
Saat ini Naya dan gerald sama-sama sedang bersiap-siap, mereka akan pergi makan malam bersama keluarga sesuai kesepakatan tadi. Gerald mengenakan setelan jas berwarna biru dongker senada dengan sang istri yang mengenakan dress biru dongker selutut dengan sedikit bagian bahu terbuka yang menampakkan kulit mulusnya itu dan juga menampakan perut seksinya yang sedikit membuncit.
"Apa kau tidak memiliki pakaian lain?" Tanya Gerald.
"Memang kenapa? Bukankah Mama meminta kita untuk tampil mempesona malam ini, karena ini merupakan dinner pertama setelah sekian lama kita tidak bertemu Mereka. Kau tau itu artinya apa, spesial gerald," hardik Naya.
"Iya tapi bajumu itu terlalu terbuka Naya, apa kau tidak takut masuk angin? Kau juga sedang hamil. Itu lagi bagian perutmu terlalu ketat, apa kau tidak kasihan dengan anakmu di dalam sana, ia bisa kesulitan bernafas," kata Gerald.
Naya mengerutkan dahinya, bukankah pria di depannya ini sama sekali tidak peduli dengan kehamilannya? Tetapi kini seolah ia peduli dengan memberikan perhatian itu kepadanya.
"Kau sedang memberikan perhatian?" Tanya Naya to the point.
"Ck, kau tidak usah terlalu kegeeran Naya. Aku hanya tidak mau kalau nanti kedua orang tuaku menganggap aku tidak peduli denganmu sebagai istriku. Atau kau memang sengaja ingin aku dimarahi oleh mereka," kata Gerald yang kini malah menuduh Naya.
"Gerald, kau itu selalu saja membantah. Jika kau memang peduli kepadaku katakan saja Gerald, kenapa kau harus berpura-pura seperti itu," cibir Naya.
"Sudahlah Naya, aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat denganmu, pasti Mama dan Papa sudah menunggu kita di bawah. Lebih baik sekarang kau ganti saja pakaian yang sedikit tertutup," kata Gerald.
Karena Naya juga tak ingin lagi berdebat dengan suaminya itu, akhirnya ia pun mengikuti perintahnya dengan mengganti gaun yang panjang sampai ke mata kaki dan bagian bahu juga tertutup.
"Apa begini sudah bisa dikatakan sopan?" Tanya Naya meminta pendapat Gerald.
"Ya lumayan, setidaknya tidak kekurangan bahan seperti tadi," jawab Gerald yang tak mengakui jika sebenarnya Naya begitu sangat cantik menggunakan pakaian apapun, meskipun saat ini ia sedang hamil. Malam auranya itu semakin terlihat mempesona.
Setelah memoles wajah dengan riasan tipis, kini Naya dan Gerald pun turun ke lantai bawah, benar saja bahwa ternyata David dan Dania telah menunggu mereka berdua.
__ADS_1
"Wah … menantu Mama cantik sekali," puji Dania.
"Iya, sangat cocok sekali dengan anak kita yang tampan ya Ma," puji David pula.
"Iya dong Pa, Ma, anak siapa dulu? Kan anak kalian berdua, tentunya aku tampan dong," Kata Gerald, bukan hendak menyombongkan diri tetapi memang itulah kenyataannya.
Berbeda dengan Naya, ia malah merasa malu mendapat ujian itu dari sang mertua. "Terima kasih Ma, Pa," ucapnya dan hanya ditanggapi anggukan serta senyuman oleh David dan Dania.
"Ya sudah. kalau begitu sekarang kita berangkat saja," ajak David.
"Iya Pa, biar aku saja yang bawa mobilnya," ucap Gerald.
"Eh tidak usah Gerald, biar Mama dan papa bawa mobil sendiri, kalian berdua juga bawa mobil sendiri," kata Dania.
"Tidak kenapa-napa Sayang, Mama hanya ingin mampir dulu ke sebuah toko. Kalian berdua langsung saja ya ke restoran AB, restoran langganan kita itu, Mama sudah memesan tempatnya," ucap Dania.
