
Sebenarnya ini ada apa sih? Apa bisa Papa dan Gerald menjelaskan ke aku?" Tanya Naya dalam kebingungan.
"Naya, jadi-"
Baru saja David hendak menjelaskannya kepada Naya tentang apa yang sedang terjadi, ucapannya itu mendadak terhenti karena mendengar suara pintu terbuka dan mereka melihat dokter keluar dari ruang IGD. Mereka bertiga pun begitu sangat antusias mendekati sang dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan Mama saya?" Tanya Gerald mewakili ayah dan istrinya itu.
"Saat ini Nyonya Dania masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, tetapi alhamdulillah beliau sudah melewati masa kritisnya. Apa yang menyebabkan Nona Dania menjadi ngedrop? Seharusnya ini tidak terjadi dengan Nyonya Dania, beliau tidak boleh stres mengingat masih dalam tahap penyembuhan. Jika hal ini terjadi lagi saya tidak menjamin jika Nyonya Dania bisa sembuh," kata dokter yang langsung saja menyebutkan istilah kasarnya agar keluarganya itu dapat mengerti bagaimana kondisi Dania saat ini.
David, Gerald dan juga Naya begitu sangat terpukul mendengarnya, mereka benar-benar sedih karena orang yang mereka sayangi saat ini dalam keadaan memprihatinkan. Gerald merasa karena kelakuan bodohnya yang menyebabkan ibunya menjadi seperti ini. Tetapi tak lepas juga dari tudingannya terhadap Naya, ia semakin membenci Naya karena menganggap istrinya itu yang telah sengaja memberitahukan tentang sikap buruknya kepada Dania.
"Baik Dok, lalu apakah kami bisa melihat kondisi istri saya Dokter?" Tanya David.
"Ya tentu saja bisa, silahkan! Tetapi saya harap kalian tidak mengganggu pasien," jawab dokter.
"Baik Dokter, terimakasih," ucap Naya karena ayah mertua dan suaminya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam ruang IGD, lalu Naya pun menyusul mereka.
__ADS_1
***
Sama halnya dengan David dan Gerald, saat ini Naya menatap wajah ibu mertuanya itu dengan air mata yang berlinang, hatinya juga terasa begitu pedih dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya? Kenapa mendadak ibu mertuanya itu bisa ngedrop? Bukankah tadinya keadaannya baik-baik saja. Naya juga berdoa semoga ada keajaiban yang akan menyembuhkan Dania wanita yang sangat ia sayangi dengan segera.
Gerald menatap Naya dengan penuh kebencian, ia ingin selalu mencari kesempatan untuk berbicara dengan Naya tetapi selalu saja diawasi oleh ayahnya sehingga tidak dapat untuk berbicara berdua. Dan kali ini karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya ia pun menyampaikan uneg-unegnya itu kepada Naya di depan David.
"Kau tidak perlu berpura-pura sedih Naya, ini semua gara-gara kau!" Bentak Gerald yang membuat Naya dan David sontak terkejut mendengarnya lalu menatap pria itu.
"Gerald, kecilkan suaramu! Apa kau tidak melihat jika ibumu ini sedang tidak sadarkan diri, kenapa kamu malah menambah memperburuk suasana," kata David.
"Pa, aku ingin berbicara berdua dengan Naya. Tapi dari tadi Papa menghalangiku terus, Papa selalu mengawasiku. Jadi lebih baik sekarang aku ucapkan saja di depan Papa," kata Gerald.
"Kau tidak perlu berpura-pura bodoh Naya, aku tahu kau kan yang sengaja merancang ini semua. Kau menyuruh seseorang untuk merekam bagaimana kelakuanku terhadapmu waktu di restoran itu dan memberitahukan kepada Mama. Apa kau tahu kalau Mama bisa seperti ini gara-gara melihat video itu? Apa maumu Naya, kenapa kau melakukannya?" Kata Nathan.
