Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Tetap Bertahan


__ADS_3

Tentu saja David, Gerald, dan Naya di saat itu sangat syok mendengar apa yang baru saja Dania ucapkan. Terlihat tidak main-main, ia sangat serius dengan ucapannya itu.


"Ma, Mama ini bicara apa? Kamu jangan seperti itu Sayang, masa iya kamu menginginkan perpisahan di antara mereka. Seharusnya kita sebagai orang tua memikirkan cara bagaimana agar mereka berdua bisa berbaikan, bisa menjalin rumah tangga yang harmonis seperti kita," ucap David yang mencoba menasehati sang istri.


Ia sendiri tidak percaya jika kata-kata tersebut bisa dilontarkan oleh istrinya yang begitu sangat menyayangi Naya. Jika Dania menginginkan perpisahan di antara Naya dan Gerald, itu artinya dia akan kehilangan Naya menantu kesayangannya itu. Dari sini David dapat menyimpulkan jika istrinya itu benar-benar sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa sehingga memilih jalan yang sangat tidak baik.


"Ma, apa Mama benar-benar serius ingin aku berpisah dengan Naya? Mama yang ingin kita menikah dan sekarang Mama juga yang ingin kita berpisah?" Tanya Gerald.


Sedangkan Naya hanya diam saja, ia tidak tahu harus berkata apa. Tetapi di dalam lubuk hatinya ia ingin sekali memberontak, karena bagaimanapun juga ia telah mencintai Gerald dan ingin mempertahankan rumah tangganya. Ia yakin suatu saat nanti akan ada kebahagiaan untuknya. Tapi apakah kini ia benar-benar harus berpisah dengan Gerald sesuai permintaan ibu mertuanya itu?


"Justru itu, karena Mama yang telah mempersatukan kalian jadi menurut Mama, Mama juga yang harus mengakhirinya. Jika dari awal Mama tahu semuanya akan menjadi seperti ini, Mama tidak akan pernah menjodohkan kalian berdua. Mama tidak mau selamanya menanggung dosa. Apa kalian berdua masih tetap mau mempertahankan rumah tangga kalian yang sama sekali tidak ada artinya? Apa kamu mau terus-menerus di perlakukan tidak baik oleh anak Mama Naya? Mama ikhlas jika kamu berpisah dengan Gerald, asalkan hidup kamu bahagia, tidak menderita seperti ini," kata Dania.


Naya menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat tangan Dania seraya berkata, "Enggak Ma, aku nggak mau pisah dengan Gerald. Setidaknya dengan aku berada di sini, aku merasa bahagia karena ada Mama, ada Papa yang menyayangiku. Aku tidak peduli dengan sikap Gerald yang arogan Ma, sekarang yang aku inginkan hanyalah melahirkan bayi ini dengan selamat, dengan keluarga lengkap. Ini juga permintaan Gerald Ma, dia ingin setelah anak ini lahir melakukan tes DNA, jika terbukti ini adalah anaknya Gerald berjanji tidak akan memperlakukan Naya dengan buruk lagi, Gerald akan menerima Naya," ucapnya meyakinkan sang mertua.


"Apa kamu yakin Sayang? Mama saja tidak yakin dengan Gerald," cibir Dania.


"Ma, kalau Mama memang menginginkan perpisahan ini, oke. Tapi semua itu terserah pada Naya, kalau Naya masih ingin mempertahankan rumah tangga ini, Gerald juga akan mengikutinya Ma," kata Gerald yang tak ingin mengucapkan kata cerai.


Karena yang Gerald tahu, jika sudah mengucapkan kata itu sama saja ia sudah menalak satu istrinya itu. Meskipun Gerald selama ini tidak menganggap pernikahannya itu ada, tetapi sedikit-sedikit ia mengetahui tentang rumah tangga, padahal sikapnya saja sama sekali tidak mencerminkan bahwa ia adalah seorang suami.

__ADS_1


"Ma sudah ya Ma, biarlah urusan rumah tangga anak-anak kita mereka sendiri yang menyelesaikannya. Kita sebagai orang tua harusnya mendukung mereka, kita harus mengawasi Gerald terus sampai Naya nanti melahirkan anaknya," kata David.


