Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Salah Paham


__ADS_3

Jeremy melingkarkan tangan ke pinggang ramping Naya, begitupun dengan Naya. Posisi Naya di samping Jeremy menjadikan dia pusat perhatian orang-orang berpenampilan serba mewah dan elegan. Kebanyakan para wanita, mengenakan pakaian dengan belahan rendah di dada dan belahan tinggi di paha.


Naya merasa asing pada tempat yang baru pertama kali dia datangi. Tempat bising dengan lampu kerlap-kerlip. Sesekali dia melirik ke arah panggung yang menampilkan penari-penari berpakaian minim. Wanita-wanita yang nyaris setengah bugil itu menari dengan sangat lentur dan dikelilingi pria-pria bertubuh kekar, berparas menyeramkan. Seperti para pria yang rela mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan tubuh Naya, ketika ia di lelang.


”Dasar hidung belang,” gumam Naya terbawa suasana.


Cengkraman erat pada pinggang Naya, menarik gadis itu untuk menatap Jeremy. Tatapan pria itu lurus ke depan. Dari posisi ini Naya dapat melihat rahang Jeremy yang tegas. Sejenak ia berpikir kalau Jeremy sangatlah tampan dan berkarisma. Wajah blasteran antara Indonesia dengan Pakistan.


”Apa dia mainan baru mu?” suara berat itu menarik perhatian Naya.


Seorang pria sepantaran Jeremy berdiri tegak di hadapan mereka. Tampak di belakang pria itu, beberapa bodyguard mendampingi.


”Hai, Nona. Perkenalkan, namaku Eden. Siapa namamu?” Pria itu sedikit membungkuk, mensejajari tubuh jangkungnya dengan Naya.


Naya memalingkan wajah menghadap lantai, menghindari tatapan Eden.


”Sepertinya kau masih gadis belia dan belum cukup dewasa.” Eden membenarkan posisi berdirinya.


”Apa kau gila mengencani anak di bawah umur?” Eden mendengus, menatap sinis Jeremy.


”Bukan urusanmu!” ketus Jeremy.


”Tentu saja ini jadi urusanku. Karena tempat ini milikku dan peraturan di tempat ini tidak boleh ada anak di bawah umur masuk ke dalam sini!” ujar Eden.


Jeremy menyunggingkan senyum. Ia memutar tubuh menghadap Naya. ”Tunggu di luar,” ucap Jeremy, datar.


”Hah!?” Bukan karena tidak mendengar, namun ia hanya memastikan apa yang di katakan Jeremy itu benar.


”Tunggu di luar!” sentak Jeremy.


”Ta-tapi …” ucap Naya menggantung, ia takut untuk mengatakan.


”Tidak perlu! Kau tidak perlu keluar, Nona. Aku sudah menyiapkan tempat khusus untukmu,” sanggah Eden, tersenyum lebar.


Jeremy menyipitkan mata, menerka-nerka apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya.


”Silahkan ikuti saya, Naya!” pinta Eden, berjalan lebih dulu.


Naya berjalan sendiri di belakang Eden, di ikuti oleh Jeremy dan di susul anak buah Eden. Naya heran karena Eden membawanya ke lantai dua dimana terdapat sebuah ruangan. Tempat itu cukup terang, terbebas dari kebisingan, dan tidak ada aroma alkohol yang menyengat.

__ADS_1


”Kau bisa menunggu di ruanganku, Naya. Aku yakin kau merasa terganggu dan risih di sana.”


”Makasih, Om,” jawab Naya, pelan.


”Kalau urusanku sudah selesai aku akan menjemputmu,” timpal Jeremy. Ia memberi kode pada Eden untuk segera pergi.


Naya tersenyum simpul. Ia merasa Eden pria yang baik dan perhatian. ’Andai saja Om Jeje seperti dia,’ batin Naya.


Naya mengamati ruangan Eden yang bergaya aestetik. Ia juga dapat mencium aroma maskulin milik Eden yang tertinggal.


Saat sedang asik melihat-lihat isi ruangan, pandangan Naya tertarik pada sebuah jendela kaca besar. Ia tampak kagum dengan pemandangan di luar jendela yang memperlihatkan suasana kota dan langit di malam hari. Andai saja ia masih memiliki ponsel, sudah pasti ia akan mengambil gambar di tempat ini. Sayangnya, semua barang yang Naya miliki sudah di buang oleh Jeremy sebelum ia memasuki mension pria yang telah menjadi suaminya.


Klek !


Naya memutar tubuh menghadap pintu yang terbuka.


”Kamu siapa?” tanya seorang wanita menggunakan dres mini blink-blink. Wanita itu memiliki tubuh yang tinggi dan sedikit berisi. Kulitnya yang berwarna kecoklatan tampak buatan.


”A … aku, Kanaya,” gugup Naya. Wanita itu menatap Naya dengan tatapan permusuhan.


”Kenapa kamu di ruangan tunangan saya?!” bentak wanita itu.


