
Naya tampak terburu-buru karena ia bangun kesiangan, padahal ada jadwal kuliah pagi hari ini. Gerald yang mengira jika istrinya itu libur kuliah pun sengaja tidak membangunkannya dan bahkan ia juga sudah pergi ke perusahaan terlebih dahulu. Bodyguard yang selalu ditugaskan untuk menjaga Naya ke kampus atau berpergian hari ini juga diliburkan karena menurut Gerald hari ini Naya hanya berada di rumah. Sehingga ia pun hanya menitipkan sang istri kepada ART yang berada di rumah.
Segera saja Naya melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa hendak menuruni tangga. Saat tiba di bawah, salah satu ART keheranan melihat Nyonya mudanya itu telah rapi seperti hendak berpergian.
"Nyonya Naya mau kemana?" Tanya bi Ina.
"Bi Ina, kenapa nggak ada yang bangunin aku sih. Aku harus segera ke kampus karena ada mata kuliah penting pagi ini Bi. Padahal Gerald sudah bangun dari tadi dan pergi ke kantor, bahkan Kania juga sudah bersama pengasuhnya. Tapi kenapa aku dibiarkan tidur sampai siang seperti ini," tanya Naya sembari melihat jam dinding saat ini sudah menunjukkan pukul 08.30, padahal ia ada kuliah pukul 09.00 dengan dosen galak, bisa-bisa ia tidak diizinkan masuk jika terlambat.
"Loh bukannya Tuan Gerald mengatakan jika hari ini Nyonya tidak pergi ke kampus? Maka dari itu tidak ada yang berani membangunkan Nyonya Naya. Karena sesuai pesan Tuan Gerald juga untuk membiarkan saja Nyonya beristirahat hingga nantinya akan terbangun dengan sendirinya, tapi saya sudah menyiapkan sarapan untuk Nyonya, lebih baik sekarang Nyonya sarapan saja ya dulu," kata bi Ina.
"Aku nggak sempat sarapan Bi, aku buru-buru. Ya memang sebenarnya hari ini libur kuliah, tapi hari ini ada kuliah tambahan dan aku lupa mengabari Gerald. Jadi sekarang juga aku harus pergi ya Bi," terang Naya.
"Tapi Nyonya, bagaimana jika Tuan Gerald nanti menanyakannya? Apalagi hari ini penjaga Nyonya juga tidak datang," ucap bi Ina yang tampak khawatir.
"Ya sudah aku minta antar supir saja Bi ke kampus," ucap Naya.
"Supir sedang mengantar Ijah ke pasar Nyonya. Kebetulan kebutuhan di dapur sudah habis, Tuan Gerald sendiri yang meminta supir untuk mengantar Ijah," ucap bi Ina.
"Oh … seperti itu Bi. Ya sudah kalau begitu biar aku bawa mobil sendiri aja, oke. Lagipula selama ini kan aku sudah dibelikan mobil dan aku tidak pernah membawanya sama sekali jika tidak bersama Gerald. Padahal aku sudah bisa nyetir dan aku juga sudah mempunyai SIM, jadi sekarang aku akan menyetir sendiri. Bibi Tenang saja, jangan khawatir karena semua akan baik-baik saja," ucap Naya.
"Saya mohon jangan Nyonya, saya takut nanti malah terjadi apa-apa. Apalagi Nyonya terburu-buru seperti itu," kata bi Ina.
"Bibi Tenang saja. Gerald sendiri sudah tahu kemampuan saya menyetir, jadi Bibi jangan khawatir ya, oke!" Kata Naya, lalu ia pun segera saja mencari dimana kunci mobilnya dan bergegas menuju ke garasi untuk mengambil mobil.
Meskipun Naya sudah bisa menyetir mobil sendiri, tetapi tidak bisa dipungkiri jika ia masih merasa sangat gugup dan kaku karena hanya sesekali saja ia membawanya, itu pun didampingi oleh Gerald. Tetapi kali ini Naya benar-benar nekat karena sudah tidak ada pilihan lain, untuk memesan ojek ataupun taksi online juga butuh waktu sedangkan ia begitu buru-buru, belum lagi waktunya tadi juga tersita oleh ART di rumahnya. Sehingga menurut Naya waktunya sangat pas-pasan untuk segera sampai ke kampus, karena kelas kali ini benar-benar menentukan kelulusannya nanti.
Karena dirasa jalanan tidak terlalu ramai, Naya pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi malang tak berbau, di saat itu ada kendaraan bermotor yang menyebrang secara mendadak sehingga Naya pun membanting setir mobilnya ke jalur lain yang di saat itu ada mobil melaju dari lawan arah, sehingga kecelakaan pun tak terelakkan. Mobil Naya terbalik dan di saat itu juga Naya sudah tidak sadarkan diri lagi. Sedangkan mobil yang bertabrakan dengan mobilnya tadi keluar jalur dan menabrak pohon di tepi jalan. Seorang pria muda yang mengendarai mobil tersebut mengalami luka di keningnya karena terantuk oleh setir. Berbeda dengan Naya yang keadaannya cukup parah dan saat itu juga keduanya ada yang menolong dengan membawanya ke rumah sakit.
***
Prang …
Tiba-tiba saja bingkai foto kaca Gerald bersama sang istri yang ada di atas meja kerja terjatuh dan hancur berkeping-keping karena Gerald tidak sengaja menyenggolnya.
__ADS_1
"Naya," ucap Gerald yang mendadak perasaan menjadi tidak enak memikirkan sang istri. "Ada apa ya ini? Kenapa tiba-tiba perasaan aku menjadi seperti ini?"
