Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Jiwa Keibuan


__ADS_3

Rencana makan malam di luar yang telah disepakati, terpaksa dibatalkan karena di saat itu Kania terlihat kelelahan yang menyebabkannya sedari tadi ia menangis terus. Naya pun menjadi kebingungan, karena sejak tadi anaknya itu tak mau diam meskipun sudah diberi susu dan sudah di timang-timang oleh Gerald. Hingga Putri dan George yang mendengarnya itu pun pergi ke kamar mereka.


Tok … tok … tok …


Mendengar suara ketukan pintu, Gerald pun segera saja membukakan pintu untuk kedua sahabatnya itu.


"Maaf mengganggu. Kita mendengar Kania menangis dari tadi, apa boleh kita masuk," ucap Putri.


"Iya, silahkan!" Ucap Gerald.


Goerge dan Putri pun segera masuk, lalu mendekati Naya yang saat itu terlihat masih tengah sibuk untuk mendiamkan Kania.


"Kania kenapa Nay?" Tanya Putri.


"Aku juga nggak tahu, dari tadi nangis terus. Nggak biasanya Kania seperti ini. Maaf ya kita jadi gagal makan malam di luar," ucap Naya.


"Nggak apa-apa Nay, itu kan gampang. Kita pesan online atau biar aku saja yang masak untuk makan malam kita," ucap Putri.


"Lebih baik kita pesan saja yang lebih simpel. Biar aku yang pesan," ucap George.


"Ya sudah. Nay, boleh nggak kalau aku mau mencoba untuk menenangkan Kania?" Tanya Putri.


Naya menganggukkan kepalanya, lalu menyerahkan anaknya itu kepada Putri.


"Cup … cup … cup … Kania Sayang, yang tenang ya Sayang, jangan nangis. Kasian Mama menjadi kebingungan. Kania capek ya?"


Terlihat Putri yang saat itu sedang menimang-nimang Kania sembari mengajaknya berbicara dan bercerita serta candaan yang keluar dari mulut Putri, sehingga Kania pun berhenti menangis dan terlihat lebih tenang berada di gendongannya.


"Loh Kania-nya diam loh di gendongan Putri. Ternyata jiwa keibuan kamu sudah terpancar ya Put meskipun belum punya anak," ucap Naya.


"Iya ya Sayang, padahal tadi aku timang-timang seperti itu juga dan Kania nggak mau diam," ucap Gerald.

__ADS_1


"Iya dong, kemungkinan Kania bisa merasakan kalau aku juga sangat menyayanginya, keponakan kesayangan Aunty, iya nggak Kania," ucap Putri tersenyum.


"Iya Aunty Putri, mudah-mudahan Aunty Putri segera diberikan adik bayi untuk Kania ya," ucap Naya.


"Aamiin … mudah-mudahan Mama juga cepat kasih adik lagi ya buat Kania," ucap Putri yang seolah berbicara kepada Kania.


"Sayang, mudah-mudahan kita bisa cepat punya anak ya, lihat tuh Kania saja bisa tenang seperti itu bersama kamu, apalagi anak kita nanti. Benar kata Naya, jiwa keibuan kamu sudah terlihat," ucap George.


"Iya Sayang mudah-mudahan saja doa kita cepat terwujud. Ya sudah berhubungan Kania bisa tenang berada di gendongan aku, bagaimana kalau kita sekarang keluar saja makan malam," ucap Putri.


"Nggak usah deh, aku nggak mau nantinya malah merepotkan kamu Put," ucap Naya.


"Sayang, kan aku sudah memesan makanan. Bukannya tadi kita mau pesan makan saja dan makan di rumah ya, jadi aku langsung memesannya," ucap George.


"Ya kalau memang makanan itu sudah dipesan, sebaiknya kita makan di rumah saja. Ada bagusnya juga sekalian kita istirahat di rumah. Lagipula sekarang Kania tenang belum tentu nanti dia akan tenang di jalan. Nanti malah kita nggak jadi makan gara-gara Kania menangis. Masih ada hari esok kok untuk kita jalan-jalan atau makan di luar," ucap Gerald.


