
Naya dan Dania begitu syok melihat keadaan Gerald yang terbaring lemah di ruangan ICU. Tak henti-hentinya mereka berdua menangis,
membuat David kebingungan tidak tahu harus memberi ketenangan kepada istri atau menantunya terlebih dahulu. Ia sendiri pun sama rapuhnya dengan Dania dan Naya, merasakan begitu sakit melihat keadaan Gerald yang tidak sadarkan diri.
Karena tidak boleh secara bersamaan masuk ke dalan ruang ICU, maka Naya yang terlebih dahulu menggunakan alat pelindung diri lengkap untuk masuk melihat keadaan suaminya itu.
Naya duduk di kursi samping brankar Gerald, ia memegang erat tangan suaminya itu dengan air matanya yang terus saja mengalir bak air sungai. Naya benar-benar tidak tega melihat keadaan Gerald saat ini, pria yang biasanya begitu arogan terhadapnya, selalu memarahinya, dan selalu bersikap kasar kepadanya, kini hanya berdiam diri tanpa bisa berbuat apapun dan berhasil membuat Naya merasakan sedih yang mendalam.
"Hai Gerald, aku istrimu Naya. Meskipun saat ini kamu sedang tidak sadarkan diri, tapi aku yakin kamu pasti mendengar ucapanku kan. Aku mau kamu bangun Gerald, jangan lemah seperti dong. Mana sikap aroganmu selama ini yang selalu memarahiku, yang selalu menyiksaku? Saat ini kamu lemah, kamu hanya bisa berbaring tanpa bisa melakukan apapun. Kamu kalah Gerald kalau kamu tetap diam seperti ini terus. Ayo marahi aku, aku sudah pergi sesuka hatiku meninggalkanmu. Seharusnya kamu marah saat ini, bukan hanya diam saja. Ayo bangun Gerald," ucap Naya diiringi tangisannya yang tersedu-sedu. "Gerald aku mohon bangun ya, aku dan Kania membutuhkan kamu, aku dan Kania nggak bisa hidup tanpa kamu Gerald. Saat ini saja Kania bisa merasakan jika sesuatu terjadi kepada ayahnya, anak kita mau kamu pulang Sayang. Kalau kamu dengar aku, aku mohon kamu bertahan, kamu berjuang untuk bangun, ada aku dan Kania juga kedua orang tua kamu yang selalu menunggu kamu Sayang. Bukankah kamu bilang mau menebus segala dosa kamu di masa lalu, bukankah kamu bilang kamu akan membayar semuanya, kamu akan membahagiakan aku dan kania, tapi kenapa kamu seperti ini Gerald? Ayo bangun, bangun Gerald. Aku mohon kamu bangun, jangan tinggalkan aku dan Kania. Aku sayang dan cinta sama kamu Gerald, aku nggak bisa bayangin hidup aku tanpa kamu. Bangun Sayang, kita akan hidup sama-sama untuk membesarkan anak kita." Naya terus saja mengajak Gerald berbicara sembari mengguncang-guncang tubuh suaminya.
Tanpa Naya sadari, Gerald merespon semua ucapannya itu dengan meneteskan air mata, meskipun ia dalam keadaan koma.
Karena sudah tidak kuat lagi melihat kondisi sang suami, Naya pun memilih untuk keluar dari ruangan ICU dan bergantian dengan Dania yang akan melihat anaknya di dalam ruangan tersebut.
Sama halnya dengan Naya, Dania pun tidak dapat membendung air matanya yang terus saja jatuh bercucuran hingga membasahi tangan Gerald yang saat itu ia genggam. Perasaannya begitu hancur, rasa takut kehilangan juga menyelimuti hatinya saat ini. Gerald adalah anak satu-satunya yang ia miliki, anak pintar dan baik yang sudah ia lahirkan, ia didik, dan ia jaga sepenuh hati. Ibu mana yang tidak akan sedih melihat kondisi anaknya yang lemah tak berdaya di depan matanya saat ini. Jika bisa ditukar, sudah pasti Dania akan memilih ia yang merasakan sakit itu dibandingkan anaknya. Tiba-tiba saja Dania merasakan sesak di dadanya seperti yang biasa ia rasakan. Karena tidak mau kondisinya semakin memburuk dan membuat keluarganya khawatir, ia pun secara perlahan berjalan keluar dari ruangan ICU dan langsung saja disambut oleh David, suaminya. Meskipun Dania menyembunyikan rasa sakitnya itu, tetapi David tetap bisa melihat dari raut wajah sang istri yang sedang menahan rasa sakit.
