
Kania dan Putri saling bertatapan, ternyata benar jika wanita yang Naya lihat itu adalah orang yang ia kenal. Dia adalah putri, teman barunya di kampus.
"Putri, aku nggak nyangka bisa bertemu kamu di sini," kata Naya.
"Iya Nay, aku juga nggak nyangka banget kita bertemu di Jogja. Kamu tinggal di sini ya?" Maksud aku kamu lagi jalan-jalan dan menginap di sini?" Tanya Putri.
"Iya aku lagi jalan-jalan ke sini dan kebetulan ini adalah rumah lama suami aku dengan keluarganya yang sudah lama tidak dikunjungi," jawab Kania. "Kamu sendiri?"
"Suami?" Tanya Putri sembari melirik Naya dan Gerald bergantian.
"Iya suami aku. Oh iya ini Gerald suami aku dan ini yang aku gendong Kania anak aku," ucap Naya memperkenalkan keluarga kecilnya itu.
Lalu Gerald pun menjulurkan tangannya dan berkenalan dengan Putri, "Gerald."
"Putri," ucap Putri yang menyambut juluran tangan tersebut.
"Nggak, nggak mungkin. Apa iya Gerald suami Naya ini adalah Kak Eral? Kalau memang benar, berarti penantian aku selama ini sia-sia. Aku nggak menyangka kalau Kak Eral sudah menikah dan punya anak, bahkan istrinya adalah teman aku sendiri, teman yang sudah aku anggap sebagai sahabat aku," gumam putri dalam hati dan terlihat tampak sedih menatap pria di depannya itu.
"Putri Kenapa kamu melamun?" Tanya Naya sehingga membuyarkan lamunan temannya itu.
"Oh enggak apa-apa kok Nay. Jadi Kebetulan aku ke sini karena memang lagi liburan aja, ada teman aku yang tinggal di daerah sini sekalian aku ada perlu dengannya. Lalu aku bisa berada di rumah ini karena aku salah alamat, tadinya aku pikir ini rumah teman aku. Aku sudah mencoba menghubungi teman aku, tetapi tidak dijawab dan ini baru saja teman aku itu menghubungi lagi," kata Putri beralasan. Tetapi ia tetap ingin memastikan apakah benar jika Gerald adalah Eral teman kecilnya dulu, cinta pertamanya.
"Oh … gitu ya," ucap Naya.
"Iya Nay. Oh iya, jadi suami kamu ini memang tinggal di sini sejak kecil ya?" Tanya Putri.
"Iya, dari kecil aku memang tinggal di sini bersama orang tua beserta Oma dan Opa. Tetapi tidak lama setelah Oma dan Opa meninggal, aku dan kedua orang tuaku pindah karena Papa pindah tugas ke Jakarta. Tetapi rumah ini tetap dijaga dan dirawat dan tidak dijual," ucap Gerald menjelaskan.
"Jadi ternyata benar, Gerald ini adalah Kak Eral?" batin Putri menatap sendu, tetapi ia tidak mau menampakkan kepada Gerald dan Naya tentang perasaannya saat ini.
"Oh ya sudah kalau begitu, kalian berdua masuk aja. Aku harus menemui teman aku sekarang," kata Putri.
__ADS_1
"Kamu nggak mau masuk dulu Put?" tawar Naya.
"Sekarang belum bisa. Nanti aja ya Nay, kalau urusan aku sudah selesai, aku akan mampir ke sini kok," ucap Putri.
"Oh … ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati ya," ucap Naya.
"Iya Nay, aku pergi dulu ya. Permisi kak," ucap Putri yang juga berpamitan dengan Gerald. Lalu ia pun segera saja masuk mobil dan berlalu dari pandangan Naya dan Gerald.
"Aneh ya Sayang, kok Putri tadi memandang kamu seperti sudah mengenal lama," kata Naya.
"Nggak mungkin lah Sayang, aku aja baru pertama kali ini bertemu dengan Putri. Ya nggak mungkin lah kalau dia sudah mengenal aku. Itu hanya perasaan kamu aja," kata Gerald.
"Tapi kamu kan lagi hilang ingatan, mungkin kamu aja yang nggak ingat," ucap Naya yang membuat Gerald tampak gugup.
"Sayang, kalau teman kamu tadi itu memang sudah kenal denganku, nggak mungkinlah dia diam aja," kata Gerald.
"Oh iya juga ya, mungkin kamu benar hanya perasaan aku aja. Ya sudah kalau begitu kita masuk, aku mau taruh Kania di kamar, kasihan nih udah kecapean dia sampai ketiduran seperti ini," kata Naya.
"Ya sudah, ayo Sayang," ucap Gerald, lalu mereka pun masuk ke dalam rumah dan segera membersihkan diri secara bergantian menjaga Kania.
