Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Olahraga Pagi


__ADS_3

Di saat itu Gerald yang telah selesai mandi terlebih dulu segera keluar meninggalkan Naya yang masih harus menyelesaikan mandinya. Saat Naya selesai, ia terkejut saat melihat Gerald yang masih menggunakan handuk. Tentu saja Naya merasa keheranan, kenapa suaminya itu belum memakai pakaian padahal dia sudah keluar dari kamar mandi 10 menit lebih dulu darinya. Gerald malah duduk di tepi ranjang sambil tersenyum jahil menatap ke arahnya.


"Sayang, kamu kenapa kok malah senyum-senyum gitu? Dan kenapa kamu belum pakai baju juga? Mau menunggu aku ambilkan bajunya ya?" Tanya Naya.


Bukannya menjawab, Gerald malah beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati istrinya itu, lalu secara perlahan ia mendorong tubuh sang istri hingga menyentuh ke dinding.


"Gerald kamu mau apa?" Tanya Naya, ia terlihat begitu tegang saat wajah Gerald semakin mendekat ke wajahnya.


"Aku mau olahraga pagi Sayang," bisik Gerald yang membuat Naya bergidik.


"Hah, maksud kamu apa?" Tanya Naya, ia tak menyangka jika suaminya itu akan memintanya lagi meskipun tadi mereka sudah melakukannya di kamar mandi.


Tanpa menjawab apapun lagi Gerald pun langsung saja ******* bibir merah muda tanpa lipstik milik sang istri yang selalu membuatnya candu, rasanya begitu manis dan tidak pernah berubah sejak pertama kali ia menciumnya. Naya pun ikut menikmati ciuman itu dengan melingkarkan tangannya ke leher Gerald. Gerald menarik tengkuk sang istri agar ciuman itu semakin dalam, keduanya saling membuka mulut dan menjelajahi rongga mulut pasangannya masing-masing sambil sesekali bertukaran saliva.


Karena terlalu menikmati percumbuan itu dengan penuh nafsu dan gairah, Naya pun tidak menyadari jika handuk yang digunakan suaminya saat itu terlepas sehingga ia tidak melihat junior milik Gerald sudah berdiri tegak sempurna siap untuk masuk ke lembah miliknya. Sedangkan Gerald yang menyadari hal itu pun segera saja melepas tali kimono yang sedang digunakan oleh sang istri hingga keduanya polos tanpa sehelai benangpun. Gerald yang sudah tidak dapat menahannya lagi, langsung saja memasukkan juniornya itu ke dalam lembah kenikmatan yang telah menunggunya dalam posisi berdiri dengan ciuman mereka yang tidak terlepas. Lalu Gerald pun menggendong sang istri ala koala tanpa melepas pagutan mereka dan membawanya ke kasur.


Gerald melepaskan ciuman dari bibir sang istri dan kini beralih menyapu leher jenjang Naya hingga turun ke dada. Tangannya begitu aktif meremas dan menyesap dua Bukit kembar yang menyembul dan begitu menggodanya, tak lupa pula ia menggigit kecil buah dada ranum istrinya itu untuk meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana sambil sesekali ia menggoyangkan pinggulnya yang membuat sang istri begitu menikmati permainannya itu.


"Ah Sayang … ," ucap Naya mendes**.


Gerald pun kembali ******* bibir sang istri yang membuat Naya semakin mendes** dan tidak tahan lagi. Lalu Gerald pun mempercepat tempo gerakannya itu hingga Naya merasakan miliknya berkedut dan mengalami pelepasan yang pertama. Sedangkan Gerald yang saat itu belum melepas adrenalinnya tetap menjelajahi tubuh sang istri hingga pada akhirnya ia juga mencapai puncak kenikmatannya.

__ADS_1


Setelah olahraga pagi, mereka berdua pun segera saja menggunakan pakaian dan melangkahkan kaki menuju ke dapur untuk menikmati sarapan bersama.


