Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Di saat Putri sedang terdiam untuk menahan rasa sedih di dalam hatinya itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering sehingga Putri langsung merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia melihat panggilan masuk dari ibunya yang tertera pada layar ponsel


"Ehm Kak Gerald, Naya, aku permisi sebentar ya mau jawab telepon dari Mama," ucap Putri.


"Oh iya Put, silahkan," jawab Naya, sedangkan Gerald hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja.


Putri pun segera saja pergi meninggalkan mereka untuk menjawab telepon tersebut.


"Halo Ma," ucap Putri.


"Halo Sayang, kamu lagi ada dimana?" Tanya Vera dari seberang telepon.


"Aku masih berada di rumah sakit menjenguk Tante Dania sekalian antar sarapan untuk Naya dan Kak Eral. Ada apa Ma?" Tanya Putri pula.


"Oh … seperti itu. Tapi kamu jangan lama-lama ya pulangnya, karena nanti malam kita ada janji untuk bertemu dengan keluarga rekan bisnis Papa kamu itu," ucap Vera.


"Pasti ini soal perjodohan yang Mama dan Papa bilang waktu itu. Apa aku terima aja ya perjodohan ini? Mungkin ini adalah langkah yang baik supaya aku bisa melupakan Kak Eral. Lagipula Kak Eral dan Naya sudah berbahagia, tidak pantas kalau aku merasa sedih seperti ini terus," batin Putri.


"Halo Sayang, kamu dengar tidak sih Mama bicara apa?" Tanya Vera.


"Iya Ma aku dengar kok, kita mau bertemu dengan keluarga rekan bisnis Papa kan. Pasti ini karena Mama dan Papa jadi menjodohkan aku dengan pria itu, pria yang sama sekali belum pernah aku kenal, melihat wajahnya saja aku tidak pernah," kata Putri.


"Sayang, kamu kok berbicara seperti itu. Justru itu karena kamu belum kenal dengan anaknya Om Toni, karena kamu belum melihat wajahnya, malam ini diadakan acara pertemuan keluarga. Jadi kamu dan anak rekan bisnis Papa akan berkenalan dan juga saling tahu," ucap Vera.


"Ya sudah Ma kalau seperti itu, aku juga nggak boleh nolak kan? Aku nggak akan pulang telat kok. Lagipula acaranya nanti malam dan ini masih pagi," ucap Putri.


"Iya, Mama hanya mengingatkan saja. Kalau begitu salam ya untuk Naya dan Gerald, Mama hanya bisa berdoa semoga Tante Dania cepat sembuh," ucap Vera.


"Aamiin. Iya Ma, ya sudah aku tutup ya Ma teleponnya," ucap Putri.


"Iya Sayang, bye … ," ucap Vera.

__ADS_1


"Bye Ma," ucap Putri pula dan mengakhiri telepon tersebut.


***


"Mi, Pi, kita mau kemana sih? Aku sama sekali nggak menyangka kalau Mami dan Papi bela-belain pulang dari luar negeri hanya karena untuk ini, mengadakan pertemuan keluarga dengan keluarga rekan bisnis Papi. Ini maksudnya apa sih?" Tanya George.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Selain untuk pertemuan ini, memang tugas Papi di luar negeri sudah selesai, maka dari itu Papi dan Mami pulang ke Indonesia. Memangnya kamu tidak suka ya jika orang tua kamu ada di sini?" Tanya Toni yang merupakan ayah George.


"Iya Sayang, Mami juga sudah sangat merindukan kamu, untuk itu kita pulang ke sini. Tetapi kamu malah tetap tinggal di apartemen. Kenapa sih kamu tidak tinggal di rumah kita ini saja? Rumah kita ini kan kosong?" Tanya Lisa, ibunya George.


"Ya untuk apa juga aku ada di rumah sebesar ini, tapi Mami dan Papi tidak ada, aku sendirian. Amel juga masih berada di luar negeri, kenapa Amel tidak ikut kalian pulang?" Tanya George.


"Adik kamu itu masih betah di sana. Bahkan selesai kuliah katanya Adik kamu mau mencari pekerjaan di sana atau melanjutkan perusahaan Papi yang ada di sana. Ya Mami bisa apa kalau sudah seperti itu mau Adik kamu," kata Lisa.


"Itulah Mami dan Papi, kalau Amel saja semuanya dituruti. Sedangkan aku selalu diatur-atur, bahkan sekarang aku tahu maksud kalian mempertemukan dua keluarga ini Pasti kalian mau menjodohkan aku kan seperti yang pernah Mami ucapkan kemarin," ucap George.


