Dinikahi Pria Arogan

Dinikahi Pria Arogan
Perjodohan


__ADS_3

"George?"


"Putri?"


Ucap keduanya secara hampir bersamaan, sedangkan kedua orang tua mereka pun menatap kebingungan karena ternyata anak mereka itu sudah saling mengenal.


"Loh Putri, George, kalian sudah saling kenal?" Tanya Lisa.


"Iya Mi, aku kenal sama Putri," jawab George lalu menghampiri mereka dan duduk di samping orang tuanya itu.


"Wah … benar-benar tidak terduga ya. Putri, kenapa kamu tidak pernah bercerita kepada Mama jika kamu sudah mengenal George," ucap Vera.


"Jadi George ini anak Om dan Tante?" Tanya Putri.


"Iya Putri, jadi ini George anak pertama Om dan Tante. George punya adik perempuan yang masih berada di luar negeri," jawab Toni.


"Oh … begitu. Ya mana aku tahu Ma kalau George ini adalah anak dari Om Toni, rekan bisnis Papa," ucap Putri.


"Sekarang kamu sudah tahu kan? Berarti kamu tidak menolak dong untuk dijodohkan dengan George?" Tanya Vera.


"Dijodohkan?" ucap George dan Putri lagi secara bersamaan.


"Kalian berdua ini benar-benar kompak ya," ucap Lisa tersenyum.


"Iya, kenapa kamu terkejut seperti itu Putri? Bukannya Mama sudah pernah mengatakan kalau kamu itu memang mau dijodohkan dengan anak rekan bisnis Papa," kata Vera.


"Iya, kamu juga George, bukannya sudah pernah Mami sampaikan kalau kamu itu mau Mami jodohkan. Jadi seharusnya tidak perlu terkejut seperti itu dong," ucap Lisa pula.


"Tapi Ma bukannya Mama dan Papa mengatakan kita berdua hanya kenalan dulu, saling tahu, kalau cocok baru kita lanjut," ucap Putri.


"Itu kan jika kalian tidak saling mengenal. Akan tetapi pada kenyataannya kalian berdua sudah saling mengenal dan Papa yakin bukan hanya baru kenal kan, pasti kalian sudah mengenal lama," kata Firman.


"Bukan begitu Om, Tante, Mi, Pi, kita berdua memang sudah kenal, tapi kalau dibilang lama juga belum. Karena aku juga belum lama di Jakarta setelah balik dari luar negeri. Jadi aku dan Putri bisa kenal karena waktu itu lagi ada pekerjaan di Jogja dan Putri juga sedang ada urusan di sana. Kira-kira sekitar satu bulan yang lalu. Kita ketemu lagi di Jakarta karena ketidaksengajaan juga, saat itu aku dan klien aku sehabis meeting dan mau makan siang. Ternyata klien aku itu menyuruh istrinya datang ke restoran tersebut bersama dengan sahabatnya dan sahabatnya itu adalah Putri. Setelah itu kita berdua jadi sering ketemu bahkan kita kadang jalan-jalan bersama Naya dan Gerald, Gerald itu klien aku dan Naya itu sahabatnya Putri," ucap George.


"Jadi kalian kenal di Jogja dan tidak sengaja bertemu lagi di Jakarta begitu?" Tanya Vera.


"Iya tante benar," jawab George.

__ADS_1


"Itu yang namanya definisi kalau jodoh tidak akan kemana," ucap Lisa.


"Ya itu berarti kalian berdua sudah saling mengenal dan tidak perlu lagi untuk saling mengenal kan. Sekarang ini kita langsung ke tahap rencana selanjutnya saja," ucap Toni.


"Maksudnya, tahap selanjutnya yang seperti apa Pi?" Tanya George yang pura-pura tidak mengerti.


"Jadi lebih baik kita langsung saja membicarakan tentang perjodohan kalian. Apa kalian berdua setuju?" Tanya Toni.


"Kalau George setuju aja Pi, tapi tidak tahu bagaimana dengan Putri," jawab George, ia sangat senang dan tidak menyangka jika wanita yang hendak dijodohkan dengannya adalah wanita yang akhir-akhir ini telah mencuri hatinya. Tentu saja tanpa banyak berpikir lagi George langsung menerima perjodohan itu.


Sedangkan Putri saat ini masih tampak terdiam dan bingung harus menjawab iya atau tidak. Di dalam hatinya masih merasa sangat ragu untuk menerima, tetapi ini juga merupakan kesempatannya untuk melupakan masa lalunya itu.


"Putri jawab dong, itu George sama keluarganya lagi menunggu jawaban kamu loh," kata Vera.


"Ya sudah Ma aku mau kok dijodohkan dengan George," jawab Putri.


"Alhamdulillah," ucap Vera dan yang lainnya. Semua merasa senang dan tampak lega karena ternyata Putri dan George mau untuk dijodohkan.


"Tapi aku punya satu permintaan," ucap Putri yang membuat 5 pasang mata menatap ke arahnya seakan bertanya apa itu permintaannya.


"Apapun permintaan kamu, pasti akan aku turuti," ucap George yang begitu antusias.


