Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Kabar Duka


__ADS_3

Kini tampak Gerald, Putri dan juga George telah berada di rumah sakit menemani Naya yang masih belum sadar karena mengalami cedera pada kepalanya pasca kecelakaan yang baru saja menimpanya itu. Hal itu disebabkan karena benturan keras yang Naya alami di saat mobilnya terbalik.


Hingga beberapa saat kemudian, perlahan Naya membuka matanya. Naya merasa terkejut menyadari jika saat ini ia berada di tempat yang terlihat tak asing baginya dan juga kehadiran orang-orang yang dicintainya itu ada di sampingnya.


"Sayang!" Panggil Naya. Hingga ketiganya pun menatap ke arah Naya


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga," ucap Gerald yang terlihat cemas. Tetapi ia juga merasa lega karena setelah 3 jam menunggu, akhirnya istrinya itu pun membuka matanya.


"Sayang, kenapa aku bisa ada di sini? Putri, George, kenapa aku ada di sini?" Tanya Naya.


"Tadi kamu kecelakaan Nay," jawab Putri.


"Kecelakaan?" ucap Naya yang mengulangi ucapan putri tadi.


"Sayang, apa kamu benar-benar tidak ingat apa yang sudah terjadi tadi? Tanya Gerald.


"Yang aku ingat, tadi aku bawa mobil, dan … ." Akhirnya Naya pun mengingat jelas tentang kejadian dimana saat ia kecelakaan dan bagaimana ia merasakan mobilnya itu terbalik yang membuatnya merasa kesakitan dan juga ketakutan, bahkan Naya sendiri tidak menyangka jika dirinya saat ini masih hidup.


"Aku minta maaf Sayang, aku nggak menyangka akan terjadi seperti ini. Tadi aku terburu-buru mau pergi ke kampus, untuk itu aku membawa mobil sendiri," ucap Naya.


"Nggak apa-apa Sayang, yang penting sekarang kamu selamat. Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Gerald.


"Aku baik-baik saja Sayang," jawab Naya.


Akan tetapi di saat itu Naya pun memegang perutnya karena merasakan ada sesuatu yang berbeda.


"Sayang, bagaimana dengan anak kita?" Tanya Naya.

__ADS_1


Meskipun kandungannya masih berusia 2 bulan dan perutnya masih terlihat rata, tetapi biasanya Naya masih merasakan ada nyawa di dalam sana. Tetapi kali ini entah kenapa ia merasa perutnya kosong diiringi perasaannya yang tidak enak.


Akan tetapi bukan jawaban yang Gerald berikan, tetapi tatapan sendu dan tetesan air matanya. Begitu juga dengan Putri dan George yang tidak sanggup untuk melihat wajah Naya. Hal itu membuat Naya menjadi kebingungan dan takut.


"Ada apa ini, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian diam? Kenapa tidak ada yang mengatakan padaku. Bagaimana keadaan kandunganku?" Tanya Naya dengan suara meninggi.


"Sayang, kamu yang sabar ya. Tuhan lebih sayang dengan anak kita," ucap Gerald.


"Kamu ngomong apa sih Sayang. Apa maksud kamu?" Tanya Naya yang tak mengerti.


"Akibat dari kecelakaan itu, perut kamu terbentur keras sehingga bayi dalam kandungan kamu keguguran Sayang," ucap Gerald yang sebenarnya sangat tidak sanggup untuk mengatakan hal itu kepada istrinya, akan tetapi itulah kenyataan yang harus Naya ketahui. Karena tidak mungkin juga jika Gerald bisa menyembunyikannya dari sang istri.


"Enggak, itu nggak mungkin. Katakan padaku kalau kamu hanya bercanda kan Gerald, iya kan? Pasti kandungan aku baik-baik saja kan. Bercandaan kamu ini nggak lucu Gerald," ucap Naya yang tak bisa mempercayainya. Jelas saja ia tak bisa terima jika harus kehilangan anak di dalam kandungannya, buah cintanya bersama Gerald.


"Maafkan aku karena tidak bisa menjaga kamu dan calon anak kita dengan baik, tapi itu kenyataannya Sayang, kamu harus bisa terima. Kamu yang tenang ya, kamu harus kuat dan sabar," ucap Gerald.


Putri menggelengkan kepalanya diiringi air matanya yang bercucuran tanpa mengucap kata apapun. George yang melihat akan hal itu pun segera saja meraih tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya, ia tahu bagaimana rasanya menjadi Putri saat ini yang ikut merasakan sakit saat melihat sahabatnya tak bisa menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan jabang bayi di dalam perutnya.


"Hu … hu … nggak, ini nggak mungkin. Nggak mungkin … . Kenapa ini harus terjadi, kenapa?" Teriak Naya diiringi tangisannya yang begitu histeris.


