Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Memberitahu Gerald


__ADS_3

Gerald tersenyum saat sang istri masih tertidur pulas, padahal sang anak telah bangun terlebih dahulu dan menangis kecil karena haus. Gerald pun langsung saja meminta suster untuk memanaskan ASI Kania, sehingga Gerald jugalah yang memberikan ASI-nya itu kepada sang anak. Gerald tidak mau mengganggu istrinya yang terlihat sangat kelelahan karena ulahnya.


Akan tetapi karena jiwa naluri seorang ibu yang begitu kuat, membuat Naya pun memimpikan sang anak yang saat itu sedang menangis. Sehingga ia pun terbangun dan mencari anaknya di samping dan tidak menemuinya.


Segera saja Naya beranjak dari tempat tidurnya dan tersenyum melihat Gerald yang saat itu sedang memberikan susu kepada Kania sembari memangkunya duduk di sofa.


"Sayang, kok kamu nggak membangunkan aku sih. Tapi terimakasih ya karena kamu sudah memberikan Kania susu," ucap Naya.


"Sama-sama Sayang. Aku kasihan lihat kamu, sepertinya sangat kelelahan sampai kamu tertidur pulas seperti itu. Aku jadi nggak tega membangunkannya," ucap Gerald tersenyum.


"Iya aku memang sangat lelah dan ini semua gara-gara kamu," hardik Naya.


"He … he … he … maafkan aku ya Sayang, aku terlalu terpesona melihat kamu," ucap Gerald nyengir.


"Iya, nggak apa-apa kok Sayang. Lagipula kamu juga sudah menggantikan tugas aku kan pagi ini, jadi aku berterimakasih banget sama kamu," ucap Naya.


"Kalau begitu nanti malam boleh dong diulang lagi. Besok kan masih hari libur, aku janji besok pagi aku akan melakukan tugas kamu lagi," ucap Gerald sembari menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


"No, no, no. Rasa lelah ini saja belum hilang Sayang," tolak Naya dan segera saja pergi ke kamar mandi daripada harus meladeni suami mesumnya itu.


Gerald tersenyum dan merasa gemas melihat tingkah istrinya itu.


"Sayang, kamu lihat deh Mama kamu itu menggemaskan bukan? Kamu tenang saja ya, Papa pasti akan cepat-cepat membuatkan adik untuk kamu," ucap Gerald kepada sang anak.


Seakan mengerti apa yang diucapkan oleh ayahnya itu, tiba-tiba saja Kania menangis.


"Cup … cup … loh Sayang kamu kenapa menangis? Kamu belum mau punya adik ya, masih kecil, masih ingin di sayang-sayang Mama dan Papa? Maafkan Papa ya Sayang, Papa hanya bercanda saja kok," ucap Gerald sembari menimang-nimang Kania hingga anaknya itu pun berhenti menangis.


***


Selesai mandi, Naya pun langsung saja turun ke lantai bawah dan menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan keluarga. Tetapi karena hari ini ia kesiangan, sehingga sarapan telah tersaji di atas meja dan sang bibi lah yang menyiapkannya.


Kini Naya pun memanggil suami dan juga ayah mertuanya untuk menikmati sarapan bersama. Sedangkan Kania langsung saja di ambil oleh pengasuhnya untuk segera dimandikan seperti biasanya.


"Pa, Sayang, ada yang mau aku bicarakan kepada kalian berdua," ucap Naya di saat mereka baru saja selesai sarapan.


"Mau bicara apa Sayang?" Tanya Gerald.

__ADS_1


"Iya Naya, kamu mau bicara apa? Bicara saja," tanya David pula.


"Aku mau tanya apa dulu Gerald punya teman kecil sewaktu tinggal di Jogja, teman main yang begitu akrab dan orang tuanya itu Papa kenal," tanya Naya.


"Teman Gerald sewaktu kecil? Setahu Papa banyak ya, tapi yang akrab atau dekat Papa juga lupa siapa, apalagi orang tuanya. Memang ada apa Naya?" Tanya David.


"Mungkin Mama dan Papa sudah lupa. Tapi kalau kamu Gerald, apa kamu mengingatnya?" Tanya Naya.


"Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Gerald balik.


"Lebih baik kamu jawab saja pertanyaan aku dan bukannya malah balik bertanya," kata Naya.


Gerald terdiam, lalu ia pun mengingat jika dulu memang ia pernah mempunyai teman kecil yang akrab hingga pada akhirnya ia pun pindah ke Jakarta dan tidak pernah bertemu dengan teman kecilnya itu lagi.


"Iya, dulu aku memang mempunyai teman kecil yang dekat. Aku baru ingat, tapi jujur kalau wajahnya aku sama sekali sudah tidak ingat. Wajah kecilnya dulu saja aku sudah tidak ingat, apalagi kalau sampai bertemu sekarang ini, aku tidak akan tahu bahwa dia teman kecilku. Karena itu sudah sangat lama Sayang," jawab Gerald.


"Oh… gitu, kalau namanya kamu ingat?" Tanya Naya.


"Namanya ya? Namanya kalau nggak salah aku … namanya Puput, ya itu dia namanya," jawab Gerald.


