
"Naya, Gerald, apa kalian sudah punya nama untuk anak kalian?" Tanya Dania.
"Belum Ma, aku dan Naya memang sama sekali belum pernah membahas soal nama untuk anak kita," jawab Gerald.
"Iya Ma Gerald benar, kita memang tidak pernah membahas soal nama anak berdua, karena Mama tahu kan kalau Gerald meragukan anak ini adalah anaknya. Tetapi Naya sudah mempersiapkan nama itu sendiri kok," jawab Naya.
"Oh ya, siapa namanya?" Tanya Dania.
"Namanya Kania Ma, yang artinya bahagia. Aku ingin anak aku akan selalu hidup bahagia, dari dia baru lahir sampai akhir menutup mata. Aku berharap anak aku tidak akan mengalami penderitaan seperti yang selama ini aku alami, terutama nanti di saat dia sudah berumah tangga. Jadi aku kasih namanya Kania Agatha. Agatha itu nama belakang aku yang diberikan oleh almarhum kedua orang tuaku Ma," jawab Naya.
"Nama yang bagus, mirip juga dengan nama kamu dan Mama, Kanaya, Kania, Dania," ucap Dania tersenyum. "Tapi kenapa kamu sama sekali tidak menautkan nama belakang Gerald di belakangnya?"
"Untuk apa Ma? Bukankah Gerald tidak pernah mengakui Kania anaknya," kata Naya yang membuat Gerald tersentak.
"Nay kamu jangan egois seperti itu lah, dari awal setelah kamu melahirkan, bukankah aku sudah bilang kalau aku sudah tidak peduli lagi kalau anak yang kamu lahirkan ini anak siapa. Yang aku tahu kamu adalah istriku dan aku menganggap bayi itu adalah anak kandungku," ucap Gerald.
"Kamu hanya menganggapnya Gerald, tapi kamu tidak yakin kalau Kania benar-benar darah daging kamu. Aku sudah setuju untuk melakukan tes DNA, tapi kenapa tiba-tiba kamu melarangnya," ucap Naya.
"Itu karena aku tidak siap menerima kenyataan kalau hasilnya Kania bukan anak aku, aku sudah menganggapnya anak kandungku," terang Gerald.
"Ck, kamu sama sekali tidak percaya padaku. Dia benar-benar anakmu Gerald, sudah aku katakan berulang kali kalau aku sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan pria lain, aku tidak pernah melakukan apapun dengan pria lain, hanya dengan kamu aku melakukannya Gerald. Kenapa sulit sekali untuk kamu menerimanya," kata Naya sembari menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Gerald.
"Stop!" Gerald, Naya, kalian jangan bertengkar seperti itu. Gerald, Naya ini baru saja dua hari menjadi seorang ibu. Sudah jelas dia begitu sangat sensitif. Sudah ya, sekarang kamu keluar saja dulu. Biarkan Naya tenang, Mama yang akan menjaganya di sini," kata Dania.
__ADS_1
Dengan perasaan yang sangat kesal, Gerald pun segera saja pergi meninggalkan kamar.
***
"Brengsek! Apa sih maunya wanita itu sebenarnya? Aku sudah berusaha untuk menerimanya, tapi dia malah bersikap seperti itu padaku. Memangnya aku salah apa? Aku mengucapkan kata kalau aku mencoba menerima anaknya adalah anakku, kenapa dia jadi marah-marah? Memangnya kenapa kalau aku tidak yakin, jelas-jelas aku melihat waktu itu dia mempunyai hubungan dengan pria lain, wajar kan kalau aku tidak mengakui bahwa itu anakku. Akh … !" Saat ini Gerald sedang berada di tepi kolam renang, ia berteriak sekuat tenaga untuk melampiaskan amarahnya. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa saat ini.
"Gerald, kamu kenapa? Kenapa kamu teriak-teriak sendirian di tepi kolam seperti itu?" Tanya David yang baru saja pulang dari kantor.
