
"Putri kamu nggak kenapa-napa kan?" Tanya Naya yang langsung saja menghampiri sahabat dan suaminya itu. Bukan karena cemburu, tetapi Naya benar-benar khawatir karena melihat putri yang tadi hampir saja terjatuh.
Putri langsung saja melepaskan tubuhnya dari pelukan Gerald serta menjadi canggung.
"Enggak, aku nggak kenapa-napa kok," jawab Putri yang tampak gugup.
"Maaf aku tadi hanya bermaksud untuk menolong kamu saja," ucap Gerald.
"Iya nggak apa-apa Kak. Justru aku mau bilang terimakasih, kalau Kakak tadi tidak menolong aku, pasti aku sudah terjatuh," ucap Putri.
"Iya sama-sama," jawab Gerald.
"Ya sudah, karena Putri tidak kenapa-napa, sebaiknya sekarang kita duduk ,filmnya sudah mau mulai," ucap George dan membantu Putri untuk segera duduk di kursinya.
Akhirnya film pun dimulai, Naya dan Putri duduk di tengah-tengah antara dua pria tampan itu yang terlihat asik dan fokus menatap layar, begitu juga dengan Naya sembari menikmati popcorn dan juga minuman soda. Tetapi tidak dengan Putri, ia tampak tidak fokus menonton film, malah sesekali mencuri kesempatan untuk melirik wajah Gerald, pria yang masih sangat dicintainya itu. Putri merasa jika masih ada cinta yang belum usai di antara dirinya dan Gerald. Ya mungkin Gerald sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun kepadanya sedari dulu, akan tetapi bagaimana dengan perasaannya yang sudah begitu lama mencintainya? Apakah ia harus melupakannya begitu saja atau ia harus mengatakan kepada Gerald agar perasaannya lebih tenang? Pikiran itu telah membuat Putri tanpa sadar menjatuhkan air matanya, untungnya kondisi bioskop gelap sehingga tidak ada yang dapat melihatnya menangis.
Dua jam pun telah berlalu, film yang mereka tonton telah berakhir dan lampu bioskop telah kembali dinyalakan. Naya dapat melihat mata Putri yang sembab dan juga hidungnya yang memerah terlihat seperti sehabis menangis.
"Putri, kamu kenapa? Kenapa mata kamu sembab seperti habis menangis?" Tanya Naya.
Putri terlihat Canggung dan gugup, ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Naya tentang penyebab ia menangis.
"Memangnya film tadi sedih banget ya sampai menyentuh ke hati kamu dan membuat kamu bisa menangis seperti itu?" Tanya Naya lagi.
Putri tampak bernafas lega, untungnya saat itu Naya segera memberi jawabannya hingga Putri pun tidak perlu bingung untuk mencari alasannya.
"Iya Nay, tadi kan ada tuh adegan dimana saat si wanita pergi karena melihat pria yang dicintai sudah mempunyai keluarga. Itu tadi yang benar-benar sudah menyentuh hati aku Nay, hingga aku bisa menangis terbawa suasana," ucap putri.
Naya tertegun, mengerti apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya. Memang film yang barusan mereka tonton adalah film romansa yang kisahnya mirip dengan kisah Putri, mengharapkan seorang pria yang telah dia tunggu selama ini, tetapi setelah bertemu nyatanya pria tersebut sudah memiliki keluarga, sehingga wanita itu pun pergi membawa luka dan mencoba untuk melupakan pria tersebut. Naya mengerti karena Putri juga berada di posisi seperti itu yang membuatnya begitu sedih.
"Putri, sudah ya. Itu kan hanya film aja, kamu jangan terlalu terbawa suasana seperti itu dong. Lebih baik sekarang kita pulang aja yuk, udah malam," ucap Naya.
__ADS_1
"Iya Nay," jawab Putri diiringi anggukan kepalanya.
"Naya, Gerald, boleh nggak kalau aku aja yang mengantar Putri pulang. Itupun kalau Putri-nya juga mau," ucap George.
Naya dan Gerald saling berpandangan lalu sama-sama tersenyum.
"Oh tentu saja boleh dong, nggak masalah kalau Putri juga nggak keberatan. Lagipula aku dan Gerald juga mau mampir ke supermarket sebentar. Iya kan Sayang," ucap Naya sembari mengedipkan matanya memberi kode kepada sang suami.
"Oh iya benar, dengan senang hati," jawab Gerald.
