
Beberapa saat kemudian, Naya kembali dengan membawa peralatan tersebut, pertama-tama Naya memeras kain handuk yang basah setelah di rendam dengan air es lalu mengompresnya di kening Gerald, setelah itu ia menyuapi Gerald makan dan tidak lupa memberikan obat penurun demam. Semua itu Naya lakukan dengan tulus dan ikhlas agar Gerald cepat sembuh.
Hingga keadaan Gerald berangsur membaik, ia yang tadi merasakan begitu menggigil, saat ini merasakan sedikit hangat berkat Naya dan berada di balutan selimut tebalnya itu. Gerald sama sekali tak mengucap kata apapun atau melarang apa yang Naya lakukan, lidahnya beku, mulutnya seakan terkunci hingga tak mampu untuk mengucapkan kata-kata. Ini merupakan kesempatan Naya yang leluasa melakukan apapun yang ia mau, apapun yang ia lakukan hanya demi kebaikan suami arogannya itu. Ia merasa sangat khawatir karena melihat keadaan Gerald yang saat ini pucat seperti mayat hidup. Untungnya Naya segera memberikan tindakan sehingga Gerald tidak terlalu merasa kedinginan lagi.
"Gimana? Apakah keadaanmu sudah cukup membaik?" Naya memberanikan diri untuk bertanya dan dibalas anggukan pelan oleh Gerald.
"Syukurlah, apa kau merasa masih sangat kedinginan?" Tanya Naya lagi, kali ini Gerald hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Ya sudah kalau begitu, kau istirahat saja. Aku akan kembali ke kamarku," kata Naya, ia yang tadinya duduk di tepi ranjang segera beranjak dan hendak keluar dari kamar Gerald.
Akan tetapi dengan cepat Gerald menarik tangan Naya seolah memintanya untuk tidak pergi.
Naya mengernyitkan dahinya bingung dengan tingkah laku sang suami, "Kau kenapa?"
"Jangan pergi," ucapan tersebut terdengar sangat asing di telinga Naya.
Kenapa Gerald memintanya untuk tidak pergi? Bukankah Gerald sangat tidak suka jika Naya berada di dalam kamarnya, bahkan Naya bisa berada di sini saja dalam keadaan Gerald yang sedang sakit, sudah pasti setelah sembuh nanti Gerald akan memarahinya habis-habisan. Tetapi Naya sama sekali tak peduli, yang penting niatnya itu baik ingin melihat suaminya cepat sembuh.
"Kau tidak salah ingin aku tetap berada di sini?" Tanya Naya.
"Ya, temani aku Naya. Aku tidak mau sendirian, aku kedinginan," ucap Gerald.
__ADS_1
Naya semakin dibuat bingung tidak mempercayainya. "Apa maksud ucapan Gerald? dia merasa kedinginan dan meminta aku menemaninya di sini? Apa maksudnya dia ingin aku memberinya kehangatan, atau Gerald sedang mengigau?" Naya bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Naya aku mohon," pinta Gerald.
"Baiklah! Aku akan tetap berada di sini untuk menemanimu," kata Naya.
Gerald sangat senang mendengarnya, ia sedikit menggeserkan tubuhnya memberi ruang untuk Naya berbaring di sampingnya itu. Naya langsung saja berbaring di samping Gerald, rasanya begitu gugup, ini adalah pertama kalinya Naya berbaring di samping suami sahnya itu. Seandainya saja ini bukan karena permintaan Gerald yang sedang sakit dan meminta ditemani, sudah pasti Naya akan merasa sangat bahagia karena hari-harinya ia akan tidur berdua bersama dengan suaminya itu.
Gerald masih saja sesekali menggigil merasakan kedinginan, Naya mencoba memberikan kehangatan untuk sang suami dengan memeluknya, hingga tanpa sadar kini mereka berdua pun terlelap dalam kondisi saling berpelukan dan terbangun keesokan harinya.
***
Saat terbangun, Naya sangat terkejut karena tidak melihat sosok Gerald yang tadi malam ada di sampingnya. Dan yang membuat Naya lebih terkejut lagi, Naya menyadari jika saat ini dirinya sudah berada di kamarnya sendiri, bukan di kamar Gerald.
