
"Alhamdulillah, untungnya hanya satu hari saja di rumah sakit kamu sudah diperbolehkan pulang sama dokter. Lebih nyaman di rumah, jadi Mama bisa merawat dan selalu menjaga kamu serta cucu Mama," kata Dania.
"Iya Ma, tapi kan Mama juga lagi kurang sehat, jadi tidak apa-apa kok biar Naya yang urus diri Naya sendiri dan juga anak Naya Ma," kata Naya.
"Mama baik-baik saja Sayang. Selama Mama sakit, siapa yang merawat Mama? Kamu kan, jadi tidak ada salahnya dong kalau Mama mau gantian merawat kamu. Lagipula kamu itu baru selesai melahirkan, mana bisa ibu yang baru selesai melahirkan langsung bisa mengurus anaknya, mengurus diri sendiri saja susah," kata Dania.
"Tapi aku tidak mau manja-manja Ma, aku yakin kok kalau aku bisa sendiri," ucap Naya.
"Iya, iya, Mama percaya kok sama kamu. Lagipula kan ada Gerald. Sebagai suami dia harus menjaga kamu, dia harus menjadi suami yang siaga," ucap Dania.
Saat itu Gerald baru saja masuk ke dalam ruangan Naya setelah selesai mengurus segala administrasi.
"Ma lagi ngomongin apa? Sepertinya aku mendengar nama aku disebut deh," tanya Gerald.
"Ya Mama hanya bilang kepada Naya, kalau pulang ke rumah akan merasa lebih bebas, Mama bisa mengurusnya dan anak kalian. Tapi kata Naya, Mama sendiri kondisinya sedang tidak sehat, jadi dia bisa mengurus dirinya sendiri juga bayinya. Tetapi namanya ibu yang baru melahirkan itu tidak akan bisa mengurus dirinya sendiri apalagi bayi, tidak akan kuat tanpa bantuan suami. Jadi kamu sebagai suaminya harus siaga 24 jam, kamu harus mengurus serta menjaga istri dan anak kamu. Karena Naya masih dalam masa pemulihan. Kamu mengerti kan?" ucap Dania.
"Oh … begitu, Mama tenang saja Ma, aku mengerti kok. Lagipula di saat aku kerja nanti, akan ada yang membantu Naya, aku sudah menelpon pusat Baby Sister rekomendasi dari rumah sakit ini, aku menyewa satu Baby Sister untuk membantu Naya," kata Gerald.
"Oh ya? Kamu cepat juga ternyata ya geraknya," kata Dania.
"Iya dong Ma, aku tidak mau istri dan Mama aku kecapean.
__ADS_1
Naya terdiam, ia tak mampu untuk mengucap kata apapun karena hatinya bimbang. Seharusnya ia merasa senang, tetapi ia juga tak bisa 100% mempercayai ucapan Gerald. Dalam pikirannya mungkin saja saat ini Gerald hanya sedang bersandiwara di depan ibunya.
"Sayang, kamu kenapa melamun?" Tanya Dania saat melihat menantunya itu terdiam.
"Oh tidak kenapa-napa kok Ma," jawab Naya, tak mungkin berbicara kepada mertuanya itu tentang apa yang sedang ia pikirkan.
"Ya sudah. Gerald sudah selesai kan semuanya?" Tanya Dania.
"Sudah Ma," jawab Gerald.
"Oke, kalau begitu sekarang kita pulang ya," ajak Dania.
Lalu Dania pun memimpin Naya yang juga menggendong bayinya, berjalan keluar dari rumah sakit dan menuju ke parkiran mobil. Sedangkan Gerald membawa barang milik Naya.
Sebenarnya bukan karena Naya tidak merasa senang, justru sebagai seorang istri itulah yang diharapkannya setelah melahirkan. Tetapi Naya hanya tidak bisa mempercayainya begitu saja dan menganggap semuanya hanya sandiwara seperti yang biasa dilakukan Gerald.