"Aku setuju untuk dijodohkan, tapi untuk saat ini kan aku belum mempunyai perasaan apapun terhadap George dan aku yakin George juga pasti belum ada perasaan apapun terhadapku, jadi aku mau kita berdua saling mengenal dulu. Jangan langsung membicarakan soal pernikahan apalagi menentukan tanggal," ucap Putri.


"Oh … kamu tenang saja Sayang, kalau masalah itu kita tidak akan membahasnya sekarang. Tapi jangan lama-lama ya, karena kita semua di sini sangat mengharapkan pernikahan kalian cepat terjadi. Karena tidak pantas juga harus menunda terlalu lama," ucap Lisa.


"Iya benar, Mama juga sudah tidak sabar lagi ingin melihat kamu menikah," ucap Vera.


"Tapi aku kan masih kuliah Ma dan aku akan lulus 1 tahun lagi," ucap Putri.


"Aku tidak masalah kok jika harus menunggu kamu siap kuliah dulu, bahkan kalau sudah nikah terlebih dulu juga kamu bisa sambil kuliah. Aku sama sekali tidak akan mempermasalahkan hal itu," kata George.


"Itu kata kamu, tapi aku masih punya keinginan setelah kuliah, aku mau kerja dan menggapai cita-cita aku George," ucap Putri.


"Sudah-sudah, ini kan masih hanya rencana awal. Yang penting perjodohan ini berjalan lancar, George dan Putri menerimanya. Jadi kita lihat saja nanti bagaimana kedepannya. Sekarang lebih baik kita makan saja ya, nanti makanannya keburu dingin," kata Toni.


Mereka semua pun menyetujuinya dan langsung saja menyantap makan malam yang telah tersaji di atas meja.

__ADS_1


***


Di saat ini, David terlihat sangat lesu menatap wajah sang istri yang masih berbaring tak berdaya di dalam ruang ICU. Tak henti-hentinya ia mengucapkan doa, memohon kepada Tuhan untuk kesadaran serta kesembuhan istrinya itu. Sedangkan Naya dan Gerald yang melihatnya dari balik kaca pun merasa ikut sedih melihat kondisi David dan juga perempuan yang mereka cintai itu masih terbaring lemah meskipun sudah seminggu lamanya.


"Sayang, aku nggak tega lihat keadaan Papa seperti itu. Semakin hari Papa terlihat semakin terpukul melihat keadaan Mama," ucap Naya.


"Iya Sayang, bukan hanya Papa, kita juga merasa sangat terpukul kan melihat Mama yang seperti itu, apalagi Papa pria yang sangat mencintai Mama," ucap Gerald.


"Iya kamu benar, Papa itu laki-laki yang setia dan sangat mencintai Mama. Papa selalu menemani Mama disaat Mama dalam kondisi seperti apapun sejak dulu," ucap Naya.


"Sayang, aku janji kalau aku juga akan menjadi seperti Papa yang akan selalu menemani kamu dalam kondisi apapun dan sampai kapanpun," ucap Gerald yang membuat Naya tersenyum.


"Aku percaya kok sama kamu Sayang. Kamu pasti akan bisa seperti Papa," ucap Naya lalu mereka berdua pun berpelukan erat.


Tiba-tiba ponsel Naya berdering dan langsung saja ia menjawab telepon yang ternyata dari Baby Sister Kania.


"Halo Sus, ada apa? Tanya Naya.


"Nyonya Naya, apa Nyonya bisa pulang malam ini?" Tanya suster.


"Memangnya kenapa Sus, Kania baik-baik saja Kan?" Tanya Naya yang tampak khawatir.


"Non Kania baik-baik saja Nyonya, tapi sepertinya malam ini Non Kania tidak bisa tidur nyenyak. Padahal saya sudah memberinya susu, tetapi tidurnya seperti gelisah dan terganggu. Sebentar-sebentar terbangun dan kadang menangis. Mungkin Non Kania merindukan Nyonya Naya untuk menemaninya, tidur di sampingnya atau bisa juga Non Kania ikut merasakan sedih karena sampai sekarang Omanya belum juga sadar," ucap suster.


"Oh … seperti itu. Baik Sus, malam ini saya akan pulang ke rumah," ucap Naya lalu mengakhiri telepon tersebut.


"Kania Kenapa Sayang?" Tanya Gerald.


"Kata Suster, Kania tidurnya nggak nyenyak malam ini, sebentar-sebentar terbangun dan terkadang menangis meskipun sudah diberi susu oleh Suster. Malam ini aku harus pulang menemani Kania Sayang, mungkin dengan aku ada di samping Kania, dia akan tenang," ucap Naya.


"Iya Sayang lebih baik memang seperti itu, sekalian kamu juga bisa beristirahat. Di sini kan ada aku dan Papa yang menjaga Mama. Kalau begitu aku antar kamu pulang ya dulu ke rumah. Ini sudah jam 09.00 malam, aku takutnya malah terjadi sesuatu dengan kamu," ucap Gerald.


"Nggak usah Sayang, justru karena ini masih jam 09.00, belum terlalu malam. Aku pesan taksi online aja ya," ucap Naya.


"Ya sudah kalau memang itu mau kamu. Tapi kamu hati-hati ya," ucap Gerald.


"Iya Sayang," jawab Naya dan segera saja pergi meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


...Bersambung …...


__ADS_2