
Kepala Gerald begitu terasa berdenyut saat ia mencerna semua ucapan yang diucapkan oleh sahabatnya tadi, hingga saat membawa mobil pun ia tidak bisa fokus. Perasaannya tiba-tiba saja merasa tidak tenang dan memikirkan sang istri di rumah.
"Ada apa denganku? Kenapa mendadak aku memikirkan Naya? Tidak, ini semua pasti gara-gara Leo yang tadi telah menghasutku sehingga tiba-tiba saja aku memikirkannya," gumam Gerald yang mencoba membuang jauh-jauh pikirannya itu.
Lalu ia pun melajukan mobilnya menelusuri padatnya jalan menuju ke kediamannya. Semakin mencoba untuk melupakan, nyatanya ia semakin memikirkan. Gerald merasakan perasaannya semakin tidak enak dan terus tertuju pada sosok Naya. Sebenarnya Gerald juga takut dengan ucapan Leo tadi bahwa Naya akan pergi meninggalkannya di saat sudah lelah. Mungkin saja saat ini Naya memang sudah tidak sanggup lagi menghadapi dirinya, maka dari itu ia terlihat sangat marah dan melawannya, bahkan mengunci pintu kamar seakan tidak mau lagi berhubungan dengannya. Dalam hati kecilnya sangat tidak rela jika Naya pergi meninggalkannya, meskipun mulutnya berkata bahwa itu adalah yang hal bagus tetapi hatinya sangat bertolak belakang.
***
Gerald telah tiba di kediamannya, satpam segera membukakan pagar rumah lalu Gerald segera saja memasukkan mobilnya itu langsung menuju ke garasi, karena Gerald juga tak berniat untuk pergi kemana-mana lagi. Ia ingin segera beristirahat karena tubuhnya terasa sangat lelah. Saat hendak menuju ke kamarnya, ia teringat akan Naya yang sedari tadi dikhawatirkannya.
Tok … tok … tok …
Gerald kembali mengetuk pintu kamar Naya tetapi masih tetap sama, tidak ada tanda-tanda bahwa Naya akan membukakan pintu.
"Dimana dia? Apa dia sedang keluar? Atau jangan-jangan dia keluar dengan pria itu lagi," umpat Gerald.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya itu, ia pun menemui satpam dan bertanya dimana keberadaan istrinya itu. Satpam mengatakan jika ia tidak melihat Naya keluar dari rumah sehingga membuat Gerald semakin merasa khawatir. Ia yang takut terjadi sesuatu terhadap Naya langsung berlari menuju ke kamar Naya kembali.
"Naya … apa kau ada di dalam?" Gerald berteriak sembari mengetuk-ngetuk pintu dengan sangat kuat.
Karena tidak mendengar suara Naya sedikitpun, Gerald memutuskan mendobrak pintu kamar Naya dengan beberapa kali hingga pintu itu berhasil dibuka.
Gerald tidak menemui keberadaan Naya di dalam kamar, ia langsung saja menuju ke kamar mandi dan sangat terkejut melihat Naya yang saat itu sudah tergeletak di lantai.
"Naya? Nay, kau kenapa? Naya bangun! Bangun Naya, ada apa denganmu? Jangan membuat aku khawatir," teriak Gerald sembari mengguncang-guncang tubuh Naya yang saat ini berada di pangkuannya.
Tak mau berlama-lama lagi, Gerald segera menggendong tubuh Naya menuju ke dalam mobil, lalu dengan kecepatan tinggi ia meluncurkan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
***
Saat berada di rumah sakit, Gerald mondar-mandir seperti setrikaan karena merasakan begitu khawatir menunggu kabar Naya yang saat ini sedang berada di dalam ruang pemeriksaan. Perasaannya saat ini begitu campur aduk, ia yang mengatakan jika sama sekali tak peduli dengan Naya, tak mencintai Naya, tetapi kali ini merasakan begitu takut terjadi sesuatu dengan Naya, bahkan sangat takut untuk kehilangannya.