Gerald tak sanggup melihat istrinya itu terus saja meronta, ia hanya dapat memeluknya dengan erat untuk menenangkan hati sang istri.


Hingga di saat itu tiba-tiba saja Naya merasakan kepalanya begitu sakit. Pasca kecelakaan itu ia baru saja sadar dan belum pulih, bahkan Gerald, Putri dan juga George lupa untuk memanggil dokter saat melihat Naya yang telah sadar. Kini George segera saja berlari untuk mencari sang dokter.


Tidak lama kemudian dokter pun telah tiba dan memeriksa kondisi Naya.


"Dok, apa yang dikatakan oleh suami saya itu bohong kan? Mana mungkin saya keguguran. Pasti anak di dalam kandungan saya ini baik-baik saja kan Dok," tanya Naya.

__ADS_1


Padahal ia sudah tahu jika di dalam perutnya itu sudah tidak ada apa-apa lagi, tetapi ia tetap saja menyangkal dan ingin mendengar kabar bahwa kondisi kandungannya baik-baik saja.


"Nyonya, kondisi Anda saat ini belum terlalu pulih. Jadi sebaiknya Anda istirahat, jangan memikirkan hal yang lain dulu. Saya minta maaf Nyonya. Karena pada kenyataannya apa yang dikatakan oleh suami Anda itu adalah benar. Saya minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan bayi Anda. Karena benturan keras yang terjadi menyebabkan Nyonya mengalami pendarahan hebat dan di saat Nyonya tiba di rumah sakit, bayinya memang sudah tidak bisa terselamatkan lagi, tapi untungnya Nyonya masih bisa diselamatkan. Semuanya adalah takdir dari Tuhan, saya harap Nyonya bisa menerimanya dengan ikhlas," ucap dokter.


Naya pun kembali menangis sejadi-jadinya, ia tetap tak bisa mempercayai hal itu meskipun dokter sudah menjelaskan secara detail. Setelah memeriksa kondisi Naya, kini dokter pun segera saja keluar dari ruangan tersebut.


Tak hanya Naya, Gerald pun sebenarnya ikut merasakan kesedihan yang amat mendalam setelah mendengar kabar duka ini. Dimana ia harus kehilangan calon anak keduanya. Padahal ia sudah berjanji akan menjaganya dengan baik, tetapi kenyataannya masih di awal saja Gerald sudah tidak bisa menjaga istri dan calon anaknya itu. Ia merasa sangat terpukul dan juga merasa sangat bersalah. Bagaimana ia bisa lalai untuk menjaga Naya.


***


Saat ini Naya terlihat sudah lebih tenang, karena efek obat sehingga ia pun tidur di dalam ruang rawat inapnya dengan ditemani oleh Putri.


Sedangkan Goerge menghampiri Gerald yang saat ini sedang duduk di luar ruangan dan terlihat sedang termenung dengan wajah sedihnya.


"Gerald, apa boleh aku duduk di sini?" Tanya George.


"Silahkan!" ucap Gerald dan segera saja George duduk di samping pria yang telah dianggapnya sebagai sahabat itu.


"Maaf, aku tidak bermaksud ingin ikut campur. Tapi aku juga bisa ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh kalian. Apalagi Naya, pastinya dia sangat terpukul karena anak itu berada di dalam kandungannya. Tetapi ini semua adalah takdir, bagaimanapun juga kalian berdua harus bisa ikhlas untuk menerimanya. Aku yakin di balik ini semua pasti Tuhan sudah merencanakan hal indah, bisa saja kan setelah ini Naya akan hamil lagi dan anak kalian kembar. Jadi kalau menurut aku lebih baik kau tidak perlu bersedih seperti ini," ucap George.


"Bagaimana aku tidak merasa sedih dan terpukul George. Aku merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga Naya dan juga calon anakku dengan baik. Padahal aku sudah berusaha, tetapi kenapa hal ini bisa terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang di saat menghadapi Naya yang terus saja menangis dan tidak bisa terima karena kehilangan anaknya, anak kami," ucap Gerald.


"Itu adalah tugasmu Gerald. Tugasmu untuk selalu menguatkan dan menenangkan hati Naya. Mungkin saat ini Naya masih syok untuk menerima semuanya, tetapi aku yakin jika nantinya pasti Naya akan ikhlas untuk menerima akan hal itu asalkan kau selalu berada disampingnya. Satu lagi, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri Gerald. Di di sini bukan Naya saja yang merasa kehilangan, tapi kau juga kan dan ini semua adalah takdir," ucap George yang membuat Gerald pun terdiam dan memikirkan bahwa kata-kata sahabatnya itu memang benar adanya.


...Bersambung …...


__ADS_1


__ADS_2