
Setelah selesai memeriksa keadaan Gerald, Dokter mengatakan ingin berbicara kepada salah satu keluarga pasiennya itu, lalu David pun segera saja mengikuti dokter menuju ke ruangannya. Sedangkan Naya masih tetap berada di ruang rawat Inap Gerald, menemani suaminya yang saat ini sudah tenang karena disuntik bius oleh dokter agar dapat beristirahat.
"Gerald, nggak apa-apa kok kalau saat ini kamu belum bisa mengingat aku mau pun Kania. Aku janji akan selalu menjaga kamu, menemani kamu dan aku yakin suatu saat nanti ingatan kamu itu pasti akan kembali lagi. Aku akan bersabar hingga waktu itu tiba Sayang," gumam Naya sembari menggenggam tangan suaminya, lalu beralih mencium keningnya pria yang dicintainya itu.
"Ada apa Dokter? Sepertinya ada hal serius yang ingin Dokter bicarakan kepada saya," tanya David saat mereka sudah berada di ruangan dokter.
"Iya benar Tuan, memang ada hal serius yang ingin saya sampaikan. Jadi begini Tuan, keadaan Tuan Gerald saat ini benar-benar memprihatinkan, beliau tidak bisa dipaksa untuk mengingat semuanya secara langsung. Lebih baik jangan terlalu dipaksa, tetapi tetaplah melakukan perbuatan, bawa beliau ke tempat-tempat yang kira-kira akan mengembalikan ingatannya, saya yakin perlahan ingatannya itu akan pulih. Jangan sampai siapapun di antara kalian yang memaksakan Tuan Gerald untuk mengingat semuanya, harus memaksakan mengingat siapa istrinya, anaknya, orang tuanya, teman-temannya atau siapapun, itu tidak perlu. Biarkan saja nanti Tuan Gerald akan mengingat sendiri secara bertahap, kalian lakukanlah perbuatan-perbuatan yang akan cepat memacu kembali ingatannya itu. Jika dipaksa, efeknya Tuan Gerald akan kehilangan ingatan selamanya karena otaknya yang tidak mampu," jelas dokter.
"Jadi seperti itu Dok? Baik Dok, saya mengerti. Terimakasih banyak Dokter. Lalu kapan Gerald boleh dibawa pulang ke rumah?" Tanya David.
"Kita lihat dulu bagaimana kondisinya Tuan Gerald, jika dalam seminggu ini keadaan Tuan Gerald sudah baik-baik saja, maka keluarga boleh membawanya pulang," jawab dokter.
"Baik, terimakasih sekali Dokter," ucap David.
***
Hingga beberapa hari kemudian, disaat dokter menyatakan bahwa kondisi Gerald sudah baik-baik saja, hanya tinggal pemulihan amnesianya itu, Gerald pun diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
Kini Gerald sedang berada di dalam kamarnya, ia merenungi diri, memandang ke arah sekitar ruangan yang tampak begitu asing baginya. Tiba-tiba sekilas ia mengingat memory yang pernah terjadi di dalam kamar ini. Gerald seperti mengingat bayangan sosok wanita yang pernah disiksanya, tetapi ia tidak tahu siapa wanita itu. Hingga mendadak kepalanya terasa sakit kembali.
"Akh … !" Teriak Gerald sembari memegangi kepalanya.
Naya yang saat itu baru saja kembali dari dapur membawa makan dan minum untuk Gerald, begitu terkejut hingga apa yang dibawanya itu jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.
"Gerald, kamu kenapa sayang?" Tanya Naya yang menghampiri suaminya. "Kamu tenang ya, tarik nafas, buang nafas secara perlahan," ucap Naya dan langsung dipraktekkan oleh Gerald.
"Bagaimana? Apa kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Naya seraya menyentuh lembut pundak Gerald.
__ADS_1
Gerald menganggukkan kepalanya. "Naya," panggilnya.
"Iya kenapa?" Tanya Naya.
"Apakah benar kamu adalah istri aku?" Tanya Gerald.
"Ya benar, aku memang istri kamu. Kita sudah menikah lebih dari satu tahun," jawab Naya.
"Oh ya? Lalu apakah selama ini aku selalu bersikap baik denganmu?" Tanya Gerald lagi.