"Kamu bagaimana Put, mau?" Tanya George.
"Iya, aku mau," jawab Putri yang membuat George begitu senang.
"Kalau begitu titip Putri ya Kak George," ucap Naya.
Putri sengaja mengikuti apa yang menjadi permintaan George itu, karena ia juga masih merasa sangat canggung jika harus bersama dengan Gerald lagi di satu mobil yang sama. Ia masih akan terus mengingat kisah cinta yang belum usai untuk suami sahabatnya itu
***
Setelah berpikir semalaman yang membuat hatinya itu tidak tenang, akhirnya Putri pun memutuskan untuk berbicara kepada Naya tentang teman masa kecilnya itu, siapa pria itu sebenarnya. Apapun resikonya, Putri akan menerima karena rasanya ia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan ini semua, ia malah takut jika nantinya akan berbuat hal yang nekat jika tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Mungkin saja dengan ia berbicara kepada Naya tentang yang sebenarnya, Naya akan menjauhkannya dari Gerald sehingga ia dapat melupakan pria itu.
"Nay, kamu masih ada berapa kelas lagi setelah kelas ini?" Tanya Putri saat mereka bertemu dan baru selesai kelas pagi.
"Masih ada satu sih dan habis itu selesai. Kamu sendiri gimana?" Jawab Naya dan bertanya pula.
"Aku sudah selesai, sudah nggak ada kelas lagi," jawab Putri.
"Oh … ya enak dong berarti kamu sudah bisa langsung pulang ya," ucap Naya.
"Enggak, sebenarnya aku mau mengajak kamu jalan-jalan, sekalian ada yang mau aku bicarakan ke kamu," ucap Putri.
__ADS_1
"Oh ya? Tapi memangnya nggak apa-apa kalau kamu harus menunggu aku siap kelas yang satu ini dulu?" Tanya Naya.
"Iya nggak apa-apa Nay. Aku tunggu kamu di kantin ya," jawab Putri.
"Oh … ya sudah. Kalau gitu aku masuk kelas dulu ya. Nanti kalau sudah selesai kelas, biar aku yang samperin kamu ke kantin," ucap Naya.
"Nggak usah Nay, nanti biar aku aja yang samperin kamu ke depan kelas," ucap Putri.
"Oke, kebetulan kelas ini juga nggak lama kok. Sampai ketemu nanti ya Put," ucap Naya dan segera pergi ke kelasnya.
***
Setelah Naya selesai kelas, seperti kesepakatan tadi kini Naya dan Putri pun sedang berada di dalam perjalanan menuju ke suatu tempat.
"Kita mau kemana Put? Tanya Naya.
"Menurut kamu enaknya kita duduk di restoran atau di taman?" Tanya Putri meminta pendapat.
"Kalau di taman aja gimana? Biar lebih santai aja gitu kita ngobrolnya," ujar Naya.
"Oh iya juga ya. Kalau begitu kita ke taman mana nih, kasih rekomendasinya dong. Kan aku bukan orang sini Nay, jadi belum terlalu tahu tempat-tempat nongkrong di sini," ucap Putri.
"Ya sudah kalau gitu nanti kamu lurus aja, terus di depan sana kita belok kanan ya. Di sana ada taman, biasanya untuk muda-mudi jalan-jalan gitu deh, ada yang pacaran juga, ada juga anak-anak yang main di sana, keluarga pun ada, pokoknya campur deh. Aku yakin kalau kita duduk di sana, pasti otak kita juga akan lebih fresh dan biasanya kalau masih pagi menjelang siang seperti ini nggak terlalu ramai sih. Di sana juga ada warungnya kok kalau kita mau beli minuman atau cemilan, jadi kita bisa ngobrol sambil ngemil deh," ucap Naya.
"Oh … gitu, boleh deh kalau gitu," ucap Putri dan segera saja ia melajukan mobilnya ke tempat tujuan yang dimaksud oleh putri tadi.
Kini Putri dan Naya pun telah tiba di taman tersebut, mereka duduk di kursi dan meja yang ditutupi oleh sebuah payung besar sehingga mereka tidak kepanasan, sambil menikmati minuman dingin dan juga cemilan yang telah mereka pesan.
"Kamu mau bicara soal apa Put ke aku? Tanya Naya.
"Jadi Put, aku mau cerita soal teman masa lalu aku itu. Aku mau bilang ke kamu siapa pria itu," ucap Putri.
__ADS_1
...Bersambung …...