"Nah, iya aku setuju," sahut Naya.


Sedangkan Gerald dan Naya saat itu masih berada di dalam kamar mereka.


"Sayang, mumpung Kania sedang bersama Tante dan Omnya, gimana kalau kita-" Gerald menghentikan ucapannya karena mendapat lirikan maut dari sang istri.


"Kita apa? Kita apa heh?" Tanya Naya dengan sorotan mata tajam yang membuat suaminya itu bergidik.


"Sayang kamu jangan melihat aku dengan tatapan seperti itu dong. Maksud aku bagaimana kalau kita mandi, kan kita belum mandi dari tadi. Apalagi kamu yang sibuk menenangkan Kania," ucap Gerald.


"Kamu jangan coba-coba mencari kesempatan dalam kesempitan ya. Kalau mau mandi ya sudah kamu saja yang mandi dulu," ucap Naya.


"Iya Sayang, ya sudah aku mandi dulu," ucap Gerald dan segera saja pergi. Niatnya ingin menggoda sang istri, tetapi istrinya itu malah terlihat sedang tidak mood.


***

__ADS_1


Malam pun semakin larut, setelah makan malam bersama dan berkumpul untuk mengobrol dan juga bermain dengan Kania, kini Gerald dan Naya, juga Putri dan George masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk segera beristirahat.


Kania tampak sudah tertidur pulas setelah tadi ia sangat ceria bermain bersama kedua orang tua dan juga tante dan omnya itu. Sudah pasti Kania juga sangat kelelahan, belum lagi karena perjalanan mereka dari Jakarta menuju ke Jogja.


Saat di rasa semua sudah aman, di situlah Gerald mulai mendekati sang istri dengan ragu-ragu setelah tadi mendapatkan penolakan.


"Kamu mau apa?" Tanya Naya


"Sayang, Kania kan sudah tenang dan sudah tidur. Aku mau ya," pinta Gerald.


"Mau apa?" Tanya Naya lagi.


"Sayang, masa sih kamu nggak mengerti. Kan sudah hampir 3 bulan kita libur gara-gara peristiwa itu sehingga dokter melarangnya. Tapi sekarang dokter sudah memperbolehkannya, memangnya kamu nggak mau melanjutkan rencana untuk membuat adik Kania. Bukannya kamu mau program hamil lagi," ucap Gerald.


"Oh kamu mau itu. Tapi kenapa ribet banget pakai basa-basi segala. Biasanya juga langsung nempel," ucap Naya tersenyum.


Melihat senyuman dan mendengar ucapan Naya membuat Gerald pun merasa senang karena itu artinya sang istri memperbolehkannya. Langsung saja ia mendekati sang istri dan langsung melu*** bibir ranum milik istrinya itu, serta memberi sentuhan-sentuhan yang membuat Naya seperti dimabuk kepayang hingga berakhirlah pergelutan di atas ranjang.


Bukan hanya Gerald dan Putri, sama halnya dengan yang dilakukan oleh George dan juga Putri. Keduanya saat ini sedang bermain kuda-kudaan di atas ranjang.


"Ahg … Sayang, aku sudah tidak kuat. Lakukan saja sekarang," pinta Putri diiringi suara desa***nya.


"Oke Sayang," jawab George dan segera saja melakukan penyatuan dengan milik sang istri.


Hingga tidak lama kemudian, Putri telah mencapai puncak kenikmatan terlebih dahulu dan di susul pula oleh sang suami.


"Sayang, kalau menurut kamu suara kita ini terdengar nggak ya sampai ke kamar Naya dan Gerald?" Tanya Putri.


"Kalau menurut aku sih enggak. Kamar ini kan kedap suara. Lagipula kalau mereka mendengarnya memang kenapa? Aku rasa Naya dan Gerald tidak mempermasalahkannya, malah bisa saja kan saat ini mereka juga melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan. Sudah sewajarnya juga, kita kan pergi liburan, nggak salah dong sekalian mengisi amunisi," ucap George yang membuat istrinya itu pun mengerutkan keningnya dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


...Bersambung …...

__ADS_1


__ADS_2