"Naya, aku berharap tidak terjadi sesuatu denganmu. Aku harap kau baik-baik saja Naya," ucap Gerald yang terlihat begitu sangat khawatir dengan matanya yang berkaca-kaca.
Sementara itu, Naya telah sadar saat dokter belum selesai memeriksanya.
"Dokter, kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Naya.
"Nona Naya, kamu tadi pingsan dan itu sudah umum terjadi di awal kehamilan," kata Dokter Luna.
"Apa hamil? Aku hamil Dokter?" Tanya Naya yang sangat terkejut mendengarnya.
"Iya benar, Nona Naya hamil," jawab Dokter Luna.
Naya tampak terdiam, ia tak percaya jika dalam waktu secepat ini bahkan mereka hanya melakukannya satu kali tetapi ia bisa langsung hamil.
"Terimakasih Dokter, tapi apa boleh aku meminta sesuatu kepada Dokter?" Tanya Naya.
"Iya, katakan saja Nona," kata Dokter.
"Tolong jangan katakan dulu kepada suamiku kalau aku hamil," pinta Naya yang enggan memberitahu Gerald.
Naya berpikir sudah pasti Gerald tidak akan peduli, mana mungkin Gerald menginginkan anak ini sama seperti dia tak menginginkan Naya.
"Tapi kenapa?" Dokter Luna merasa sangat heran dengan permintaan pasiennya itu, bukankah ini berita yang sangat baik dan sudah seharusnya pasangan suami istri itu tahu bukan malah disembunyikan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memberitahu kepada suamiku suatu saat nanti Dokter. Aku ingin memberikannya kejutan," ucap Naya beralasan, agar Dokter Luna tak lagi banyak bertanya dan menyetujuinya.
"Ya sudah kalau itu memang sudah menjadi keputusan Nona, lagipula saya juga tidak berhak untuk menyampaikannya tanpa izin Nona," kata Dokter Luna.
"Terima kasih banyak Dokter," ucap Naya.
Lalu Dokter Luna pun permisi untuk keluar dari ruang pemeriksaan. Gerald yang melihat dokter pada saat itu segera saja menghampirinya.
"Dokter, bagaimana keadaan istriku?" Tanya Gerald.
"Istri Tuan baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan sekarang Tuan boleh melihatnya," jawab Dokter Luna.
"Terimakasih Dokter," ucap Gerald dan langsung saja masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Naya kau kenapa? Bagaimana keadaanmu saat ini?" Tanya Gerald yang menghampiri sang istri.
"Jangan berpura-pura peduli padaku, padahal aku tahu kau sangat suka kan aku berada di sini," tuding Naya.
"Naya, kau kenapa bicara seperti itu? Kalau aku tidak peduli padamu, aku tidak mungkin membawamu ke rumah sakit Naya," bantah Gerald yang tak habis pikir dengan pemikiran Naya.
Gerald merasa jika Naya benar-benar sudah lelah sehingga dia selalu saja berbicara ketus serta bersikap acuh padanya.
"Ck, aku yakin kau pasti terpaksa kan, kau hanya takut kalau aku akan mati di dalam rumahmu itu tanpa diketahui oleh siapapun," kata Naya yang arah pembicaraannya sudah semakin tidak karuan.
"Sudahlah Naya, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Sekarang Katakan padaku, kenapa kau bisa pingsan?" Tanya Gerald.
Naya menghembuskan nafas kasar lalu menjawabnya, "Aku hanya kelelahan."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita pulang, aku akan menebus resep obat yang diberikan dokter tadi terlebih dulu. Kau harus beristirahat di rumah, besok tidak perlu berkuliah dulu kalau keadaanmu masih belum pulih," kata Gerald yang memberikan sedikit perhatiannya, tetapi entah kenapa tak membuat Naya sama sekali tersentuh seperti biasanya dengan hal-hal kecil yang selalu Gerald berikan untuknya.
...Bersambung......