Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Kembali Bergejolak


__ADS_3

Setelah mengungkapkan tentang fakta sebenarnya kepada keluarga, saat ini Gerald merasakan perasaannya lebih tenang. Ia juga sudah belajar untuk melupakan tentang masa lalunya yang begitu kelam. Karena Naya sendiri memintanya untuk tidak mengingat-ingat akan hal itu lagi. Yang Naya inginkan hanyalah Gerald selalu bersamanya, selalu mencintainya dan memberikan kebahagiaan untuk keluarga kecilnya itu. Semakin hari hubungan keduanya tampak semakin mesra. Bahkan mereka tak segan-segan untuk menampakan keromantisan mereka di depan kedua orang tuanya itu. Begitu juga saat di depan sahabatnya.


Karena saat ini Gerald dan Naya sama-sama memiliki waktu senggang, Gerald pun mengajak istrinya untuk menonton bioskop malam ini berdua. Tetapi muncul ide di pikiran Naya untuk mengajak sahabatnya Putri beserta George klien dari suaminya itu, karena George dan Gerald sendiri akhir-akhir ini terlihat sangat akrab karena kerjasama yang sedang mereka jalani. Dan dari situ juga Gerald tahu jika George sering menanyakan Putri dan sepertinya menaruh hati kepada wanita itu, meskipun George tidak pernah mengatakan kepadanya.


"Nggak apa-apa kan Sayang, kalau menurut aku lebih baik kita harus sering-sering membuat mereka berdua bertemu. Ya tidak sengaja seperti mencomblangkan mereka gitu. Aku hanya ingin Putri melupakan masa lalunya itu Sayang, masa lalu yang seharusnya tidak pernah Putri ingat lagi, sama dengan kamu yang harus melupakan masa lalu yang seharusnya tidak kamu ingat. Mungkin menurut Putri itu adalah hal yang sangat penting, tapi untuk apa lagi dia terus mengingat teman masa kecilnya, yang katanya cinta pertamanya itu yang kenyataannya memang bukan jodohnya. Putri sendiri yang bilang sama aku kalau pria itu sudah mempunyai keluarga, mereka sudah hidup bahagia dan tidak mungkin Putri akan bisa masuk ke dalam keluarga itu. Jadi tidak salahnya kan kalau aku ingin Putri membuka hatinya untuk pria lain? Siapa tahu George ini adalah jodohnya, yang aku lihat George begitu baik, perhatian terhadap Putri," ucap Naya yang begitu kekeh, sehingga Gerald pun tidak bisa menolak keinginan istrinya.


"Iya Sayang, kalau masalah untuk menjodohkan mereka, jujur aku tidak bisa, maksudnya aku tidak ahli dalam hal ini. Tetapi paling tidak kalau aku bisa membantu kamu, dengan senang hati aku akan membantu. Kalau begitu, kamu hubungi Putri, kamu ajak dia nonton dan aku akan menghubungi George, gimana?" Ucap Gerald.


"Iya Sayang, terimakasih ya. Tapi kita nggak mungkin ajak Kania kan? Aku masih belum berani kalau harus mengajak Kania di tempat-tempat seperti itu. Pastinya akan sangat berisik sekali," ucap Kania.


"Iya kamu benar Sayang, kita titip aja Kania ke Mama. Bukannya Mama dan Papa juga sudah mengatakannya, mereka akan sangat senang jika kita menitipkan Kania. Lagipula kalau keadaan mendesak, Suster juga mau kok menjaga Kania malam hari. Yang penting kita bayar uang lemburnya," ucap Gerald.


"Iya Sayang, tapi kan bagaimanapun juga Suster itu sudah mempunyai jadwal kerja. Jam 09.00 malam Suster harus istirahat, karena besok pagi mereka harus bekerja lagi," ucap Naya.


"Ya kalau begitu solusi yang tepat kita titip ke Mama aja ya. Ya sudah cepat kamu hubungi teman kamu dan aku akan hubungi George," ucap Gerald dan ditanggapi anggukan kepala oleh istrinya itu.


***


Putri tampak sedang bersiap-siap karena akan pergi menonton bioskop bersama sahabatnya. Sebenarnya Putri ingin menolak karena tidak sanggup jika harus bertemu dengan Gerald lagi, tetapi karena Naya juga mengatakan jika suaminya itu mengajak George, akhirnya Putri pun menyetujuinya. Meskipun sebenarnya Putri tahu jika Naya sangat ingin menjodohkannya dengan George, tetapi Putri tidak menanggapinya, ini semua semata-mata karena ia ingin menghargai ajakan Naya yang telah begitu baik padanya. Apalagi niat Naya juga baik, ingin membuat dirinya segera move on dan tidak ingin melihatnya terus-menerus dalam kesedihan.


