Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Merasa Bahagia


__ADS_3

Gerald dan Naya masih sangat kebingungan. Sedangkan Dokter yang merasa sangat bersalah itu mencoba menjelaskan secara detail kepada mereka.


"Tuan, Nona, jadi sebenarnya Tuan Gerald tidak terkena penyakit kanker otak," ungkap Dokter Bram.


"Apa?" Ucap Naya dan Gerald secara bersamaan seraya membelalakkan mata mereka.


"Maafkan saya Tuan, Nona, ini kesalahan Suster yang saat itu salah memberikan hasil pemeriksaan, hasil itu tertukar dengan milik orang lain. Tetapi Suster yang ceroboh itu sudah kami pecat dari rumah sakit ini. Kami benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya Tuan," ucap Dokter Bram dengan tulus.


"Lalu bagaimana dengan obat-obatan yang sudah dikonsumsi oleh Gerald?" Naya seolah mengerti dengan kebimbangan yang saat ini dirasakan oleh suaminya itu.


"Kalau soal itu, saya sudah memeriksa jika obat-obatan yang Tuan Gerald konsumsi itu sama sekali tidak ada masalah, kemungkinan hanya Tuan Gerald nantinya akan sering merasakan pusing tetapi tidak dalam jangka waktu panjang. Seandainya waktu itu Tuan mau mengikuti saran kami untuk kontrol, pasti ini semua akan cepat ketahuan. Saya benar-benar minta maaf Tuan, Nona," ucap Dokter yang perkataannya itu malah membuat Gerald murka.


"Sudah jelas ini semua karena kesalahan rumah sakit, tetapi kenapa kau menyalahkanku. Apa maksudmu berbicara seperti itu?" Ucap Gerald yang merasa tersinggung.


Tentu saja ia sangat marah karena ia yakin betul jika dirinya sama sekali tidak mempunyai penyakit seperti itu malah divonis oleh dokter bahwa ia mempunyai penyakit yang mematikan, dan sekarang menurutnya dokter malah menyalahkannya.


"Gerald, sudah. Yang sabar dong, bukan itu maksud Dokter Baram. Lagipula harusnya kau senang karena ternyata kau tidak sakit," kata Naya seraya mengusap lembut pundak sang suami mencoba meredakan emosinya.


Gerald menatap Naya dan dan tersenyum, "Iya kau benar, ternyata aku tidak sakit Naya."

__ADS_1


Lalu Gerald memeluk Naya hingga Naya terkejut sekaligus merasa senang, untuk pertama kalinya Gerald memeluknya seperti ini. Rasanya sangat hangat dan nyaman sehingga Naya pun membalas pelukan suaminya itu dengan erat. Entah saat ini Gerald dalam keadaan sadar atau tidak yang jelas Naya ingin selalu berada di dalam pelukan Gerald seperti ini.


Berapa menit kemudian Gerald mengurai pelukannya dan kembali menatap dokter.


"Dokter, kali ini saya memaafkan kesalahan Dokter. Apalagi Dokter mengatakan jika Suster yang melakukan kesalahan itu sudah dipecat. Tapi saya minta jangan sampai kejadian ini terulang lagi, bagaimana kalau saat itu saya langsung melakukan kemo atau yang sejenisnya, apa Dokter bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diri saya?" Kata Gerald.


"Iya Dokter, seharusnya rumah sakit ini harus lebih teliti lagi. Dan kalau saya boleh tahu jadi apa penyakit yang diderita oleh suami saya sebenarnya?" Tanya Naya.


"Oh iya soal itu, jadi Tuan Gerald hanya terkena penyakit anemia yaitu kekurangan darah karena Tuan Gerald kelelahan bekerja dan kurang istirahat. Saya akan meresepkan vitamin untuk Tuan Gerald mengkonsumsinya. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf. Saya berjanji kesalahan ini tidak akan pernah terjadi lagi, jika terjadi maka saya sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya dengan keluar dari rumah sakit ini," Ucap Dokter Bram dengan sangat serius.


"Ya sudah Dokter, terimakasih banyak ya. Kalau begitu kami permisi dulu," pamit Naya, lalu ia dan Gerald pun segera saja pergi meninggalkan rumah sakit.


Gerald yang tadinya terlihat sangat murka, kali ini terlihat senyum-senyum sendiri saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Tentu saja aku bahagia, ternyata aku tidak sakit. Kan aku sudah bilang padamu kalau aku itu baik-baik saja Naya, mana mungkin aku bisa terkena penyakit mematikan seperti itu," kata Gerald dengan angkuh.