Saat ini, Putri sedang duduk di bawah pohon tempat dulu ia menghabiskan masa kecilnya bersama Gerald.
"Ternyata aku benar-benar bertemu dengan Kak Eral. Pantas saja hatiku benar-benar menuntunku untuk pergi ke Jogja hari ini, dan ternyata aku benar-benar bertemu dengannya Setelah sekian lama tidak bertemu. Tapi ternyata Kak Eral sudah memiliki kehidupannya sendiri dan ternyata memang benar kalau perjuanganku selama ini sia-sia, aku tidak mungkin bisa bersama dengan pria yang aku cintai. Seharusnya aku sudah melupakanmu sejak dulu Kak Eral, bagaimana bisa aku mempercayai kata-katamu, mempercayai ucapan anak kecil. Dulu kamu pernah mengatakan ingin bersama denganku saat dewasa nanti dan kamu berjanji tidak akan melupakanku. Tapi nyatanya apa Kak, Kak Eral sudah melupakan aku. Aku tidak bisa membuka hatiku untuk pria lain karena aku menunggumu, tapi ternyata penantianku selama ini tidak membuahkan hasil apapun. Hanya kekecewaan yang aku dapatkan," gumam Putri sembari menitikkan air matanya. "Lalu aku harus bersikap seperti apa saat ini setelah aku tahu bahwa Gerald itu adalah Kak eral. Apa aku harus mengatakannya jika aku ini Puput, teman kecilnya. Lantas Bagaimana dengan Naya? Aku sudah menceritakan semuanya ke Naya. Tentang masa laluku itu, tentang cinta monyetku. Aku tidak mau membuat Naya menjadi salah paham. Lebih baik masalah ini aku pendam sendiri, lagipula aku lihat Kak Eral sama sekali tidak menyadari jika aku adalah teman kecilnya, dari situ aku yakin jika Kak Eral pasti sudah melupakanku, dia sama sekali tidak pernah mencariku. Ya akan lebih baik ini semua menjadi rahasia, aku akan menyimpannya sendirian.
Di saat itu, tiba-tiba saja ada sebuah bola yang sedang dimainkan oleh anak-anak melayang ke arahnya, untung saja ada seorang pria yang menangkap bola tersebut hingga tidak mengenai wajahnya itu.
"Kak. maaf ya, aku benar-benar tidak sengaja," ucap seorang anak laki-laki.
"Ya tidak apa-apa. Tapi lain kali kalian harus lebih hati-hati ya, hampir saja bola ini terkena Kakak yang duduk di situ," kata pria yang menangkap bola itu sembari menunjuk ke arah Putri.
"Iya Kak, aku minta maaf ya," kata anak tersebut lalu kembali ke lapangan, bermain bersama teman-temannya.
__ADS_1
Sementara pria itu pun segera saja menghampiri Putri yang terlihat bingung dan tidak menyadari jika tadi ada bola yang hampir saja mengenainya.
"Hai," sapa pria itu.
"Itu tadi ada apa sih?" Tanya Putri to the point.
Pria itu pun langsung saja menceritakan kepada Putri tentang apa yang baru saja terjadi.
"Ya ampun aku sampai nggak sadar. Terimakasih ya karena kamu sudah menolongku," ucap Putri.
"Iya sama-sama. Kenalkan aku George," ucap pria itu menjulurkan tangannya, mengajak Putri berkenalan.
"Oh iya, aku Putri," ucap Putri, lalu berjabat tangan dengan pria itu.
"Kamu sedang apa duduk di sini sendirian? Boleh aku menemanimu?" Tanya George.
"Aku hanya sedang menikmati udara di sini saja, ya silakan kalau kamu mau duduk," jawab Putri, lalu George segera duduk di sampingnya.
"Kamu asli orang sini ya, atau hanya sedang berjalan-jalan saja?" Tanya George.
"Ya aku memang orang sini, tapi kebetulan satu minggu yang lalu aku sudah pindah ke Jakarta karena orang tuaku pindah tugas. Tetapi hari ini aku hanya ingin mengunjungi Jogja karena ada perlu juga di sini. Kalau kamu?" Jawab Putri dan dan bertanya.
"Kalau aku bukan orang sini, tetapi kebetulan aku hanya sedang ada pekerjaan saja di sini, jadi untuk beberapa hari ke depan aku akan berada di Jogja. Aku tinggal di Jakarta," jawab George.
"Oh ya? Bisa kebetulan gitu ya. Ternyata kita sama-sama tinggal di Jakarta dan sekarang ketemu di Jogja," kata Putri tersenyum.
"Ya ampun senyumannya manis sekali. Aku sedang tidak bermimpi kan bertemu Bidadari," batin George menatap Putri dengan kagum.
...Bersambung …...
Visual Putri dan George.
__ADS_1