Naya tersentak, ia merasa bersalah dan tidak enak. Sedangkan wanita itu berjalan mendekati Naya dengan amarah.


”Dasar kau, wanita ******!!” Wanita dihadapan Naya, menarik lengan baju Naya hingga robek. Membuat bahu polos Naya terpampang.


Naya kembali meringis ketika rambutnya di tarik kasar. Ia berusaha melepaskan diri dari wanita itu, namun kalah tenaga. Beberapa kali Naya terjatuh dan terseret akibat hells yang ia gunakan. Rasa perih di lutut membuat ia semakin lemas.


”Lepaskan aku! Lepas!” jerit Naya yang tidak dihiraukan.


Naya berusaha menggapai rok wanita barbar itu, karena posisi Naya membungkuk. Berkali-kali ia mencoba akhirnya berhasil. Dengan kuat Naya menarik dress wanita itu, hingga sang wanita terjatuh dengan posisi tengkurap, dan menimbulkan bunyi yang keras.


”Karina!” pekik Eden yang baru datang, ia langsung membantu Karina untuk berdiri. Di belakang Eden terlihat Jeremy di selimuti amarah.


”Apa yang kau lakukan?!” hardik Jeremy, mendorong bahu Naya.


”Apa yang terjadi?” tanya Eden, lebih tenang.


”Wanita ini mendorongku tanpa alasan. Hiks … hiks …” timpal Karina yang menangis sesenggukan.

__ADS_1


”Nggak! Ini salah paham. Dia yang menyerang ku duluan,” bela Naya.


”Bagaimana mungkin aku menyerang, sedangkan aku yang terjatuh,” sanggah Karina.


”Memang kamu yang menarik rambutku lalu menyeretku!” bentak Naya tidak terima kalau dirinya di fitnah.


”Cukup!!” Bentak Jeremy mengakhiri perdebatan mereka.


”Kenapa kamu ada disini Karin?” tanya Eden berhasil membuat Karina terperanjat.


”T—tadi … aku … melihat perempuan ini membawa lelaki masuk ke ruangan ini,” balas Karina menunduk, berharap semua orang mempercayai dan berpihak padanya.


”Kurang ajar!!” Naya bersiap menyerang Karina tetapi, Jeremy lebih dulu menahan gadis itu.


”Apa yang kau lakukan, Naya?!” hardik Jeremy.


”Aku tidak melakukan apapun! Dia berbohong!” lantang Naya.


”Kau tidak bisa menyangkal. Lihat saja penampilanmu yang berantakan!” balas Karina tidak kalah sengit.


Semua perhatian tertuju pada Naya. Gadis itu memang berbeda dari sebelumnya. Mulai dari baju yang robek di bagian lengan hingga bahu, serta rambut yang acak-acakan. Hells yang Naya gunakan juga sudah terlepas dari kaki.


”Apa kurang uang yang aku berikan padamu?!! Sampai kau menjajakan tubuhmu dan membuat keributan ditempat ini, hah!!” geram Jeremy.


”Kau gadis nakal Kanaya. Kau liar!! Sudah berapa pria yang kau layani selama ini?!” tambah Jeremy, mencekram pipi Naya dengan kuat.


Plak !


Tamparan keras mendarat di pipi Jeremy hingga tangan pria itu terlepas dari wajah Naya. Naya tidak bisa lagi menolerensi ucapan Jeremy. Pria kejam itu sudah sangat menyakiti hati Naya. Mungkin jika fisiknya yang disakiti, Naya masih bisa menahan.


”Kau tidak hanya buruk sifat. Tetapi, juga kelakuan, mulut, dan etikamu sangat buruk. Apa yang ada pada dirimu tidak ada yang baik Jeremy, bahkan untuk hal sekecil pun.” Tatapan Naya nyalang ke arah Jeremy.


”Sudah cukup! Aku yakin ini hanya salah paham.” Eden mencoba menenangkan suasana. Ia tidak tega melihat Naya yang diperlakukan kasar oleh sahabatnya sendiri.


”Lagian tidak ada bukti kuat jika Naya berbuat seperti itu. Dan tidak ada laki-laki lain di sini selain kita yang baru datang,” tambah Eden.


”Sayang … kamu gak percaya sama aku. Aku di sini korban demi menyelamatkan pencitraan kamu. Bagaimana kalau wanita ini sempat melakukan hal yang tidak-tidak di ruangan kamu.” Karina bergelayut manja dan merengek ke Eden.


Dari lubuk hati terdalam Eden ragu dengan ucapan kekasihnya. Ia tahu persis bagaimana sikap Karina yang judes, cemburuan, dan pemarah.

__ADS_1


”Aw … lepaskan aku!” rengek Naya saat lengannya ditarik paksa oleh Jeremy.


Jeremy mencengkram kuat lengan Naya, menyeretnya keluar secara paksa. Naya terus memberontak dan meracau membuat mereka menjadi pusat perhatian keramaian club malam.


__ADS_2