Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Pergi Membawa Luka


__ADS_3

"Gerald, aku merindukanmu."


Ucapan dari seorang wanita yang memeluk Gerald dari belakang itu masih sangat jelas terngiang-ngiang di telinga Naya. Hingga ia pun memutuskan untuk pulang dan menitipkan makan siang yang telah dibawanya kepada resepsionis. Sepanjang perjalanan pulang, air matanya terus mengalir tanpa henti, hatinya begitu sangat perih dan terluka, ia tidak menyangka jika Gerald yang sudah ia berikan kesempatan dan kepercayaan telah menyia-nyiakan begitu saja. Di depan mata kepalanya sendiri, ia melihat pengkhianatan yang lagi-lagi terjadi.


"Aku ini benar-benar bodoh. Aku sudah percaya padanya, tetapi nyatanya dia malah menghancurkan hatiku lagi seperti ini. Kamu itu betul-betul bodoh Naya, seharusnya sudah lama kamu pergi meninggalkan pria brengsek itu, bukanya malah bertahan seperti ini," gumam Naya dalam hati, hanya isak tangisnya yang terdengar.


Pak Rahman yang merupakan supir keluarga Gerald, heran melihat Nyonya mudanya menangis tersedu-sedu. Hingga ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Nyonya ada apa? Kenapa Nyonya menangis?" Bukan bermaksud ikut campur tetapi ia hanya merasa khawatir.


"Saya tidak kenapa-napa Pak. Tiba-tiba saja saya teringat sesuatu yang sedih di masa lalu," jawab Naya beralasan sekaligus mencoba untuk menenangkan dirinya serta menghapus air matanya itu.


"Ya sudah kalau memang seperti itu, tapi kalau menurut saya sebaiknya Nyonya tidak perlu mengingat-ingat lagi tentang masa lalu yang kelam. Bukankah sekarang Nyonya Naya sudah bahagia hidup bersama Tuan Gerald, Nyonya Dania, Tuan David dan juga Nona Kania," ucap pak Rahman yang membuat Naya tersenyum.


"Iya Pak terimakasih ya. Tapi Bapak tolong ya jangan kasih tahu ke Mama, Papa ataupun Gerald. Saya hanya tidak mau nanti mereka merasa khawatir," kata Naya.


"Iya Nyonya, saya janji tidak akan berbicara kepada siapapun," ucap pak Rahman.


***


Setelah tiba di rumah, dengan sekuat tenaga Naya mencoba untuk menyembunyikan rasa kesedihannya itu, lalu ia melangkahkan kaki menuju ke kamar Kania. Dania dan David memang sudah membuat kamar untuk Kania, maka jika dalam keadaan seperti ini baby sister-nya bisa menjaganya di kamar Kania sendiri.


"Nyonya Naya sudah pulang?" Tanya Saras baby sister Kania saat melihat Naya masuk ke kamar Kania.


"Iya Mbak, saya hanya sebentar saja antar makan siang. Soalnya Gerald juga mau meeting, jadi saya buru-buru pulang," jawab Naya beralasan dengan kesedihan yang tak dapat ia sembunyikan.


"Kasian sekali Nyonya Naya, kelihatannya sangat sedih karena tidak bisa menemani Tuan Gerald makan siang," batin Saras.


"Mbak, Mama mana ya? Kok saya tidak melihatnya?" Tanya Naya.

__ADS_1


"Oh itu Nyonya, Nyonya besar baru saja keluar. Mendadak ada perlu, katanya mau ke rumah temannya," jawab Saras.


"Oh ya, jadi Mama pergi dengan siapa? Kan tadi Pak Rahman antar saya ke perusahaan," Tanya Naya.


"Nyonya besar naik taksi online Nyonya," jawab Saras.


"Oh ya sudah kalau begitu. Mbak sudah makan siang?" Tanya Naya.


"Sudah Nyonya, sebaiknya Nyonya istirahat saja biar saya yang menjaga Nona Kania," kata Saras.


"Tidak Mbak, lebih baik Mbak saja yang istirahat. Saya mau bawa Kania ke kamar," tolak Naya.


"Benar tidak apa-apa Nyonya?" Tanya Saras.


"Iya dong, lagipula Mbak juga belum istirahat kan. Mbak itu bekerja dan butuh istirahat. Sekarang Mbak istirahat dan saya juga mau ke kamar," kata Naya.