***


"Oh ya Sayang, karena hari ini aku nggak kerja dan kamu juga nggak kuliah, bagaimana kalau kita nanti jalan-jalan bawa Kania. Aku rasa kita juga butuh refreshing di luar kan," kata Gerald. Ia sangat ingin menikmati udara di luar bersama keluarga kecilnya itu.


"Ide yang bagus, tapi bukankah seharusnya kamu itu istirahat di rumah. Sebaiknya kita jalan-jalannya nanti aja ya," kata Naya.


"No, justru kalau aku tetap berada di rumah, aku akan merasa lebih stres Sayang. Otak aku ini butuh refreshing, butuh kesegaran, kalau ada di rumah terus malah membuat kepala aku ini semakin terasa sakit," kata Gerald.


"Naya, benar apa yang dikatakan oleh Gerald. Kalian itu memang butuh refreshing. Tidak ada salahnya kan kalau kalian sekali-sekali jalan bertiga. Atau kalau kalian mau jalan berdua, Mama bisa kok jaga Kania seperti biasa," ucap Dania yang saat itu muncul di ruang makan menghampiri mereka.


"Mama, Mama sudah sarapan belum?" Tanya Naya.


"Nggak usah Ma, Gerald mau ajak istri dan anak Gerald. Jadi Kania akan kita ajak," tolak Gerald.


"Oh … begitu, ya kalau memang seperti itu juga tidak apa-apa dong. Malah itu lebih bagus," kata Dania.


Tapi Mama bagaimana? Atau Mama mau ikut kita aja?" Tawar Naya.


"Tidak usah Sayang, Mama di rumah tidak hanya sendiri, ada Bibi, ada Suster, ada supir, satpam. Jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan Mama, lagipula besok Papa juga kan tidak kerja. Yang penting kalian nikmati saja liburan kalian, have fun ya. Oh ya Mama punya ide, bagaimana kalau kalian liburannya keluar kota aja," kata Dania.

__ADS_1


"Keluar kota? Kemana Ma?" Tanya Gerald.


"Bagaimana kalau kalian ke rumah lama kita dulu di Jogja. Di sana juga kan masih ada rumah kita yang diurus sama penjaga. Di sana juga udaranya sangat sejuk, Mama rasa pikiran kamu bisa lebih fresh jika berada di sana," kata Dania.


Gerald teringat jika dulu ia memang pernah tinggal di sana sewaktu nenek dan kakeknya masih hidup. Tetapi sekarang mereka telah meninggal, sedangkan Gerald bersama ayah dan ibunya pun pindah ke Jakarta.


"Gerald, apa kamu mau? Kamu ajak dong Naya dan Kania sekali-sekali ke tempat tinggal kita dulu, tempat kelahiran kamu," kata Dania.


"Aku setuju. Dulu aku pernah ke Jogja, tetapi sudah lama sekali dan sekarang yang Mama katakan itu adalah ide yang bagus. Aku juga ingin jalan-jalan ke kota Jogja bersama orang-orang yang aku cintai," ucap Naya yang menyetujuinya.


"Nah itu Naya setuju," kata Dania.


Gerald tampak terdiam memikirkan sesuatu, yang membuat Dania pun mengerti akan kegundahan yang dirasakan oleh anaknya saat ini.


"Gerald, Mama tahu saat ini pasti kamu tidak lagi mengingat dimana rumah kita dulu kan. Tapi mungkin saja jika kalian nanti sudah berada di sana, kamu bisa mengingat sesuatu tentang masa kecil kamu dulu. Mama akan beri alamatnya ke kalian dan kalian bisa langsung ke sana besok pagi," kata Dania.


"Maafkan aku Ma, sebenarnya aku sudah mengingat semuanya, tapi aku belum bisa memberitahu ke kalian," ucap Gerald dalam hati.


"Iya Ma aku setuju. Kalau begitu besok pagi aku akan membawa Naya dan Kania berangkat ke Jogja," kata Gerald yang akhirnya menyetujuinya.


Dania tersenyum mendengar akan hal itu, apa lagi Naya, ia merasa bahagia karena akan pergi liburan bersama keluarga kecil yang dicintainya itu.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2