"Sungguh aku tidak melakukan apapun, aku tidak mungkin memberitahukan hal itu kepada Mama. Kalau aku ingin memberitahu Mama pasti sudah lama aku memberitahunya," bantah Naya yang sangat terkejut mendengar perkataan Nathan tadi. Bahkan ia saja tidak mengerti dengan perkataan Gerald tentang rekaman Video.
Lalu ia memandang David yang saat itu sedang menatapnya juga, Naya tersadar jika memang Dania sudah mengetahuinya, sudah pasti David juga sudah mengetahui hal itu. David sendiri dapat menyimpulkan dari ucapan Naya tadi, jika gerald sudah lama bersikap arogan terhadapnya.
__ADS_1
"Pa, maafkan Naya karena selama ini Naya menyembunyikannya. Tapi Naya melakukan itu semua untuk kesehatan Mama Pa. Lagipula Naya juga berharap jika suatu saat nanti Gerald bisa berubah dan mencintai Naya, terlebih lagi saat ini aku sedang mengandung anaknya," ucap Naya yang sudah tidak tahan lagi untuk menjatuhkan air matanya.
"Itu bukan anakku! Sudahlah Naya, kau tidak usah berpura-pura lagi. Aku tahu kalau kau memang sengaja memberitahu Mama, kau ingin melihat keadaan Mama semakin ngedrop," tuding Nathan yang berbicara dengan suara lantang serta menunjuk wajah istrinya itu.
Plak … Plak …
Dua kali tamparan, kini mendarat di pipi kanan dan kiri Nathan setelah tadi siang ditampar oleh ibunya. David yang begitu emosi menampar pipi Gerald dengan kuat sehingga anaknya itu hampir saja tumbang.
"Jaga ucapanmu itu gerald, kamu yang bersalah tapi kamu malah menyalahkan istrimu. Apa kamu sama sekali tak juga sadar dengan kelakuanmu itu? Apa kamu sama sekali tak bisa melihat jika selama ini Naya sudah berusaha menjadi istri yang baik untukmu? Tapi kamu malah menyia-nyiakannya. Kamu yang menyebabkan istriku seperti ini, tapi kenapa kamu malah menyalahkan menantuku? Papa benar-benar tidak menyangka bisa memiliki anak seperti kamu, Papa sama sekali tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap kasar terhadap istrimu. Apa kamu pernah melihat Papa bersikap kasar terhadap Mamamu? Bahkan membentaknya saja Papa tidak pernah, Papa begitu menyayangi Mama kamu. Meskipun awal pernikahan kita juga dijodohkan sama dengan kalian berdua, tetapi Papa dan Mama mencoba ikhlas menerimanya, menjalaninya, hingga akhirnya kami memiliki kamu, buah cinta kami berdua," ucap David yang berhasil membuat Gerald terdiam, tetapi bukan berarti ia tidak menyalahkan Naya lagi. saat ini ia memilih diam karena tidak bisa melawan orang tuanya, terlebih lagi setelah mendapatkan tamparan pedas di pipinya dan juga tamparan di hatinya dengan kata-kata yang baru saja ayahnya ucapkan.
"Sudah Pa, Papa tidak perlu memarahi Gerald seperti itu. Ini semua juga kesalahan Naya, mungkin memang Naya saja yang belum berhasil untuk menjadi istri yang baik buat Gerald, sehingga Gerald belum bisa menerima pernikahan kami," ucap Naya.
"Tidak perlu bersandiwara dengan membelaku Naya, sepertinya kau memang sengaja ingin menyudutkanku, menyalakanku di depan orang tuaku. Kau sengaja ingin aku dimarahi oleh Papa, kau puas kan melihat aku ditampar seperti ini," hardik Gerald sembari memegangi pipinya yang berbekas dan merasa sedikit perih.
"Diam Nathan! Sudah Papa katakan kau tidak boleh berbicara kasar seperti itu terhadap istrimu," ucap David.
Tanpa mereka sadari, ternyata saat ini Dania telah sadar dan mendengar ucapan mereka yang sangat berisik di telinganya. Dania pun meneteskan air matanya, merasakan perih dan sakit hati juga kekecewaan di dalam hatinya.
__ADS_1
...Bersambung... ...