Ini kesempatan buat aku. Kebetulan semua orang sedang tidak ada di rumah, lebih baik aku pergi sekarang membawa Kania," gumam Naya lalu membawa anaknya ke dalam kamar.


Naya mengemasi barang seadanya dan baju-baju miliknya serta Kania.


"Maafkan Mama ya Sayang, kita harus pergi dari sini. Mama sudah nggak sanggup lagi menghadapi kelakuan Papa kamu, sebaiknya kita pergi dari sini membawa luka itu. Tapi Mama janji akan memberikan kamu kehidupan yang baik," ucap Naya dengan tatapan sendu menatap sang buah hati.


Setelah membereskan keperluan mereka berdua yang seperlunya saja, Naya pun diam-diam membawa Kania tanpa sepengetahuan orang rumah yang saat ini kebetulan memang sedang beristirahat dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sedangkan pak Rahman juga sudah ditelepon oleh Dania untuk menjemputnya. Naya segera saja mengambil langkah seribu untuk keluar dari rumah.


Akan tetapi di saat Naya baru saja hendak melangkahkan kaki menuju ke pagar rumah, langkahnya terhenti karena melihat satpam yang sedang berjaga saat ini. Sudah pasti satpam akan bertanya kemana ia hendak pergi jika melihatnya membawa tas yang lumayan besar.


Naya pun kini bersembunyi, ia memutar otaknya untuk mengelabui sang satpam. Segera saja ia mengambil batu yang berada di dekatnya dan melemparkan ke arah yang agak jauh dengan pintu keluar. Benar saja satpam yang mendengar suara itu langsung keluar dari pos penjagaan dan menuju ke arah yang Naya lempar tadi. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Naya pun segera saja keluar dari pagar rumah Gerald dan kebetulan saat itu ada taksi yang lewat sehingga Naya langsung saja memberhentikannya dan masuk ke dalam taksi. Satpam melihat taksi tersebut, tetapi ia tidak tahu siapa yang baru saja pergi.


"Ada-ada saja. Perasaan tidak ada apa-apa di sana, siapa yang sudah berani iseng," gerutu satpam.

__ADS_1


*****


Tok … tok … tok …


Boy mengetuk pintu ruangan CEO dan langsung saja masuk ke dalam dengan membawa tentengan.


"Tuan apa Anda sudah makan siang?" Tanya Boy.


"Belum, ada apa?" Tanya Gerald pula.


"Oh, ini ada titipan dari Nyonya Naya di resepsionis tadi. Aku rasa ini adalah makan siang," kata boy sembari meletakkan tote bag yang dibawanya ke atas meja.


Gerald mengernyitkan dahinya, apa benar itu Naya? Tapi kenapa dia hanya menitipkannya kepada resepsionis, kenapa tidak langsung saja ke ruangannya? Membuat Gerald bertanya-tanya di dalam hati.


"Apa kau yakin ini dari istriku?" Tanya Gerald untuk memastikannya.


"Iya Tuan, resepsionis sendiri yang memberitahuku bahwa ini dari Nyonya Naya," jawab Boy.


"Lalu kemana dia? Kenapa tidak dia sendiri yang mengantarkan langsung ke ruanganku?" Tanya Gerald.


"Aku juga tidak tahu Tuan. Aku baru saja kembali setelah bertemu dengan pak Hardi. Tuan sendiri yang memintaku untuk bertemu dengannya, jadi aku tidak mengetahui kondisi di perusahaan. Apa tadi Tuan berada di perusahaan atau Anda sedang tidak berada di ruangan?" Tanya Boy pula.


Gerald tampak berpikir, tiba-tiba ia teringat saat tadi didatangi oleh sang mantan yang ingin mengajaknya berbaikan. Pikiran Gerald langsung melayang pada perbuatan tidak senonoh yang Bella lakukan padanya. Karena takut Naya salah paham atau berpikiran yang tidak-tidak, Gerald segera meraih kunci mobilnya dan keluar dari ruangan CEO.


"Tuan, Anda mau kemana? Apa boleh jika makanan ini untukku? Kebetulan aku belum makan siang," Teriak Boy sembari mengambil tote bag di atas meja dan membawanya keluar dari ruang CEO.


Gerald memutar tubuhnya dan kembali menghampiri Boy, ia pun merampas tote bag dari tangan Boy lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan perusahaan.


...Bersambung …...

__ADS_1


__ADS_2