Naya tertegun, ia tidak mungkin menjawab yang sebenarnya. Tapi kenapa tiba-tiba Gerald bertanya seperti itu? Apa mungkin Gerald sudah sedikit mengingat tentang masa lalunya? Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Naya saat ini.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu? Kita berdua saling mencintai, kamu selalu memperlakukan aku dengan baik, kamu mencintai aku dan selalu memberikan perhatian padaku. Untuk itu aku mencintai kamu Gerald," kata Naya sembari menggenggam erat tangan suaminya.
Gerald tersenyum, sepertinya ia merasa sangat beruntung karena memiliki istri seperti Naya. Meskipun ia belum bisa merasakan apapun saat ini, termasuk rasa cintanya untuk Naya.
"Kania ada di kamarnya sama Suster. Kamu mau lihat?" Tanya Naya dan ditanggapi anggukan pelan oleh Gerald.
Lalu Naya pun segera saja keluar dari kamar, pertama-tama ia meminta tolong Bibi untuk membersihkan pecahan piring dan gelas yang jatuh tadi, lalu mengambil makan dan minuman yan baru untuk Gerald. Setelah itu ia pergi ke kamar Kania dan membawanya ke kamar menemui ayahnya.
Bertepatan dengan Naya yang membawa Kania, saat itu Bibi juga sudah membawakan makan dan minuman yang baru untuk Gerald dan meletakkan nampan tersebut di atas nakas.
"Hai Papa," ucap Naya seolah menjadi anaknya. "Ini anak kita, Kania. Cantik kan," ucap Naya.
"Iya, cantik seperti kamu," puji Gerald tersenyum sembari mengusap lembut pipi sang anak dengan penuh kasih sayang.
Naya tersipu malu sekaligus merasa senang karena mendapat pujian dari suaminya itu, meskipun saat ini Gerald sama sekali belum mengingatnya.
__ADS_1
"Kamu mau gendong Kania?" Tanya Naya.
"Apa aku boleh menggendongnya?" Tanya Gerald.
"Tentu saja boleh, Kania kan anak kamu," jawab Naya.
Di saat itu Kania pun tiba-tiba saja menangis, Naya segera saja memberikan Kania kepada sang Gerald. Seakan sudah lama tidak merasakan kasih sayang dari seorang Ayah, kini Kania begitu terlihat tenang saat berada di dekapan Gerald. Bahkan ia tampak tersenyum memandangi wajah ayahnya itu. Gerald sendiri merasakan debaran jantungnya yang tak bisa diartikan. Rasanya ia begitu bahagia dan bisa merasakan ikatan batin dengan anaknya itu.
Sambil bermain dengan sang anak, Naya menyuapi suaminya itu makan, setelah itu tidak lupa pula ia memberikan obat kepada Gerald, lalu meminta Gerald untuk beristirahat kembali. Sedangkan Kania saat ini sudah tertidur dan diletakkan di samping Gerald. Naya tersenyum, hatinya menghangat dan merasa sangat bahagia menatap wajah polos suami dan anaknya. Segera saja Naya merebahkan tubuhnya di samping Kania, lalu ikut memejamkan mata dan terlelap hingga terbangun keesokan harinya.
***
Naya berjalan menuju ke arah depan saat mendengar ada keributan. Saat ini Dania dan David sedang tidak ada di rumah, mereka pergi menghadiri acara salah satu sanak saudaranya di Bandung.
"Ada apa ini Bi?" Tanya Naya setelah tiba di pintu utama.
Belum sempat Bibi menjawabnya, Naya pun sudah dapat melihat siapa orang yang datang dan membuat keributan tersebut.
"Bella! Kamu mau apa datang ke sini?" Tanya Naya yang tampak terkejut.
"Aku dengar Gerald sempat masuk rumah sakit dan saat ini sudah kembali ke rumah, apa boleh aku menjenguknya?" Tanya Bella.
"Tidak, aku sama sekali tidak mengizinkan orang luar untuk menjenguknya," jawab Naya.
"Memang kenapa sih? Aku kan hanya ingin menjenguknya saja sebagai teman, memang apa salahnya?" Tanya Bella tak terima.
"Tentu saja salah. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk bertemu atau mengganggu suamiku lagi. Gerald sedang sakit dan dia butuh istirahat, lebih baik kamu pergi saja dari sini!" Usir Naya.
__ADS_1
...Bersambung ......