
Karena terlalu menyayangi sang istri, Gerald tidak mau jika ada ada satupun orang yang menyakiti istrinya itu. Ia benar-benar tidak akan memaafkan atau mengampuni siapapun yang akan membuatnya istrinya terluka, meskipun dikatakan jika dulu ia pernah menyakiti istrinya sendiri. Kini Gerald merasa menjadi pria yang paling bodoh karena pernah menyakiti seorang istri yang begitu baik dan mencintainya.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" Ucap Gerald.
"Ya boleh dong, kamu mau tanya apa memangnya? Tanya aja Sayang," kata Naya.
"Aku mau tanya sama kamu, seandainya aku sudah mengingat tentang masa lalu bagaimana dulu aku berlaku kasar terhadap kamu, bagaimana aku yang tidak pernah mencintai kamu dan malah selalu menyakiti hati dan fisik kamu, apakah kamu masih mau menjadi istri yang baik buat aku?" Tanya Gerald.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Sayang? Bukankah aku sudah bilang kalau dari dulu aku sudah mencintaimu dengan tulus meskipun kamu tidak pernah memperlakukan aku dengan baik, kamu selalu menyiksaku dan tidak mengakui Kania sebagai anakmu. Tetapi aku tetap menyayangi kamu, berusaha menjadi istri yang baik buat kamu dan berharap suatu saat nanti kamu akan sadar. Tapi aku minta maaf ya karena sebenarnya dulu aku sempat menyerah, aku takut kalau kamu tidak akan pernah mencintai aku, hingga akhirnya aku pun memilih untuk pergi. Tetapi untung saja waktu itu Mama mencegah aku pergi dan meminta aku untuk bertahan, hingga pada akhirnya pun kamu sadar. Tetapi setelah aku memutuskan untuk kembali ke rumah, kamu malah dalam keadaan seperti ini," ucap Naya dengan mata yang berkaca-kaca.
Padahal ia sudah pernah menjelaskan tentang masa lalu itu, tetapi entah kenapa Gerald tetap saja mempertanyakannya sehingga Naya pun terpaksa untuk menjelaskannya lagi.
Gerald begitu terharu mendengarnya, lalu ia meraih tubuh sang istri kedalam dekapannya.
"Makasih ya Sayang, aku benar-benar beruntung mempunyai istri seperti kamu. Kamu tahu nggak saat ini aku berharap jika aku tidak akan pernah mengingat tentang masa lalu itu lagi," ucap Gerald.
"Loh memangnya kenapa?" Tanya Kania yang merasa bingung.
"Ya untuk apa juga aku mengingat tentang masa lalu yang begitu menyakitkan buat kamu, lebih baik aku tidak akan pernah mengingatnya lagi. Aku lebih suka menjadi diri aku yang sekarang, aku yang begitu bahagia mencintai kamu dan juga anak kita, Kania," ucap Gerald.
"Memangnya kamu tidak mau mengingat tentang yang lainnya lagi? Tentang Mama, tentang Papa atau yang lainnya?" Tanya Naya.
"Tidak perlu, sekarang aku juga sudah dekat dengan Mama dan Papa. Aku sudah sangat bahagia mempunyai Mama, Papa, kamu dan Kania dalam hidup aku. Dan aku tidak perlu mengingat siapapun lagi, apalagi tentang wanita yang kamu bilang mantan kekasih aku. Aku sama sekali tidak ingin mengingat siapa dia, tentang masa lalu aku dengannya," ucap Gerald dengan penuh keyakinan.
Naya tidak dapat mengucap kata apapun lagi, ia pun membalas pelukan erat suaminya itu serta menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Gerald. Rasanya begitu hangat dan menenangkan. Naya benar-benar menjadi wanita yang paling beruntung dan merasa bahagia karena mempunyai suami seperti Gerald.
__ADS_1
***
Gerald melajukan mobilnya menelusuri kota Jakarta yang dipadati oleh masyarakat yang berlalu lalang hendak beraktivitas. Sebelum pergi ke perusahaan, ia memutuskan untuk mengantar Naya pergi ke kampus terlebih dahulu, karena ia juga sedang tidak terburu-buru.
