
Seminggu telah berlalu, sudah tiba saatnya kedua orang tua Gerald pergi ke luar Negeri sesuai keputusan yang telah mereka sepakati yaitu untuk pengobatan Dania.
Kini tinggal lah Gerald dan Naya yang hanya tinggal berdua saja di rumah. Gerald hanya mempekerjakan satpam yang menjaga keamanan rumahnya dan tidak menginap, sedangkan para ART sudah ia pecat dengan pesangon yang lumayan tinggi. Karena menurutnya, tinggal berdua tidak memerlukan pembantu, apalagi Naya juga bisa dan tak keberatan jika harus melakukan pekerjaan rumah sendiri. Berbeda halnya dengan tukang kebun, dia akan datang seminggu sekali untuk merawat kebun bunga milik Dania, sedangkan Naya hanya bertugas untuk menyiraminya saja setiap hari.
"Mama dan Papa sudah tidak ada di rumah, sebaiknya kau pindah kamar sekarang," usir Gerald.
"Baiklah, menurutku itu juga lebih baik daripada aku harus satu kamar denganmu, tapi kita juga tidak pernah tidur bersama," kata Naya.
Gerald melirik dan tersenyum sinis mendekati wajah Naya, "Sepertinya kau sangat ingin sekali tidur bersamaku."
"Apa yang kau pikirkan, sama sekali tidak," bantah Naya dan segera menjauh. Ia mendadak menjadi salah tingkah, entah kenapa jantungnya itu terasa tidak karuan saat Gerald mendekatinya.
"Oh ya? Baguslah kalau memang kau mengerti keadaannya. Kau tahu bahwa aku sama sekali tidak mencintaimu dan tidak akan pernah. Jadi lebih baik pindahkan barang-barang mu segera dari kamarku! Aku sudah sangat muak melihatnya," kata Gerald.
Tanpa menggubris ucapan Gerald, Naya pun segera saja membereskan barang-barangnya dan memindahkannya ke kamar sebelah. Naya begitu sangat menderita, rasanya sudah tidak ada gunanya lagi pernikahan ini ia pertahankan, tetapi ia ingat janjinya kepada orang tua Gerald bahwa mereka akan selalu bersama dan harus segera memberikan cucu untuk mereka. Lalu bagaimana mungkin mereka akan memiliki anak sementara Gerald sama sekali tidak mau menyentuhnya, apa sejijik itu Gerald terhadapnya? Perasaan itu hanya ia pendam di dalam hatinya.
"Aku sudah membereskannya, sekarang juga aku akan pindah dari kamar ini," kata Naya lalu segera keluar dari kamar Gerald dengan membawa semua barang-barangnya.
Setelah merapikan barang-barang itu di kamarnya, Naya pun segera mandi dan bersiap-siap. Karena hari ia akan pergi ke kampus.
Gerald yang melihat Naya sudah rapi itu pun merasa keheranan. Naya memang sudah lama tidak pernah pergi ke kampus, karena masalah biaya waktu itu, ia memutuskan untuk cuti kuliah. Tetapi pada akhirnya ia berhasil mengumpulkan uang hasil dari bekerja dan akan kembali melanjutkan kuliahnya. Walaupun sudah dari lama Naya ingin melanjutkan kuliahnya, tetapi ia terpaksa membatalkannya karena mendadak ibu tiri yang menyuruhnya untuk menikah, ditambah lagi ia tinggal di rumah sang mertua dan menjaga mertuanya itu.
Menurut Naya, sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk ia melanjutkan kuliahnya kembali. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke kampus mengurus kuliahnya lagi.
"Kau mau kemana?" Tanya Gerald.
"Bukan urusanmu," jawab Naya ketus yang membuat Gerald menjadi murka.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu kepadaku? Kau sama sekali tidak ada sopan santunnya terhadapku!" Bentak Gerald.
__ADS_1
"Untuk apa aku harus sopan terhadapmu?" bantah Naya.
"Aku suamimu! Setidaknya kau harus menghormati aku sebagai suamimu," kata Gerald.
"Hah suami?" Naya bergidik mendengar ucapan tersebut.
Gerald sendiri tak menyadari kenapa ia bisa melontarkan kalimat yang terdengar begitu sangat sakral.
