
Di saat itu muncul pria bertopeng yang menghampiri Gerald dan tanpa basa-basi langsung menonjok wajahnya dengan kuat sembari menatap sinis penuh kemenangan. Ia juga puas melihat Gerald yang saat ini telah babak belur tetapi ia merasa sangat sepi karena tidak ada perlawanan maupun suara dari Gerald, hingga pria bertopeng itu pun melepas lakban yang menutup mulut Gerald dengan kasar yang membuat Gerald kesakitan.
"Brengsek, siapa kau? Apa yang kau lakukan padaku?!" Bentak Gerald menatap tajam seakan ingin menerkam musuhnya itu.
"Ini akibatnya karena kau terlalu berlagak Gerald, kau merasa paling kuat dan paling hebat. Tetapi nyatanya saat ini apa? Kau lemah, kau tidak bisa berbuat apapun di tanganku kali ini dan aku pastikan aku akan menyiksamu secara perlahan. Kau tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan anak dan istrimu juga kedua orang tuamu selamanya," ancam pria bertopeng.
Tetapi tak membuat Gerald sama sekali bergidik, ia terlihat semakin murka dan di dalam hatinya telah terucap bahwa ia tidak akan memaafkan dan akan membalas siapapun pria di balik topeng tersebut. Gerald malah terus saja memberontak berusaha untuk lepas dari ikatan tersebut.
"Heh banci, jangan bawa-bawa keluargaku. Kalau berani hadapi aku satu lawan satu. Lepaskan aku!" Teriak Gerald.
"Ha … ha …ha … kau yakin mau melawanku? Kau itu sudah babak belur. Dan satu hal lagi, aku tidak akan melepaskan kau Gerald. Aku akan membuat seolah kau telah mati di depan keluargamu. Lihat saja nanti," ucap pria bertopeng.
"Bajing**, lepaskan aku!" Gerald kembali berteriak dan terus saja memberontak.
Bug …
Sebuah pukulan yang entah keberapa kalinya mendarat kembali di wajah tampan Gerald, hingga darah segar kembali keluar dari sudut bibirnya itu.
"Tutup kembali mulut berisiknya itu, pastikan dia tidak akan lepas dari sini!" Pria bertopeng memerintahkan anak buahnya dan segera saja anak buahnya itu menutup kembali mulut Gerald dengan lakban.
Setelah itu, pria bertopeng itu segera saja keluar dari gudang tersebut dan menelepon seseorang.
__ADS_1
"Halo Baby, aku sudah melakukan apa yang kau pinta. Saat ini pria yang telah menyakitimu ini sedang tersiksa di dalam gudang tua. Kau ingin aku berbuat apa lagi?" Tanya pria bertopeng lewat telepon.
"Baik Sayang, aku akan melakukannya," ucap pria bertopeng lagi lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Pria bertopeng itu melangkahkan kakinya kembali untuk masuk ke dalam gudang dan kembali memukuli Gerald beberapa kali dengan membabi buta hingga wajah Gerald pun penuh luka. Iya begitu senang melihat kondisi Gerald yang tak berdaya saat ini, tetapi ia juga merasa tidak puas karena tidak ada perlawanan sama sekali dari Gerald. Mendadak ia tersenyum karena mendapatkan ide, segera saja pria bertopeng itu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan Gerald dan memintanya untuk segera melawan. Padahal saat itu Gerald sudah terlihat tidak berdaya, hingga saat tali terlepas, ia langsung jatuh tersungkur di atas lantai.
"Ayo bangun, lakukan perlawanan. Dimana sikap sombongmu selama ini yang mengatakan kalau kau itu begitu kuat, kalau kau begitu hebat, kau tidak terkalahkan. Begini saja kemampuanmu Gerald, lawan aku," kata pria bertopeng.
Gerald mengepal erat kedua tangannya, ia benar-benar sudah tak berdaya saat ini. Akan tetapi tiba-tiba ingatannya melayang kepada sosok wanita yang paling dicintainya, yang selama ini telah ia sakiti, ia tidak boleh mati sia-sia di sini, ia harus menemukan sang istri dan menembus segala dosanya di masa lalu dengan membahagiakan istri dan anaknya itu. Lalu dengan sekuat tenaga Gerald pun mencoba untuk bangkit, hingga ia pun bisa berdiri meski tubuhnya itu sempoyongan.