"Ya, ya, syukurlah. Tapi kau juga tidak perlu terlalu sombong seperti itu Gerald. Seharusnya kau bersyukur karena ternyata kau tidak sakit dan itu artinya kau masih diberi kesempatan untuk melakukan hal yang baik," hardik Naya.


"Apa maksud perkataanmu itu hah?" Tanya Gerald yang mendadak mood-nya berubah lagi.

__ADS_1


"Sudahlah Gerald, aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu. Tubuhku begitu sangat lelah rasanya, kalau boleh aku ingin beristirahat dengan tidur di dalam mobil ini sebentar, nanti kalau sudah sampai rumah kau boleh membangunkanku," kata Naya.


Belum sempat Gerald menjawabnya, Naya sudah terlebih dahulu memejamkan matanya itu dan terlalap.


"Dasar wanita bodoh," gumam Nathan sembari tersenyum menatap Naya, ia begitu merasa bahagia, hatinya merasa menghangat saat melihat wajah polos Naya yang saat itu tertidur.


"Kalau sedang tidur seperti ini kau terlihat cantik dari pada harus marah-marah," gumam Gerald tak sadar jika dirinyalah yang sebenarnya suka bersikap arogan.


***


Tidak berapa lama kemudian, mereka pun telah tiba di rumah. Gerald yang melihat Naya saat itu masih tertidur dengan sangat pulas tidak tega untuk membangunkannya. Dengan sangat pelan, ia membuka pintu mobil dan menggendong Naya masuk ke dalam kamarnya. Gerald meletakkan tubuh sang istri dengan sangat pelan di atas kasur. Naya sama sekali tak terusik, mungkin karena tubuhnya yang begitu sangat lelah karena akhir-akhir ini ia selalu sibuk mengurus Gerald, tugas kampus dan juga tugas rumah yang selalu dikerjakannya dengan sangat telaten. Gerald juga membantu membuka flat shoes yang menempel pada kaki Naya, lalu menyibakkan selimut untuk menutupi tubuh mungil istrinya itu.


Akan tetapi di saat Gerald akan pergi meninggalkannya, tiba-tiba saja sebuah tangan mungil menggenggam tangannya seolah memintanya untuk tetap berada di sini.


"Naya, kau tidur saja. Aku akan kembali ke kamarku," kata Gerald.


Naya semakin menarik tangan gerald hingga tubuhnya yang saat itu tidak seimbang pun terjatuh tepat di atas tubuh Naya dengan bibir mereka yang saling menempel. Gerald merasakan jantungnya saat itu berdetak lebih cepat, Naya yang merasakan tubuhnya ditindih dengan cepat membuka matanya dan sangat terkejut melihat pria gagah yang ada di atasnya dengan bibir mereka yang saling beradu.


Tetapi mendadak Naya tersenyum dengan kejadian ini, karena menurutnya saat ini Gerald tertangkap basah hendak menciumnya tanpa tahu bahwa sebenarnya ialah yang menyebabkan hal ini terjadi.

__ADS_1


Saat Gerald hendak mengangkat tubuhnya, dengan cepat Naya pun menarik tengkuk Gerald lalu melu*** bibir suaminya itu dengan sangat agresif. Naya tidak peduli jika Gerald akan marah kepadanya, yang jelas ia ingin melakukan hal yang sebenarnya sudah lama sangat ia inginkan. Gerald cukup terkejut dengan perlakuan Naya, akan tetapi karena Naya terus saja melakukannya dengan lembut akhirnya Gerald pun membalas melu*** bibir sang istri yang tak kalah agresif sambil sesekali ia menggigit bibir Naya hingga lidahnya bebas masuk menjelajahi rongga mulut istrinya sambil sesekali mereka bertukar saliva. Ciuman itu semakin lama semakin membara, saat ini rasanya mereka berdua sedang diselimuti gairah yang menggebu hingga tanpa sadar kini keduanya pun telah polos dan melanjutkan berhubungan suami istri yang seharusnya memang sudah mereka lakukan di malam pertama. Hingga pasangan suami istri itu sama-sama mencapai puncak kenikmatan dan merasa kelelahan, mereka pun tidur berpelukan dalam keadaan polos hanya ditutupi satu selimut berdua.


...Bersambung......


__ADS_2