Karena rumah mereka berdekatan, Naya pun meminta Gerald untuk sekaligus menjemput Putri untuk bersama-sama pergi ke bioskop. Kini mereka berdua telah tiba di depan rumah Putri dan segera saja Naya langsung turun untuk memanggil sahabatnya itu.

__ADS_1


Tok … tok … tok …


Mendengar suara ketukan pintu, Putri pun segera saja membukakan pintu tersebut dan keluar dari rumahnya.


"Wah … cantik banget sahabat aku," puji Naya saat melihat putri yang bermake-up tipis tidak seperti biasanya yang selalu tampil apa adanya.


"Masa sih, perasaan aku biasa aja deh," ucap Putri tersipu malu.


"Iya beneran, karena mau bertemu dengan George ya? Sepertinya malam ini sangat spesial," goda Naya tersenyum.


"Ih … Naya apaan sih. Bilang aja pasti jelek ya, kalau jelek aku hapus aja deh make up-nya," ucap Putri.


Akan tetapi Putri tampak ragu melangkahkan kakinya itu sehingga membuat Naya kebingungan.


"Nay, sebenarnya aku nggak enak deh harus pergi dengan kalian. Aku bawa mobil sendiri aja ya," ucap Putri.


"Jangan dong Put, kita sudah jemput kamu ke sini terus kamu mau bawa mobil sendiri gitu. Sudah deh, kita pergi sama-sama aja ya," ucap Naya.


Akhirnya Putri pun menyetujuinya dan memang ia tidak bisa menolak jika sudah dirayu oleh sahabatnya itu. Meskipun tampak gugup, Putri masuk ke dalam mobil Gerald dan duduk di kursi belakang. Sedangkan Naya tetap duduk di kursi samping suaminya yang sedang mengemudi.


***

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, Gerald, Naya dan Putri telah tiba di sebuah mall. Mereka segera menuju ke bioskop, di depan sana telah ada George yang menunggu mereka dan sudah membelikan tiket film yang akan mereka tonton.


"Maaf kita sedikit terlambat," ucap Gerald mewakili Naya dan Putri.


"Oh tidak, tidak terlambat. Lagipula filmnya juga belum mulai," ucap George. "Apa kabar Gerald, Naya?" Tanya George hendak menyalami Naya.


"Alhamdulillah saya dan istri saya baik-baik saja," jawab Gerald yang menyambar juluran tangan George terlebih dahulu, ia sangat tidak rela jika George akan menyentuh tangan istrinya.


George mengerti akan situasi ini, kini ia pun beralih memandang sosok wanita cantik yang berada di samping Naya.


"Put bagaimana kabar kamu?" Tanya George menjulurkan tangannya dan langsung disambut hangat oleh Putri.


"Aku baik," jawab Putri singkat.


"Ya sudah, ini tiketnya sudah saya beli. Sekarang langsung masuk saja ya, 5 menit lagi film-nya akan segera dimulai," ajak George.


Kini mereka berempat pun berjalan berdampingan masuk ke dalam bioskop dan menuju ke kursi sesuai tiket yang mereka pegang. Di saat hendak menuju ke kursinya yang berada di paling ujung, tiba-tiba saja Putri tersandung kaki seseorang yang tiba-tiba menjulurkan kakinya dan membuat tubuh Putri terhuyung ke belakang, hampir saja ia terjatuh. Untung saja Gerald yang saat itu ada di belakangnya pun dengan reflek menangkap tubuh Putri hingga terjatuh kedalam pelukannya.


Mereka saling bertatapan dibalik cahaya lampu bioskop yang remang-remang. Tetapi Putri juga dapat melihat dengan jelas bahwa yang menangkap tubuhnya itu adalah Gerald, pria yang dicintainya sejak kecil. Putri merasakan jantungnya saat ini seakan mau lepas, jiwanya kembali bergejolak saat berdekatan dengan Gerald. Padahal ia sudah berusaha mati-matian untuk melupakan cintanya untuk gerald, tetapi kenapa kejadian ini malah membuatnya kembali merasakan cinta itu.


...Bersambung …...

__ADS_1


__ADS_2