Saat Gerald hendak mendekati pria bertopeng, para preman yang merupakan anak buahnya itu pun hendak mendekati Gerald, akan tetapi pria bertopeng memberikan gestur untuk anak buahnya berhenti yang menandakan jangan ikut campur karena dia akan menghadapinya sendiri hingga anak buahnya itu pun mundur, hanya mengawasinya dari jauh saja.
Gerald segera memberi satu pukulan hingga mengenai wajah pria bertopeng itu, tetapi sama sekali tidak terasa karena Gerald tidak sekuat biasanya. Pria bertopeng itu tersenyum smirk, lalu dengan sekali pukulan saja membuat Gerald kali ini benar-benar tumbang dan sama sekali tidak sadarkan diri.
***
Hingga beberapa jam kemudian, mereka pun telah tiba di rumah. David meminta Dania dan Naya tetap berada di rumah menjaga Kania sambil menunggu kabar, sedangkan David saat ini juga langsung saja menyusul dimana keberadaan Boy dan juga anak buahnya yang sedang mengatur rencana akan masuk ke dalam rumah tua yang diduga tempat penyekapan Gerald tersebut. Memang saat ini mereka masih berada di luar, karena ternyata jumlah anak buah yang menjaga rumah tua tersebut sangatlah banyak, kira-kira sekitar 20-an orang, sedangkan mereka saat ini hanya bertiga.
Tidak berapa lama kemudian, David pun telah tiba dengan membawa beberapa anak buahnya lagi, sehingga mereka tampak seimbang untuk menghadapi para penjaga yang berada di rumah tua tersebut.
"Apa kalian yakin kalau Gerald ada di dalam rumah itu?" Tanya David sembari mengintip dari balik pepohonan.
__ADS_1
Saat ini mereka sedang bersembunyi yang agak jauh dari rumah tua tersebut, sedangkan mobil juga mereka parkirkan lebih jauh lagi agar para preman tersebut tidak curiga.
"Kalau menurut informasi yang saya dapat dari IT, benar di sini Tuan alamatnya. Lokasinya ada di tengah-tengah hutan dan kami hanya menemukan rumah tua itu saja di tengah hutan ini, kebetulan dijaga oleh banyaknya orang, sudah pasti Tuan Gerald ada di sana," jawab Boy yakin.
"Ya sudah sekarang kita ke sana," kata David mengajak Boy dan juga seluruh anak buahnya itu.
Salah satu penjaga melihat kedatangan mereka dan segera saja memberitahu kepada teman-temannya semua, sehingga kabar tersebut juga sampai di telinga pria bertopeng.
"Sialan, dari mana mereka tahu tempat ini. Hadapi mereka, pastikan jangan sampai ada yang selamat," kata pria bertopeng itu.
Lalu segera saja mereka menyerang David, Boy, dan juga anak buahnya. Perkelahian pun terjadi dan tidak terelakkan, baku hantam juga terjadi hingga membuat semuanya terluka. Tidak ada satupun wajah mulus di antara mereka yang masih bertahan. Di saat ini, Boy juga sudah terlihat sangat lemah karena beberapa kali terkena pukulan. Berbeda dengan David, ia masih tampak kuat bahkan beberapa anak buah pria bertopeng itu sudah tampak banyak yang tumbang karena ulahnya.
***
"Ma, apa sudah ada kabar dari Papa?" Tanya Naya.
"Belum Sayang, kita tunggu saja ya sambil kita berdoa semoga semuanya baik-baik saja, Gerald ditemukan, Papa juga pulang dalam keadaan selamat," ucap Dania.
"Iya Ma aamiin. Mudah-mudahan saja mereka berhasil menemukan Gerald dan kembali dalam keadaan selamat semuanya," ucap Naya.
Naya dan Dania tampak tegang, mereka berdua terlihat sangat cemas menunggu orang-orang yang mereka sayang pulang ke rumah. Keduanya pun saling berpelukan untuk saling menguatkan dan merasa lebih tenang, sedangkan Kania saat ini sedang tidur di dekat mereka.
__ADS_1
...Bersambung......