Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Penuh Tanda Tanya


__ADS_3

Pria itu juga terkejut melihat Naya saat ini berada di depannya. Ia pun langsung saja berlari masuk ke dalam karena merasa malu dilihat oleh seorang gadis muda, terlebih lagi wanita itu adalah orang yang dikenalnya.


Tidak hanya Naya, Gerald pun merasa heran dan terkejut melihat sosok pria yang pernah dilihatnya itu berada di rumah ibu tiri Naya.


"Bu bukannya itu Denis? Kenapa dia bisa ada di sini?" Tanya Naya.


"Iya dia memang Denis, ternyata kamu sudah mengenalnya ya? Jadi Denis itu keponakan Ibu, dia datang mengunjungi Ibu tadi malam dan menginap di sini," Rosa sangat berhati-hati mencari alasan agar Naya tidak menaruh curiga padanya, terlebih lagi Naya juga mengenal Denis.


"Oh ya? Kenapa aku baru tahu kalau Ibu memiliki keponakan," kata Naya.


"Ya tentu saja kamu tidak tahu, karena Denis itu keponakan Ibu yang sudah lama tidak berkunjung, kebetulan saat ini dia berkunjung ke rumah karena menyampaikan pesan dari ibunya," kata Rosa.


"Menyampaikan pesan? Memangnya menyampaikan pesan tidak bisa lewat handphone, kenapa Denis harus datang ke sini secara langsung," kata Naya penuh curiga.


"Sialan! Anak ini benar-benar membuatku mati kutu, ada saja pertanyaannya yang menyudutkanku. Aku harus memikirkan cara agar Naya tidak mencurigaiku," Gumam Rosa dalam hati.


"Ya jadi Ibu tidak mempunyai kontak keluarga Denis lagi, kan kamu tahu kalau hp Ibu rusak, jadi kontak hilang semua. Tetapi ibunya Denis ingat kalau dulu Ibu pernah mengatakan alamat Ibu di sini, maka dari itu Denis datang. Lagipula tidak salah kan jika Denis sekalian melihat kondisi Tantenya sendiri," ucap Rosa.


Entah kenapa Naya merasa ada yang ganjal, tetapi Naya tidak mau lagi mempermasalahkan masalah itu dan mengalihkannya dengan pembicaraan lain.


"Bu, aku datang ke sini hanya ingin mengunjungi Ibu, syukurlah aku lihat Ibu baik-baik saja. Apalagi saat ini juga ada keponakan Ibu yang menemani Ibu. Tapi kalau aku boleh tahu dimana suami Ibu?" Tanya Naya yang tidak melihat keberadaan suaminya ibu tirinya itu. Ia memang enggan menyebut suami Rosa dengan sebutan ayah.


"Oh suami Ibu sedang bekerja," jawab Rosa.


"Oh gitu. Ya sudah Bu, ini ada sedikit oleh-oleh buat Ibu. Kami permisi dulu!" Ucap Naya.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Naya dan Gerald pun segera saja pergi meninggalkan rumah Rosa yang sebenarnya itu adalah rumah Naya, akan tetapi setelah ayah dan ibunya meninggal, maka rumah tersebut telah dikuasai oleh Rosa.


***


"Kenapa bisa Denis ada di rumah Ibu? Pantas saja aku seperti mengenal mobil tersebut. Apa benar Denis itu keponakan Ibu? Tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ibu, karena aku sama sekali tidak pernah mengetahui jika Ibu mempunyai keponakan di sini. Ah entahlah, lagipula itu juga bukan urusanku, mau Denis itu keponakan Ibu ataupun siapa. Lagipula aku ini mikir apa sih, masa iya Denis itu selingkuhan Ibu, Denis masih terlalu muda sedangkan Ibu lebih pantas menjadi ibunya. Aku tadi juga dengar kalau Denis sendiri menyebut Ibu dengan panggilan Tante," gumam Naya dalam hati saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Naya kau kenapa? Sepertinya kau sedang bingung memikirkan pria tadi. Pria itu kan yang sedang dekat denganmu? Pria itu juga yang mengajakmu pulang kuliah langsung keluyuran tidak jelas dan pulang terlambat ke rumah," tuding Denis.