"Pa, kenapa sih wanita itu sangat sulit untuk dimengerti?" Tanya Gerald, menurutnya ayahnya adalah tempat yang paling nyaman dan paling tepat untuk curhat mengenai wanita, terlebih lagi ayah dan ibunya juga memiliki kisah cinta yang sama dengannya yaitu menikah karena dijodohkan oleh orang tua.
"Memang ada apa lagi sih? Bukankah hubungan kalian berdua sudah baik-baik saja semenjak kelahiran anak kalian?" Tanya David.
"Apanya yang baik Pa. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berubah, untuk menjadi suami yang baik, tapi nyatanya Naya sama sekali tak menghargaiku Pa. Papa tahu, bahkan Naya memberi nama anaknya tanpa menautkan nama aku sedikitpun Pa. Naya sama sekali tidak ada berunding denganku soal nama. Sewaktu Mama menanyakan kenapa tidak menautkan namaku, dengan enteng Naya katakan karena ini adalah nama yang dibuatnya sendiri. Naya tak menghargai aku sebagai suami Pa," kata Gerald yang tampak kesal.
"Gerald, nama itu kan belum diresmikan. Ini baru nama yang direncanakan oleh Naya saja. Kamu coba omongkan baik-baik dengan istri kamu. Papa yakin Dinda sebenarnya mau kok memberikan namamu di belakang nama anak kalian. Setelah nanti diresmikan nama itu akan ada. Wanita itu memang seperti itu Gerald, sebenarnya Naya itu ingin kamu ikut andil dalam hal ini, dia hanya gengsi saja," kata David.
"Tapi sepertinya itu bukan tipe Naya Pa. Aku tidak yakin Naya bisa aku ajak bicara atau pun mau mengikutiku, dia itu benar-benar keras kepala," ujar Gerald.
"Kamu harusnya sadar, itu semua juga karena kamu Gerald. Jika kamu tidak memulainya terlebih dahulu, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini," ujar David.
"Ck, sekarang Papa malah menyalahkanku dan membela Naya. Sudahlah Pa, sebaiknya Papa masuk saja sana lihat istri, menantu, dan cucu Papa yang sedang berada di kamar. Aku mau di sini sendirian," kata Gerald.
"Oh … ya sudah kalau begitu. Papa juga merindukan mereka. Papa tinggal ya," ucap David sembari melambaikan tangannya, lalu pergi meninggalkan Gerald.
__ADS_1
Sedangkan Gerald saat ini masih uring-uringan sendiri, entah kenapa ia begitu kesal dan tak terima karena Naya sama sekali tak mau memberikan namanya di belakang nama sang anak. Padahal ia sudah menerima Kania seperti anak kandungnya.
***
Setelah membersihkan diri, David bergegas menuju ke kamar Naya untuk melihat cucunya.
"Hai sayang-sayangnya Papa," ucap David saat Baby Sister membukakan pintu kamar untuknya.
Dilihatnya saat itu sang istri bersama menantu dan cucunya sedang bersama begitu juga dengan Baby Sister yang membantu Naya.
"Ternyata Papa sudah pulang," ucap Dania.
"Iya Ma, tapi Papa sudah mandi dulu kok baru ke sini," ucap David lalu mendekati mereka.
Sedangkan Naya hanya tersenyum saja menyapa ayah mertuanya itu.
"Duh … Cucu Opa lagi bobok ya? Kok bobok terus sih, main yuk bareng Opa," kata David.
"Opa, aku kan masih bayi, jadi memang sudah kerjaan aku tidur melulu,! "Jawab Naya seolah menjadi Kania hingga membuat mereka semua pun tertawa.
"Oh ya tadi Papa lihat Gerald di bawah sedang uring-uringan, berteriak sendiri seperti orang gila. Masalahnya hanya karena Naya tidak mau memberikan nama belakangnya di nama anak kalian, memang kenapa Naya?" Tanya David.
Dania melirik Naya dan mereka berdua pun tersenyum yang membuat David kebingungan melihatnya.
__ADS_1
...Bersambung......