
Mendengar suara teriakan dari mulut Gerald yang sangat menakutkan, Bella pun memilih untuk pergi meninggalkan perusahaannya itu. sudah sudah nak besok lagi besok Memang saat ini ia belum mempunyai bukti apapun untuk diberikan kepada Gerald agar percaya bahwa istrinya itu telah berkhianat. Akan tetapi Bella juga puas karena hasutannya itu Gerald terlihat sangat murka, ia yakin jika di rumah nanti Gerald pasti akan memarahi istrinya itu atau bahkan menyakitinya.
"Apa mungkin Naya melakukan hal seperti itu? Tapi jika memang itu terbukti, aku pasti akan menghukummu Naya. Lihat saja, kau tidak bisa bermain-main denganku," Gumam Nathan dengan tatapan murka.
Setelah dirasa pekerjaan di kantor sudah selesai, Gerald pun segera saja pulang ke rumah karena sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Naya. Tetapi saat tiba di rumah, ia tidak menemui dimana keberadaan Naya meski ia sudah mencari keseluruh penjuru rumah. Gerald hanya melihat di atas meja sudah tertata makanan lezat favoritnya.
Tiba-tiba ia mendengar suara pintu rumah yang baru saja terbuka. Gerald pun segera saja melangkahkan kakinya menuju ke ruang depan dan ia melihat sosok Naya yang saat itu baru saja masuk dengan membawa bentengan di tangannya.
"Dari mana saja kau?" Tanya Gerald yang sedikit membentak.
"Aku baru saja pulang dari swalayan dekat sini. Ada barang yang lupa aku beli tadi," jawab Naya.
"Jadi benar tadi pagi kau pergi ke supermarket tapi ada barang yang lupa kau beli gitu?" Tanya Gerald.
Naya mengernyitkan keningnya, bagaimana bisa Gerald mengetahui hal itu padahal ia sama sekali tidak mengatakannya. Tapi bukankah ia sudah biasa berbelanja sendiri dan Gerald tidak pernah mempermasalahkannya?
"Ya kau benar, tadi pagi aku memang dari supermarket. Dari mana kau tahu?" Jawab Naya dan bertanya.
"Jadi benar kau berbelanja dengan pria brengsek itu!" Kata Gerald memelototi istrinya.
"Pria brengsek? Siapa yang kau maksud pria brengsek itu?" Naya merasa sangat kebingungan.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura Naya, aku sudah tahu jika kau tadi pagi berbelanja dengan pria itu. Kau terlihat begitu mesra, bersenda gurau sampai kau tidak menyadari ada orang lain yang memperhatikanmu," kata Gerald langsung saja menuduhnya. Padahal ia tidak percaya dengan ucapan Bella, tetapi entah mengapa ia malah melontarkan kata-kata yang telah disampaikan oleh mantan kekasihnya itu.
"Omong kosong apa ini? bersenda gurau, mesra, sepertinya kau tidak melihatnya langsung tetapi mendengarnya dari mulut orang lain. Katakan siapa yang mengatakan hal itu, Bella? iya kan?" Tanya Naya.
"Sudahlah, kau tak usah mengelak. Lebih baik kau katakan saja sejujurnya," kata Gerald.
"Apa kau akan percaya jika aku menjelaskan yang sebenarnya?" Tanya Naya yang sebenarnya sangat malas berdebat dengan Gerald, apalagi tubuhnya sangat lelah ingin segera beristirahat.
"Jelaskan!" Kata Gerald.
"Oke, tadi pagi sewaktu pergi ke supermarket, aku memang bertemu dengan mantan kekasihmu itu dan sepupunya. Aku juga tidak menyangka jika Denis adalah sepupu dari mantan kekasihmu itu. Tapi aku sama sekali tidak berbelanja berdua dengan Denis seperti yang kau katakan tadi, saat aku bertemu mereka aku sudah selesai berbelanja dan tinggal membayarnya saja, lalu aku pergi meninggalkan mereka berdua. Aku tidak tahu kau lebih mendengarkan ucapanku atau ucapan mantan kekasihmu, tapi yang jelas aku sudah jujur padamu bahwa aku tidak melakukan hal yang kau tuduhkan tadi. Kecuali kamu mempunyai buktinya," jelas Naya.
Gerald terdiam, memang benar jika ia tidak mempunyai bukti apapun bahkan ia sendiri tadi mengatakan kepada Bella bahwa ia tidak percaya tanpa ada bukti. Naya memutar bola matanya malas dan segera saja melenggangkan kakinya menuju ke dapur untuk menaruh barang belanjaan yang baru saja ia beli, lalu masuk ke dalam kamarnya.
***
Naya terbangun setelah satu jam ia tertidur karena tubuhnya yang begitu sangat lelah. Ia juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini ia gampang sekali kelelahan bahkan di saat sedang ada masalah dengan Gerald pun ia lebih memilih untuk tidur dibandingkan harus memikirkannya seperti yang biasa ia lakukan.
Naya keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan karena perutnya yang saat itu terasa lapar, memang sudah seharian ini ia belum sempat menyentuh makanan sedikit pun meskipun ia telah selesai memasak. Saat itu Naya melihat bahwa makanan yang ada di atas meja sudah berkurang yang itu artinya Gerald sudah menyantapnya terlebih dahulu.
"Dimana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?" Gumam Naya sembari celingukan mencari keberadaan sang suami.
__ADS_1
Akan tetap Naya tidak terlalu memikirkannya, ia segera saja menyantap makanan dengan duduk sendirian di meja makan.
"Kau sudah bangun?" Tanya Gerald yang mengagetkan Naya karena mendengar suara itu dari arah belakang.
"Kau mengagetkanku saja," hardik Naya.
"Sepertinya kau sangat tidak suka jika aku berada di rumah," cibir Gerald.
"Ya kau benar, aku merasa lebih tenang daripada kau di rumah hanya marah-marah yang tidak jelas," kata Naya.
"Kau, berani sekali kau berbicara seperti itu. Aku belum selesai berbicara denganmu masalah tadi sekarang kau malah memancing emosiku lagi," Kata Gerald.
"Kau mau bicara apa lagi? Bukankah aku tadi sudah menjelaskannya. Bisa tidak jangan bahas ini lagi, aku ini sedang makan tapi kau malah merusak mood ku dan menghilangkan selera makanku," kata Naya.
"Diam! Kau benar-benar sudah berani melawan ku sekarang, kau tidak pernah menghargaiku lagi sebagai suamimu!" Bentak Gerald.
Naya yang biasanya selalu sabar menghadapi sikap Gerald tetapi saat ini ia begitu sensitif dengan terus menentang Gerald. Emosinya yang sudah meluap itu ia luapkan dengan menghempaskan sendok yang sedang dipegangnya di atas piring, hingga nasinya itu pun berantakan. Hatinya seakan bergejolak menyuruhnya untuk melawan suaminya itu.
"Sudah aku katakan jika aku tidak melakukan apapun Gerald, kau ini mau apa sih? Selama ini aku sudah bersabar menghadapimu, tapi kau selalu saja memancing emosiku," kata Naya dengan suara meninggi, tatapannya tajam, tubuhnya juga terasa bergetar.
Gerald merasa heran dengan perlakuan Naya dan ia memilih untuk diam, ia sama sekali tidak menyangka jika Naya akan melakukan hal diluar nalarnya dan berbicara dengan suara meninggi seperti itu di depannya. Apa mungkin kesabaran Naya memang sudah habis sehingga ia pun melawan Gerald atau Naya sudah tidak tahan lagi membendung uneg-uneg yang selama ini terpendam di dalam hatinya.
__ADS_1
...Bersambung......