
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Putri tampak lesu memikirkan kisah perjalanan cintanya yang jelas-jelas bertepuk sebelah tangan, tetapi ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya untuk melupakan cinta yang selama ini telah tertanam dihatinya. Kini Putri pun tampak ragu untuk mengatakan hal sebenarnya kepada Naya setelah apa yang ia lihat, tetapi ia juga tidak bisa tenang jika harus terus memendam perasaannya ini selamanya. Entah sampai kapan? Rasanya ia benar-benar tidak sanggup lagi.
Saat tiba di rumah, Putri langsung saja masuk ke dalam kamar tanpa mencari orang tuanya terlebih dulu seperti yang biasa ia lakukan, sehingga membuat ibunya pun kebingungan dengan tingkah laku anaknya itu.
Tok … tok … tok …
Terdengar suara ketukan pintu. Putri pun bergegas membukakan pintu kamarnya yang ternyata adalah sang ibu yang mengetuk pintu tersebut.
"Mama, ada apa?" Tanya Putri.
"Mama yang harusnya bertanya, kamu kenapa? Biasanya kalau pulang kamu cari Mama dulu, salam Mama dulu. Kali ini dengan wajah kamu yang cemberut itu langsung saja masuk ke dalam kamar. Ada apa?" Tanya Vera yang tampak cemas dengan kondisi sang anak.
"Nggak ada apa-apa Ma. Aku hanya sedikit lelah aja dan ingin istirahat langsung," jawab Putri beralasan.
"Ini bukan sifat anak Mama. Selelah apapun kamu, kamu tidak pernah mengabaikan Mama. Jadi jangan jadikan alasan lelah dengan sikap kamu yang seperti ini. Putri, Mama tahu kalau kamu sedang ada masalah. Ayo katakan kepada Mama," ucap Vera.
Lalu Putri pun duduk di samping ranjangnya itu dan diikuti oleh Vera.
"Sayang, kamu kenapa? Ceritakan ke Mama. Ada apa sebenarnya? Apa yang sudah terjadi? Semenjak kamu pulang dari Jogja waktu itu, Mama lihat kamu jadi tampak murung, tidak bersemangat. Bukankah kamu itu sudah mempunyai sahabat di sini, sahabat yang begitu baik dan membuat kamu bahagia seperti yang kamu ceritakan ke Mama," ucap Vera.
Putri langsung memeluk ibunya itu, Vera yang merasa kebingungan itu pun langsung saja membalas pelukan sang anak sembari mengusap lembut punggungnya.
"Sayang, kalau kamu ada masalah kamu cerita sama Mama. Mama ini ibu kamu. Mama tahu jika kamu sedang ada masalah, jadi kamu tidak bisa berbohong atau menyembunyikannya dari Mama. Mama sudah sangat mengenal sifat kamu dari kecil," ucap Vera.
"Iya Mama benar. Memang Naya adalah sahabat terbaik aku, teman yang selama ini bahkan belum pernah aku temui di Jogja Ma. Meskipun kami belum lama kenal, tapi aku seperti sudah mengenal lama dengannya Ma. Naya itu sangat baik, tulus, pengertian, selalu mendukung aku, tapi kenapa masalah yang sedang aku alami saat ini harus terlibat dengan Naya," ucap Putri sembari melerai pelukan dari sang ibu.
"Naya terlibat masalah kamu? Memangnya kamu sedang ada masalah apa?" Tanya Vera mengernyitkan dahinya karena merasa kebingungan.
__ADS_1
"Ma jadi sewaktu di Jogja kemarin, aku bertemu dengan Putri, suami dan anaknya di sana, karena ternyata suami Putri itu aslinya dari Jogja. Dan Mama mau tahu siapa suaminya itu? Suaminya itu Kak Eral Ma, cinta pertama aku, teman masa kecil aku itu Ma," ucap Putri menatap ibunya itu.
Vera cukup terkejut mendengar pengakuan dari anaknya, akan tetapi tak bisa dipungkiri jika Vera juga merasa senang karena ternyata pria yang selama ini dinanti oleh putrinya itu, pria yang membuat Putri tidak mau mengenal pria lain, ternyata sudah memiliki keluarga sendiri. Bukankah itu artinya Putri harus segera move on dari pria yang sama sekali tidak mengharapkannya? Lagipula sebenarnya Vera dan suaminya juga sudah berniat akan mengenalkan Putri dengan anak dari rekan bisnis suaminya yang berada di kota Jakarta. Tetapi dari mereka juga belum ada yang mengatakannya kepada Putri, mengingat anaknya yang selalu saja menolak jika diminta untuk move on karena masih terus berharap dengan teman masa kecilnya itu. Saat ini Vera merasa cukup lega dan senang, tetapi ia juga tidak mungkin mengatakan kepada Putri bahwa ia sangat senang mendengar kabar itu. Tentunya sebagai ibu, Vera juga merasakan kesedihan yang Putri rasakan.
