
Gerald dan Naya masih saling bertatapan, terlihat dari sudut mata keduanya yang menunjukkan bahwa ada cinta yang mendalam di antara mereka.
"Naya, kamu yakin ingin aku seperti itu?" Tanya Gerald.
"Ya hanya itu keinginan aku, aku ingin kamu belajar mencintai aku Gerald. Meskipun hingga suatu saat nanti kamu benar-benar tidak dapat mengingat aku lagi, tetapi aku berharap kamu mencintai aku untuk saat ini dan kedepannya. Apakah kamu bisa?" Tanya Naya.
"Ya Naya tentu saja, aku mau dan aku bersedia," jawab Gerald tersenyum.
Naya begitu sangat bahagia mendengarnya, ia sangat berharap jika Gerald benar-benar dapat mencintainya meskipun ia tidak dapat mengingat siapa dirinya. Karena rasa bahagianya saat itu, Naya pun memeluk Gerald dengan penuh rasa cinta. Gerald juga membalas pelukan Naya yang terasa begitu nyaman untuknya.
"Ya sudah sekarang kita pulang ya, kasihan Kania kalau terlalu lama menunggu kita di rumah. Suster juga kan mau istirahat," ajak Naya
"iya kamu benar," ucap Gerald.
Di saat itu ada selembar daun yang jatuh tepat di atas kepala Naya, Gerald mengambil daun tersebut hingga tanpa sengaja mata keduanya saling bertemu dan bertatapan. Naya tersenyum mendapat perlakuan manis dari sang suami yang terkesan sangat romantis. Gerald sendiri membalas senyuman itu hingga membuat jantung Naya berdebar tak karuan. Saat ini keduanya sedang diselimuti rasa bahagia seperti sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dan berkencan berdua.
***
"Kamu itu mau apa lagi sih datang ke sini? Bukannya aku sudah membayarmu mahal. Aku sudah memberi apapun yang kamu minta, lalu untuk apa lagi kamu mencariku!" Bentak Bella.
__ADS_1
"Bella kamu tahu kan kalau bukan itu saja yang aku mau, tapi aku mau kamu Bella. Bukankah kamu berjanji akan menerima cintaku asalkan aku melakukan apapun untukmu," ujar Robert.
"Ya itu kalau rencanamu berhasil, tapi buktinya apa Robert? Gerald tidak kenapa-napa tuh dengan istrinya, malah sekarang mereka semakin dekat," kata Bella.
"Bukan seperti itu perjanjiannya Bella. kau berjanji akan menerima cintaku asalkan aku melakukan sesuatu untukmu yaitu mencelakai Gerald. Aku sudah melakukan itu, bahkan aku sudah membuat Gerald masuk rumah sakit dan hilang ingatan. Untuk masalah dia berpisah atau bersatu dengan istrinya itu sama sekali bukan urusanku. Lalu apa juga urusannya denganmu? Bukankah kau sendiri sudah tidak peduli dengan mereka, kau berjanji akan menerima aku dan mencintai aku Bella. Lalu kenapa kau masih mengharapkan pria itu lagi? Kau jangan pernah bermain-main denganku. Bella, kau tahu kan siapa aku? Aku bisa melakukan apapun dan tidak segan-segan untuk mencelakaimu jika kau berani mempermainkan aku," ancam Robert.
Bella yang sebenarnya merasa takut dengan ancaman itu, tetapi ia pun hanya berpura-pura saja menantangnya.
"Aku tidak takut, apa yang ingin kau lakukan padaku? Kau itu terlalu mencintaiku, kau terlalu bucin denganku, aku yakin kau tidak akan mungkin berani melakukan apapun padaku," ujar Bella.
"Siapa bilang aku tidak berani membunuhmu. Sekarang saja aku berani," kata Robert, lalu mengeluarkan sebilah pisau dan menyodorkan itu di dekat leher wanita yang telah menantangnya.
Bella membelalakkan matanya, ia sangat terkejut. Tentu saja ia tidak ingin pisau itu menancap lehernya saat ini. Ia pun segera memutar otaknya untuk mencari cara agar Robert tidak melakukan hal yang mengerikan itu padanya.