Sedangkan Dania saat ini merasa begitu bahagia, setelah mendapatkan seorang cucu, ia juga melihat perubahan sikap Gerald yang berbeda jauh dari sebelumnya. Sebagai seorang ibu, Dania dapat melihat jika anaknya benar-benar tulus perhatian terhadap istrinya yang baru saja melahirkan. Ia berharap dengan kehadiran sang anak akan membuat hubungan keduanya membaik, bukan berpisah seperti kata-kata yang telah diucapkan jauh sebelum anak mereka lahir.
***
Setibanya di rumah, para pembantu yang telah dipekerjakan lagi setelah Dania dan David pulang ke Indonesia, langsung saja berbondong-bondong membantu membawakan barang milik Naya. Gerald segera saja memapah sang istri untuk masuk ke dalam rumah dan membawanya ke kamar, sedangkan Dania menggendong sang bayi mengikuti Gerald dan Naya. Tidak ada kamar bayi, karena Naya dan Gerald tidak tahu bagaimana nasib pernikahan mereka setelah anaknya lahir, yang ada hanya tempat tidur bayi yang diletakkan di samping tempat tidur orang tuanya. Setelah meletakkan sang bayi yang saat itu sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya, ia pun keluar dari kamar anaknya karena tidak ingin mengganggu mereka. Dania sendiri sudah sangat gerah, ingin segera membersihkan diri dan juga beristirahat.
__ADS_1
"Mama sudah tidak ada, jadi kamu tidak perlu lagi bersandiwara Gerald," kata Naya.
"Nay apakah yang kamu lihat aku ini sedang bersandiwara?" Tanya Gerald.
"Lantas apalagi Gerald?" Bukankah selama ini kamu sendiri yang bilang kalau kamu tak pernah peduli denganku, apa yang kamu lakukan hanyalah sandiwara," kata Naya mengingatkan Gerald dengan ucapannya sendiri.
Gerald menghirup nafas panjang lalau menghembuskannya perlahan.
"Nay, apa yang aku lakukan ini tulus. Aku benar-benar peduli dengan kamu Naya," ungkap Gerald.
"Naya memutar bola matanya malas sembari tersenyum sinis lalu menatap pria yang ada di depannya itu.
"Kenapa tiba-tiba kamu peduli padaku Gerald? Oh ya sekalian aku mau bertanya, bukankah kamu tidak percaya kalau anak ini adalah anakmu dan bukankah kamu ingin segera melakukan tes DNA? Tapi kenapa tadi kamu mencegahnya, kenapa kita tidak melakukan tes DNA-nya langsung?" Tanya Naya yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Nay, sepertinya saat ini malah kamu yan ingin melakukan tes DNA kepada anak kita. Apa karena kamu benar-benar ingin berpisah denganku?" Tanya Gerald.
"Ck, kenapa kamu malah berbicara seperti itu Gerald, bukankah itu semua keinginanmu? Kenapa kamu malah membalikkan faktanya. Kau yang menginginkan kita berpisah kalau anak ini memang terbukti bukan anakmu, tapi bagaimana jika anak itu memang anakmu hah? Sepertinya kamu yang takut sekarang," hardik Naya.
"Nay aku minta maaf. Lebih baik tes DNA itu tidak perlu kita lakukan, aku akan menerima anak ini Nay meskipun dia anak kandungku atau bukan," ucap Gerald.
Bukannya senang, Naya malah menjadi semakin murka mendengar ucapan tersebut. Yang Naya harapkan adalah Gerald mengatakan jika dia percaya bahwa anak yang sudah ia lahirkan adalah anak kandungnya bukan ucapan yang barusan keluar dari mulut Gerald. Entahlah, rasanya begitu sangat sensitif sehingga Naya pun enggan meneladani Gerald, ia lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menghadap ke arah lain.
__ADS_1
...Bersambung......