
David sangat terharu atas sikap anak dan menantunya yang begitu menyayanginya, begitu sangat peduli terhadapnya. Meskipun saat ini istrinya telah pergi, tetapi David seperti melihat sosok sang istri pada diri Naya, menantunya itu. Bahkan David juga sudah menganggap Naya seperti anaknya sendiri sama seperti Dania. Dania memang tidak salah dan sangat pintar memilih pasangan hidup untuk anaknya, buktinya selain mencintai suaminya, Naya juga sangat mencintai mertuanya seperti orang tua kandungnya sendiri.
***
Keesokan hari, Naya dan Gerald bersiap-siap akan melakukan aktivitas seperti biasa. Begitu juga dengan David yang sudah tampak rapi dan kini sudah berada di ruang makan. Lalu Naya dan Gerald segera saja menghampiri ayahnya itu untuk menikmati sarapan bersama.
"Pa, kalau Papa masih kurang sehat lebih baik Papa di rumah saja. Biar aku yang urus perusahaan," ucap Gerald.
"Iya Pa, benar kata Gerald. Papa istirahat saja dulu di rumah sampai kondisi Papa lebih baik lagi," ucap Naya.
Memang akhir-akhir ini kondisi David terlihat tidak stabil. Mungkin karena merasa kurang semangat tanpa dampingan orang yang dicintainya.
"Papa tidak kenapa-kenapa Gerald, Naya. Papa baik-baik saja. Selama ini Papa yang selalu menguatkan kalian, tapi malah Papa yang terlihat rapuh. Papa harus bangkit, Papa akan pergi ke kantor untuk mengurus perusahaan seperti biasa. Kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan Papa, I'm fine. Lagipula Gerald, kamu juga kan ada di kantor bersama Papa, jadi kamu bisa dong melihat kondisi Papa nanti seperti apa," kata David
"Kalau soal itu Papa tenang saja ya. Aku pasti akan selalu menjaga Papa di kantor nanti," kata Gerald.
"Nah begitu dong. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan," ucap David.
"Oke, kalau begitu Papa ke kantornya sama aku dan Naya saja Pa. Sebelum ke kantor, kita antar Naya dulu ke kampus," ucap Gerald.
"Boleh, sekarang kita sarapan dulu lalu kita berangkat," ucap David.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan akan mengantar Naya ke kampusnya, baru setelah itu Gerald dan David pergi ke perusahaan.
***
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, setelah tiba di kampus Naya melihat putri yang saat itu sudah menunggu kedatangannya.
"Hai Nay," sapa Putri.
"Hai Put. Kok kamu masih di luar? Kenapa nggak masuk," tanya Naya.
"Aku sengaja menunggu kamu. Tadi sewaktu aku chat kamu bilang lagi di jalan, jadi aku tunggu kamu aja sekalian. Lagipula kelas kita juga kan belum mulai," kata Putri.
"Oh … gitu. Terimakasih ya Put," ucap Naya.
Lalu mereka pun jalan beriringan untuk masuk ke dalam kampus.
"Put, bagaimana keadaan di rumah? Apakah suasana sudah lebih tenang, sudah mulai bisa menerima kepergian Tante Dania? Maaf ya kalau aku lancang bertanya seperti ini," tanya Putri.
"Nggak apa-apa, nggak masalah kok Put. Ya seperti itulah Put, kalau dibilang menerima, semuanya masih berusaha untuk ikhlas. Lagipula tidak baik juga kan harus berlarut-larut dalam kesedihan. Dan aku lihat Papa juga sudah mulai bersemangat tadi pagi ke kantor," jawab Naya.
"Iya Put terimakasih ya. Ya sudah kalau begitu kita pisah di sini dulu ya, kita ke kelas masing-masing. Nanti selesai kelas kita bertemu lagi di sini," ucap Naya.
Lalu Naya dan putri pun segera saja masuk ke dalam jadwal kelas mereka masing-masing.
Beberapa saat kemudian, Putri yang telah selesai dengan kelasnya itu pun menunggu Naya di kantin karena Naya yang memintanya menunggu di sana. Tidak berapa lama kemudian Naya pun melangkahkan kakinya menuju ke kantin untuk menghampiri sahabatnya itu.
Setibanya di kantin, Naya melihat Putri sedang menelpon seseorang. Tidak bermaksud menguping, tetapi Naya yang saat ini sudah berada di belakang Putri pun tidak sengaja mendengar percakapannya itu.
