Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Hidup Tanpa Mama


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tidak terasa kepergian Dania sudah 2 bulan lamanya. Gerald, Naya dan juga David tampak masih berusaha untuk membiasakan diri mereka hidup tanpa sosok wanita yang biasa selalu menjadi penenang disaat sedang ada masalah, yang selalu bisa membuat keadaan di rumah selalu menjadi hangat. Akan tetapi bukan berarti mereka akan melupakan Dania, tentu saja tidak. Dania akan selalu hidup di dalam hati orang-orang yang mencintainya sampai kapanpun. Tentu saja rasanya ada yang berbeda, rasanya begitu hampa. Terutama untuk Kania, Kania lagi-lagi merasakan kehilangan orang yang ia sayang di dalam hidupnya, setelah dulu kehilangan kedua orang tuanya itu.


Gerald menghampiri sang istri yang saat itu sedang menatap sedih foto keluarga yang terpajang di kamar mereka.


"Sayang, Mama sudah bahagia di sana, Mama sudah tenang. Jadi jangan terus merasa sedih ya. Kita semua di sini kehilangan Mama, tapi aku yakin kok kalau Mama nggak mau melihat kita sedih terus-menerus, pasti Mama akan ikut sedih. Lagipula bukankah semua orang nantinya akan pergi, hanya waktunya saja yang berbeda," ucap Gerald yang merangkul tubuh sang istri.


"Iya Sayang aku tahu, tapi rasanya begitu cepat. Baru saja aku kembali merasakan kasih sayang seorang ibu, kini aku harus merasa kehilangan lagi. Nggak terasa ya sudah 2 bulan kita hidup tanpa Mama, rasanya sangat berbeda, sepi. Bahkan sewaktu Mama di luar negeri, aku masih bisa berhubungan dengan Mama lewat telepon dan saat ini aku hanya bisa berhubungan dengan Mama lewat doa. Sebelum tidur aku selalu berdoa dan berharap jika aku akan bermimpi bertemu dengan Mama dalam tidurku, meskipun belum pernah sekalipun Mama hadir di dalam mimpiku. Aku merindukan Mama Sayang," ucap Naya dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Iya Sayang aku mengerti kok perasaan kamu. Aku dan Papa juga merasakan hal yang sama, kita sangat ingin bertemu dengan Mama walaupun itu hanya lewat mimpi," ucap Gerald.


"Iya Sayang, yang terpenting sekarang Mama sudah tidak sakit lagi. Mama tidak merasakan penderitaannya yang selama ini selalu Mama tahan. Mama selalu berusaha untuk tetap kuat, ceria di depan kita. Tetapi aku tahu jika Mama sering menahan rasa sakitnya itu. Aku pernah tidak sengaja melihat Mama yang waktu itu sedang menahan sakit," ucap Naya.


"Oh ya? Memang kapan Sayang?" Tanya Gerald.


Flashback On …


Saat itu, Bibi memberitahu Naya bahwa makan malam telah siap. Naya pun segera saja menuju ke kamar sang mertua untuk memberitahu kepada Dania sekaligus mengajaknya makan malam. Kebetulan saat itu Gerald dan David belum pulang karena masih banyak pekerjaan di kantor.


Akan tetapi setibanya di kamar, dari pintu yang sedikit terbuka Naya melihat Dania yang sedang kesakitan dan sebisa mungkin untuk menahannya. Naya yang merasa panik pun langsung saja menghampiri ibu mertuanya itu.


"Ma, Mama kenapa?" Tanya Naya yang terlihat sangar khawatir.


"Naya, Mama tidak kenapa-napa kok. Tadi Mama hanya merasa sedikit pusing, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Ada apa Sayang?" Tanya Dania.

__ADS_1


"Maaf ya Ma aku lancang langsung masuk saja ke kamar Mama. Aku benar-benar khawatir lihat Mama seperti kesakitan. Tapi benar Mama nggak kenapa-napa kan sekarang?" Tanya Naya lagi.


"Tidak Sayang, Mama tidak kenapa-napa, Mama baik-baik saja. Tapi Mama minta tolong jangan beritahu Gerald atau Papa soal tadi, Mama hanya tidak mau mereka khawatir. Kamu tahu sendiri kan Papa dan Gerald sedang ada masalah dan sibuk di kantor, Mama tidak mau menambah beban mereka," pinta Dania.


"Iya Ma, aku janji. Aku juga mengerti kok. Tapi Mama juga harus janji ya kalau Mama merasa sakit lagi atau merasa tubuh Mama kurang nyaman, Mama beritahu aku ya," pinta Kania.


"Iya Sayang, kamu ada apa cari Mama?" Tanya Dania.


"Tapi Mama benar tidak kenapa-napa kan? Kalau mama merasa sakit jangan disembunyikan ya Ma. Aku mau ajak Mama makan malam, Papa dan Gerald kan belum pulang, jadi lebih baik kita makan malam berdua dulu ya Ma. Setelah makan malam kan Mama harus minum obat. Kata Bibi makanannya sudah siap," kata Naya.


