
Gerald kalang kabut mencari keberadaan Naya yang tidak ada di rumah. Ia yang baru saja mendapatkan kabar bawa orang tuanya akan segera tiba di Indonesia, merasa kebingungan mencari keberadaan Naya. Sudah pasti Dania dan David akan menanyakan keberadaan menantu kesayangan mereka jika tidak melihatnya di rumah.
"Sial! Dimana wanita itu, aku hubungi juga tidak dijawab," umpat Gerald kesal sembari terus saja menekan nomor ponsel Naya, tetapi hasilnya tetap nihil. Naya sama sekali tidak menjawab teleponnya, entah sengaja atau memang dia sedang tidak memegang ponselnya itu. "Kemana Naya? Apa mungkin dia ke rumah Bu Rosa atau dia sedang bersama laki-laki itu?" Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya.
Gerald pun bergegas mencari lagi menelusuri penjuru rumah, tapi hasilnya juga sama, ia tidak menemukan keberadaan Naya. Di saat itu teleponnya pun berdering yang ternyata ada panggilan telepon masuk dari ibunya.
"Halo Ma," ucap Gerald menjawab telepon tersebut.
"Halo Sayang, Mama dan Papa sudah ada di bandara nih, kalian dimana? Tidak jadi ya jemput Mama dan Papa?" Tanya Dania.
"Oh iya maaf Ma, aku baru saja mau pulang dari kantor. Tapi aku sudah suruh supir Mama untuk menjemput kalian, tunggu saja ya, mungkin sebentar lagi akan sampai," ucap Gerald yang sebenarnya tidak mungkin bisa untuk menjemput orang tuanya, karena ia belum juga menemukan keberadaan sang istri. Untuk itu ia pun menyuruh supir menjemput kedua orang tuanya itu.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi Naya ada di rumah kan? Mama sudah sangat merindukannya. Mama juga bawa oleh-oleh banyak sekali untuk menantu dan juga calon cucu Mama," ucap Dania, ia begitu semangat ingin bertemu dengan menantunya.
"Iya Ma, ya sudah kalau begitu aku mau pulang ke rumah dulu ya Ma. Mama dan Papa hati-hati," ucap Gerald.
"Iya Sayang, kamu juga hati-hati ya," ucap Dania pula.
"Iya Ma," jawab Gerald mengakhiri telepon tersebut.
Saat ini Gerald tampak lesu sudah tak tahu lagi harus mencari dimana keberadaan Naya, sedangkan ia yakin jika orang tuanya itu akan segera tiba di rumah. Ia memutar otaknya untuk mencari alasan apa yang akan ia buat nanti di saat kedua orang tuanya itu menanyakan dimana keberadaan menantu mereka. Akan tetapi di saat itu juga Gerald melihat sosok wanita yang dicarinya baru saja pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat lesu. Gerald pun dengan cepat menghampiri istrinya itu.
"Naya, kau dari mana saja hah? Aku dari tadi mencarimu Naya! Kau ini membuat aku pusing saja," Bentak Gerald, akan tetapi di dalam hatinya merasa lega karena Naya pulang dalam kondisi baik-baik saja.
Naya memutar bola matanya malas, ia tak menjawab pertanyaan Gerald dan langsung saja melangkahkan kakinya yang lemah itu hendak menuju ke kamarnya, akan tetapi baru saja ia akan menaiki satu tangga tiba-tiba tubuhnya begitu sangat lemah dan hampir saja terjatuh dengan cepat. Gerald pun menangkap tubuh istrinya itu dan menuntunnya ke sofa. Anehnya Naya sama sekali tak memberontak seperti yang biasa ia lakukan.
__ADS_1
"Nay kau kenapa? Aku tidak akan mengajakmu berdebat saat ini. Tapi tolonglah bekerja sama denganku, karena Mama dan Papa sebentar lagi akan tiba di rumah," kata Gerald.
Naya tersenyum kecut, ia sudah menyangka jika Gerald mencarinya pasti karena kedua orang tuanya bukan karena khawatir terhadap dirinya. Naya sendiri pulang ke rumah juga karena mendapatkan telepon dari Dania tadi, jika tidak sudah pasti Naya memilih untuk tidak kembali lagi ke rumah itu.
