Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Ketakutan Gerald


__ADS_3

Saat ini usia kandungan Naya sudah memasuki usia 36 minggu, yang artinya sudah mendekati detik-detik kelahiran anaknya. Ia begitu sangat gugup saat hendak memeriksakan kandungannya untuk memastikan apakah semuanya baik-baik saja.


Seperti biasa, akhir-akhir ini Gerald yang selalu menemaninya untuk memeriksa kandungan, tampak juga di sana ada para ibu-ibu yang didampingi oleh suaminya dan terlihat raut wajah bahagia dari mereka. Berbeda dengan Gerald, ia terlihat begitu tampak murung saat menemani Naya kontrol. Ya itu semua karena paksaan dari Dania, jika tidak sudah pasti ia tidak akan mau untuk menemani istrinya sendiri.


Saat ini yang ada di pikiran Gerald adalah kesepakatan mereka untuk tes DNA. Ia tahu jika Naya akan segera melahirkan dan setelah itu akan segera melakukan tes DNA pada anaknya, jika benar anak yang dikandung Naya bukan anaknya, maka mereka akan berpisah. Entah kenapa tiba-tiba itu menjadi momok di hati Gerald, ia merasa takut jika hal itu benar-benar terjadi, ia seperti tidak rela jika harus berpisah dengan Naya. Tetapi ia juga tidak sudi jika harus tetap bersama dengan Naya yang telah mengkhianatinya tanpa sadar bagaimana sikapnya kepada Naya.


"Kenapa kau terlihat sangat gugup Gerald? Padahal kan aku yang mau kontrol," Tanya Naya.


"Tidak, siapa bilang aku gugup. Seperti biasa aku hanya terpaksa saja menemanimu disini. Rasanya hanya membuang-buang waktuku," ucap Gerald.


"Oh ya, kalau memang seperti itu sebaiknya sekarang kau pergi saja dari sini, aku juga sama sekali tidak membutuhkanmu, aku bisa kok sendiri seperti di awal kehamilanku," kata Naya


"Itu maumu dan mauku. Tapi bagaimana dengan orang tuaku?" Hardik Gerald.


"Ck, lagi-lagi karena orang tua. Sudahlah sebentar lagi anak ini akan lahir, kau akan segera tahu ini anak siapa. Jika terbukti ini adalah anakmu, aku berharap kau tidak menyesal karena tidak menganggapnya ada selama ini," kata Naya.


"Ya sudah kita lihat saja nanti, aku yakin kalau anak itu sudah pasti bukan anakku," ucap Gerald dengan sangat yakin.


"Ya sudah oke, kita buktikan saja nanti," kata Naya yang tak kalah ngototnya.


"Nyonya Naya silahkan masuk!" Panggil suster, lalu Gerald segera saja membawa istrinya itu menuju ke ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Seperti biasa, dokter akan mengoles gel terlebih dahulu di atas perut Naya sebelum melakukan USG. Lalu Naya dan Gerald bersamaan menatap layar monitor dan tersenyum melihat si jabang bayi.


"Bayinya sangat sehat, pasti kalian sudah tidak sabar lagi kan ingin bertemu dengan adek bayi?" Tanya dokter.


"Iya Dok, saya sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan anak saya, menunggu waktu itu tiba," jawab Naya, sedangkan Gerald hanya diam saja.


"Sabar ya Nyonya, sebentar lagi Anda akan bertemu dengannya. Calon bayi Anda sehat dan sempurna, kondisi Anda juga baik. Anda harus tetap menjaga kondisi agar waktunya lahiran nanti, semuanya akan berjalan normal dan lancar seperti yang kita semua harapkan," ucap Dokter.


"Aamiin … ," ucap Naya dan Gerald secara bersamaan.


