
Akan tetapi baru saja Putri hendak mengatakan siapa pria itu, tiba-tiba saja ponsel Naya berdering dan segera saja Naya menjawab telepon dari suster yang menjaga anaknya.
"Halo suster, ada apa?" Tanya Naya.
"Nyonya, maaf saya mengganggu. Ini Non Kania tiba-tiba badannya panas dan menangis terus. Saat ini Nyonya Dania berniat akan membawa Non Kania ke rumah sakit, jadi Nyonya Dania meminta saya untuk mengabari Nyonya Naya," ucap suster dari seberang telepon.
"Kania demam? Baik Suster, tolong kirim alamat rumah sakitnya dan saya akan segera ke sana," ucap Naya yang terlihat panik.
"Baik Nyonya," jawab suster dan mengakhiri telepon tersebut.
"Naya, ada apa?" Tanya Putri yang melihat wajah sahabatnya itu tampak cemas.
"Anak aku tiba-tiba demam tinggi dan menangis terus. Sekarang Mama dan baby sister mau membawanya ke rumah sakit. Aku harus segera ke sana, maaf ya Put karena aku tidak bisa menemani kamu bercerita sekarang," ucap Naya.
"Nggak apa-apa Nay, anak kamu lebih penting. Aku antar kamu ya ke rumah sakit," ucap Putri.
"Iya boleh, terimakasih ya Put," ucap Naya dan ditanggapi anggukan kepala oleh sahabatnya itu.
Lalu keduanya pun segera saja masuk ke dalam mobil dan Putri pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Saat di perjalanan, tak lupa pula Naya memberi kabar kepada Gerald tentang kondisi anak mereka saat ini melalui pesan WhatsApp, akan tetapi saat itu Gerald sedang meeting sehingga ia tidak membaca pesan tersebut. Bahkan ponselnya saat ini sedang dipegang oleh asistennya, Boy.
***
Beberapa menit kemudian, Naya dan Putri pun telah tiba di rumah sakit.
"Nay, aku boleh kan ikut turun lihat anak kamu?" Tanya Putri yang ikut mengkhawatirkan kondisi Kania.
"Ya tentu saja boleh Put, ayo kita masuk," jawab Naya.
Lalu keduanya setengah berlari menuju ke ruang pemeriksaan dimana Kania sedang ditangani oleh dokter, Naya sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dan melihat kondisi anaknya saat ini.
"Bagaimana keadaan kania Sus? Dimana Kania sekarang?" Tanya Naya yang sangat khawatir, kepada baby sister Kania yang saat ini berada di depan ruang pemeriksaan.
"Non Kania masih diperiksa Dokter di dalam Nyonya. Nyonya Dania yang mendampinginya," jawab suster.
Naya hendak segera masuk ke dalam ruangan tersebut, tetapi sayangnya ruangan tersebut dikunci. Sehingga ia pun menunggu di depan ruangan.
"Kania sayang, Mama harap kamu tidak kenapa-napa, kamu baik-baik saja," gumam Naya yang tidak tahan lagi untuk membendung air matanya.
Putri yang melihat akan hal itu pun berjalan menghampiri Naya dan mencoba untuk menenangkan perasaan sahabatnya itu, meskipun di saat ini perasaannya juga sedang kalut karena masalahnya sendiri. Karena ia juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Naya.
"Kasihan Naya, sekarang ini pasti dia lagi sedih banget karena keadaan anaknya. Lebih baik aku tunda dulu untuk bercerita mengenai Kaka Eral. Aku nggak boleh egois," gumam putri dalam hati.
__ADS_1
"Nay, kamu yang sabar ya. Aku yakin kok kalau anak kamu tidak kenapa-napa, mungkin hanya demam biasa," ucap Putri sembari mengusap lembut pundak sahabatnya.
Naya tidak menjawab apapun, tetapi ia langsung saja menghamburkan pelukannya ke dalam pelukan hangat sahabatnya itu.
Krek …
Pintu ruang pemeriksaan pun terbuka. Naya langsung saja menghampiri dokter yang saat itu keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok? Apakah baik-baik saja?" Tanya Naya begitu antusias.
Sedangkan saat itu, di belakang dokter telah berdiri Dania bersama cucunya, yaitu Kania.
"Anak Nyonya baik-baik saja, hanya demam biasa. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap dokter.
"Syukurlah, terimakasih Dokter," ucap Naya lalu menghampiri ibu mertua dan anaknya itu.
"Ma, bagaimana keadaan Kania?" Tanya Naya sembari mengambil anaknya itu dari gendongan sang nenek.
"Seperti yang Dokter katakan tadi Naya, Kania baik-baik saja Sayang. Dia hanya demam biasa dan sudah di beri antibiotik serta vitamin oleh Dokter. Nanti Kania juga akan segera sembuh," jawab Dania.
Naya tampak menghembuskan nafas lega, lalu ia pun keluar dari ruang pemeriksaan bersama Dania.