Gerald pun memunguti kaca tersebut, akan tetapi di saat itu tidak sengaja malah jarinya tertusuk kaca hingga mengeluarkan darah.
Boy yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut merasa terkejut melihat jari bos-nya yang telah terluka.
"Tuan baik-baik saja?" Tanya Boy.
"Aku baik-baik saja Boy, ini hanya luka kecil," jawab Gerald.
"Tapi ini ada apa Tuan? Kenapa frame itu bisa hancur seperti itu?" Tanya Boy lagi.
"Aku juga tidak tahu, padahal aku sudah sangat berhati-hati dan sama sekali tidak pernah menyenggol bingkai ini. Tapi tiba-tiba saja tadi aku tidak sengaja menyenggolnya hingga terjatuh dan hancur berkeping seperti ini," ucap Gerald.
"Aku akan segera memanggilkan OB untuk membersihkannya Tuan," ucap Boy.
"Ya sudah," jawab Gerald.
Tidak lama kemudian, OB yang diperintahkan oleh Boy itu pun telah tiba di ruangan Gerald dan membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai. Sedangkan Gerald dan Boy saat ini sedang duduk di sofa karena Gerald yang memintanya.
"Apa Tuan sudah menghubungi Nyonya Naya? Hari ini Nyonya Naya berada di kampus atau di rumah?" Tanya Boy.
"Tadi Naya ada di rumah, karena setahuku hari ini dia tidak ada jadwal ke kampus. Aku juga sudah mencoba menghubungi sejak tadi, tetapi Naya sama sekali tidak menjawabnya, bisa saja Naya masih tidur," jawab Gerald.
"Ya sudah untuk memastikannya lagi bagaimana jika Tuan menghubungi nomor rumah dan bertanya kepada Bibi," kata Boy.
"Kamu benar, kenapa aku bisa tidak memikirkan hal itu," ucap Gerald dan segera saja menghubungi telepon rumahnya.
Gerald sangat terkejut saat mendengar bi Ina menjelaskan bahwa Naya tadi terlihat sangat terburu-buru dan memilih mengendarai mobil sendiri karena sama sekali tidak ada orang yang bisa mengantarnya. Perasaan Gerald pun semakin tak karuan, ia semakin takut dan khawatir terjadi sesuatu kepada istrinya itu.
"Boy ikut aku sekarang," ucap Gerald.
Boy pun langsung saja mengikuti tuannya yang sudah terlihat sangat panik dan mengajaknya untuk segera saja mencari Naya di kampusnya, saat di perjalanan Gerald juga menceritakan apa yang dikatakan oleh asisten rumahnya tadi.
__ADS_1
***
Sedangkan Putri yang saat ini masih mengambil cuti karena hari pernikahannya, terlihat sedang bersantai bersama sang suami. Tiba-tiba ponselnya pun berdering dan segera saja ia menjawab telepon dari Naya yang tertera pada layar ponselnya itu.
"Halo Nay," ucap Putri.
"Halo, apa Anda kenal dengan pemilik ponsel ini?" Tanya seseorang pria dari seberang telepon.
Putri juga mengenali jika itu bukanlah suara Naya, sahabatnya.
"Ini siapa, kenapa handphone sahabat saya ada di kamu?" Tanya Putri.
"Maaf Nona saya ingin mengabarkan bahwa pemilik nomor ponsel ini saat ini sedang berada di rumah sakit. Kebetulan tadi saya yang membawanya ke rumah sakit setelah kecelakaan," ucap pria itu.
Mendengar akan hal itu, tiba-tiba saja Putri merasakan tubuhnya bergetar, bahkan ponsel yang dipegangnya sudah jatuh ke lantai dan tubuhnya pun mendadak terhuyung hendak terjatuh. Untung saja George segera menangkap tubuh istrinya yang sudah terlihat begitu lemah.
"Halo, halo," ucap pria itu, hingga kini George yang menjawab telepon tersebut.
"Halo ini siapa dan ada apa?" Tanya George.
"Maaf Tuan, saya hanya mau memberi kabar jika pemilik nomor ponsel ini ada di rumah sakit setelah tadi kecelakaan. Kebetulan saya yang membawanya dan saya bingung mau menghubungi siapa, yang saya lihat di panggilan terakhirnya ada nomor Putri hingga saya menghubungi nomor ini," ucap pria itu.
"Baik, terimakasih atas informasinya. Tolong kirimkan saja dimana alamat rumah sakitnya, saya akan segera ke sana," ucap George.
"Baik Tuan," ucap pria itu, lalu mengakhiri telepon tersebut.
"Sayang, Naya Sayang. Bagaimana ini? Kita harus ke rumah sakit sekarang," ucap Putri.
"Iya, kita ke rumah sakit sekarang. Tapi kamu tenangkan diri kamu dulu ya Sayang," ucap George.
"Aku tidak akan bisa tenang sebelum aku melihat kondisi Naya, ayo sekarang kita ke rumah sakit dan jangan lupa kamu kabari soal ini ke Gerald. Pasti Gerald belum tahu karena orang tadi juga mengatakan jika nomor yang ia hubungi adalah nomor yang berada di panggilan terakhir, yaitu nomor aku. Itu artinya sudah pasti Gerald belum tahu keadaan Naya saat ini," ucap Putri.
"Iya Sayang," jawab George.
__ADS_1
Lalu segera saja George dan Putri pun pergi ke rumah sakit setelah si penelepon tadi mengirimkan alamatnya.
...Bersambung …...