"Mama, apa Mama baik-baik saja?" Tanya David untuk memastikan.
__ADS_1
"Iya Pa, Mama baik-baik saja," jawab Dania.
"Ya sudah, sekarang Mama dan Naya pulang saja ya dulu istirahat. Mama tidak boleh terlalu stres, tidak boleh terlalu sering menangis jika tidak ingin kepala dan dada Mama sakit. Itu juga yang selalu Dokter katakan kan Ma," kata David.
"Iya Pa," jawab Dania mengangguk.
Saat itu ia pun melihat Naya yang menangis tersedu-sedu duduk di kursi panjang depan ruangan ICU. Dania langsung saja mendekati Naya dan meraih tubuh menantunya itu ke dalam dekapan hangatnya.
"Sayang, kamu yang kuat ya. Kita berdoa saja untuk kesembuhan Gerald, mudah-mudahan Gerald akan segera sadar," ucap Dania.
"Iya Ma, aku sangat berharap jika Gerald cepat bangun. Aku ingin hidup bersama gerald membesarkan Kania Ma. Aku nggak sanggup melihat Gerald dalam keadaan seperti itu, aku takut kehilangan suami aku," ucap Naya.
***
"Dasar bodoh, aku hanya memintamu untuk memberi pelajaran kepada Gerald. Tapi kenapa kamu sampai membuatnya masuk ke rumah sakit hah!" Bentak Bella.
"Baby, aku hanya melakukan perintahmu, semua sesuai yang kamu minta dan menurutku itu adalah pelajaran yang paling pantas, karena dulu dia juga sudah merebutmu dariku. Dan sekarang kau memintaku untuk memberikannya pelajaran, ya tentu saja dengan senang hati aku melakukannya sekaligus membalas dendamku itu," Kata Robert.
__ADS_1
Robert adalah pria yang sejak lama mencintai Bella tetapi Bella sama sekali tidak pernah meliriknya karena ia mencintai Gerald, bahkan berselingkuh dengan pria lain tanpa memikirkan perasaan Robert sama sekali. Tetapi di saat ini Bella yang membutuhkan bantuannya, dengan terpaksa harus menerima cinta Robert asalkan pria itu mau melakukan apapun yang diminta olehnya.
"Tapi aku tidak memintamu membuat Gerald sampai masuk rumah sakit seperti itu," bantah Bella.
"Sudahlah Baby, kamu itu kenapa sih. Bukankah kamu memintaku menghajarnya dan kamu bilang kamu sudah tidak peduli lagi dengannya. Atau jangan-jangan kamu masih mencintainya?" Tuding Robert mencurigainya.
"Tidak, siapa bilang aku masih mencintainya? Aku sama sekali sudah tidak peduli dengannya lagi," kata Bella mengelak.
"Lantas kenapa kamu terlihat khawatir dengan keadaannya saat ini?" Tanya Robert.
"Ya itu karena aku tidak mau saja kalau sampai kita bermasalah dengan polisi. Apa kamu mau tanggung jawab jika nantinya polisi akan mencari tahu tentang kita? Aku sama sekali tidak mau ya Robert. Kamu sendiri yang harus bertanggung jawab, aku tidak mau terlibat," kata Bella.
"Ya tidak bisa begitu dong Baby, kamu adalah dalang dibalik ini semua. Tapi kamu tenang saja, aku pastikan kita akan aman," kata Robert.
"Aman bagaimana? Sekarang kamu dan anak buahmu itu sudah menjadi buronan polisi," hardik Bella.
"Bagaimana mungkin bisa polisi menemukan aku, kan waktu itu aku menggunakan topeng. Jadi tidak akan ada satupun orang yang mengetahui identitasku, bahkan anak buahku sekalipun," kata Robert.
__ADS_1
Bella terdiam, benar saja bahwa Robert telah merencanakan ini semuanya dengan matang, bahkan ia telah menyamar menggunakan topeng agar tidak ada sama sekali yang mengetahui tentang kejahatannya.
...Bersambung......