"Terimakasih ya Sayang, kamu jadi harus mengantar aku pergi ke kampus seperti ini. Padahal kan aku bisa pergi sendiri atau diantar supir," ucap Kania.
"Sama-sama Sayang. Kenapa juga kamu harus pergi sama supir kalau suami kamu bisa mengantar kamu," kata Gerald.
"Iya deh, yang jelas aku tetap mengucapkan terimakasih dengan kamu. Kalau memang kamu nggak sibuk dan nggak terlalu buru-buru, ya aku nggak nolak kok kalau kamu mau antar aku ke kampus, malah aku senang," ucap Naya tersenyum.
"Iya dong Sayang, aku akan selalu menyempatkan waktu kalau untuk kamu," ucap Gerald ikut tersenyum.
Karena asik mengobrol saat dalam perjalanan, tanpa disadari kini mereka pun telah tiba di kampus. Di saat yang bersamaan, Naya juga melihat putri yang baru saja keluar dari mobilnya di parkiran depan kampus.
"Putri!" Panggil Naya saat ia juga sudah keluar dari mobil.
"Oh itu Putri teman baru aku yang aku ceritakan ke kamu tadi malam," jawab Naya.
"Oh jadi dia. Ya sudah kalau begitu kamu masuk aja ke kampus dengan teman baru kamu itu," kata Gerald.
Putri yang mendengar ada yang memanggil namanya itu pun segera menoleh dan tersenyum saat mengetahui yang memanggilnya adalah Naya. Lalu ia melangkahkan kakinya mendekati Naya. Putri melihat jika ada seseorang di dalam mobil yang baru saja Naya tumpangi, rasanya ia seperti mengenalinya, tetapi karena tidak terlalu jelas sehingga Putri pun mengabaikannya saja.
"Hai Nay, kamu baru sampai juga ya?" Ucap Putri.
"Hai Put, iya aku baru sampai. Maaf ya karena aku panggil kamu, kamu malah jadi nyamperin aku ke sini," ucap Naya.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa dong Nay, kebetulan sekali kita sama-sama baru sampai. Yuk kita masuk," ajak Putri.
"Ya sudah Put, aku bilang ke suami aku dulu ya," kata Naya lalu menghampiri Gerald di dalam mobil.
"Sayang, kamu hati-hati ya. Aku masuk dulu ke dalam," ucap Naya.
"Iya Sayang, kamu yang benar ya belajarnya. Nanti kalau sudah pulang kamu hubungi supir aja atau hubungi aku. Kalau aku lagi nggak ada kerjaan, biar aku yang jemput kamu," ucap Gerald.
"Iya, nanti aku pasti akan mengabari kamu kok," kata Naya.
Setelah itu Gerald segera melajukan mobilnya kembali menuju ke perusahaan.
"Suami? Jadi kamu sudah menikah ya?" Tanya Putri.
"Iya benar, aku memang sudah menikah dan sudah punya anak 1," jawab Naya.
"Oh ya? Memang umur kamu sekarang berapa Nay?" Tanya Putri.
"Tahun ini umur aku sudah memasuki 22 tahun. Saat aku menikah aku masih berumur 20 tahun," jawab Naya.
"Ternyata kita masih seumuran ya. Tapi nggak nyangka kalau kamu sudah menikah dan punya anak, sedangkan aku masih jomblo," kata Putri.
"Memangnya kamu nggak punya pacar?" Tanya Naya.
"Dulu saat masih kecil, aku pernah menyukai seorang pria, ya bisa dibilang cinta monyet gitu lah. Tapi setelah itu kita berpisah dan sekarang aku nggak tahu dimana keberadaannya, bahkan aku juga sudah lupa bagaimana wajahnya," ungkap Putri.
__ADS_1
"Oh … gitu. Ya ampun itu kan hanya cinta monyet. Kenapa kamu nggak coba untuk berpacaran aja, buka hati kamu untuk pria lain," ucap Naya yang membuat Putri tampak terdiam.
...Bersambung …...