Dania menganggukkan kepalanya. "Oh ya sudah, kalau begitu kita makan sekarang ya."


Di saat itu Naya dapat melihat jika ibu mertuanya itu seperti sedang menahan rasa sakit, bahkan saat makan pun Dania seperti memaksa untuk menelan makanannya. Tetapi Dania tidak mau memberitahunya karena tidak ingin melihat Naya merasa khawatir.


"Terus kenapa kamu nggak ada cerita ke aku waktu itu, Sayang?" Tanya Gerald saat Naya menceritakan masalah itu.


"Seperti yang aku katakan tadi karena keinginan Mama. Aku mengerti kalau Mama memang tidak ingin membuat keluarganya khawatir. Dan seminggu setelah itu Mama ngedrop, Mama pingsan sampai kita harus kehilangan Mama. Seharusnya waktu itu aku langsung memberitahu kamu dan Papa, supaya kita bisa membawa Mama ke rumah sakit untuk memeriksa penyakitnya. Tapi Bodohnya aku, aku malah hanya diam saja, aku malah mengiyakan saat Mama mengatakan dirinya baik-baik saja. Maafkan aku Sayang, ini semua salah aku," ucap Naya yang kini pun menangis tersedu-sedu di dalam dekapan suaminya.


"Sayang, jangan salahkan diri kamu. Ini sudah takdirnya, memang sudah saatnya Mama pergi meninggalkan kita. Ini semua bukan kesalahan kamu, justru selama ini kamu telah menjaga Mama, kamu yang sudah membuat kondisi Mama jauh lebih baik sehingga Mama bisa menikmati indahnya hidup di hari-hari terakhirnya. Mama merasa sangat bahagia bisa hidup bersama kamu yang telah memberikan cucu yang begitu cantik seperti Kania. Itu semua berkat kamu, Sayang," ucap Gerald menenangkan hati sang istri.


****


Meskipun rasanya sangat berat hidup tanpa seorang ibu, tetapi Naya dan Gerald terus berusaha untuk ikhlas hingga mereka pun dapat melewati hari-hari dengan menjaga Kania anak mereka dan juga David sang ayah. David sendiri sudah terlihat ikhlas untuk menerima kepergian istrinya itu, walaupun tak jarang Gerald dan Naya sering melihat David termenung sendirian seperti sedang memikirkan sesuatu, seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Pa, makan dulu yuk," ajak Kania yang menghampiri ayah mertuanya saat berada di taman belakang.


"Kalian duluan saja, Papa belum lapar," ucap David.


"Pa, jangan seperti itu dong. Papa makan ya, ini kan sudah waktunya makan malam. Kalau Papa nggak makan, nanti Papa sakit loh. Kalau Papa sakit siapa yang mau doain Mama," ucap Naya.


David tersenyum, ia merasa sangat beruntung memiliki menantu seperti Naya. Lalu ia dan Naya pun segera saja menuju ke ruang makan untuk menikmati makan malam bersama.


"Oh ya Gerald, Naya, bukankah waktu itu kalian berencana untuk jalan-jalan ke New York tapi tidak jadi karena Mama masuk rumah sakit," ucap David.


"Iya Pa, memangnya kenapa Pa?" Tanya Gerald.


"Lebih baik kalian lanjutkan saja rencana itu. Mama juga kan sudah 2 bulan pergi meninggalkan kita. Kita sudah mulai terbiasa hidup tanpa Mama, jadi menurut Papa sudah saatnya kalian melanjutkan rencana liburan itu," kata David.


Naya dan Gerald saling bertatapan dan tersenyum menatap ke arah David.


"Sepertinya nggak usah dulu deh Pa, lebih baik kita di rumah saja dulu menemani Papa," kata Naya.


"Iya Pa, lagipula Gerald juga masih banyak pekerjaan. Jadi masalah liburan itu gampang kok, kalau nanti ada waktu kita pasti akan pergi," sambung Gerald.


"Kalian tidak perlu memikirkan Papa. Papa di sini tidak sendirian, ada pembantu, ada supir, Papa tidak akan merasa sendiri. Papa juga sudah terbiasa pergi bisnis ke luar kota sendirian, apa-apa sendiri. Jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan Papa. Masalah pekerjaan, untuk sementara biar Papa yang tangani bersama Boy. Kan sudah terbiasa seperti itu. Jadi Kalian pergi saja ya ke New York," ucap David.


Gerald dan Naya menggelengkan kepala pertanda tidak menyetujuinya. Mereka tetap saja kekeh pada keputusan mereka. Mungkin saja suatu saat nanti mereka akan pergi, tetapi tidak untuk sekarang ini. Karena baru saja 2 bulan mereka kehilangan orang yang sangat mereka cintai, sehingga suasana masih dalam keadaan berduka. Naya dan Gerald tidak akan mungkin juga bisa menikmati liburan dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


...Bersambung …...


__ADS_2