Naya segera saja beranjak dari tempat tidur keluar dari kamar, tujuan utamanya yaitu untuk mencari keberadaan Gerald karena ingin melihat kondisinya. Ia mencari ke kamar Gerald, ke dapur, ke garasi mobil, tetapi tidak menemukan sosok pria yang telah menjadi suaminya itu. Bahkan mobil Gerald juga saat ini sudah tidak ada di rumah.
"Pasti Gerald sudah pergi ke kantor, tapi kenapa dia buru-buru sekali pergi ke kantor hari ini? Apakah keadaannya sudah membaik?" Naya bertanya di dalam hatinya.
***
Setibanya di perusahaan, Gerald merasakan tubuhnya yang tiba-tiba begitu lemah karena memang keadaannya belum pulih, ia memilih untuk segera pergi ke kantor karena merasa malu dengan apa yang terjadi di antara dirinya dan Naya tadi malam. Padahal mereka hanya tidur berpelukan, lantas kenapa Gerald harus malu? Sedangkan Naya adalah istri sahnya. Ya sebenarnya bukan rasa malu yang ia rasakan, tetapi rasa bersalahnya kenapa setelah ia merasa kecewa terhadap Bella kekasihnya karena telah mengkhianatinya itu, ia malah memanfaatkan Naya untuk berada di sisinya setelah perbuatan kasar yang ia lakukan terhadap Naya. Tetapi Naya sendiri tidak merasa keberatan, Naya melakukan semua itu dengan sangat ikhlas dan tulus hanya untuk merawat suaminya.
__ADS_1
Dengan tertatih Gerald berjalan, tidak ada yang mengetahui atau menolong Gerald untuk masuk ke dalam ruangannya karena memang masih pukul 06.00 pagi sehingga para pegawainya belum ada yang datang. Hanya ada satpam yang memang berjaga selama 24 jam di luar perusahaan secara berganti sift.
Akhirnya dengan susah payah Gerald pun berhasil tiba di ruangannya yang terletak di lantai 12 itu. Ia segera merebahkan dirinya di atas sofa, tubuhnya yang kini kembali menggigil hebat pun ia tutupi dengan jasnya itu, rasanya sudah tidak tahan lagi, bibirnya pun membeku, kepala terasa sangat sakit serta pandangan matanya yang berkunang-kunang, hingga ia pun pingsan.
***
Gerald mengerjap-ngerjapkan matanya dan menyadari jika saat ini ia berada di suatu tempat yang paling ia benci, yaitu rumah sakit. Dari kecil Gerald mempunyai trauma sehingga ia paling tidak suka untuk pergi ke rumah sakit. Tetapi kenapa kali ini ia berada di sini? Siapa yang membawanya?
Saat itu, ia melihat Naya yang sedang tertidur di sampingnya dalam posisi duduk dan meletakkan kepalanya di atas kasur sambil memegangi tangan Gerald.
"Jam berapa ini? Kenapa Naya bisa tertidur di sini?" Gumam Gerald lalu melihat jam di tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.
"Apa yang terjadi padaku? Bukankah tadi pagi aku berada di kantor, kenapa sekarang aku sudah berada di rumah sakit?" Gumam Gerald yang merasa kebingungan.
Naya membuka matanya karena terusik saat Gerald menggerakkan tangannya itu.
"Gerald, kau sudah bangun?" Tanya Naya.
"Iya, Nay ada apa denganku? Kenapa aku bisa berada di sini? Aku paling benci dengan tempat ini," kata Gerald.
"Kau tadi pagi pingsan Gerald, asistenmu yang membawamu ke sini dan mengabariku," jelas Naya.
__ADS_1
"Tapi kenapa aku bisa sampai pingsan selama itu? Bukankah aku pingsannya tadi pagi dan ini sudah jam 10.00 malam Naya. Sebenarnya ini ada apa?" Tanya Gerald yang merasa semakin bingung.
...Bersambung......