"Baiklah! Saya permisi dulu ya Nyonya, jangan lupa obatnya nanti ditebus di apotek," ucap dokter.
Lalu dokter pun segera berlalu dari pandangan mereka.
"Nay, bagaimana keadaan Kania?" Tanya Putri yang menghampirinya bersama dengan suster.
"Alhamdulillah Kania baik-baik saja Put, tidak ada masalah yang serius, dia hanya demam biasa. Katanya sih kalau orang tua dulu bilang karena mau tambah akal, tambah pintar," ucap Dania yang menjawabnya.
"Oh … syukurlah Tante, aku jadi ikut lega karena ternyata Kania baik-baik saja. Aku ingat bagaimana khawatirnya Naya," ucap Putri dan semuanya juga merasa lega.
"Nyonya, kalau begitu biar saya saja yang menebus obatnya. Nyonya Dania dan Nyonya Naya dan juga Non Putri boleh menunggu saya ataupun pulang terlebih dulu," ucap suster.
"Ya nggak bisa begitu dong Sus, masa iya kita pulang duluan. Nanti Suster pulang sama siapa dong?" Ucap Naya.
"Iya Suster ada-ada saja, kami tunggu Suster di depan ya," ucap Dania.
"Baik Nyonya," ucap Suster, ia pun segera saja pergi ke apotek untuk menebus obat Nona kecilnya itu.
***
"Tuan, ada pesan dari Nyonya Naya. Tetapi saya sama sekali tidak membukanya," ucap Boy saat mereka baru saja selesai rapat.
__ADS_1
Meskipun Boy dapat dengan mudah mengakses ponsel milik tuannya itu karena mengetahui sandi-nya, tetapi ia tidak berani. Karena bagaimanapun juga ponsel merupakan barang privasi sang pemilik. Terkecuali ada telepon masuk yang sangat mendadak, pastinya Boy akan menjawab telepon tersebut sesuai pesan dan perintah dari Gerald.
"Baik, terima kasih Boy," ucap Gerald dan langsung saja mengambil ponselnya itu dari tangan Boy, lalu membaca pesan dari istrinya.
Gerald sangat terkejut setelah membaca isi pesan dari Naya, segera saja ia meraih kunci mobil yang ada di atas meja kerjanya dan akan segera pergi.
"Tuan Gerald, Anda mau kemana?" Tanya Boy kebingungan melihat tuannya yang hendak pergi dan tampak panik.
"Boy, saya ada urusan, anak saya demam tinggi dan masuk rumah sakit. Tolong kamu urus dulu perusahaan, kabari saya terus jika ada hal yang penting," ucap Gerald.
"Baik Tuan! Semoga Non Kania lekas sembuh," ucap Boy.
"Terimakasih," jawab Gerald dan segera berlalu.
***
Gerald segera saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit.
Saat Gerald tiba di rumah sakit, di saat itu bertepatan pula dengan Naya dan keluarganya serta Putri yang baru saja keluar dari rumah sakit.
"Sayang, bagaimana keadaan anak kita?" Tanya Gerald yang menghampiri sang istri dengan wajahnya yang begitu cemas.
"Sayang, anak kita nggak apa-apa Kok. Kamu sama dengan aku tadi yang begitu khawatir. Tapi alhamdulillah ternyata Kania hanya demam biasa," jawabnya Naya.
"Oh syukurlah," ucap Gerald bernafas lega. Lalu ia pun mencium lembut pipi anaknya itu.
Putri yang masih berada di situ terlihat begitu sangat iri dan juga ada perasaan cemburu melihat kebahagiaan Gerald dan istri beserta anaknya.
"Nay, Mama aku WA nih, aku disuruh pulang. Jadi nggak apa-apa kan kalau aku pulang duluan," ucap Putri beralasan, alasan sebenarnya karena ia tidak sanggup berlama-lama melihat kemesraan pria yang dicintai dengan sang istri.
"Iya, nggak apa-apa kok Put. Kan ada suami aku, ada Mama dan juga suster yang diantar supir tadi. Kita ada dua mobil kok. Makasih ya kamu udah antar aku ke sini dan maaf banget karena hari ini aku nggak bisa mendengarkan cerita kamu, tapi lain kali ya Put," ucap Naya.
"Iya, sama-sama Nay. Kalau soal itu gampang lah Nay, nggak terlalu penting juga kok. Kalau begitu aku pamit dulu ya Nay, Tante, Kak, Suster," ucap Putri.
"Hati-hati ya Nak Putri di jalan, terimakasih ya," ucap Dania.
"Hati-hati ya Put," ucap naya pula.
Kini Putri pun memilih untuk pulang ke rumahnya dan gagal untuk memberitahukan kepada Naya tentang niatnya hari ini. Mungkin lain kali, karena Naya sendiri sedang mempunyai masalahnya sendiri.
...Bersambung …...
__ADS_1