Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Dalam Kondisi Kritis


__ADS_3

"Maaf Tuan Gerald, Nona Dania tidak bisa tetap berada di rumah, kita harus segera membawa beliau ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut," ucap dokter Farhan.


Tentu saja hal itu membuat Gerald dan Naya begitu sangat khawatir. Naya juga terpaksa untuk membangunkan suster dan menitipkan Kania. Untungnya saat itu suster belum tidur sehingga dengan senang hati ia pun menjaga Kania, apalagi di saat darurat seperti ini.


Lalu Gerald, Naya dan juga Dokter Farhan segera saja membawa Dania menuju ke rumah sakit. Tak lupa pula Gerald mengabari kepada sang ayah tentang kondisi ibunya saat ini, sehingga David yang berencana akan pulang besok pagi pun segera saja meminta untuk dijemput menggunakan pesawat pribadi. Karena malam ini juga ia akan terbang dari Surabaya menuju ke Jakarta, hatinya begitu tidak tenang saat mendengar kabar bahwa istrinya tidak sadarkan diri dan berada di rumah sakit.


Saat di rumah sakit, Dania pun segera saja ditangani oleh dokter di ruang ICU karena keadaannya yang memprihatinkan. Bahkan dokter mengatakan bahwa saat ini Dania koma.


"Ini sebenarnya kenapa sih, kenapa Mama tiba-tiba bisa sampai seperti ini? Kenapa di saat kita baru merasakan bahagia, saat semua masalah kita telah selesai, bahkan kita berencana untuk jalan-jalan, masalah baru malah datang menghampiri. Aku benar-benar kasihan dengan kondisi Mama, kasihan Mama," ucap Naya yang terus menangis di dalam pelukan sang suami.


"Sayang, kamu tenang ya. Kalau kamu seperti ini, kamu sedih, aku juga semakin sedih. Apalagi aku Sayang, sebagai anaknya aku nggak tega melihat keadaan Mama seperti ini. Kita juga tidak ada yang tahu kenapa tiba-tiba Mama bisa sampai seperti ini. Dokter masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Semoga saja Mama baik-baik saja ya Sayang, kita terus berdoa untuk kesehatan Mama," ucap Gerald memeluk erat tubuh istrinya itu.


Tidak berapa lama kemudian, dokter pun mengatakan kepada Gerald bahwa Dania harus melakukan operasi malam ini juga karena ada penyumbatan pembuluh darah di otaknya, itulah yang menyebabkan Dania tiba-tiba pingsan dan sampai sekarang belum sadarkan diri. Tentu saja ini juga terjadi karena penyakit kanker otak yang telah dideritanya selama ini. Dokter Farhan meminta keluarga untuk menandatangani surat persetujuan operasi malam ini.


"Tapi Dokter, apa boleh saya menunggu Papa saya dulu? Karena saat ini Papa sedang melakukan perjalanan dari Surabaya, mungkin sebentar lagi Papa akan tiba," ucap Gerald.


"Iya, tapi jangan terlalu lama Tuan. Karena ini sangat menyangkut keselamatan Nyonya Dania," ucap dokter Farhan.


"Baik Dokter," jawab Gerald.


Untungnya tidak lama menunggu, hanya dalam waktu 10 menit David pun telah tiba dan langsung saja menghampiri anak serta menantunya itu.


"Bagaimana keadaan Mama kamu?" Tanya David.

__ADS_1


"Pa, sekarang juga Mama harus dioperasi. Tadi Dokter Farhan mengatakan meminta persetujuan keluarga dan aku katakan menunggu Papa dulu," ucap Gerald.


"Untuk apa lagi kamu menunggu Papa Gerald? Seharusnya kamu langsung saja setuju kalau memang ini untuk keselamatan Mama," ucap David.


"Bukan seperti itu Pa, karena tadi dokter Farhan juga mengatakan operasi ini tidak akan 100% menjamin kesehatan Mama, bisa juga operasi ini malah memperburuk keadaan Mama," ucap Gerald.


"Gerald, kita sendiri juga sudah tahu bagaimana keadaan Mama kan? Kenapa kamu masih harus menunggu Papa atau memikirkan ini itu. Yang penting kita sudah berusaha Gerald, jika memang kata Dokter operasi ini ada harapan untuk membantu penyembuhan Mama, ya sudah lebih baik langsung kita lakukan saja," ucap David.