"Kau serius?" Tanya Robert.
"Iya aku serius, tapi turunkan ya pisaunya," kata Bella bergidik.
"Oke kalau begitu, buktikan kalau sekarang kau mau menerima cintaku dan menjadi milikku," pinta Robert.
__ADS_1
"Bukti? Bukti apa?" Tanya Bella.
Robert tersenyum smirk, dan tanpa menjawab ia pun segera saja melum** bibir wanita yang dicintainya itu dengan penuh gairah. Bella yang sebenarnya sangat jijik akan perlakuan dari Robert itu pun terpaksa menerimanya. Semakin lama, karena Robert memperlakukannya dengan lembut dan diiringi sentuhan-sentuhan di setiap jengkal tubuhnya itu telah mampu membuat Bella pun menikmatinya serta tanpa sadar Bella juga membalas perbuatan Robert yang tak kalah gairahnya. Ia ikut menikmati permainan Robert hingga kini keduanya telah polos. Robert tersenyum karena akhirnya Bella pasrah dengan perlakuannya itu. Ternyata usahanya selama ini untuk mendapatkan Bella tidak sia-sia, hari ini Bella telah menjadi miliknya. Bahkan ancamannya tadi telah membuat Bella bertekuk lutut padanya, meskipun sebenarnya Robert hanya mengancamnya saja, tidak mungkin jika ia benar-benar ingin menyakiti Bella seperti yang dikatakan oleh Bella tadi.
Suara desa*** terdengar memenuhi seisi ruangan. Bella terlihat begitu sangat puas menikmati permainan kekasih barunya hingga ia pun sudah tidak tahan lagi dan melakukan pelepasan yang pertama. Robert begitu sangat senang melihat pemandangan indah di depan matanya, ia begitu terpancing melihat dua bukit kembar yang menyembul ke arahnya. Segera saja ia melahapnya serta meremas di sisi lain, lalu melakukan penyatuan.
Meskipun Robert melakukannya dengan sedikit kasar, tetapi Bella begitu sangat menyukainya karena menurutnya ada sensasi lain, rasanya sangat berbeda saat ia bermain dengan Kelvin selingkuhannya yang saat ini berada di luar negeri. Robert lebih membuatnya bersemangat dan bergairah hingga mereka pun merasakan pelepasan bersama-sama dan mencapai puncak kenikmatan yang hakiki.
***
Hari-hari terus berlalu, hubungan Naya dan Gerald saat ini pun terlihat semakin membaik. Gerald selalu berusaha untuk bersikap manis terhadap Naya, begitu juga Naya yang selalu memperhatikan Gerald dengan penuh kasih sayang. Dania dan David yang melihat akan hal itu juga merasakan bahagia, mereka selalu berdoa agar menantu dan anaknya itu akan hidup bahagia selamanya.
Terlihat juga jika saat ini Naya dan Gerald sering keluar menghabiskan waktu bersama berdua atau membawa Kania. Terpancar wajah ceria dari keduanya. Saat ini Naya juga lebih sering tersenyum saat bersama Gerald, tidak seperti dulu Naya yang selalu saja murung dan sedih karena ulah Gerald terhadapnya.
"Ha … ha … ha … kamu tuh yang ngeyel, kan aku udah bilang kalau itu bukan ulah aku. Itu ulah orang tadi," kata Naya tertawa saat ia dan Gerald baru saja pulang dan melewati pintu utama.
Mereka baru saja pulang jalan berdua, sedangkan Kania saat itu ditinggal di rumah bersama Oma dan baby sisternya.
Saat Naya hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja high heel yang dipakainya itu patah sehingga Naya pun kehilangan keseimbangannya dan tubuhnya pun terhuyung hendak terjatuh. Meskipun dengan cepat Gerald menangkap tubuh Naya, tetapi karena ia dalam keadaan tidak siap membuat keduanya pun terjatuh bersama dengan posisi Naya yang menimpa tubuh suaminya tu.
__ADS_1
...Bersambung …...