Setelah mengantar Naya pulang ke rumah dengan selamat, Gerald segera kembali ke perusahaannya karena ia harus menghadiri rapat pada siang hari di perusahaannya sendiri. Akan tetapi saat ini pikirannya begitu tidak tenang semakin dekat dengan kelahiran bayi yang dikandung Naya. Rasanya ingin sekali menarik kata-katanya, tetapi itu juga tidak mungkin. Ia sudah terlanjur mengatakan jika nanti hasil tes DNA-nya negatif, maka mereka akan berpisah. Seakan hatinya bergejolak tidak ingin berpisah dengan Naya. Dalam hatinya, ia juga sangat berharap jika anak itu benar-benar anaknya sehingga ia tidak akan berpisah dengan Naya.


***


"Tuan Gerald, sebaiknya Anda segera masuk ke ruang bersalin, karena pembukaan Nonya Naya sudah lengkap dan beliau akan segera melahirkan," ucap dokter kepada Gerald.


"Ma kenapa tidak Mama saja yang berada di dalam? Aku tidak berani Ma," ucap Gerald.


"Gerald, kamu ini bagaimana sih? Istri kamu yang mau melahirkan, masa kamu suruh Mama yang berada di dalam. Dulu waktu Mama mau melahirkan kamu, ya Papa yang mendampingi Mama," ucap Dania.


"Iya Gerald, yang Mama kamu katakan itu benar. Justru kalau kamu berada di dalam sana, kamu akan membuat istri kamu akan bersemangat dan berusaha untuk tetap kuat melahirkan anak kalian ke dunia," sambung David.

__ADS_1


"Tapi-" ucapan Gerald terhenti.


"Sudahlah Gerald, sekarang kamu cepat masuk ya. Kasihan Naya, pasti Naya sudah sangat kesakitan dan ingin segera melahirkan. Mama tahu bagaimana rasa sakitnya akan mempertaruhkan nyawa demi buah hati," kata Dania yang mencela ucapan anaknya.


Akhirnya Gerald yang takut akan darah dan trauma pada rumah sakit, memberanikan diri untuk masuk ruang persalinan. Dilihatnya saat itu Naya sudah sangat lemah dengan keringat yang bercucuran karena menahan sakitnya kontraksi yang berulang kali. Bukan hanya karena rasa kasihan, tetapi ia benar-benar tulus ingin berada di samping Naya, ia sangat sedih melihat kondisi Naya saat ini.


Gerald mendekati Naya lalu menggenggam erat tangannya sembari berbisik di telinga, "Kau harus kuat Nay, kau harus selamat melahirkan anak kita ke dunia."


Meskipun saat ini Naya merasakan begitu sakit yang luar biasa, tetapi otaknya masih sangat jelas mencerna ucapan Gerald.


"Apa? Gerald menyebutnya anak kita?" Batin Naya, ia mencoba untuk tersenyum seraya mengangguk pelan.


Setelah di rasa semuanya siap, segera saja dokter memberikan aba-aba kepada Naya untuk mengikutinya dalam proses melahirkan. Dan tidak beberapa lama kemudian, Naya pun telah berhasil melahirkan bayi perempuan cantik ke dunia dengan selamat. Tak henti-hentinya Naya mengucap rasa syukur, rasa sakit yang tadi dirasakannya seakan hilang begitu saja saat melihat anaknya yang lahir dengan sehat dan sempurna, tidak kekurangan apapun. Begitu juga dengan Gerald, ia merasa sangat bahagia, mendadak hatinya menghangat saat melihat kelahiran bayi tersebut.


Kini Naya beserta anaknya pun sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, David dan Dania dengan sangat antusias mendekati menantu dan cucunya itu.


"Selamat ya Sayang, kamu dan anak kamu selamat. Bayi kamu cantik sekali Sayang, mirip seperti kamu," ucap Dania lalu mencium kening menantunya itu.


"Terima kasih ya Ma," ucap Naya.


Ucapan selamat pun keluar dari mulut David yang turut merasa bahagia dengan kehadiran sang cucu, sedangkan Gerald saat itu hanya terdiam mematung di samping ranjang Naya. Kini anak Naya sudah dilahirkan, apakah itu artinya tes DNA akan segera dilakukan dan apakah Gerald akan berpisah dengan Naya?

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2