"Naya apa kau sedang berpuasa untuk bicara? Kenapa kau mendadak menjadi bisu seperti ini, atau kau tuli tidak mendengar ucapanku?" TanyA Gerald yang terlihat kesal karena Naya tak menggubrisnya sama sekali.
"Apa kau sudah memindahkan barang-barangku ke kamarmu?" Tanya Naya yang mengalihkan pembicaraan lain.
"Tentu saja sudah, saat tadi aku tidak menemukanmu, aku sudah membereskan itu semua," jawab Gerald.
"Ya sudah aku ingin beristirahat, nanti kalau Mama dan Papa sudah sampai kau bangunkan saja aku," kata Naya, lalu ia pun beranjak dari kursi.
Dengan sangat berhati-hati ia berjalan menuju ke ke kamar. Sedangkan Gerald hanya menatap kepergian Naya dengan penuh keheranan.
***
Beberapa menit kemudian, setelah membersihkan diri, Naya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Gerald saat itu menghampiri Naya di kamar dan memberitahu jika kedua orang tuanya telah tiba. Naya mencoba untuk memasang senyum manisnya seolah tidak terjadi apa-apa dengannya. Lalu segera saja mereka turun untuk menyambut kepulangan Dania dan David.
"Welcome back Mama dan Papa," ucap Gerald lalu menyalami dan juga mencium pipi kedua orang tuanya itu secara bergantian, hal tersebut juga dilakukan oleh Naya.
"Naya, kamu apa kabar Sayang? Bagaimana keadaan cucu Mama?" Tanya Dania sembari mengelus perut Naya yang sudah terlihat sedikit membuncit di usia kandungannya yang memasuki 14 minggu.
"Alhamdulillah aku dan kandunganku baik Ma. Mama gimana sekarang keadaannya?" Jawab Naya serta melontarkan pertanyaan yang sama.
"Alhamdulillah Mama juga baik. Sekarang ini masih dalam proses penyembuhan, tapi operasinya berjalan lancar," jawab Dania dengan mengulas senyum di wajahnya. Ia begitu senang karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan anak dan menantunya itu, terlebih lagi sebentar lagi ia akan memiliki cucu.
__ADS_1
"Gerald, apa kamu menjaga istrimu yang sedang hamil ini dengan baik?" Tanya David.
"Oh tentu saja Pa, aku selalu menjaganya dengan baik," jawab Gerald tanpa rasa bersalah sedikitpun, yang membuat hati Naya begitu miris mendengarnya.
"Ma, Pa sebaiknya kalian masuk saja dulu istirahat. Pasti Mama capek kan dari luar Negeri? Kamar Mama juga selalu aku rapikan kok dan selalu bersih. Aku selalu berharap Mama dan Papa cepat pulang," kata Naya.
"Terimakasih ya Sayang,kamu memang menantu Mama yang terbaik. Tapi kamu tidak kelelahan kan setiap hari kemas-kemas kamar Mama? Dan yang Mama dengar kalian sudah tidak memperkerjakan pembantu lagi ya?" Tanya Dania.
"Iya Ma, itu keinginannya Naya. Katanya dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, dia bosan tidak ada kerjaan di rumah setelah pulang kuliah," jawab Gerald.
"Ya sudah kalau memang seperti itu. Mama sama Papa masuk ke kamar dulu ya mau bersih-bersih, nanti kita makan malam di luar saja ya, gimana?" Usul Dania.
"Boleh Ma, Papa juga sudah merindukan masakan Indonesia. Makanan yang ada di restoran favorit kita," jawab David menyetujuinya.
"Terserah Mama dan Papa saja. Aku dan Naya pasti setuju," kata Gerald. "Iya kan Sayang?" Gerald menatap dan merangkul sang istri, menunjukkan kemesraannya di depan kedua orang tuanya itu.
"Gerald, Gerald, mulai lagi deh bersandiwara," batin Naya.
Saat Dania dan David masuk ke dalam kamarnya, Naya dan Gerald pun juga kembali ke kamar mereka.
"Ingat Naya, sekarang ini orang tuaku sudah kembali. Sandiwara harus kita lanjutkan kembali demi kesehatan Mama," ucap Gerald.
Naya sama sekali tak menggubris ucapan Gerald, ia tetap fokus bermain game di ponselnya karena terlalu sakit jika menanggapi perkataan suami arogannya itu.
...Bersambung......
__ADS_1