"Tetap aja aku belum bisa ngomong ke Naya masalah itu George, aku takut kalau Naya nantinya akan merasa marah dan kecewa. Karena setelah lama aku baru mau memberitahunya sekarang. Aku nggak tahu bagaimana reaksi Naya kalau tahu jika teman masa kecil aku itu, cinta pertamaku yang selama ini aku tunggu dan membuat aku patah hati adalah Gerald, suaminya. Aku yakin Naya akan merasa sangat kecewa," ucap Putri.
__ADS_1
Naya membelalakkan matanya, ia begitu syok tidak percaya dengan apa yang baru saja telah ia dengar.
"Apa? Jadi cinta masa kecil kamu itu, cinta pertama kamu, orang yang selalu kamu tunggu adalah Gerald suami aku?" Tanya Naya dengan emosi.
Tentu saja Putri terkejut mendengar suara Naya yang tiba-tiba ada di belakangnya, ia pun langsung saja menutup telepon tersebut dan berdiri menghadap ke arah Naya.
"Nay, kamu sejak kapan ada di sini?" Tanya Putri yang terasa begitu gugup.
"Aku memang belum lama berada di sini Put, tapi aku sudah mendengar jelas semuanya. Tolong jelaskan ke aku, apa benar kalau cinta pertama kamu semasa kecil itu adalah Gerald?" Tanya Naya dengan sorotan mata tajam.
"Nay, aku bisa jelaskan kok. Kamu duduk dulu ya, kamu yang tenang," ucap Putri.
"Ya, kamu memang harus menjelaskannya Put," kata Naya.
Lalu Naya dan Putri pun duduk dan Putri menceritakan kepada Naya tentang apa yang sebenarnya terjadi, tentang apa yang sudah ia sembunyikan dari sahabatnya itu. Naya terlihat begitu kecewa, karena sebagai sahabat Putri menutupi hal sepenting itu darinya. Tetapi di satu sisi Naya juga mengerti bahwa sahabatnya itu hanya ingin menjaga perasaannya saja. Bahkan Naya merasa bersalah karena ternyata selama ini sahabatnya itu merasa menderita, kecewa karena Gerald yang telah bersamanya.
"Nay, aku benar-benar minta maaf ya. Seharusnya aku sudah memberitahu kamu dari pertama kali aku tahu kenyataannya di Jogja waktu itu. Tetapi aku benar-benar nggak enak sama kamu, aku benar-benar nggak mau persahabatan kita rusak hanya gara-gara ini. Aku juga sudah berniat untuk memberitahu kamu waktu itu, tapi di saat itu tiba-tiba saja kamu mengalami kejadian buruk, lalu ditambah lagi Tante Dania yang sakit hingga akhirnya pergi, dalam suasana duka. Jadi aku belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini semua. Tapi jujur aku sudah berusaha untuk melupakan masa lalu itu Put, aku ikhlas Kak Gerald bersama dengan kamu karena kamu adalah wanita yang sangat baik. Dan aku juga sudah berusaha untuk mencintai George, memberikan cinta aku sepenuhnya untuk George yang sekarang telah menjadi pasanganku," ucap Putri.
"Put sebenarnya aku memang kecewa karena kamu nggak cerita soal ini ke aku. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya. Dan sekarang apakah Gerald tahu masalah ini?" Tanya Naya.
Putri menggelengkan kepalanya. "Kak Gerald nggak tahu Nay. Yang tahu soal ini hanya Mama, Papa dan George. Dan aku rasa Kak Gerald juga tidak pernah mengingat aku lagi, apa Kak Gerald pernah menceritakan teman kecilnya sewaktu di Jogja?" Tanya Putri.
Naya terdiam, Gerald sama sekali tidak pernah menceritakan bahwa dia mempunyai teman kecil yang begitu dekat dengannya sewaktu di Jogja. Mungkin memang benar jika Putri selama ini hanya mengharapkan pria yang sama sekali tidak mengharapkannya, seperti yang dikatakan oleh putri tadi.
"Pasti nggak pernah kan Nay? Hanya aku aja yang terlalu bodoh terlalu menganggap serius dengan ucapan anak kecil pada waktu itu. Maafkan aku ya Nay karena telah merahasiakan soal ini dari kamu. Aku nggak menyangka rahasia ini akan terbongkar dan kamu mendengarnya langsung dari mulut aku karena tidak kesengajaan. Aku benar-benar minta maaf, aku harap kamu nggak marah dan kecewa lagi sama aku setelah aku menjelaskan semuanya tadi," ucap Putri menatap sendu.
__ADS_1
"Put, sudah ya. Kamu nggak salah kok, jadi nggak perlu minta maaf terus. Aku mengerti Put, tapi bagaimanapun juga Gerald harus tahu bahwa kamu adalah teman masa kecilnya dulu," ucap Naya.
...Bersambung …...