"George sudah-sudah. Kamu itu jangan membantah, tidak perlu mengucap kata-kata seperti itu terhadap orang tua kamu. Semua ini tujuannya juga baik. Selama ini kamu tidak pernah berpacaran semenjak kamu putus dengan Alena, pacar kamu yang berada di luar negeri itu. Kamu sama sekali tidak mau membuka hati kamu lagi dan menurut Papi mendengar cerita dari teman Papi bahwa anak perempuannya itu mempunyai kisah cinta yang sama dengan kamu, tidak pernah mau membuka pintu hati untuk pria lain, padahal jelas-jelas cintanya telah kandas. Berarti kalian berdua cocok kan, kalian berdua itu pantas untuk diperkenalkan terlebih dulu, kalau memang nantinya kalian tidak cocok, kita tidak akan memaksa. Yang penting kalian coba dulu. Lagipula ini juga demi bisnis keluarga kita dengan keluarga Om Firman itu," ucap Toni.


"Heh, ujung-ujungnya karena bisnis. Terserah Mami dan Papi sajalah. Kalian saja yang tidak tahu kalau aku ini sudah membuka hati untuk wanita lain, aku sudah mempunyai wanita yang aku taksir, yang aku suka, bahkan aku cintai. Tetapi saat ini aku masih melakukan pendekatan," ucap George.


George memutar bola mata malas, rasanya sangat membuang-buang waktu dan energi karena tidak akan ada habisnya jika berdebat dengan kedua orang tuanya itu. Sehingga ia pun memilih untuk mengalah dan mengikuti saja dulu apa yang menjadi kehendak kedua orang tuanya saat ini.


"Iya, iya. Nanti malam aku akan ikut," ucap George.


"Nah seperti itu kan bagus, seharusnya dari tadi jadi kita tidak perlu berdebat dulu," ucap Toni.


***


Hingga malam pun telah tiba, waktu telah menunjukkan pukul 19.00. Saat ini keluarga Firman sedang berada di dalam perjalanan menuju ke sebuah restoran mewah yang sudah ia sepakati bersama dengan keluarga rekan bisnisnya.


Ternyata setelah tiba di restoran tersebut, keluarga rekan bisnisnya itu yaitu keluarga Toni sudah terlebih dahulu berada di sana menunggu kehadiran mereka, di sebuah ruangan VIP yang telah dipesan khusus hanya untuk dua keluarga itu saja.

__ADS_1


"Tuan Toni, saya minta maaf karena sedikit terlambat. Perkenalkan ini istri saya Vera dan ini anak saya Putri," ucap Firman dan memperkenalkan anak beserta istrinya itu.


"Oh iya, tidak apa-apa tuan Toni. Kami juga belum terlalu lama tiba di sini, kira-kira 10 menit yang lalu. Perkenalkan juga ini istri saya Lisa," ucap Toni memperkenalkan sang istri, lalu mereka pun saling berjabat tangan dan berkenalan.


"Silahkan duduk Tuan Firman, Nyonya Vera, Nak Putri," ucap Toni.


Lalu keluarga Firman pun segera saja duduk di kursi yang telah disediakan.


"Oh iya dimana anak Tuan Toni?" Tanya Firman karena memang tidak melihat anak dari rekan bisnisnya itu.


"Oh iya saya sampai lupa. Anak saya tadi ke toilet, sebentar lagi pasti akan kembali," jawab Toni.


"Iya, maklum saja anak muda. Mungkin nervous mau bertemu dengan calon istri," ucap Lisa.


Uhuk … uhuk …


Mendadak Putri menjadi tersedak karena mendengar ucapan Lisa.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" Tanya Vera.


"Iya Putri. Kamu baik-baik saja kan? Maaf ucapan Tante tadi membuat kamu terkejut ya," ucap Lisa.


"Nggak apa-apa kok Tante. Ma, aku nggak apa-apa," jawab Putri.


"Syukurlah. Putri kamu cantik sekali ya mirip seperti Mama kamu. Tante yakin jika anak Tante melihat kamu nanti, pasti dia langsung naksir, langsung jatuh cinta dengan kamu," puji Lisa.


"Terimakasih Tante," ucap Putri tersenyum.


"Terimakasih Jeng Lisa atas pujiannya," ucap Vera pula.


"Iya sama-sama Putri, Jeng Vera. Nah itu dia anak saya," ucap Lisa sembari menunjuk ke arah seorang pria muda yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


Kini mata mereka semua pun tertuju pada sosok pria tersebut termasuk juga Putri. Putri dan pria itu saling memandang dan begitu sangat terkejut karena ternyata mereka berdua sudah saling mengenal sebelumnya.


...Bersambung …...


__ADS_2