"Iya Sayang, kok kamu tahu sih?" Tanya Gerald pula.


"Kamu benar-benar nggak sadar ya Sayang, kalau Puput itu adalah Putri," ungkap Naya.


"Apa? Kamu serius, jadi putri itu, Putri sahabat kamu itu kan," kata Gerald untuk memastikannya lagi.


"Iya Sayang Putri sahabat aku," jawab Naya.


"Dia benar-benar teman kecil aku, Puput?" Tanya Gerald yang belum mempercayainya.


"Iya dia itu Puput dan Papa nggak ingat ya kalau om Firman itu adalah ayahnya Puput, teman kecil Gerald," kata Naya.


"Oh … Firman itu ya. Pantes saja sewaktu itu Papa sepertinya mengingat jika Firman itu dulunya mempunyai anak perempuan, teman kecilnya Gerald. Tapi Papa tidak menyangka jika Putri itu lah teman Gerald itu, Papa benar-benar tidak mengingatnya Nay. Yang Papa ingat hanya Firman itu adalah teman bisnis Papa sekaligus tetangga di Jogja waktu itu," ucap David.


"Oh … begitu Pa, jadi sebenarnya Putri itu Puput. Dia juga baru tahu kalau Gerald adalah Eral teman kecilnya dulu sewaktu kita kemarin bertemu di Jogja. Dan waktu itu Putri juga merasa terkejut, dia ingin mengatakannya langsung tapi nggak enak sama aku," kata Naya yang menjelaskan semuanya di depan suami dan mertuanya itu.


"Aku benar-benar nggak menyangka kalau ternyata Putri itu teman kecil aku," ucap Gerald.

__ADS_1


"Ya, tapi seperti itulah kenyataannya Kak Eral," hardik Naya.


"Apaan sih, Sayang. Itu hanya panggilan kecil aku saja kok," ucap Gerald.


"Gerald, kamu ingat nggak waktu itu kamu pernah janji apa sama teman kecil kamu itu?" Tanya Naya.


Gerald mengerutkan keningnya, ia mencoba mengingat masa lalunya tetapi sama sekali tidak mengingat tentang janjinya.


"Aku lupa Sayang," jawab Gerald.


"Lupa atau pura-pura lupa?" Tanya Naya.


"Aku benar-benar lupa," jawab Gerald.


"Sini biar aku ingatkan. Kalau kata Putri, Putri dan Eral pernah berjanji jika dewasa nanti mereka akan bersatu, mereka akan hidup bersama, tetapi nyatanya Eral pergi dan lupa dengan janjinya. Sampai pada akhirnya di saat bertemu lagi ternyata Eral sudah menikah dan sudah punya anak," kata Naya.


"Oh ya? Memangnya Putri bilang seperti itu ya sama kamu?" Kata Gerald.


"Ehem Gerald, Naya, Papa permisi dulu ya. Lebih baik kalian lanjutkan saja mengobrolnya, Papa mau ke taman belakang dulu," ucap David yang merasa kehadirannya di situ mengganggu obrolan anak dan menantunya itu.


"Iya Pa, jawab Naya dan Gerald secara bersamaan.


Setalah David beranjak pergi dari ruang makan, kini Naya dan Gerald pun melanjutkan kembali obrolan mereka tadi.


"Sayang, kamu belum jawab pertanyaan aku. Memangnya iya Putri berbicara seperti itu?" Tanya Gerald yang mengulangi pertanyaannya itu.


"Iya Sayang. Kamu benar-benar nggak ingat ya? Atau jangan-jangan kamu sudah kehilangan memori kamu sewaktu kecil, kan kamu pernah hilang ingatan," kata Naya.


"Ya nggak mungkin lah Sayang. Buktinya aku aja ingat kalau aku punya teman kecil, hanya saja aku benar-benar lupa kalau soal itu. Lagipula itu kan hanya obrolan anak kecil zaman dulu, kok Putri mengingatnya ya sampai sekarang," kata Gerald.


"Menurut kamu mungkin itu hanya obrolan anak kecil yang nggak penting, tapi nggak untuk Putri sayang. Putri menganggapnya serius, dia selalu menunggu kamu, sejak saat itu dia sama sekali tidak bisa membuka hatinya untuk pria lain karena masih berharap suatu saat nanti akan bertemu dengan kamu lagi. Dan setelah dia tahu bahwa kamu adalah Eral, cinta pertamanya sudah memiliki istri, bahkan istrinya itu adalah sahabatnya sendiri, Putri memilih mundur dan melupakan cinta lamanya itu. Maka itu sewaktu orang tuanya mau menjodohkannya dengan George, Putri langsung saja menerimanya terharap dia bisa mencintainya George," ucap Naya yang membuat Gerald pun menjadi merasa tak enak hati.


Akan tetapi mau bagaimana lagi, karena semuanya sudah terjadi. Sekarang Gerald memang sudah memiliki keluarganya sendiri. Dan ia juga tidak pernah menganggap ucapannya sewaktu kecil itu adalah hal yang serius, bahkan ia sudah melupakannya berbeda dengan Putri yang masih saja mengingatnya.


...Bersambung …...


__ADS_1


__ADS_2