kamu berbicara seperti itu dengan seenaknya. Kamu pikir suami aku itu apa bisa kamu minta-minta seperti itu? Aku tidak menyangka ternyata kamu itu wanita yang nggak punya hati, wanita yang rela merebut suami sahabatnya sendiri. Kamu kan tahu kalau aku sudah menikah dengan Gerald dan sudah punya anak, masa iya kamu tega mau meminta aku berpisah dengannya dan merelakannya untukmu," ucap Naya yang langsung saja menjambak rambut Putri.
"Put, Putri … kamu kenapa? Kok jadi melamun gitu. Kalau kamu mau cerita, cerita aja. Tapi kalau kamu belum siap buat cerita sekarang juga nggak apa-apa kok," ucap Naya yang membuyarkan lamunan Putri.
"Iya Nay, jadi aku kan pernah bilang sama kamu kalau aku punya teman kecil di Jogja," ucap Putri.
"Ehem," gumam Naya diiringi anggukan kepalanya.
"Jadi waktu aku ke Jogja kemarin, aku nggak sengaja bertemu dengan dia Nay," kata Putri.
"Oh ya? Jadi kamu sudah ketemu sama teman kecil kamu itu, cinta pertama kamu? Jadi bagaimana, cerita dong sama aku bagaimana kelanjutan hubungan kalian sekarang?" Tanya Naya yang sedikit terkejut, tetapi ia juga merasa sangat senang mendengar kabar bahagia itu dari sahabatnya.
"Iya Nay aku bertemu dengan dia, tapi harapan aku untuk bersamanya sudah pupus. Karena dia sudah memiliki keluarga dan terlihat sangat bahagia. Bahkan dia sama sekali nggak ingat sama aku Nay," kata Putri.
Mendadak Naya pun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Putri. Bagaimana tidak, setelah sekian lama Putri mencari keberadaan teman kecil dan cinta pertamanya itu, tetapi setelah bertemu malah pria tersebut sudah memiliki keluarga dan bahkan tidak mengingat siapa dirinya.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya Put, mungkin dia memang bukan jodoh kamu dan sudah saatnya kamu melupakan dia. Kamu move on ya, bukankah selama ini kamu mencarinya karena kamu tidak tahu bagaimana statusnya dan sekarang kamu sudah mengetahui semuanya. Aku rasa memang sudah saatnya kamu move on, jangan mengharapkan pria itu lagi, buka hati kamu buat orang lain Put," ucap Naya mencoba memberi nasehat untuk sahabatnya.
"Sekarang saja kamu sudah mengatakan seperti itu Nay, apalagi kalau kamu tahu pria tersebut adalah suami kamu sendiri. Bukan hanya meminta aku untuk move on, sudah jelas kamu tidak akan mau lagi berteman denganku. Pasti kamu takut kalau aku akan merebut Kak Eral dari kamu," batin Putri.
"Iya Nay, mungkin memang sudah saatnya. Meskipun aku yakin ini pasti akan terasa sangat sulit, tapi aku akan berusaha karena aku juga tidak mungkin bisa memilikinya. Aku bisa melihatnya yang begitu mencintai istrinya, aku bisa lihat bagaimana dari sikapnya Nay," ucap Putri dengan tatapan sendu.
Naya tidak dapat berkata apapun lagi, ia hanya dapat meraih tubuh sahabatnya itu kedalam dekapannya untuk memberi ketenangan.
"Kamu begitu baik Nay, aku tidak mungkin tega untuk menyakiti hatimu dengan mengatakan yang sesungguhnya," batin Putri.
***
Naya dan Gerald tampak bersiap-siap akan melakukan aktivitas mereka seperti biasa. Gerald hendak pergi ke kantor, sedangkan Naya akan pergi ke kampus.
"Sayang, hari ini kamu pergi dengan supir nggak apa-apa kan? Aku nggak sempat untuk mengantar kamu karena ada meeting pagi. Aku juga baru tahu kalau klien aku itu mendadak minta untuk bertemu pagi ini. Katanya sih dia akan segera berangkat ke luar negeri, jadi meminta untuk bertemu di luar sekalian sarapan. Kamu juga nggak apa-apa kan kalau aku sarapan di luar bareng klien dan pagi ini aku juga nggak sempat sarapan sama kamu," ucap Gerald.
"Ya nggak apa-apa dong Sayang. Pekerjaan kamu juga penting, jadi kamu tenang aja ya, nggak usah terlalu dipikirin kalau soal itu,"ucap Naya sembari merapikan dasi yang dipakai oleh suaminya.
"Makasih ya Sayang, kamu itu benar-benar perhatian dan pengertian banget sama aku. I love you Sayang," ucap Gerald sembari mengecup mesra kening sang istri.
"I love you too," balas Naya lalu mencium sekilas bibir suaminya itu.
Merasa dipancing oleh Naya, Gerald pun mengambil kesempatan dengan melahap bibir sang istri serta ********** dengan penuh gairah. Naya juga membalas ciuman itu dengan ******* bibir Gerald dan tak lama ia pun melepaskannya.
"Sudah ah, kalau kita melanjutkannya, bisa-bisa kamu telat lagi meeting-nya," ucap Naya.
"Kalau begitu kita sambung nanti malam ya Sayang," ucap Gerald tersenyum jahil.
"Nakal ya kamu," ucap Naya yang juga tersenyum menatap mata sang suami.
__ADS_1
...Bersambung …...