"Suami seperti apa dulu yang harus aku hormati. Apa kau tidak sadar dengan apa yang sudah kau lakukan terhadapku. Seharusnya kau sadar Gerald. Sudahlah, urus saja urusanmu sendiri dan aku akan mengurusi urusanku sendiri," kata Naya dengan tegas lalu ia pun segera saja melangkahkan kaki keluar dari rumah.
Seperti itulah yang terjadi di antara rumah tangga mereka setiap harinya, tiada hari tanpa pertengkaran. Walaupun sebenarnya Naya sudah berusaha sabar menghadapi Gerald, tetap saja Gerald selalu mencari gara-gara yang membuat emosinya meledak. Meskipun Naya selama ini sudah mencoba sabar, tetapi dia hanyalah manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran.
***
Naya pun telah tiba di kampusnya, ia segera mengurus semua urusannya itu dan besok Naya sudah bisa lagi kembali untuk melanjutkan kuliahnya. Meskipun harus bergabung dengan para Junior, sedangkan teman-teman kuliahnya dulu sudah menjadi seniornya.
"Naya!" Panggil Denis, pria tampan yang dulunya menjadi teman sekelas Naya dan sekarang telah menjadi seniornya.
"Denis, ada apa?" Tanya Naya.
"Naya, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Kamu kemana saja sih? Ponsel kamu juga tirak aktif, terus kamu juga menghilang dari kampus. Aku bingung mencari kamu selama setahun ini," ucap Denis.
"Oh ya? Untuk apa kamu mencariku?" Tanya Naya.
"Ya aku bingung saja tiba-tiba kamu menghilang. Aku tanya sama Siska sahabat kamu dia juga tidak mengetahui dimana keberadaanmu," kata Denis.
"Siska … ?" Mendadak wajah Naya berubah menjadi cemberut, mengingat Siska sahabatnya itu yang telah mengambil gebetannya dengan modus ingin membantunya jadian, tapi malah dia yang menyatakan cintanya kepada pria tersebut.
"Soal itu maaf ya Den, HP aku hilang jadi aku ganti HP dan nomornya. Terus aku juga cuti kuliah, aku fokus kerja dulu cari uang untuk melanjutkan kuliah. Dan sekarang aku sudah kembali lagi ke kampus, tapi kita tidak satu angkatan lagi deh," kata Naya.
__ADS_1
"Oh … begitu, ya tidak apa-apa dong Nay, yang penting aku senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Denis senang.
"Syukurlah kalau kamu senang," ucap Naya.
"Oh ya Nay, apa boleh aku minta nomor HP kamu?" Tanya Denis.
"Boleh kok Den," jawab Naya lalu memberikan nomor ponselnya kepada Denis.
"Makasih ya Nay, kalau begitu aku mau ke sana dulu ya, aku ada kelas. Kamu kapan mulai aktif lagi?" Tanya Denis.
"Besok," jawab Naya.
"Ya udah kalau begitu sampai ketemu besok ya Nay, bye … ," ucap Denis.
"Bye … ," Balas Naya.
Lalu Denis segera saja menuju ke kelasnya, sedangkan Naya pergi meninggalkan kampus.
***
Tepat jam 07.00 malam, Naya baru saja tiba di rumah setelah seharian berjalan-jalan sendirian tak tentu arah. Ia hanya ingin menghibur dirinya yang selama ini terasa sangat membosankan. Saat Naya hendak menuju ke kamarnya, tidak sengaja ia mendengarkan suara-suara aneh yang berasal dari kamar Gerald. Naya yang penasaran itu pun menempelkan telinganya ke pintu kamar Gerald, ia semakin penasaran karena suara itu semakin terdengar.
"Akh … lebih cepat Sayang, aku sudah hampir sampai."
Suara itu cukup terdengar jelas di telinga yang membuat Naya bergidik. Ia pun segera saja membuka pintu kamar Gerald yang ternyata tidak dikunci.
"Hah?"
Betapa terkejutnya Naya melihat dua sejoli yang saat itu sedang melepaskan hasrat tanpa mengenakan sehelai benangpun. Ya meskipun mereka tidak bercocok tanam, tetapi tangan keduanya sama-sama memegang kepunyaan milik lawan jenisnya itu. Sungguh pandangan yang menjijikkan bagi Naya, dengan rasa kesal Naya pun menutup pintu itu kembali dengan membantingnya. Ia bergegas menuju ke kamar dan mengunci pintunya.
__ADS_1
...Bersambung......