"Oh gitu, iya Ma," jawab Naya.
"Ya sudah Ma, Pa, kalau begitu sampai bertemu di sana ya, lebih baik sekarang kita langsung jalan saja," kata Gerald.
"Oke Sayang, sampai ketemu ya," balas Dania.
Kini mereka berempat pun menuju ke parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil masing-masing, lalu melajukan mobil menuju ke lokasi yang telah mereka sepakati.
***
__ADS_1
Sudah hampir satu jam menunggu, akan tetapi Dania dan David belum juga muncul di hadapan Naya dan Gerald. Mereka berdua saat ini sedang heran, kenapa tema makan malam ini adalah romantic dinner, terlihat begitu sangat romantis dan hanya ada dua kursi saja saat ini. Alasan pelayan tersebut karena baru mereka berdua saja yang ada, nanti di saat orang tua mereka sudah datang, barulah akan ditambah kursi lagi. Tetapi mereka berdua pun tidak terlalu ambil pusing karena keduanya hanya menuruti saja apa yang telah disiapkan oleh kedua orang tuanya itu.
Beberapa kali Gerald mencoba menghubungi orang tuanya dan akhirnya pun dijawab setelah kesekian kalinya.
"Halo Ma, Mama dan Papa dimana? Kenapa kalian belum sampai juga. Kenapa dari tadi aku telepon tidak dijawab dan baru ini dijawabnya?" Gerald langsung saja melontarkan pertanyaan, karena sedari tadi ia dan Naya memang sangat mengkhawatirkan kedua orang tuanya itu.
"Sayang Mama minta maaf ya sama kalian berdua. Mendadak teman Mama ajak bertemu karena ada hal yang sangat penting ingin dibicarakan. Jadi Mama dan Papa langsung saja menghampiri teman Mama itu. Mama minta maaf ya, dinner kita jadi ditunda dulu tidak apa-apa kan?" Ucap Dania.
"Oh gitu, tapi kenapa tidak kasih tahu dari tadi sih Ma. Kita berdua kan sudah menunggu kalian selama hampir satu jam," gerutu Gerald.
"Iya Mama minta maaf, Mama belum sempat karena buru-buru tadi. Ini baru sampai, makanya Mama bisa menjawab telepon kamu," ucap Dania.
"Ya udah tidak apa-apa Ma, Gerald hanya khawatir Mama dan Papa kenapa-napa, tapi syukurlah ternyata kalian baik-baik saja Ma," ucap Gerald.
"Maaf ya Sayang sudah membuat kalian berdua khawatir, tapi beneran Mama dan Papa tidak kenapa-napa," ucap Dania.
"No Problem Ma. Ya sudah Mama dan Papa lanjutkan saja dulu. Aku dan Naya mau pulang dulu ya," kata gerald.
"Jangan dong, kok malah mau pulang sih. Apa kalian tahu kalau Mama sudah membayar mahal romantic Dinner itu. Jadi, meskipun tidak ada Mama dan Papa, kalian berdua harus tetap dinner ya. Romantic dinner untuk kalian berdua. Rugi dong kalau kalian pulang begitu saja, kata Dania.
Naya yang mendengar perkataan tersebut karena Gerald memang sengaja men-loudspeaker teleponnya itu pun merasa canggung saat Ibu mertuanya meminta mereka untuk makan malam romantis berdua. Karena semenjak menikah dengan Gerald, baru kali ini ia benar-benar akan makan malam berdua dengan suaminya dengan suasana seromantis ini. Seandainya ini adalah keinginan Gerald sendiri, sudah pasti Naya akan menjadi istri yang paling bahagia di dunia.
Gerald dan Naya pun akhirnya menyetujui apa yang menjadi permintaan orang tuanya itu. Toh hanya makan malam, di saat perut sudah kenyang, mereka berdua juga akan segera pulang, itu yang ada di dalam pikiran Gerald saat ini.
...Bersambung... ...
__ADS_1