Di saat itu Dokter Farhan pun datang menghampiri mereka dengan membawa selembar kertas persetujuan operasi, langsung saja David menandatangani surat tersebut. Setelah itu Dania pun langsung dibawa ke ruang operasi untuk segera melakukan operasi pada malam ini juga, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Bahkan Dokter Farhan sendirilah yang akan memimpin operasi tersebut.


Lama menunggu, meskipun Naya, Gerald dan David saat itu dalam keadaan sangat mengantuk, tetapi mereka sama sekali tidak dapat memejamkan mata karena begitu sangat khawatir menunggu operasi yang saat ini sedang dilakukan untuk Dania. Hingga pukul 06.00, mereka baru melihat lampu di ruang operasi yang baru saja Padam, menandakan operasi Dania telah selesai.


Krek …


Suara pintu terbuka. Dengan sangat antusias, segera saja David, Gerald dan Naya mendekati dokter yang saat itu keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan Mama Dokter?" Tanya Gerald dan Naya pula secara hampir bersamaan.


"Operasi memang telah selesai, tetapi saya minta maaf harus mengatakan kondisi buruknya, bahwa saat ini Nyonya Dania masih dalam kondisi kritis dan belum sadarkan diri. Jadi setelah dari ruang operasi, Nyonya Dania akan langsung dipindahkan ke ruang ICU untuk perawatan lebih lanjut. Kita berdoa saja semoga ada keajaiban sehingga Nyonya Dania akan segera sadar dan kondisinya membaik. Yang pasti kita smua di sini sudah melakukan hal yang terbaik, tidak hanya diam saja," ucap dokter Farhan.


Entah apa yang harus dikatakan oleh David, anak serta menantunya saat ini. Mereka bertiga langsung saja menangis, merasakan kesedihan yang amat mendalam karena kondisi Dania saat ini benar-benar membuat orang-orang yang mencintainya itu begitu lemah dan rapuh.


***

__ADS_1


Keesokan hari, Putri yang baru saja mendengar kabar dari Naya bahwa ibu mertuanya masuk rumah sakit, ia pun segera memberitahu kepada ibunya. Meskipun Vera tidak terlalu mengenal dekat dengan Dania Karena rumah mereka dulunya berbeda gang sama seperti saat ini, tetapi berbeda halnya dengan Firman yang cukup mengenal David karena mereka dulunya pernah bekerja sama dalam sebuah proyek saat di Jogja. Setelah mendengar kabar itu dari Putri, Vera bermaksud akan ikut Putri saat anaknya itu mengatakan ingin menjenguk Dania. Akan tetapi saat ini Firman tidak bisa karena ia ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan di kantor.


Segera saja Putri bersama ibunya itu pergi menuju ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, mereka pun langsung saja menuju ke ruang ICU. Karena Naya sendiri yang mengatakan kepada Putri jika saat ini dia dan keluarganya sedang berada di depan ruangan itu.


"Naya, bagaimana keadaan Tante Dania?" Tanya Putri.


"Mama masih kritis Put," jawab Naya yang begitu tampak pucat. Bukan saja karena sehabis menangis, tetapi karena memang semalaman ia belum ada tidur, apalagi makan. Mereka bertiga tampak tidak berselera sama sekali.


"Naya, Kak Gerald, Om, aku turut prihatin ya terhadap kondisi Tante Dania. Oh iya ini Mama aku," ucap Putri memperkenalkan ibunya.


Lalu Vera pun menjulurkan tangan berjabat tangan dengan David Gerald dan juga Naya.


"Terimakasih ya Tante sudah datang ke sini," ucap Gerald.


"Iya sama-sama. Tante turut prihatin ya dengan kondisi Mama kamu," ucap Vera.


"Jadi ini Eral, teman masa kecil yang sangat dicintai oleh Putri. Pantas saja jika saat ini Putri semakin mencintainya, ya wajar saja lah karena pria ini sangat tampan," batin Vera.


"Terimakasih ya Tante," Ucap Naya pula.


"Iya sama-sama Naya," ucap Vera yang baru-baru ini sudah mengenal sahabat anaknya itu.

__ADS_1


Tetapi sepertinya David sama sekali tidak mengenali Vera adalah istri dari rekan bisnisnya dulu, bahkan mereka adalah tetangga saat di Jogja.


...Bersambung …...


__ADS_2