"Apa? Jadi Eral itu adalah suaminya Naya dan dia sudah punya anak? Kamu tahu dari mana Sayang?" Tanya Vera.
"Iya Ma, jadi Eral itu adalah Gerald suaminya Naya. Aku nggak tahu karena selama ini Naya kalau cerita menyebut namanya Gerald bukan Eral Ma. Waktu di jogja aku bertemu mereka langsung di rumah lama mereka. Aku juga nggak tahu kenapa pada hari itu aku sangat ingin pergi ke Jogja dan melihat rumah lama mereka. Ternyata itu jawabannya Ma, sudah saatnya aku bertemu dengan Kak Eral dan mengetahui kondisinya. Aku sudah nggak ada harapan lagi untuk bersama dengannya Ma," ucap Putri dengan linangan air matanya, merasakan kesedihan yang amat mendalam.
"Ya sudahlah Sayang, kamu yang sabar ya. Berarti memang sudah saatnya kamu melupakan teman masa lalu kamu itu. Toh sudah tidak ada lagi kan yang bisa kamu tunggu, dia sudah menikah dan sudah punya anak. Bahkan istrinya itu sahabat kamu sendiri," ucap Vera.
"Tapi nggak bisa semudah itu Ma. Apalagi Naya selalu aja mengajak aku jalan-jalan bersama suaminya, seolah memaksakan diri aku untuk berdekatan dengan Kak Eral. Bagaimana bisa aku move on?" Kata Putri.
"Kalau begitu kamu harus menghindar, kamu harus bisa melupakan Gerald atau kamu anggap aja Gerald itu seperti orang lain, hanya sebagai suami sahabat kamu saja," kata Vera.
Putri menggelengkan kepalanya. Menurut Putri memang sama sekali tidak ada yang bisa mengerti perasaannya saat ini, termasuk ibunya sendiri.
***
"Mau minta tolong apa Sayang?" Tanya Naya.
"Tolong ambilkan amplop yang ada di laci bawah nakas samping tempat tidur," ucap Gerald, karena saat ini mereka sedang duduk di sofa kamar bermain dengan sang anak sambil menonton televisi.
"Oh … aku ambilkan dulu ya Sayang," ucap Naya dan bergegas menuju ke nakas tersebut.
Naya membuka laci dan menemukan dua amplop yang berada di dalam laci tersebut.
"Amplop yang warna apa Sayang, coklat atau putih?" Tanya Naya.
__ADS_1
"Warna coklat yang panjang Sayang, bawa sini ya," jawab Gerald.
Lalu Naya pun segera saja mengambil amplop tersebut dan membawa kepada suaminya itu.
"Nih Sayang amplopnya," ucap Naya sembari menyerahkan amplop tersebut.
"Kamu tolong buka ya dan ambil isinya," pinta Gerald.
Naya mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan permintaan sang suami. "Aku yang buka?"
"Iya, bisa kan? Aku lagi main sama Kania, jadi kamu aja yang buka," ucap Gerald.
Meskipun sedikit menaruh curiga, Naya segera saja membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Ia sangat terkejut melihat isi di dalam amplop tersebut, ia menemukan tiga tiket ke New York dan juga pasport untuk 3 orang pula. Naya semakin terkejut saat mendapati pemilik pasport tersebut adalah dirinya sendiri, Gerald dan juga Kania.
"Sayang, ini maksud kamu apa?" Tanya Naya yang tidak mempercayainya.
"Maksud aku, itu adalah tiket dan pasport untuk kita jalan-jalan ke New York. Kita bertiga liburan ke New York 2 hari lagi," jawab Gerald.
"Sayang kamu beneran? Kita akan jalan-jalan ke New York bertiga?" Tanya Naya yang tampak terharu dan juga bahagia.
"Iya dong Sayang, aku mau kita jalan-jalan ke New York. Kamu senang nggak?" Tanya Gerald.
"Tentu saja aku senang banget Sayang. Terimakasih ya Sayang," ucap Kania lalu merangkul mesra tangan suaminya itu.
Sedangkan Kania yang berada di gendongan sang ayah tampak tersenyum dan tertawa melihat kebahagiaan orang tuanya itu seakan ikut merasakan kebahagiaan itu.
"Sayang, terimakasih ya karena kamu sudah kasih aku kejutan seperti ini. Aku benar-benar senang sayang," ucap Naya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu senang. Aku memang sudah ada rencana mau mengajak kamu dan anak kita jalan-jalan ke New York. Karena sekarang ini masalah kita sudah selesai, semua baik-baik saja, jadi aku rasa sudah waktunya. 2 hari lagi kita akan pergi, kamu juga kan 2 hari lagi sudah libur kuliah," ucap Gerald yang memang sudah memperhitungkan waktu yang tepat untuk mereka pergi jalan-jalan ke New York.
...Bersambung …...