***


Demi kesembuhan mamanya, kini Gerald dan Naya pun mencoba untuk berdamai, memperbaiki hubungan mereka berdua. Meskipun masih sangat sulit untuk Gerald menerima jika Naya sedang mengandung anaknya, akan tetapi Naya sama sekali tak peduli. Saat ini ia akan tetap bertahan demi ibu mertua dan juga anaknya, ia tidak mau jika anaknya nanti akan lahir tanpa seorang ayah.


Seiring berjalannya waktu, Gerald dan Naya tampak lebih akur dari biasanya. Naya yang sudah sangat malas untuk berdebat dengan Gerald pun memilih untuk diam jika saat itu Gerald memarahinya, sehingga Gerald capek sendiri dan tidak berani untuk mengganggu wanita itu.


Tidak terasa sebulan pun telah berlalu, Gerald yang mencoba membuka hatinya untuk Naya, selalu bersikap baik terhadapnya. Tak jarang ia selalu menanyakan istrinya itu ingin makan apa, mengidam apa seperti wanita hamil pada umumnya. Tetapi berkebalikan dengan Naya, ia malah semakin acuh tak acuh terhadap Gerald, malah terlihat jika rasa cintanya terhadap Gerald telah berangsur hilang. Entah kenapa itu semua membuat Gerald menjadi merasa tak rela, ia merasa ada yang hilang dalam diri Naya. Naya yang biasanya selalu membantahnya, kini hanya terlihat diam. Dia hanya terlihat senang saat berbicara dengan kedua orang tuanya.


Saat ini, Gerald sudah merenungi semua kesalahannya. Ia mulai memikirkan mungkin sikapnya selama ini memang sudah sangat keterlaluan. Terlebih lagi saat itu ia masih berhubungan dengan sang kekasih, sama sekali tak menghargai pernikahan mereka, padahal Naya dari awal sudah ikhlas untuk menerimanya dan menjalani rumah tangga bersamanya.


"Kau yakin mau membawaku ke acara kantor?" Tanya Naya balik.


"Ya aku yakin, kau kan istriku. Lalu siapa lagi yang mau aku ajak pergi kalau bukan istriku sendiri," jawab Gerald.


"Kenapa tidak kekasihmu saja yang kau bawa?" Sindir Naya.


Sebenarnya saat ini Gerald ingin sekali marah karena Naya menyindirnya seperti itu. Tetapi ia teringat jika ia ingin memperbaiki semuanya demi kesehatan ibunya. Ia pun mencoba bersabar untuk menghadapi sikap Naya saat ini, mungkin saja karena bawaan sang bayi yang membuat Naya yang tadinya merupakan wanita sabar menjadi seperti itu.

__ADS_1


"Nay, kau tahu kan kalau Bella itu selingkuh dan aku tidak ada hubungan apapun lagi dengannya," kata Gerald.


"Tapi aku tahu Gerald di belakangku kau masih sering bertemu dengannya," kata Naya tak ingin menutupi apapun lagi.


"Ya kau benar tapi hanya sebagai teman. Aku juga tahu kalau Denis sering menemuimu kan di kampus?" Gerald menyerang pertanyaan balik.


"Ya benar, karena aku satu kampus dengannya," jawab Naya apa adanya.


"Tapi kalian tidak seangkatan kan, kenapa kalian harus selalu bersama?" Ujar Gerald.


"Kau sedang menuduhku mempunyai hubungan dengannya atau kau merasa cemburu?" Tanya Naya to the point.


Gerald tidak menjawab, ia sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Entah karena memang cemburu atau karena ia hanya ingin mencari kesalahan Naya saja.


"Sudahlah Naya, kenapa kita jadi membahas masalah yang tidak penting? Sekarang kau mau atau tidak menemaniku, kalau tidak ya sudah aku juga tidak akan pergi. Karena seluruh klienku akan membawa pasangannya masing-masing," kata Gerald.


"Ya aku mau," jawab Naya yang membuat Gerald begitu senang mendengarnya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2