"Iya dia Denis temanku yang kemarin baru saja mengajakku jalan-jalan, makan, hal yang tidak pernah kau lakukan padaku dan mengantarku pulang. Memang kenapa?" Tanya Naya ketus.


"Kau ini," umpat Gerald kesal.


"Ternyata keputusanku untuk ikut Naya mengunjungi ibu tirinya tidak salah, kalau aku tidak mengantarnya tadi, sudah pasti dia akan pulang ke rumah terlambat atau bahkan tidak pulang karena asyik bermadu kasih dengan pria itu yang ternyata adalah keponakan dari ibu tirinya," batin Gerald tersenyum smirk.


***


"Apa? Jadi kau dekat dengan wanita lain dan dia itu anak tiriku? Mana aku tahu kalau dia datang ke rumahku hari ini," bantah Rosa.


"Tante dengar ya, aku ada di sini hanya karena menjadi pemuas ranjang Tante, aku hanya melayani nafsu Tante yang menggebu-gebu itu. Karena Tante sendiri yang bilang kalau suami Tante sama sekali tidak bisa memuaskan Tante, Tante membutuhkan pria muda dan bersedia membayarku berapapun itu, maka dari itu aku menyetujuinya Tante. Tapi bukan berarti aku tidak boleh jatuh cinta dengan wanita lain," kata Denis.


"Jadi kau mencintai anak tiriku?" Tanya Rosa.


"Ya Aku sudah lama mencintainya. Tapi aku pernah kehilangan jejaknya dan sudah lama aku mencari keberadaannya, tidak tahu dimana dia. Kami bertemu lagi karena Naya sekarang sudah kembali berkuliah. Seandainya aku tahu bahwa Naya adalah anak Tante, aku tidak mungkin mau menjadi budak nafsu Tante saat ini," ujar Denis.


"Dasar anak ingusan, jaga ucapanmu. Kau sendiri yang menyetujuinya karena membutuhkan uang. Jadi untuk apa kau membahas masalah ini? Aku sudah membayarmu mahal!" Bentak Rosa.

__ADS_1


"Dan sekarang aku tidak mau melayani Tante lagi. Aku lebih mementingkan cintaku daripada uang. Mudah-mudahan saja Naya tadi tidak merasa curiga dan percaya bahwa aku ini adalah keponakan Tante," ucap Denis.


"Ah sudahlah, lebih baik sekarang kau pergi saja dari rumah ini. Sebentar lagi suamiku akan pulang," usir Rosa.


"Tanpa Tante mengusir pun, aku akan segera pergi dari sini. Jangan lupa transfer sisa uang jajanku atau aku akan membongkar semua rahasia Tante itu di depan suami Tante," ancam Denis.


"Heh bocah kemaren sore, berani sekali kau mengancamku. Kau tenang saja, uang jajanmu sudah aku transfer," kata Rosa dengan sangat kesal.


"Bagus," ucap Denis dan berlalu dari pandangan Rosa.


***


"Apa kau mau makan siang dulu?" Tanya Gerald.


"Apa aku tidak salah dengar? Kau mengajakku makan siang bersama?" Tanya Naya yang merasa heran.


"Ya kau tidak salah dengar. Memangnya kenapa? Apa salahnya aku jika aku mengajakmu sekali-sekali makan di luar, kita sudah 6 bulan menikah dan sama sekali tidak pernah makan bersama di luar kan," kata Gerald.


"Ya Justru karena sudah 6 bulan menikah dan kita tidak pernah makan di luar bersama, aku merasa sedikit terkejut tiba-tiba kau mengajakku seperti ini," kata Naya.


Gerald mendadak diam, ya memang benar jika selama ini ia tidak pernah memperhatikan Naya karena sibuk dengan kekasihnya itu.


"Ya sudah jika kau tidak mau. Sekarang kita pulang," kata Gerald mengancam.


"Siapa bilang aku tidak mau, jelas aja aku mau karena aku juga sudah lapar. Sekarang kau pilih saja terserah dimana tempatnya, aku akan mengikutimu," kata Naya.

__ADS_1


Gerald yang sangat senang itu pun segera saja melajukan mobilnya menuju ke sebuah restauran.


...Bersambung......


__ADS_2